Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
160


__ADS_3

Rombongan para dokter ahli di rumah sakit tersebut berdatangan menuju ruang ICU. Mereka berusaha semampu mereka untuk menolong Aydin. Kiki yang berada di luar ruang ICU menangis tanpa henti dengan iringan doa yang terucap dalam hatinya.


Jangan pergi Sayang, bertahanlah! Ini perintah dariku. Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu pergi meninggalkanku! Kiki memerintahkan Aydin dalam hatinya seolah bertelepati dengannya.


Terlihat di dalam ruang ICU para dokter semakin bergerak cepat bergantian menolong Aydin yang denyut jantung sempat berhenti dan sekarang mereka sedikit bernafas lega dengan mengelap keringat pada dahi masing-masing.


Kiki menerobos masuk ruang ICU dengan masih memakai pakaian khususnya.


"Untung saja denyut jantungnya bisa kembali. Apa perlu ada dokter yang menunggu di sini untuk memantau Pak Aydin dok? Dan sepertinya dokter butuh istirahat, biar salah satu dari kami yang menjaganya," ucap salah satu dokter yang merupakan dokter paling ahli di rumah sakit tersebut mengatakannya pada Kiki.


"Tidak usah dok, biar saya saja yang menjaganya. Terima kasih telah menyelamatkan suami saya," Kiki mengucapkannya tanpa melihat dokter tersebut, matanya selalu melihat pada tubuh suaminya yang masih tidur di ranjang pasien dengan berbagai alat medis yang menempel pada tubuhnya.


Kebetulan sekali malam itu tidak ada yang menemani Kiki di rumah sakit, baru kali ini Kiki sendirian di rumah sakit pada malam hari. Dan baru kali ini Aydin bereaksi.


Kiki menangis menumpahkan semua kekhawatirannya dan kesedihannya di samping tubuh Aydin. Air mata kesedihannya tidak lagi bisa terbendung. Suami yang selama ini sangat mencintainya, sangat memanjakannya dan sangat setia padanya hingga mendapat julukan suami terbucin dari sahabat-sahabatnya, kini terbaring lemah dengan bantuan alat medis yang masih menempel di tubuhnya.


"Sayang, bangun! Bangunlah! Ini perintah dariku! Aku akan marah jika kamu pergi meninggalkanku di sini sendiri. Bangunlah....," Kiki berderai air mata mengucapkan perintahnya pada suaminya yang masih belum sadar.


"Aku mohon.... bangunlah....," suara Kiki bergetar dan melemah penuh permohonan.

__ADS_1


Aydin masih berjuang, dalam mimpinya itu dia terjatuh ketika melompati jurang pemisah itu, namun dengan sekuat tenaga dia berpegangan pada bebatuan yang bisa dia raih sebagai pegangan sehingga dia tidak terjatuh ke dalam jurang.


Lama dia berjuang bertahan berpegangan pada batu tersebut, namun batu tersebut lama kelamaan tidak kuat menahan berat tubuhnya, sehingga batu tersebut jatuh bersamaan dengan tubuh Aydin. Untung saja Aydin masih bisa menggapai bebatuan lain yang sepertinya lebih kuat. Dengan sisa tenaganya itu dia mencoba sekuatnya menaiki batu-batuan tersebut dan dia bernafas lega dengan nafas yang terengah-engah ketika dia sudah sampai di atas jurang tadi.


Namun Aydin kembali bersedih ketika dia belum berhasil menyeberangi jurang tersebut. Terlebih lagi dia melihat istri dan anak-anaknya menangis dengan menyebut namanya. Sungguh teriris hatinya, karena biasanya dia memeluk istri dan anak-anaknya jika mereka bersedih dan menangis seperti itu.


Dengan melihat air mata istri yang sangat dicintainya itu, dan anak-anaknya yang berteriak memanggil namanya membuat Aydin berjanji untuk bisa berkumpul dengan mereka lagi.


