Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
148


__ADS_3

Flashback


Linda menemui Raline di depan rumah Abah dan Ambu. Linda mengira Raline tidak akan mengenalinya. Memang benar, Raline tidak mengenalinya, tapi orang-orang yang bekerja di rumah Abah pasti mengenalinya.


Saat itu Raline kembali pulang untuk mengambil bukunya yang ketinggalan di meja belajarnya. Ketika dia melewati dapur, dia mendengar Mang Engkus dan Mang Harjo sedang membicarakan wanita yang. berada di sebelah gerbang tadi adalah Bunda Raline.


Sontak saja Raline segera berlari ke depan rumah dan beruntung karena Linda pada saat itu hanya bergerak satu langkah saja dari tempatnya tadi berada.


"Bunda!" Raline mencoba memanggil wanita tersebut dengan panggilannya pada ibunya.


Wanita tersebut menoleh dan memandang Raline dengan pandangan aneh. Dia terkejut namun dia tersenyum. Dan dia membuka lebar kedua tangannya agar Raline mau memeluknya.


Wanita tersebut memang Linda. Dia selalu datang ke rumah Abah dan Ambu jika dia merasa hampa dan merindukan Raline. Tapi jika dia sedang bersama Riko dan Pak Gunawan, dia tidak pernah merasa rindu pada Raline.


Hari itu Linda merasa sangat marah pada Riko yang dengan seenaknya membatalkan acara liburan mereka yang sudah seminggu lalu mereka rencanakan dengan alasan mengantar sepupunya pulang ke rumah orang tuanya. Padahal Riko memang sedang bersama sepupunya, namun mereka sedang berlibur bersama dan bersenang-senang berdua di tempat yang tidak Linda ketahui.


Dan dia juga marah pada Pak Gunawan karena saat ini dia ingin mengajak Pak Gunawan berlibur, namun dia menolaknya karena dia akan berlibur dengan anak dan istrinya.


Linda merasa dirinya sebatang kara. Di saat seperti ini, barulah dia teringat dengan Raline. Linda berjalan dengan dandanan Linda yang sekarang dan dengan kacamata hitamnya itu dia berada di depan pagar rumah Abah dan Ambu, berharap untuk bisa bertemu dengan Raline.


Tadinya dia melihat Raditya yang masih saja sangat menawan menurutnya, bahkan lebih menawan lagi dengan memakai pakaian formal ketika hendak berangkat kerja.


Namun lagi-lagi Linda harus menelan kekecewaan mendengar nama Kiki disebut oleh Raditya ketika dia bertelepon dan tertawa bahagia ketika berbicara. Linda sangat membenci Kiki yang bisa memiliki dua hati pria yang diinginkan oleh Linda, yaitu Aydin dan Raditya.


Kini di hadapan Linda terdapat Raline, anaknya dengan Raditya. Pelukan dari Raline sangat menghangatkannya. Keegoisannya kembali merajai hatinya. Linda ingin semua merasakan seperti apa yang dia rasakan.


"Apa Raline kangen sama Bunda?" Linda memandang wajah Raline yang sangat mirip sekali dengan Raditya versi wanita, sangat cantik dan berhati lembut sehingga dengan gampangnya Linda bisa memanfaatkannya.


Raline mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Dia ingin kembali memeluk Bundanya, namun Linda melangkah ke belakang, dia menjauh satu langkah dari Raline.


"Apa Raline mau bertemu dengan Bunda setiap hari?" Linda bertanya pada Raline yang masih memandangnya dengan heran karena menjauh darinya.


"Apa Raline bisa mengabulkan permintaan Bunda agar kita bisa bertemu dengan leluasa?" Linda kembali melayangkan pertanyaannya pada Raline.


"Permintaan? Bunda minta apa?" Raline ragu mengucapkannya.

__ADS_1


"Raline gak bakalan bisa bertemu dengan Bunda jika Raline masih saja berada di sini. Raline harus menjauh dari keluarga ini dan keluarga Kiki agar kita bisa bertemu," Linda memasang wajah sedih agar Raline mau menuruti permintaannya.


