Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
101


__ADS_3

[ Didi, semoga kamu selalu diberi kesabaran dan kekuatan. Semangat ya Di, semoga keputusanmu menjadi yang terbaik. Maaf jika tidak bisa membantumu. Tapi... tenang aja, akan ku bantu dengan doa. Hehehe....]


Raditya tersenyum membaca pesan dari Kiki. Dia tidak menyangka bahwa Kiki akan selalu ada untuknya. Kini dia sadar bahwa dia telah menyia-nyiakan perasaan Kiki waktu itu. Seharusnya dulu dia memilih cintanya pada Kiki saja daripada menikah dengan wanita hasil perjodohan yang berakhir dengan perceraian.


Semangat Raditya pun kembali setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Kiki. Begitu dahsyat kehadiran seorang Kiki bagi Raditya. Hingga pesan yang dikirimkannya saja bisa menjadi penyemangatnya.


Dengan perasaan yang campur aduk, Raditya mengumpulkan bukti yang dia punya pada satu wadah dan menyimpannya.


Pagi ini terasa aneh bagi Raditya. Seperti seorang remaja yang sedang menanti jawaban dari terkasihnya untuk diterima atau ditolaknya cintanya untuk gadis tersebut.


Namun ini bukan tentang diterima atau ditolak, melainkan dilanjutkan atau menyudahi mahligai pernikahan mereka.


Raditya menunggu Linda di Cafe milik Aydin yang sudah menjadi tempat favoritnya sejak dulu dengan sahabat-sahabatnya untuk berkumpul.


Dia sengaja tidak melakukan perundingan di rumah agar lebih fokus untuk mereka berdua.


Setiap langkahnya menuju Cafe tadi Raditya merasa perasaannya aneh, bercampur aduk, itu dia rasakan semenjak dari rumah sebelum berangkat tadi. Apakah ini suatu pertanda buruk ataukah baik? Raditya sendiripun tidak mengerti arti dari apa yang dia rasakan itu.


Netra Raditya menangkap sosok yang sangat dikenalinya. Dulu sosok itu selalu menemani hari-harinya. Bahkan malam-malamnya pun dia habiskan bersamanya.


Kini sosok itu telah memiliki pengganti dirinya untuk berbagi ranjang, berbagi gairah, berbagi kemesraan dan mungkin juga berbagi perasaan.


Jika mengingat hal itu, Raditya sangat marah dan terluka. Ingin rasanya dia menghajar habis-habisan pria yang meniduri istrinya itu. Namun dia sadar, jika perbuatannya itu tidak akan berguna baginya. Bahkan perasaannya pun entah masih ada atau sudah hilang untuk istrinya itu.


Linda duduk di depan Raditya. Hening, suasana seketika sangat hening diantara mereka. Hingga suara seorang pria yang tiba-tiba datang ke meja kami menyadarkan ku dari keheningan sementara itu.


"Selamat siang Pak Raditya, saya Bagus Suprayitna pengacara dari Ibu Linda yang akan menangani kasus ini," pengacara itu memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangannya untuk dijabat.

__ADS_1


Raditya pun menoleh ke arah Linda sebelum menerima jabatan tangan pengacara itu. Linda menerima tatapan mata Raditya dan mengatakan, " Maaf!" setelah itu Linda menunduk.


Raditya tersenyum getir dan beralih memandang pengacara Linda itu dan menjabat tangannya.


Kemudian Raditya kembali memandang Linda tak percaya, sungguh dirinya berbeda dengan Linda yang dia kenal selama ini. Linda yang sekarang lebih memilih kesenangannya dan keegoisannya daripada anak yang merupakan darah dagingnya sendiri.


"Jadi, ini keputusanmu?" tanya Raditya dengan suara berat, rasanya dia ingin menangis tapi ditahannya.


"Aku yang akan menggugat Aa' dan aku harap hak asuh Raline ada padaku," ucap Linda dengan tegas.


"Kamu becanda? Selama ini kamu menelantarkan dia dan sekarang kamu ingin mendapatkan hak asuh Raline? Mau kamu titipkan dimana dia saat kamu bersenang-senang nanti?" ucap Raditya penuh emosi.


