Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
70


__ADS_3

Kevin menunggu Dokter Vina di teras rumahnya. Asisten rumah tangga Dokter Vina mempersilahkan Kevin untuk masuk ke ruang tamu namun Kevin menolaknya, dia mengatakan akan menunggunya di teras rumah saja sembari menikmati pagi. Dia bisa melihat jika orang di rumah tersebut suka sekali merawat tanaman dan bunga. Kevin melihat banyak bunga indah yang terawat rapi di taman yang bisa dia lihat dari teras tersebut.


Apa mungkin Vina yang merawatnya? Atau mungkin mamanya? tiba-tiba saja batin Kevin mempertanyakan soal siapa yang merawat bunga-bunga tersebut.


Ceklek...


Dari balik pintu keluarlah seorang gadis yang menggunakan dress selutut warna pink dipadukan dengan blazer putih yang sangat elegan.


Kevin meminum teh yang dibuatkan oleh asisten rumah tangga Vina dan menoleh ke arah pintu saat mendengar ada suara pintu yang terbuka.


Uhuuk...


Kevin tersedak minuman yang dia minum. Matanya terpanah melihat sosok gadis di depannya yang benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang seperti maraton saat ini. Dia seakan lupa bernafas dan berkedip. Matanya terpaku pada sosok gadis cantik yang ada dihadapannya.


"Vin....," Vina memanggil nama Kevin untuk menyadarkannya.


"Eh... i... iya... e... kamu udah siap?" Kevin tergagap ketika sadar dari keterpakuannya melihat sosok Vina yang begitu menawan pagi ini.


"Ini udah siap. Kita mau berangkat sekarang?" Vina duduk di kursi sebelah Kevin.


"Boleh, biar gak kesiangan. Eh pamit orang tua kamu dulu ya, mau minta ijin dulu bawa anak gadisnya jalan-jalan," Kevin menatap Vina dan dia tidak berhenti takjub melihat wajah gadis itu.


"Gak usah Vin, Mama sama Papa gak ada di rumah. Mereka ada di Singapura ngurusin bisnis Papa di sana. Udah yuk ah berangkat," Vina berdiri dari duduknya.


"Kalau gitu yang merawat bunga itu kamu?" entah mengapa Kevin menanyakan masalah yang merawat bunga itu pada Vina, padahal tadi hanya ada dalam benaknya pertanyaan itu, kini benar-benar dia pertanyakan pada Vina.


"Iya, kenapa emang?" Vina menatap Kevin yang kini sudah berdiri di sebelahnya.


"Gapapa, cantik kayak orangnya," Kevin menggoda Vina tanpa sadar, kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kevin.


Perkataan Kevin itu sukses membuat pipi Vina merona, wajahnya tersipu malu. Kevin tersenyum melihatnya, dia jadi ingat Kiki, adik kesayangannya yang sama seperti Vina jika malu, namun kelakuan bar-barnya beda, Kevin tidak menemukan sikap bar-bar pada diri Vina. Yang Kevin ketahui Vina begitu anggun dan lemah lembut pada saat menjadi dokter.


"Dih malu. Udah yuk ah sayangnya Kevin kita berangkat sekarang," Kevin menggandeng tangan Vina dan mengajaknya berjalan menuju mobilnya.


Vina kaget, matanya terbelalak, kepalanya mendongak melihat tangannya yang di gandeng Kevin kemudian dia melihat wajah Kevin yang dengan santainya tersenyum manis padanya.


Kevin membukakan pintu mobil untuk Vina. Setelah Vina duduk, dia berputar menuju pintu untuk kemudi dan membukanya. Setelah dia duduk di belakang kemudi, dia melihat Vina yang duduk dengan canggung.


"Na, gak usah canggung gitu dong. Kita kan udah akrab dan sebentar lagi kita juga bakalan lebih akrab lagi, terus lebih intim lagi. Hehehe...," Kevin mencoba menghilangkan kecanggungan yang dirasakan oleh Vina.


"Emmm... kita mau kemana Vin?" tanya Vina untuk menghilangkan kecanggungannya.


