
Acara diteruskan dengan acara makan malam dan ada juga yang masuk pada antrian untuk mengucapkan selamat pada Aydin. Tibalah saatnya teman - teman Kiki mengucapkan selamat pada Aydin, Raditya memberikan ucapan selamat dan memberikan doanya. Aydin mengucapkan terima kasih meskipun dengan wajah datarnya, namun sekilas senyum tipis terbit ketika Raditya berbisik pada Aydin, "Aku titip Kiki Bang, aku sudah ikhlaskan dia, aku harap Abang bisa membahagiakannya".
Kemudian bergantian dengan yang lainnya memberikan ucapan selamat padanya. Aydin berterima kasih pada mereka dengan ekspresi begitu bahagia, tidak pernah sekali pun mereka lihat ekspresi itu di wajah Aydin selama ini. Tak sedetik pun tangan kirinya lepas dari pinggang Kiki, bukan untuk memanas - manasi Raditya, tapi memang tangan Aydin seperti terekat lem besi yang tidak bisa terlepas dari badan Kiki. Namun, pada saat Linda mengucapkan selamat padanya, Aydin membuang muka, dia mengacuhkan Linda dan malah membisikkan sesuatu pada Kiki yang suaranya masih bisa didengar oleh orang yang ada di dekat mereka. "I love you more my wife", kemudian dia mencium pipi Kiki. Linda tidak menyangka sebenci itu kah Aydin padanya. Kiki melongo, dia kaget dengan yang dilakukan Aydin ketika Linda ada di hadapan mereka. Linda tersenyum getir dalam hatinya, menertawakan kebodohannya dan tidak rela, rasanya ingin sekali dia merasakan menjadi Kiki, sehingga dia hanya bisa mematung di hadapan Aydin dan Kiki. Renita segera menyeret kakak iparnya itu disaat dia hanya diam mematung ketika diacuhkan oleh Aydin, bahkan disaat Aydin mencium Kiki di hadapannya dia hanya termangu melihat mereka. Sungguh malu Renita menjadi adik iparnya saat ini. Dia menarik tangan Linda menjauh dari hadapan Aydin dan Kiki, dengan wajah yang besungut kesal dia melepaskan tangan Linda ketika sudah berada di taman luar restauran.
"Teteh apa - apaan sih? Malu tau gak?! " kemudian Renita meninggalkan Linda yang masih kaget dengan perlakuan Renita.
Renita berjalan ke taman yang berada di sebelahnya dan duduk di bangku yang tersedia di sana. Ada sebuah gelas yang berisi minuman berwarna pekat di hadapannya yang disodorkan oleh sebuah tangan. Renita mendongak melihat wajah orang yang menyodorkan minuman padanya.
"Yaelah... dikirain ada pangeran tampan gitu yang ngasih minuman ke aku, eh ternyata..... ", Renita mendesah kecewa.
"Yeee.... ini juga pangeran tampan tau gak?! Banyak yang ngantri, minta jadi pacarnya Abang."
"Ya itu kan mereka, bukannya aku wlee...", Renita menjulurkan lidahnya meledek Kenan.
Kenan sangat gemas melihat tingkah Renita,mengingatkannya pada sosok Kiki.
"Nih minum!" Kenan memindahkan gelas di tangannya ke tangan Renita.
"Makasih", Renita hendak meminumnya, namun diurungkannya.
"Ini apaan, gak ada macem - macemnya kan?"
"Macem - macem apaan? Cuma satu macem aja kok...Cola", Kenan memaksa Renita minum dengan mengarahkan gelas di tangannya ke mulutnya.Renita yang kaget reflek meminum minuman tersebut.
"Enak kan?" tanya Kenan menengadah pada wajah Renita.
"Seger sih, tapi kalau aku kenapa - napa Abang tanggung jawab ya", Renita menatap tajam Kenan dan diacungkan jari telunjuk ke depan wajahnya.
Sontak saja Kenan tertawa terbahak - bahak. "Hahahahaha...... masa' iya cuma minum cola bisa hamil? Lucu kamu ini. Kita aja belum pernah ngelakuin *** - ***."
"Yee... dasar piktor. Siapa yang bilang hamil? Kali aja nanti aku pingsan atau diare setelah minum ini", Renita menunjukkan gelas cola yang sudah diminumnya.
__ADS_1
"Hahahaha.... Lucu banget sih kamu", Kenan mencubit pipi Renita.