"Kenapa? Kenapa harus menjauh dari mereka? Raline gak yakin bisa jauh dari mereka Bunda. Apa gak bisa kita tetap bertemu tapi Raline tetap di sini?" Raline tidak bisa menerima permintaan Linda,Raline menggelengkan kepalanya sambil berucap dan matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar sehingga keluar sedikit air mata yang menetes di pipinya.


"Mereka gak akan membiarkan kamu untuk bertemu dengan Bunda. Mereka gak suka Bunda dekat-dekat dengan Raline. Pasti mereka akan mengusir Bunda jika Bunda bertemu denganmu," Linda berusaha mengeluarkan air matanya agar dia terlihat benar-benar bersedih.


"Kenapa begitu? Mereka semua orang baik Bunda, mereka gak akan berbuat seperti itu," Raline tetap bersikukuh membela keluarganya.


"Itu karena kamu masih kecil Raline. Kamu belum tau apa yang terjadi. Jika kamu menjauh dari sini, kamu akan bisa bertemu dengan Bunda kapanpun dan Bunda akan memberitahukan semuanya padamu," Linda segera berjalan karena dia takut jika akan ada yang mengetahuinya, dia takut akan kembali masuk ke dalam jeruji besi seperti waktu itu.


"Bunda... Bunda... kapan kita akan bertemu lagi?" dengan nafas sedikit ngos-ngosan Raline bertanya pada Linda, dia berlari untuk menyusul Bundanya.


"Bunda akan menemuimu di sekolah agar lebih aman, gak ada yang tau. Dan Raline harus pikirkan apa yang Bunda katakan tadi. Sampai ketemu lagi anak Bunda," Linda mencium pipi kanan Raline, kemudian dia kembali berjalan menjauhi Raline yang masih mematung menatap punggung Bundanya.


Raline memegang pipi kanannya yang baru saja dicium oleh Bundanya.


Kenapa hanya saru pipi saja yang dicium Bunda? Kenapa tidak seperti Mami yang menciumi semua bagian wajah Raline? Apa benar Bunda mencintai Raline? semua pertanyaan itu Raline tanyakan dalam hatinya saja.


Dan Raline segera berlari untuk kembali ke sekolahnya menggunakan ojek karena jam di tangannya sudah menunjukkan waktu kurang dari lima belas menit gerbang akan segera ditutup.


"Raline!" Linda berteriak memanggil Raline.


Kebetulan saat itu Mang Engkus yang bertugas untuk menjemput Raline masih berada di jalan sehingga Linda bisa berbicara dengan Raline sebelum Mang Engkus datang.


"Bagaimana? Apa Raline sudah memutuskan? Apa kamu gak ingin bebas bertemu dengan Bunda?" Linda kembali menekan Raline agar mau menyetujui permintaannya.


"Bunda, apa gak bisa kita bertemu seperti ini saja setiap hari? Atau beberapa hari sekali?" Raline menjawab pertanyaan Linda dengan pertanyaan darinya.


"Apa Raline lebih menyukai bersama mereka dibanding bersama Bunda?" Linda memojokkan Raline.


"Bukan seperti itu Bunda, Raline hanya... Raline gak mau jauh dari siapapun, dan Raline juga gak tau harus menjauh ke mana?" jawab Raline.


Kebingungan Raline masih belum terjawab selama beberapa hari ini. Dia benar-benar berpikir agar tidak menyakiti hati siapapun, karena semua orang yang ada di dekatnya sangat dia cintai.


Di usianya yang masih belia, Raline harus dihadapkan dengan kenyataan yang mengharuskannya untuk memilih. Sungguh dia tidak ingin meninggalkan orang-orang yang dia cintai, namun dia juga ingin sekali mengetahui alasan Bundanya meninggalkannya di waktu dia masih kecil.

