Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
64


__ADS_3

Aydin mengemudikan mobilnya dengan perasaan khawatir dan tidak tenang. Berkali - kali dia melihat istrinya dari kaca spion depannya. Kiki berada di kursi belakang dengan kepalanya berada di pangkuan Bunda. Badannya dipakaikan selimut tebal oleh Bunda dan didekapnya badan menantu kesayangannya ini. Rasanya perjalanannya begitu jauh, biasanya jarak antara rumah dan rumah sakit tidak sejauh ini, sungguh Aydin sangat frustasi.


Mobil memasuki parkir rumah sakit, segera Aydin membopong Kiki menuju IGD, di sana sudah ada Dokter Ardi dan Dokter Vina yang menunggu kedatangan Kiki. Tadi Ayah menelepon rumah sakit dan memberitahukan agar Dokter Ardi dan Dokter Vina berjaga di IGD untuk menunggu kedatangan Kiki.


Dokter Ardi segera memeriksa keadaan Kiki yang belum sadar. Dia menggigil dan mengigau menggumamkan kata -kata "jahat" , "aku benci kamu" , kata itu berulang - ulang dia gumamkan secara tidak sadar. Badannya panas dan menggigil, dan matanya selalu terpejam.


Dokter Ardi mengatakan bahwa keadaan tubuh Kiki baik - baik saja. Namun sepertinya dia kembali syok sehingga dia mengigau seperti ini. Bunda menyuruh Dokter Vina untuk memeriksanya. Dan dokter Vina mengatakan hal yang sama karena Kiki belum sadar,jadi dia tidak bisa memberitahukan analisanya selanjutnya. Kemudian Kiki diberi infus dan dipindahkan ke ruang VVIP. Di dalam ruang VVIP Dokter Vina bertanya pada Bunda dan Aydin tentang apa yang dialami oleh Kiki sehingga hal tersebut bisa terjadi. Padahal tadi Kiki sudah kembali normal dan meminta pulang karena ingin sekali berada dekat dengan suaminya. dan kenapa hanya beberapa jam saja Kiki bisa kembali ke rumah sakit ini dalam keadaan yang tidak sadar dan sepertinya akan kembali ke keadaannya kemarin. Aydin menghembuskan nafas dengan kasar, dia enggan bercerita tentang kejadian tadi yang dialaminya bersama Naila, karena itu membuat hatinya sakit, karena hal tersebut mengakibatkan istrinya kini berada di rumah sakit kembali. Bunda melirik Aydin, karena dia diam saja akhirnya Bunda yang menceritakan awal Kiki menjadi terdiam kembali dan akhirnya dia seperti sekarang ini.


Dokter Vina ikut menghembuskan nafas panjang ketika mendengar cerita dari Bunda. Dia merasa iba dengan Kiki yang mengalami ini semua hingga berkali - kali. Tiba - tiba mata Kiki terbuka dan dia berteriak "Jangan.....", dia terduduk dari posisi tidurnya. Kemudian Kiki terdiam, sepertinya dia mengumpulkan kembali memorinya sebelum dia tidak sadarkan diri.


"Sayang...", Aydin mendekat.


"Stop. Jangan mendekat. Aku benci kamu", dengan mata yang penuh dengan kebencian dia menatap tajam ke arah Aydin.


Aydin, Bunda dan Dokter Vina kaget melihat reaksi Kiki. Namun Aydin tidak menyerah, dia tidak ingin istrinya itu jauh darinya apalagi membencinya.


"Sayang... aku mohon dengarkanlah dulu penjelasanku. Ini sama seperti waktu itu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan", Aydin kembali mendekat, namun Kiki benar - benar tidak ingin berdekatan dengannya. Kiki melemparkan bantal ke arah Aydin membuat langkah kaki Aydin terhenti, dan ketika Aydin ingin mendekatinya kembali, Dokter Vina melarangnya karena Doter Vina takut nantinya Kiki akan bertambah histeris. Ah kalau saja ini di rumah, pasti Aydin akan memeluk erat Kiki untuk menenangkannya. Namun untuk sekarang sepertinya itu tidak mungkin, karena semua orang melarangnya untuk mendekati istrinya.