"Eh pegang - pegang, gak boleh. Awas ya kalau pegang - pegang lagi", Renita menaruh gelas di atas kursi taman yang didudukinya, kemudian dia pergi meninggalkan Kenan yang masih tertawa di sana.
Kenan sepertinya tertarik pada sosok Renita, gadis muda yang apa adanya, hampir sama seperti Kiki. Mungkin karena terlalu lama Renita bergaul bersama Kiki atau mungkin memang mereka mempunyai kesamaan,Kenan berpikir seperi itu dan dia mulai ingin mengambil hati Renita.
Raditya mendengar apa yang dikatakan Renita pada Linda.Tadi dia melihat Renita menggeret tangan Linda keluar restauran, dia mengikuti mereka dan bersembunyi untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Raditya menghirup nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar, rasanya sesak sekali dadanya, entah karena melihat Kiki yang begitu romantis dengan Aydin atau karena istrinya yang sangat keras kepala. Padahal setelah kejadian waktu itu, Raditya sudah berubah drastis memberikan perhatian ekstra untuk Linda sebagai pembuktian keseriusannya mempertahankan rumah tangganya. Namun sepertinya Linda masih belum berubah pikiran. Raditya sungguh frustasi dibuatnya, karena dia takut jika istrinya itu merusak rumah tangga Kiki. Seharusnya Raditya senang jika Kiki berpisah dengan Aydin, namun bukan seperti itu yang Raditya mau. Dia akan lebih senang jika dia bisa bersatu dengan Kiki tanpa ada kecurangan. Dia duduk merenung memikirkan langkah selanjutnya yang harus dia tempuh. Disaat Renita jalan masuk ke restauran, dia melihat Raditya yang sedang duduk termenung, segera dia menghampirinya. Raditya kaget ketika ada dua buah flatshoes dihadapannya yang terlihat olehnya ketika menunduk. Raditya mendongak dan melihat senyum Renita yang entah mengapa menurut Raditya kali ini senyuman itu bermaksud untuk menguatkannya. Raditya pun membalas senyuman adiknya itu, kemudian dia berdiri dan mengajaknya pulang dengan alasan takut baby Raline rewel. Renita mengerti alasan kakaknya yang sebenarnya dan dia menyetujui untuk pulang lebih awal. Tak lupa dia mengirim pesan pada Linda agar segera menuju parkiran karena mereka akan segera pulang.
Di tengah malam, Raditya gelisah dalam tidurnya.Dia terbangun, hatinya gundah, sesak, gelisah dan tidak nyaman bercampur menjadi satu. Segera dia bangkit dari tidurnya, mengambil air wudhu dan menjalankan shalat di sepertiga malam. Dia ingin mengadu, berkeluh kesah pada Allah, maka dari itu dia lebih memilih menjalankan shalat di mushola kecil yang berada di rumahnya. Dia tidak ingin jika semua keluh kesahnya pada Allah di dengar oleh Linda. Jika dia menjalankan shalat di dalam kamar, sudah bisa dipastikan Linda bisa mendengar semuanya.
Dalam sujud dan doanya, dia meminta agar diberikan jalan terbaik bagi rumah tangganya dan juga rumah tangga Kiki. Dalam diam yang disertai isakan tangisnya, dia meminta agar rumah tangganya menjadi harmonis kembali seperti semula. Dia juga meminta agar dienyahkan lah bayangan wajah Kiki yang selalu terbayang di otak dan pikirannya, karena dia sudah ikhlas dengan semuanya. Dan dia meminta agar Linda, istrinya itu bisa kembali menjadi wanita yang baik, patuh dan sayang pada suaminya. Karena dia tidak ingin rumah tangganya hancur dan anaknya menjadi korban dari keegoisan mereka.
