
Hari ini hari paling penting untuk Kevin dan Vina. Akhirnya hari yang mereka tunggu-tunggu untuk mereka bersatu telah tiba. Semua persiapan telah dilakukan semaksimal mungkin.
Kiki, adik kesayangan Kevin ngotot ingin membantu mengurusi pernikahan kakaknya itu. Padahal semua orang sudah melarangnya, namun Kiki yang sekarang berbeda dengan yang biasanya.
Di kehamilannya kini, Kiki yang lebih agresif, berani, keras kepala, dan sensitif. Untuk manjanya kini agak berkurang. Malah Aydin yang sangat manja pada istrinya.
Awalnya Kevin dan Vina setuju dengan konsep pernikahan menggunakan adat daerah mereka, yaitu Jawa. Tapi lagi-lagi Kiki tidak setuju, dia tetap menyukai konsep putri di negeri dongeng. Dan dia ingin Kevin dan Vina melakukan sesuai keinginannya.
Kevin dan Vina sangat bingung, sebenarnya yang menikah itu Kiki atau mereka? Kevin protes habis-habisan pada Aydin, namun seperti biasa Aydin hanya mendengarkan tanpa berkomentar.
"Bro, itu bini lu kasih tau napa, masa' iya kita yang nikah tapi semua harus sesuai keinginan dia?" protes Kevin pada Aydin.
"Adek kesayangan lu," komentar Aydin yang sangat tidak diharapkan jawabannya.
"Ck, kasih solusi kek, malah komen gak penting. Nah adek gua itu bini lu," balas Kevin.
"Ya udah turutin aja, gampang kan?" ucap Aydin dengan entengnya.
"Gampang... gampang pala lu! Kita juga punya keinginan sendiri, masa' nurutin keinginannya Kiki sih?" ucap Kevin frustasi.
"Tinggal ngadain pesta dua kali gampang kan?" Aydin memberikan solusi.
"Dikira gampang apa nyiapin tempat, waktu dan sebagainya?" sewot Kevin.
"Daripada ponakan lu ngiler," ucap Aydin sambil terkekeh.
"Ck, akal-akalan bumil satu itu, apa-apa ngomongnya ngidam. Nyusahin orang aja," sewot Kevin kembali.
Aydin menatapnya dengan tajam, hingga Kevin kesusahan menelan ludahnya.
"Sans Bro, biasa aja dong. Bantuin dong, ini gimana," Kevin kembali frustasi.
"Mau pakai konsep sama kayak kita waktu itu? Kalau mau, gampang tinggal pihak Wedding Organizer yang sama biar diurusin, untuk tempatnya gampang, aku yang urus semuanya," jawab Aydin memberikan solusi.
"Terus pernikahan konsep adat kita gimana?" tanya Kevin.
"Lanjutin aja, kalian yang atur sendiri. Jadi kalian pestanya dua kali," saran Aydin.
__ADS_1
"Haduuuh.... bikin ribet aja si boncel nih. Aku omongin sama Vina dulu aja ya. Thanks Bro," ucap Kevin yang sudah berdiri dari duduknya.
Aydin mengangguk dan terkekeh melihat kakak iparnya sekaligus sahabatnya yang dibuat kerepotan dengan ulah istrinya.
Sang pembuat ulah dengan santainya melakukan aktifitasnya seperti biasa tanpa beban apapun.
Mendengar bahwa kakaknya akan melakukan pernikahan sesuai dengan keinginan dirinya, Kiki sangat merasa bahagia. Dia telah mengatur segalanya sesuai keinginannya. Dan tentu saja Aydin yang membayar untuk pesta yang dikehendaki Kiki.
Aydin mengeluarkan banyak dana seperti pernikahannya waktu itu. Entah mimpi apa dia hingga seperti sedang melaksanakan pesta pernikahan yang kedua kalinya dengan tema yang sama. Hingga dia merasa dejavu.
Tidak ada yang bisa protes dengan kemauan Kiki karena alasannya yang membuat mereka semua tidak bisa membantah, yaitu ngidam, alias kemauan si dedek. Entahlah itu kemauan si dedek atau kemauan emaknya.