Aydin terpaksa menuruti perintah Dokter Vina karena Bunda juga menyuruhnya untuk menjauh dari Kiki. Dokter Vina meminta Aydin dan Bunda untuk keluar dari ruangan tersebut agar mereka berdua bisa berbicara. Bunda mengajak Aydin untuk menunggu di luar.


Dokter Vina mulai mendekati Kiki dan memeluknya, Kiki menangis di pelukan Dokter Vina. Dokter Vina menguatkan Kiki dengan kata - katanya dan perlakuannya yang begitu melindungi layaknya seorang Ibu. Lama - kelamaan Kiki mulai bercerita tentang mimpinya, dia mengatakan bahwa di dalam mimpinya tadi itu Aydin pergi meninggalkannya dengan wanita lain, namun dia tidak bisa melihat wajah wanita tersebut karena wajahnya buram. Maka dari itulah Kiki tadi memaksa untuk pulang ke rumah karena suaminya tak kunjung kembali ke rumah sakit padahal tadi berpamitan hanya sebentar. Dan sesampainya di rumah malah dia disuguhi pemandangan yang sungguh menyesakkan hatinya. Belum lagi dia mendengar perkataan Naila yang menyebutnya tidak pantas sebagai seorang Ibu karena telah tega membunuh anak yang masih ada dalam kandungannya, sehingga dia sulit untuk hamil kembali setelah keguguran dan pastinya Allah tidak akan kembali menitipkan anak dalam kandungannya karena dia tidak bisa menjaga anaknya, bahkan dia membunuhnya sebelum anak itu lahir. Dan Kiki mengatakan mungkin suaminya lebih memilih Naila karena dia bisa memberikan keturunan padanya.Hati Kiki begitu hancur, dia tidak mau hidup lagi jika memang bebannya untuk hidup begitu berat. suami yang dicintainya telah mengkhianatinya, dan dia mengatakan itu bukan hanya sekali dia melihatnya, dan Dokter Vina pun tahu kejadian sebelumnya di saat dia pertama kali menjadi Dokter Kiki. Air mata Kiki begitu banyak mengalir membasahi pipinya yang mengalir hingga ke lehernya. Tangisannya begitu keras hingga terdengar dari luar. Hati Aydin seperti teriris mendengar suara tangisan yang memilukan dari istrinya yang berada di dalam. Biasanya dia akan memeluk dan menenangkan istrinya jika dia sedang menangis. Tapi tangisannya kini berbeda dari sebelum - sebelumnya, Aydin tidak pernah melihat tangisan Kiki yang seperti ini, sangat memilukan baginya. Aydin hendak masuk karena tidak tahan mendengar tangisan dari istrinya, namun Bunda kembali menghentikannya, Bunda melarangnya untuk mendekatinya.


"Jangan, biarkan istrimu tenang dulu. Untuk sekarang ini kita serahkan saja dulu pada Dokter Vina."


"Tapi sampai kapan Bunda?" Aydin mendengus kesal mendengar larangan Bunda.


"Entahlah, mungkin sampai Kiki kembali menjadi dirinya yang seperti dulu", Bunda mengedikkan bahunya.


"Arggghhhhh......", Aydin menjambak frustasi rambutnya. Rasanya dia ingin menerobos masuk ke dalam untuk menemui istrinya dan berlutut di hadapannya agar dimaafkan sehingga dia bisa memeluk istrinya itu untuk melepaskan rindunya yang menyesakkan hati.


"Bunda heran, kenapa kamu bisa dengan mudahnya jatuh pada Naila? Kamu tidak benar - benar menginginkannya kan?" Bunda menatap Aydin dengan tajam untuk mengintimidasinya.