Linda terbangun ketika merasa kandung kemihnya penuh, dia bangun hendak ke kamar mandi. Namun dia tidak mendapati suaminya di sampingnya. Setelah menuntaskan hajatnya di kamar mandi, dia keluar mencari suaminya, karena dia takut jika dugaannya benar. Entah mengapa sejak kecemburuan dan kemarahan merajai pikirannya, dia selalu berburuk sangka pada suaminya. Malam ini dia berpikiran jika suaminya keluar dari kamar untuk menghubungi Kiki. Dan jika itu benar terjadi, maka itu akan menjadi peluang bagus baginya untuk mendapatkan Aydin. Dia keluar kamar mengendap - endap dengan membawa ponselnya. Dia ingin merekam video atau percakapan Raditya dan Kiki jika benar sesuai dugaannya. Namun, langkahnya terhenti di dekat mushola ketika mendengar isakan tangis dari seseorang yang suaranya di kenalnya. Segera mendekatlah dia ke mushola, tiba - tiba sudut matanya basah dan matanya berkaca - kaca ketika mendengar doa yang disertai isakan tangis dari suaminya. Hatinya teriris sakit mendengar permintaan suaminya itu pada Rab nya. Sebegitu putus asanya dia untuk menasehati kekerasan kepalanya sehingga suaminya itu berkeluh kesah dan mengadu di sepertiga malam. Dan lebih menyentuh hatinya pada saat suaminya meminta agar bayangan Kiki dihilangkan dari pikirannya. Begitu berdosa nya dirinya berburuk sangka pada suaminya. Lama - kelamaan air mata Linda lolos jatuh ke pipinya, dia menangis tanpa suara. Setelah mendapati Raditya menyudahi doanya dan kini dia nampak sedang berdzikir, segeralah Linda kembali ke kamar. Dia menangis menumpahkan isi hatinya. Setelah lega dan tangisannya sudah reda, pikiran dan hatinya kembali pada akal sehatnya yang memintanya agar dia mempertahankan suami dan anaknya. Kini kesadarannya sudah kembali, dia ingin rumah tangganya seperti dulu lagi.
Raditya kembali ke kamarnya setelah dia melaksanakan sholat subuh sekalian di mushola tadi. Pada saat itu Linda juga baru selesai melaksanakan sholat subuh di dalam kamarnya. Raditya masuk ke dalam kamar dan mengganti baju koko dan sarungnya, dia hanya diam meskipun ada Linda yang sedang menyisir rambutnya di depan kaca rias. Bukannya Raditya masih marah atau enggan berbicara pada Linda, namun dia masih menata hatinya dan meluruhkan emosi dan kemarahannya agar dia tidak berkata kasar dan keras pada Linda karena kekecewaannya pada istrinya itu.
Melihat Raditya yang diam saja padanya, Linda berinisiatif untuk berbicara terlebih dahulu, karena dia juga ingin rumah tangganya kembali seperti dahulu. Linda menghampiri Raditya yang sedang memakai kaos setelah melepas baju koko nya. Tangan Linda memeluk pinggang Raditya dari belakang.
Raditya tahu istrinya saat ini sedang menangis. Raditya mengurai tangan istrinya dan dia berbalik menghadap istrinya yang berada di belakangnya. Dicakupnya wajah istrinya itu dengan kedua telapak tangannya, kemudian dia kecup kening istrinya,
"Aa' juga minta maaf. Sudahlah kita lupakan semuanya dan kita mulai kembali agar hubungan kita kembali seperti dulu. Dan aku mohon, kita jangan mengganggu rumah tangga Kiki dan Bang Aydin. Kamu juga jangan cemburu lagi pada Kiki, karena selama ini aku tidak pernah mengkhianati pernikahan kita meskipun dulu masih ada sedikit rasa yang tersisa untuknya. Tapi sekarang aku sudah ikhlaskan semuanya. Aku sudah menghilangkan perasaan itu. Aku harap kamu juga begitu"
Linda mengangguk ditengah isakan tangisnya, kemudian Raditya mencium bibir istrinya itu. Lagi - lagi bayangan wajah Kiki yang kini berada di hadapannya, segera dia pejamkan matanya guna mengenyahkan wajah Kiki dari hadapannya. Raditya membatin, " Ya Allah, mengapa wajah Kiki yang kembali hadir disaat hamba bersama istri hamba"
Kemudian dia membuka matanya kembali dan wajah istrinya yang kini nampak di depannya. Tapi mengapa rasanya beda ketika tadi wajahnya berganti dengan wajah Kiki. Ah... Raditya merasa gila dengan perasaannya. Dia mencium kembali bibir istrinya dengan lembut. Dia tidak menghentikan ciumannya karena takut istrinya menjadi curiga. Lama - kelamaan ciuman itu menjadi dalam hingga membuat mereka terlena dan melakukan hubungan suami istri di waktu subuh. Entah wajah siapa yang Raditya lihat pada saat melakukannya, yang dia rasakan hanya terbuai dalam nikmatnya surga dunia. Meskipun wajah yang dihadapannya berubah - ubah, dia tidak perduli karena lebih mencurigakan jika dia berhenti di tengah jalan, tapi yang dia rasakan lebih nikmat jika yang di hadapannya adalah wajah Kiki, mungkinkah dia cinta pertama yang sulit dilupakan. Untuk pertama kalinya mereka melakukan ibadah suami istri sejak kejadian waktu itu, kejadian yang membuat dua pasang suami istri merasakan ujian dalam pernikahannya.