Aydin mencari cara untuk bisa sampai pada sisi seberang jurang tersebut. Dia mencari kayu, batang, tali atau apapun yang bisa dia jadikan alat untuk bisa menyeberangi jurang itu.


Ketika Aydin sibuk mencari cara untuk bisa berkumpul dengan keluarganya di dunianya sana, di dunia nyata semua sahabat dan keluarganya tak henti-hentinya mendoakannya agar cepat sadar dan kembali berkumpul dengan mereka. Kiki kini hidupnya disibukkan dengan menunggui Aydin serta beribadah dan berdoa agar Aydin cepat sadar kembali.


"Sayang, bangun ya... Nanti kalau kamu bangun, ayo kita lakukan kembali seperti dulu, hari-hari di mana selalu ada keromantisan kita hingga semua orang iri pada kita. Mmm... gimana kalau kita ke vila lagi, banyak kenangan kita di sana. Ingat gak waktu kita pertama berkuda di kebun teh? Aku mau kayak gitu lagi dan aku mau digendong seperti di pabrik pengolahan teh waktu itu. Kamu bangun ya Sayang... aku pengen di gendong...," Kiki berbicara banyak hal dan tentu saja air matanya tak pernah luput darinya ketika berbicara dengan Aydin.


Tanpa terasa Kiki tertidur di sebelah Aydin dengan posisi duduk di kursi dan kepalanya berada di tangan Aydin yang jari-jarinya masih digenggamnya.


Kiki bermimpi Aydin ada bersamanya di kebun teh. Mereka berjalan bersama menyusuri kebun teh dengan bergandengan tangan dan saling tersenyum sambil berbicara. Namun lama-lama mereka diselimuti kabut yang tidak terlalu tebal. Tiba-tiba saja Raditya datang dari arah berlawanan dan menghampiri mereka.


Aydin merasa dirinya tidak melihat jalan, tapi masih bisa melihat Kiki dan Raditya. Dan dia merasa sesak karena terkena banyak kabut sehingga dia memerintahkan Raditya untuk membawa Kiki pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Bro, tolong bawa Kiki pergi dari sini. Gendong dia agar dia tidak terjatuh. Jangan sampai dia terluka," Aydin meminta tolong pada Raditya.


"Tapi Bang, bagaimana denganmu?" Raditya bertanya pada Aydin yang memegang dadanya karena sudah merasakan sesak di dadanya.


"Tinggalkan saja aku di sini. Dadaku terasa sesak. Bagiku yang terpenting adalah istriku. Dia harus selamat, dan aku percayakan dia padamu," Aydin berbicara dengan nafas ngos-ngosan.


"Enggak, aku gak mau. Aku akan tetap bersamamu," Kiki tidak mau menuruti perintah Aydin.


"Cepatlah Sayang sebelum kabut makin tebal. Katanya kamu ingin digendong. Aku mengijinkan kami digendong Raditya sekarang. Aku ikhlas," Aydin berucap dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Aku gak mau meninggalkanmu. Tolong dengarkan aku. Aku akan tetap berada di sini denganmu apapun yang terjadi," Kiki tetap menolak perintah Aydin.


Setelah mendengarkan jawaban dari Kiki, tiba-tiba Aydin terjatuh dan dadanya merasa nyeri. Kiki menolong Aydin dengan penanganan darurat dengan memberikan nafas buatan, memompa jantungnya dengan tangannya dengan diiringi tangisannya yang tidak rela jika Aydin meninggalkannya.


"Bangun! Sadar! Jangan tinggalkan aku!" Kiki berteriak sambil melakukan apa yang dia lakukan semenjak tadi dan tentunya dengan deraian air mata yang tidak ada habis-habisnya.


Di sana dia berjuang sendiri, tidak ada yang bisa membantunya untuk menolong suaminya yang sedang bertaruh dengan nyawanya.


"Ki... Ki... bangun. Ada apa kamu teriak-teriak? Kamu mimpi?"

__ADS_1


__ADS_2