"Kamu ada tempat yang mau kamu kunjungi? Kalau ada ayo kita ke sana. Tapi kalau gak ada, kita ke Villa aja ya, di sana ada Aydin sama Kiki. Kamu belum pernah jalan-jalan ke tempat itu kan? Di sana pemandangannya bagus banget loh, kemarin kita jalan-jalan ke kebun teh, peternakan dan air terjun. Mungkin ada tempat lain lagi yang belum aku ketahui," Kevin berbicara menghadap ke samping, dimana Vina sedang duduk sekarang.


"Waaah... pasti seneng banget ya. Aku gak pernah ke tempat seperti itu. Yuk Vin ke sana aja," mata Vina berbinar, sangat bersemangat sekali mendengar cerita Kevin.


Kevin tersenyum senang melihat Vina sangat tertarik dan bersemangat untuk pergi ke tempat yang Kevin ajukan. Tanpa sadar dia mengelus rambut Vina dan perlakuan Kevin itu sukses membuat Vina tersipu malu.


Ah Kevin sangat gemas melihat wajah merona yang tersipu malu itu. Dan dengan santainya Kevin mencubit pipi Vina yang sedang tersipu itu. Sontak saja Vina kaget dan memukul tangan Kevin yang berada di pipinya. Kevin tertawa terbahak-bahak, dia senang sekali menggoda Vina. Karena sekarang adiknya yang biasanya dia goda sudah jarang bisa dia goda karena mereka sudah tidak serumah lagi, tapi kini dia seolah mendapatkan mainan baru. Dia sudah ada kandidat yang bisa dia goda, jahili bahkan bisa dia sayang-sayang.


"Udah yuk cepetan biar gak kesiangan," ucap Vina untuk mengakhiri kejahilan Kevin padanya.

__ADS_1


Kevin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang karena jalan masih lenggang jadi tidak akan terkena macet sampai sana.


Diperjalanan menuju Villa, Kevin melihat Vina begitu bahagia. Binar kebahagiaan itu terpancar jelas di wajahnya. Vina membuka kaca mobil ketika mereka sudah berada di daerah perkebunan teh jalan menuju Villa milik Aydin. Vina benar-benar menikmati pemandangan dan udara di sana. Berbeda dengan saat pertama kali dia ke tempat itu untuk bertemu dengan Kiki, dia masih canggung dengan Kevin, sehingga dia hanya mampu melihat indahnya pemandangan itu dari balik kaca mobil tanpa bisa merasakannya.


Sesampainya di Villa Aydin, Vina keluar dengan tidak sabarnya. Dia memandangi alam sekitar yang memang begitu indah dan merentangkan kedua tangannya, menghirup dalam-dalam udara segar yang tanpa polusi di sana.


Kevin tersenyum melihat tingkah Vina yang ternyata apa adanya tidak dibuat-buat, berbeda dengan mantan-mantannya yang jika berada di tempat seperti ini pasti mereka nemplok terus seharian padanya.


"Yuk masuk dulu," Kevin menggandeng tangan kanan Vina menuju pintu masuk Villa Aydin.


Di dalam Villa, tepatnya di dalam ruang tamu, Kiki sedang bermanja-manja dengan Aydin. Kiki menonton acara K-pop Mnet, sedangkan Aydin menyuapinya dan menyuapi dirinya sendiri. Kali ini mereka tidak makam di meja makan karena Kiki yang meminta untuk disuapi Aydin sambil menonton TV.


Kevin masuk ketika Kiki dalam keadaan mulutnya terbuka lebar dan Aydin mengarahkan sendok makan pada mulut Kiki.


"Kalian sedang ngapain?" Kevin membuka suaranya pada saat masuk ke ruang tamu bersama Vina di sampingnya yang tangannya masih dalam posisi digandeng oleh Kevin.


"Kakak? Dokter Vina?" Kiki kaget melihat kakaknya bersama dengan Dokter Vina.


Kemudian matanya mengarah pada tangan Dokter Vina yang digandeng oleh Kevin.


"Ngapain kalian gandengan? kayak mau nyebrang aja," sindir Kiki yang kemudian membuka lebar-lebar mulutnya minta disuapi oleh suaminya.


Dokter Vina melepaskan tangan Kevin karena malu dengan Kiki dan Aydin. Namun Kevin malah menggenggam erat tangan Vina agar tidak terlepas dari genggaman tangannya.