Malam ini sepulang dari pesta, Aydin dan Kiki menikmati udara malam di balkon kamar mereka.
"Sayang, makasih ya. Ini hari ulang tahun terindah dalam hidup Abang. So sweet banget sih kamu. Meleleh loh hati Abang", Aydin mengedipkan matanya dengan genit, membelai rambut Kiki, merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Dia menatap dalam mata Kiki, seolah mengucapkan ribuan terima kasih. Dia mencium lama kening istrinya, kemudian dia menggendong Kiki ala bridal style menuju tempat tidur. Direbahkan nya dengan pelan tubuh mungil istrinya itu.
Pada saat dia hendak melepas kancing piyama Kiki, dengan jahilnya Kiki bertanya, "Sayang, mau ngapain?" tangan Kiki menghentikan pergerakan tangan Aydin ketika membuka kancing piyamanya.
__ADS_1
"Mau minta kado. Kan kadonya belum dikasih", Aydin kembali melakukan aktifitasnya membuka kancing piyama Kiki.
"Lah terus ngapain buka kancing kalau minta kado?" tanya Kiki berlagak tidak mengerti.
"Di dalam sini kadonya. Kangen yaaaang.....", Aydin merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan coklat dan permen.
"Yaaaa.... ngitung kancing aja ya, gak usah dibuka. Aku kan lagi gak bisa dipakai", Kiki tersenyum jahil.
"Haaah....seriusan?! " Aydin terbelalak tidak percaya. Kiki hanya mengangguk membenarkan.
Hufft....
Aydin menghela nafas kecewa. Kiki tersenyum geli, lucu rasanya melihat suaminya yang cuek dan dingin ini menjadi sosok yang berbeda jika di hadapannya.
Seketika Aydin menatap Kiki dengan tersenyum licik.
"Kamu bohong ya, barusan kan kamu sholat isya' sebelum kita ke balkon tadi", Aydin mulai mendekatkan dirinya pada tubuh Kiki seperti singa lapar yang menemukan mangsanya.
"Mam.... pus... hehehe....", Kiki hanya bisa nyengir bodoh, kebohongannya dengan cepatnya begitu saja ketahuan.
"Nakal kamu ya... Awas aja, aku terkam sekarang", Aydin berseru sembari memajukan tangannya seperti binatang yang akan menerkam musuhnya.
Glek...
Kiki menelan ludahnya, dia mencoba menghindar, namun sia - sia, karena Aydin dengan gampangnya bisa menangkapnya. Dikelitiki nya pinggang dan perut Kiki, hingga dia lemas kegelian dan akhirnya dia meminta ampun.
"Ampuuuun.... Ampuuuun... Gak jahil lagi... Ampuuun...", teriak Kiki disela tawa kegelian nya karena gelitikan Aydin.
Dan akhirnya Aydin pun menghentikan gelitikan di perut dan di pinggang Kiki karena kasihan melihat istrinya yang lemas karena kegelian.
Kiki lemas dan terbaring memegangi perutnya yang kram karena tertawa. Ditindihnya tubuh Kiki dengan tubuh kekar Aydin. Matanya sayu, penuh gairah dan penuh damba akan tubuh istrinya ini, dan akhirnya Aydin menerkam Kiki hingga Kiki kelelahan dan lemas tanpa busana. Aydin menutup tubuh polos istrinya itu dengan selimut, mencium keningnya begitu dalam penuh perasaan dan membisikkan sesuatu, " I love you more and more my lovely wife... forever". Kemudian dia mengecup sekilas bibir Kiki yang agak sedikit terbuka karena terengah-engah. Kiki tersenyum dan mengangguk mendengar pernyataan dari suaminya. Setelah itu Aydin membawa tubuh istrinya ke dalam dekapannya hingga pagi menjelang.
__ADS_1