"Bunda... Bunda meragukan ku? Sejak kapan Bunda tidak percaya sama Aydin?" Aydin mendekat dan menggenggam kedua telapak tangan Bunda.


"Sejak kamu merespon sikap Naila yang kurang ajar dan tidak tau diri itu", Bunda menatap tajam kedua mata Aydin yang berada di depannya.


"Aydin tidak meresponnya Bunda... Hanya saja dia pintar memanfaatkan keadaan. Dan aku heran sejak kapan dia menyukaiku dan bertindak seagresif itu", Aydin tertunduk lemas meratapi semua yang telah terjadi.


"Dia itu licik, udah dikasih tempat tinggal malah menghancurkan kebahagiaan kita. Pokoknya Bunda tidak mau tau, kalian harus buat dia jera agar tidak menyakiti Kiki lagi dan jauhkan dia dari kehidupan kita", Bunda melepaskan tangan Aydin dan duduk kembali di kursi yang berada di depan ruang kamar perawatan Kiki.


"Pasti Bunda, Aydin tidak akan membiarkannya. Dia udah membuat kita kehilangan anak bahkan sebelum dia dilahirkan, dan aku tidak akan membiarkan siapa saja menyakiti istriku", Aydin menyandarkan tubuhnya pada tembok dan menghadap ke langit-langit atas meratapi kesedihannya.


tiba-tiba Dokter Vina keluar dari dalam kamar perawatan Kiki. Aydin menghampiri Dokter Vina, dan Dokter Vina mengajaknya duduk di kursi sebelah Bunda. Dokter Vina menceritakan semuanya yang Kiki ucapkan tadi. Bunda meneteskan air mata ikut, merasakan kesedihan yang dialami oleh menantunya. Dokter Vina juga menyarankan agar Aydin untuk sementara waktu tidak bertemu dengan Kiki, agar Kiki lebih tenang dan cepat pulih.


Tentu saja Aydin sangat keberatan, dia tidak percaya akan perkataan Dokter Vina yang mengatakan untuk sekarang ini Kiki sangat membencinya dan tidak mau bertemu dengannya. karena selama ini Kiki tidak pernah membenci Aydin sampai tidak mau bertemu dengannya. Menurutnya jika Kiki sedang ngambek dia harus bersikap romantis agar dia dimaafkan oleh Kiki. Aydin mau mencobanya kembali sekarang. Sebenarnya Dokter Vina melarangnya, namun Aydin bersikeras untuk mencobanya, karena dia tidak tahan dijauhkan dengan istrinya, apalagi istrinya itu dalam keadaan marah padanya.


Kreek....


Pintu terbuka dan Kiki menoleh ke arah pintu tersebut. Baru saja Aydin maju melangkahkan kakinya, namun disambut Kiki dengan sangat histeris. Dia berteriak mengusir Aydin.

__ADS_1


"Pergi.... Pergi kamu dari sini!!! "


"Sayang.... ini aku suami kamu. Tolong jangan usir aku", Aydin mencoba melangkahkan kakinya kembali mendekati Kiki.


"Jangan... jangan mendekat... aku tidak sudi kamu sentuh", KIki menatap tajam Aydin dengan mata berkaca - kaca.


"Sayang jangan begini... maafkan aku.... aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu tau aku sangat mencintaimu dan itu tidak akan berubah sampai kapan pun", Aydin berjalan lebih mendekat, namun Kiki melemparnya dengan bantalnya.


Kiki mengusap air matanya dengan kasar. "Hmm... cinta? Apa menduakan istrinya itu cinta? Apa karena aku tidak bisa memberikanmu anak jadi kamu bermain dengan wanita lain? Jahat.... jahat sekali kamu", Kiki menyeringai mendengar kata cinta yang diucapkan Aydin, namun setelah itu dia kembali meneteskan air mata ketika dia mengucapkan tidak bisa memberikan anak.