"Terserah kita dong. Nah tuh kamu ngapain Bro, nyuapi baby huey?" Kevin mengolok-olok Kiki.


Kiki menoleh dan menatap tajam Kevin dengan mulut yang tetap mengunyah setelah disuapi oleh suaminya.


"Awas ya entar, liat aja," Kiki berkata sambil mengunyah makanannya.


Dokter Vina tersenyum melihat keakraban dan keharmonisan kakak beradik itu. Dia menginginkan keluarga seperti itu, tidak seperti dirinya yang sering kesepian, seperti sekarang ini yang hanya hidup bersama Mbok Sarni dan Pak Engkus di rumah yang begitu besar. Ingin rasanya dia berada di tengah keluarga Kevin dan Kiki, pasti seru dan bahagia menurutnya.


Vina memang anak tunggal yang sering ditinggal ke luar kota atau luar negeri oleh kedua orang tuanya, dan waktunya tidak bisa ditentukan. Seperti sekarang, orang tuanya sudah tinggal di Singapura selama 10 bulan, meskipun begitu, Vina tetap menjadi anak baik, tidak pernah dia mencari kesenangan di luar rumah karena kesepian. Banyak teman-temannya yang mengajaknya pergi ke Club untuk bersenang-senang, namun Vina lebih memilih di rumah dan belajar agar dia lebih baik lagi dalam bidangnya. Tak ayal nilai akademisnya begitu bagus dibanding teman-temannya.


"Udah sayang... ini dimakan dulu, sini...," Aydin Menaruh piringnya di atas meja dan membawa Kiki dalam pelukannya agar tidak terjadi perang dunia, karena ada Dokter Vina, Aydin takut nantinya begitu sadar mereka akan malu pada Dokter Vina.


Kevin mengajak Vina duduk di kursi bersebelahan dengan Kiki dan Aydin yang duduk di sofa panjang. Mata Kiki masih menatap tajam pada Kevin yang mengejeknya dengan senyumnya, kemudian mata Kiki mengarah kembali pada tangan Kevin dan Dokter Vina yang masih tetap bergandengan tangan.


"Kalian pacaran?" Kiki bertanya ketika dia sudah menelan makanannya.


Kevin tersenyum jahil tanpa menjawab pertanyaan dari adiknya itu.


"Kok mau sih Dok sama Kak Kevin?" Kiki kini beralih bertanya pada Dokter Vina karena tidak mendapatkan jawaban dari Kevin.


"Panggil Vina aja Ki, kan gak lagi di Rumah Sakit," Vina tersenyum manis pada Kiki.


Tangan Kevin dihempas-hempaskan oleh Vina namun tidak berhasil terlepas juga. Membuat Kevin semakin jahil, dia lebih mengeratkan genggamannya pada tangan Vina meskipun mereka sedang duduk.


"Emang kenapa Kakak? Punya Kakak ganteng gini harusnya kamu bangga adikku yang boncel," Kevin menjawab pertanyaan Kiki namun tangannya berusaha untuk tidak dilepaskan oleh Vina.


"Kok bisa Kak Vina sama tiang listrik berjalan? Apa yang Kak Vina lihat?" Kiki berwajah serius menatap wajah Vina.

__ADS_1


"A... aku... ki... kita gak pacaran kok Ki, beneran, tanya aja sama Kevin," Vina terbata-bata menjawab pertanyaan Kiki.


Kevin melempar bantal sofa pada Kiki. Namun di halau oleh Kevin, jadilah lemparan Kevin tidak mengenai Kiki. Aydin menatap tajam Kevin, "Vin...," Aydin memperingatkan Kevin agar tidak mengganggu istrinya.


Kiki memeletkan lidahnya mengolok-olok Kevin.


"Tuh liat si boncel kelakuannya," Kevin menunjuk Kiki yang memeletkan lidahnya dan tiba-tiba menutup mulutnya ketika Aydin melihat ke arahnya.


"Udah ah kalian tuh kalau ketemu pasti ribut. Kalian kesini mau ngapain?" Aydin bertanya pada Kevin.


Kemudian Aydin menyendok kembali nasi dan lauk yang akan disuapkan pada Kiki.