Dion yang merupakan manager di cafe tersebut mendengar perkataan Raditya ketika dia berjalan untuk membantu waitress memberikan makanan pada meja tamu.


Dion memang sudah mengerti dari Kenan tentang masalah Raditya, karena pada saat Kenan dan sahabat-sahabatnya berkumpul di rumah Aydin beberapa hari yang lalu menceritakan tentang masalah yang dihadapi calon kakak iparnya ini. Jadilah Kiki tau masalah ini dari Kenan.


"Tapi aku Ibunya, dimana-mana seorang Ibu selalu mendapatkan hak perwalian anaknya," jawab Linda tidak kalah emosi dengan Raditya.


"Lucu kamu, kamu menyebut dirimu sebagai seorang Ibu ketika kamu tidak melakukan tugasmu sebagai seorang Ibu," Raditya terkekeh meremehkan Linda.


"Terserah Aa' berkata apa, yang penting Raline harus bersamaku," ketus Linda.


"Lalu kalian akan tinggal dimana?" Raditya bertanya dengan penuh tekanan.


"Nanti Riko yang akan menanggungnya," jawab Linda enteng.


Mendengar Riko yang akan menggantikan dirinya menjadi Ayah Raline membuat Raditya marah. Raditya menggebrak meja dengan keras sehingga reflek dirinya pun berdiri.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerahkan anakku untuk diasuh bajingan keparat Riko itu! Ingat aku tidak akan menyerahkan anakku pada kalian. Aku tidak akan membiarkan Raline menderita!" Raditya berteriak penuh emosi dan membuat semua tamu melihat ke arah mereka.


"A' tenangkan dirimu, semua orang melihat kita," ucap Linda lirih.


Raditya melihat seluruh ruangan dan benar saja semua orang melihatnya. Dan Dion berhasil menyamar sebagai seorang tamu di Cafe tersebut sehingga Linda dan Raditya tidak mengetahui keberadaannya.


Raditya kembali duduk dan meraih gelas yang berisi air putih kemudian meminumnya. Nafasnya menggebu-gebu, emosinya masih belum stabil. Sehingga dia tidak meneruskan perkataannya, dia memilih untuk mendinginkan emosinya terlebih dahulu.


Pengacara Linda mengamati pembicaraan sepasang suami istri itu yang akan segera menjadi mantan nanti setelah persidangan yang dia tangani berakhir.


"Aku memberikanmu kesempatan terakhir untuk memilih, dan jawabanmu seperti ini?" tanya Raditya kembali dengan suara yang sedikit lebih tenang, namun pandangan matanya penuh kemarahan.


Linda hanya diam saja, mungkin dia bingung atas keputusan yang dia ambil, namun dia tidak bisa membatalkannya karena Riko yang telah membujuknya dan menyiapkan pengacara itu untuk Linda sehingga Linda bisa dengan cepat memproses perceraiannya.


"Ok, jika memang itu yang kamu mau. Aku harap kamu tidak akan menyesal dengan keputusan bodoh mu ini. Asal kamu tau, aku memberikanmu pilihan bukan karena aku masih mengharapkan mu. Aku hanya memikirkan Raline yang masih membutuhkan sosok seorang Ibu, yang nyatanya Ibunya pun tidak pernah ada untuknya. Dan aku harap kamu jangan sampai membuat Raline malu dikemudian hari atas sikapmu ini," Raditya bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan meja itu.


"Aku akan mengirim surat-suratnya ke rumah," seru Linda ketika Raditya sudah berjalan beberapa langkah.


Raditya menoleh dan tersenyum meremehkannya.


" Segera kemasi semua barang-barang mu dan jangan sampai ada yang ketinggalan. Mulai detik ini kamu aku talak tiga!"


Raditya meneruskan jalannya tergesa-gesa menuju parkiran motornya, namun rasanya aneh, dia merasa sangat lega, tidak ada lagi beban yang menghimpit di dadanya.


Motor Raditya dikendarainya dengan laju cepat pergi ke arah danau. Sesampainya di sana, dia berteriak sekencang-kencangnya dan tertawa sesudah itu. Raditya menertawakan nasibnya, menertawakan kebodohannya dan dia menertawakan status istri uang diberikannya untuk Linda.


"Didi...."

__ADS_1


__ADS_2