"Tidak... tidak sayang.... aku tidak pernah melakukan itu, bahkan berniat untuk melakukan itu pun aku tidak pernah. tolong maafkan aku, kita bicarakan baik-baik ini semua. Aku akan menceritakannya", Aydin berlutut di hadapan Kiki memohon agar dia diberi kesempatan untuk menceritakan kejadian di kamar Naila waktu itu.


"Omong kosong. Pasti kamu akan mengulanginya lagi setelah aku memaafkan mu seperti waktu itu", Kiki tersenyum kecut pada Aydin.


"Tidak sayang. Aku bersumpah, aku tidak pernah mengkhianati mu", Aydin mengiba menatap Kiki.


"Pantas saja buru - buru pulang, ternyata udah gak betah pengen ke kamarnya", dengan nada tersendat karena tidak kuat menahan tangis nya Kiki menyindir Aydin.


"Sumpah demi Allah. Waktu itu Abang pulang bersama Ayah karena kami cepat - cepat ingin melihat rekaman CCTV yang ada di rumah untuk mencari tau siapa yang mencampurkan obat itu pada susu yang kamu minum. Ternyata pelakunya adalah Naila. Kami memang masuk ke dalam kamarnya karena kami mencari bukti yang ada di kamarnya. Namun pada saat Ayah menaruh bukti itu ke luar kamarnya malah Naila berusaha bertindak kurang ajar padaku. Dan setelah itu kalian datang melihat semuanya", Aydin menatap Kiki dengan penuh kesedihan.


"Pembohong. Mana mungkin seorang pria tidak bisa melawan seorang wanita? Kecuali pria itu menikmati nya", senyuman mengejek yang diberikan Kiki membuat Aydin sangat sedih. dia tidak menyangka jika istrinya begitu terluka sehingga tidak mempercayainya lagi.


"Sungguh sayang, aku tidak seperti itu. Aku mohon mengertilah", Aydin sudah tidak tahan lagi, dia ingin memeluk istrinya dan menyalurkan perasaan dan kerinduannya agar istrinya itu bisa merasakan dan kembali mempercayainya. Aydin berdiri dan berjalan menghampiri Kiki, namun lagi - lagi Kiki histeris dan teriak agar Aydin tidak mendekatinya.


"Hentikan. Jangan dekati aku, atau kamu tidak akan melihatku lagi", ancaman Kiki berhasil membuat Aydin menghentikan langkahnya.


Aydin mematung, dia kaget tidak menyangka jika kalimat itu akan keluar dari mulut istrinya. Bunda dan Dokter Vina masuk ke dalam setelah mendengar teriakan Kiki. Mereka berdua sedari tadi mendengarkan percakapan Aydin dan Kiki dari balik pintu yang tidak di tutup.


Kemudian Aydin berbalik dan berjalan menuju pintu hendak keluar dari tempat itu.


"Mau kemana kamu Aydin?' Bunda bertanya karena melihat kemarahan yang begitu besar pada raut wajah anaknya.


"Mau menemui Naila, aku akan membuat perhitungan dengannya", tanpa menoleh, Aydin menjawab dan berlalu keluar.


Kiki tersenyum getir mendengar suaminya akan menemui Naila, wanita yang membuat dirinya sakit hati dan membuatnya kehilangan anaknya. Di dalam pikiran Kiki saat ini Aydin benar - benar telah mengkhianatinya dengan lebih memilih Naila. Karena Kiki dalam keadaan yang sangat syok, dia tidak bisa berpikiran dengan jernih, dia hanya mengandalkan emosi dari apa yang dia lihat. kiki benar- benar kecewa pada Aydin. Menurut Kiki Aydin telah mengingkari janjinya untuk tetap setia padanya.