"Sayang... ini buka mulutnya," Aydin menyuapi kembali Kiki yang kini berada di pangkuannya karena tadi hendak mengejar Kevin namun segera Aydin tangkap badan Kiki dan memangkunya.


"Dih manja banget," ejek Kevin melihat adiknya disuapi oleh suaminya.


"Vin ngapain kesini?" Aydin menatap datar Kevin.


"Jalan-jalan aja ini sama Vina gak pernah jalan kesini," Kevin mengalihkan pandangannya pada wajah Vina.


Vina yang tadinya tersenyum melihat tingkah Kevin dan Kiki, kini mendadak tertunduk malu ketika Kevin melihatnya.


"Yeee.... Kak Vina jadi kakak ipar ku. Kalau yang ini Kiki 100% merestui. Beneran deh Kak," tiba-tiba Kiki mendukung Kakaknya.


Kevin tertawa mendapat dukungan dari adiknya , lantas dia melepaskan gandengan tangan Vina dan berdiri melakukan tos dengan Kiki.


Pada saat Kevin melepaskan genggaman tangannya, tiba-tiba ada rasa kekosongan dalam jiwa Vina. Dia kini menyadari jika dia sudah jatuh terperangkap dalam cintanya pada Kevin.


Kevin kembali duduk dan melihat ke sampingnya, dimana Vina duduk memandangi telapak tangannya yang tadi dilepaskan Kevin. Dan kini Kevin tahu jika Vina merasa kehilangannya. Kevin menggenggam kembali tangan Vina yang dia pandangi. Vina kaget mendapati tangan Kevin yang menggenggam tangannya kembali, wajahnya mendongak melihat Kevin yang tersenyum manis padanya. Vina kaget karena dia tidak menyangka jika Kevin mengetahui isi hatinya, apa yang sedang dia rasakan kini. Vina kembali tersipu malu dan melihat ke arah lain, takut jika Kevin mengetahui dirinya sedang malu.


"Jadi kalian pacaran?" tanya kembali Aydin untuk memperjelas status mereka.


"Maunya langsung nikah aja, biar gak terus-terusan kalian panas-panasi," Kevin menjawab enteng tanpa mempertanyakan pada Vina yang ada si sampingnya.


"Beneran? Kapan?" Kiki bertanya dengan antusias.


"Barengan kamu aja sekalian kali ya," Kevin menjawab asal tanpa memikirkannya.


"Enak aja, ogah, gak mau aku. Kiki maunya pesta pernikahan Kiki nanti mewah meriah ala princess," Kiki menjawab dengan mata berbinar membayangkan dirinya memakai dress mewah dan elegan ala princess.


"Halah... princess boncel," ledek Kevin yang langsung di hadiahi sendok yang mendarat tepat pada dahinya.


"Pfft... hahaha....," Aydin tertawa tidak dapat ditahannya lagi.


"Hahahaha... sukurin... mangkanya jangan ganti nama orang sembarangan," ucap Kiki disela tawanya yang membahana.


"Sayang.... sakit...," Kevin merajuk pada Vina sambil memegang dahinya yang terkena sendok yang di lemparkan dengan indah oleh tangan Kiki.


Reflek Vina mengelus-elus dahi Kevin yang agak merah itu. Dia meniup-niup dahi Kevin agar bisa mengurangi rasa sakit dan panas pada dahi Kevin.


Kevin tersenyum melihat yang dilakukan Vina padanya. Dia bertambah yakin akan menjadikan Vina sebagai pasangan hidupnya, teman hidup selamanya, istri yang dicintainya. Mata Kevin salah fokus pada bibir Vina yang mengerucut meniup-niup dahi Kevin. Bibir itu begitu menggoda, ingin rasanya dia mencicipinya.

__ADS_1


Sepertinya bibir itu nikmat, kenyal dan empuk. Bisa juga rasanya manis. Apa boleh aku mencicipinya ya? Bisa mati penasaran aku jika tidak mencicipinya. Tapi jangan dulu Kevin, dia pasti akan marah nanti jika kamu langsung begitu. Tahan dulu, pasti nanti ada waktu yang tepat, batin dan pikiran Kevin beradu karena melihat bibir Vina.


Cup....


__ADS_2