__ADS_1


Raline masih ingat waktu itu, terakhir Linda berpamitan untuk berangkat bekerja, namun dia tidak kunjung kembali pada saat itu. Serta pada waktu dia bertemu dengan Bundanya di saat dia berjalan-jalan di taman dengan Ayahnya dan keluarga Ken, Linda tidak mau pulang bersamanya.


Raline sangat ingin memiliki keluarga utuh yang bahagia seperti Ken dan Miyuki. Meskipun Kiki dan Aydin menganggapnya sebagai anaknya sendiri, tapi tetap saja Raline ingin memiliki keluarganya sendiri.


Setiap kali pengambilan raport selalu Kiki yang mengambilkannya, kadang juga Renita karena Raditya selalu sibuk dengan perusahaanya yang baru berkembang itu. Tapi Raline tidak pernah mengeluh karena dia tidak kekurangan kasih sayang ataupun perhatian dari siapapun. Semua orang selalu memperlihatkan kasih sayang dan perhatian mereka pada Raline.


"Raline, jika kita seperti ini terus, pasti Ayah kamu akan mengetahuinya. Kamu mau kita selamanya tidak akan bisa bertemu? Kamu gak sayang sama Bunda?" Linda kembali memojokkan Raline dan membuatnya lebih bimbang lagi.


"Bunda, Raline sayang sama Bunda, tapi kenapa baru sekarang Bunda datang dan menyuruh Raline untuk menjauhi mereka?" Raline akhirnya mempertanyakan apa yang ingin dia tanyakan.


"Bunda punya alasan, dan kamu akan mendengarkan alasan Bunda jika kamu sudah jauh dari mereka. Kita akan bebas bertemu dan akan Bunda ceritakan semuanya," Linda mengulangi jawaban yang sama dengan jawabannya sebelumnya.


Drrt... drrt...


Tiba-tiba ponsel Raline bergetar. Diambilnya ponselnya dari saku seragamnya. Ternyata ada nama Mang Engkus pada layar ponsel Raline. Raline mengedarkan pandangannya, dan ternyata Man Engkus sudah berada di luar mobil dengan ponsel yang menempel di telinga kanannya.


"Bunda, Raline harus pulang. Jemputan Raline sudah menunggu," ucap Raline sambil berjalan menjauhi Linda tanpa mendengar jawaban dari Linda.


Raline lebih takut membuat Ayahnya kecewa dibandingkan dia tidak bisa bertemu dengan Bundanya.


Sampai beberapa kali Linda kembali menemui Raline dan menekan dan memaksanya untuk segera menjauh dari keluarganya.


"Lalu Raline harus ke mana Bunda? Raline gak punya tempat tujuan lain, dan Raline gak kenal siapa-siapa selain mereka," Raline mengiba pada Bundanya agar Bundanya itu tidak memaksanya untuk meninggalkan semua orang yang mencintainya dan menyayanginya lebih dari Bundanya sendiri.


"Kenapa kamu gak ke Pondok Pesantren Eyang kamu saja? Di sana dekat dengan rumah orang tua Bunda. Kamu bisa bertemu dengan mereka juga," Linda menyampaikan idenya dengan sangat antusias.


"Pondok Pesantren? Apa harus?" Raline bertanya dengan keraguan yang menyelimutinya.


Dan Linda mengangguk yakin dengan senyumannya meyakinkan Raline untuk mengikuti keinginannya.


"Raline pikirkan dulu ya Bunda. Dan Raline juga harus ijin dulu dengan Ayah dan semuanya," Raline mengatakannya dengan lemah, dia tidak yakin bisa meninggalkan semuanya.


"Baiklah, akan Bunda tunggu keputusanmu. Bunda harap kamu gak akan mengecewakan Bunda, dan Bunda harap kita bisa lebih dekat lagi seperti ibu dan anak pada umumnya," Linda tersenyum membuat hati Raline menjadi trenyuh dan bimbang.


Flashback end

__ADS_1


__ADS_2