Tiba - tiba Kevin masuk ke dalam ruangan tersebut. Dokter Vina berpamitan keluar dan sebelumnya dia memberikan obat untuk segera diminum oleh Kiki. Bunda masih berada di dalam untuk menemani Kiki, namun Kiki meminta agar Bunda menunggu di luar karena Kiki ingin berbicara dengan kakaknya. Bunda sebenarnya tidak mau meninggalkan Kiki, namun tidak ada pilihan lain, dia harus keluar agar Kiki tidak merasa terganggu.


Kiki menangis dalam dekapan kakaknya. Dia menangis tersedu- sedu dan mengadu pada kakaknya.


"Kak, tolong bawa aku pergi, aku tidak kuat lagi, aku ingin menjauh dari mereka. Aku tidak ingin berada di dekat mereka"


"Tenang dek, kamu harus menenangkan diri dulu, setelah itu kita selesaikan semuanya ya", Kevin membujuk agar kiki tetap mau berada di rumah sakit untuk perawatan agar cepat kembali sehat.


"Enggak Kak, aku gak mau ketemu sama mereka. Wanita itu.... wanita jahat itu yang sudah tega membunuh anakku adalah keponakan Ayah dan sekarang dia mengambil suamiku. Aku gak kuat kak... aku gak mau ketemu sama mereka, aku mau pergi...", Kiki menangis histeris dan mencoba lepas dari dekapan kakaknya.


Kevin meneteskan air matanya, dia sedih dan terpukul melihat keadaan adiknya seperti ini. Di sisi lain Kevin percaya pada Aydin karena dia sahabatnya, namun di sisi lain dia tidak terima adiknya diperlakukan seperti itu olehnya. Kevin menghembuskan nafasnya berat, tanda bahwa dia mengambil keputusan yang sangat berat.


"Baiklah, kakak akan membawamu pergi. Tapi kita akan pergi kemana?"

__ADS_1


Kiki masih dengan isakannya, dia diam berpikir. Sesaat kemudian dia membisikkan sesuatu pada kakaknya. Kevin melotot kaget mendengar apa yang dibisikkan oleh Kiki barusan.


"Kamu serius dek? Kamu gak lagi bercanda kan?" Kevin menatap Kiki tidak percaya.


Kiki mengangguk. "Tolong hubungi dia sekarang Kak, suruh dia datang dan membawaku ke sana."


"Dek, bukannya malah jadi rumit masalahnya. Kalau kamu pergi ke sana, masalah kalian tidak akan selesai. Kamu tau kan Aydin pasti akan marah jika tau kamu di sana?" Kevin masih saja membujuk adiknya agar tidak jadi pergi.


"Aku hanya ingin menenangkan diri kak. Apa kakak tega melihat aku tertekan?" mata Kiki berkaca - kaca teringat semua kejadian yang telah dia alami beberapa hari ini.


Tok...tok...tok...


Pintu diketuk oleh seseorang dan ternyata Dokter Vani datang untuk memeriksa kondisi Kiki saat ini.


"Bagaimana keadaan kamu saat ini, apa sudah lebih tenang?" Dokter Vani tersenyum ramah menenangkan Kiki seperti biasanya.


Kiki mengeluarkan air matanya, "Sakit dok.... disini sakit sekali Dok...", Kiki menunjuk dadanya dan kembali terisak..


Dokter Vina mememeluk Kiki dan menenangkannya. Kemudian dia bertanya pada Kevin, "Maaf anda siapanya Mbak Kiki?"


"Saya kakaknya Dok", Kevin menjawab dengan pandangan terpanah pada Dokter Vani.


"Oww begitu... Apa boleh saya mengatakan sesuatu pada anda?"


"Boleh dok, silahkan", kemudian kevin duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Dokter Vani mengurai pelukannya dengan Kiki, dan dia duduk di sofa berbicara pada Kevin.


"Maaf, menurut saya lebih baik Mbak Kiki dibawa ke suatu tempat dulu agar lebih tenang. Dan saya akan tetap memantau kesehatannya"


"Tadi Kiki juga meminta untuk pergi ke suatu tempat menjauh dari suaminya dan keluarganya, cuma saya pikir itu tidak tepat karena saya takut nantinya masalah mereka akan lebih buruk dan tidak selesai - selesai."


"Malah akan lebih buruk lagi jika kita tidak menurutinya, karena akan berpengaruh pada hati dan pikirannya. Untuk sementara saja saya rasa tidak apa- apa, sambil memberi waktu untuk mereka saling instrospeksi diri mereka sendiri dan untuk mereka saling menyadari betapa pentingnya kehadiran pasangan mereka dalam hidup mereka", Dokter Vina memberikan pendapatnya dengan senyuman khasnya dia berbicara dan itu mampu membuat Kevin lagi - lagi terpanah padanya.


Namun dia segera sadar ketika Dokter Vina melambaikan tangan di depan wajahnya, "Baiklah Dok, tapi bagaimana dengan obat dan pemeriksaannya?"


"Nanti saya akan memberikan obatnya untuk beberapa hari sebelum kalian pergi. Dan untuk pemeriksaan nanti kita atur lagi, tapi jika sangat dibutuhkan, saya siap kapan saja ke sana, asalkan tidak jauh ke luar kota menyeberang pulau", Dokter Vani memberikan candaan yang membuat mereka berdua tersenyum.


Kiki tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, karena saat ini dia sedang melamun menatap jauh ke luar jendela. Bunda yang berada di depan kamar perawatan Kiki merasa gundah karena sudah lama sekali dia menunggu di luar.


Akhirnya Dokter Vina keluar dari ruangan tersebut dan mengajak Bunda untuk ke ruangannya. Bunda pun menurut dan berjalan bersama Dokter Vani untuk pergi ke ruangannya.


Kevin meminta Raditya untuk datang ke rumah sakit dan memberitahukan ruangan Kiki. Sekarang ini Aydin masih berada di rumahnya untuk menyelesaikan masalah Naila bersama Ayahnya.


Aydin sudah tidak mau memaafkan Naila lagi, apalagi jika mengingat saat terakhir tadi Kiki mengusirnya dan menuduhnya lebih memilih Naila, Hati Aydin sangat hancur dan dia sangat marah pada Naila. Hanya dalam beberapa menit Raditya sudah datang ke ruangan Kiki di rawat, dia menatap iba pada Kiki melihat keadaannya saat ini.


Dia menyalahkan dirinya karena sudah membiarkan Kiki bersama Aydin yang sekarang malah membuat Kiki menderita, dia berpikir mungkin jika Kiki bersamanya tidak akan menderita seperti ini.


Raditya bertanya pada Kevin tentang apa yang terjadi,namun Kevin mengatakan jika dia akan mengatakannya nanti setelah mereka pergi dari sini. Dan Raditya pun menyetujuinya.Mereka pergi ketika Bunda belum datang kembali ke kamar perawatan Kiki. Dan tadi perawat telah memberikan obat untuk Kiki untuk beberapa hari.

__ADS_1


Perawat tersebut diperintahkan oleh dokter Vina untuk segera memberikan obatnya pada KIki tanpa sepengetahuan Bunda. Bukannya Dokter Vina mendukung untuk menyembunyikan Kiki dari keluarga suaminya, namun dia pikir ini akan baik untuk Kiki sementara waktu.


Setelah selesai berbicara dengan Dokter Vina, Bunda kembali ke kamar perawatan Kiki, namun Bunda tidak menemukan Kiki ataupun Kevin. Bunda mencarinya di seluruh ruangan pun tidak ada. Bunda bertanya pada perawat yang berjaga di ruangan VVIP, dan mereka berkata bahwa Kiki ijin pergi ke taman dengan dua orang laki-laki. Bunda segera menghubungi Aydin dan berjalan menuju taman rumah sakit, namun dia tidak menjumpai Kiki ataupun Kevin meskipun dia sudah berkeliling taman rumah sakit yang begitu luas.


__ADS_2