Kini hari itu tiba, Vina sedang gelisah di kamar pengantin menunggu acara akad nikahnya.
"Tenang aja Kak, gak usah grogi. Santai aja," ucap Kiki menenangkan Vina sambil duduk di sebelah Vina.
"Gak bisa tenang Ki, gak tau dari tadi bawaannya grogi mulu," ucap Vina gelisah.
"Cielah Kak, tenang aja. Harusnya yang grogi sekarang itu Kak Kevin, kalau Kak Vina groginya nanti pas malam pertama," seloroh Kiki dengan kekehannya.
"Kamu itu Ki mentang-mentang udah hamil jadi ngomongnya kayak orang udah berpengalaman," ucap Vina yang juga ikut terkekeh.
"Hmmm... gaya, ati-ati itu dedek bayinya dijaga, jangan kebanyakan gaya kalau pas lagi proses," Vina menimpali candaan Kiki.
"Harus banyak gaya Kak, biar bervariasi, biar puas. Hehehe....," Kiki membalas candaan Vina.
"Wah bener-bener pro dong kamu Ki," Vina terkekeh dengan bahan pembicaraan mereka.
Sungguh adik iparnya ini sangat pintar mengalihkan perhatiannya, hingga tidak sadar acara ijab kabul sudah selesai, dan terdengar kata 'sah' dengan sangat lantang dari luar kamar.
Vina menghela nafas lega, namun dia masih gugup karena banyaknya acara yang akan mereka lakukan. Vina kini diantar oleh Kiki menuju kakaknya, yaitu suami Vina.
Dengan perut besarnya, Kiki mengapit lengan Vina dan menggandengnya menuju meja dilaksanakannya ijab kabul tadi. Setelah itu dilakukanlah semua proses yang harus dilakukan setelahnya.
Hingga pada saat acara resepsi pernikahannya yang menggunakan adat jawa, Kiki meminta untuk didandani ala putri keraton yang sedang hamil.
Aydin dan Kevin pusing dengan permintaan aneh dari ibu hamil yang sialnya sangat mereka sayangi.
__ADS_1
Menginjak usia kandungan yang sudah hampir melahirkan, Kiki malah lebih aktif meskipun sering kelelahan. Dan yang menjadi sasarannya adalah Aydin. Suaminya itu selalu memijit kaki dan badan Kiki sesuai dengan permintaan si nyonya besar.
Aydin dan Kevin hampir tidak bisa menahan tawanya ketika Kiki sudah selesai di makeup dan memakai kebayanya.
"Cantik sih emang, tapi perutmu itu loh Dek, jadi kayak mbok jamu yang bawa jamu gendongannya di depan," Kevin tertawa ngakak didepan Kiki.
Jiwa sensitif Kiki berulah. Mulutnya bergetar, matanya berkaca-kaca dan tiba-tiba tangisannya pecah sekeras-kerasnya, mirip dengan tangisan bocah yang tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya.
Aydin bingung melihat istrinya yang tiba-tiba menangis histeris. Dia bergegas memeluknya dan menenangkannya.
Kiki sesenggukan menangis di dekapan Aydin dan melaporkan semua omongan kakaknya yang menyakiti hatinya.
Kevin yang mendengar malah terbahak-bahak melihat tingkah adiknya yang benar-benar menjelma sebagai bocah.
Kaki Aydin yang panjang menyepak kaki Kevin agar diam tidak menertawakan Kiki lagi. Namun sayangnya Kevin masih tetap saja menertawakan adiknya.
Dengan kewalahan Aydin membawa Kiki ke kamar yang dikhususkan untuk mereka. Memang acara ini diadakan di hotel Ayah Aydin yang kini sudah jadi milik Aydin.
Dengan telaten Aydin mengganti pakaian Kiki dan menghapus makeup Kiki yang masih sesenggukan persis kayak bocah yang sudah dibujuk orang tuanya.
Setelah itu Kiki dimandikan oleh Aydin dan setelah dimandikan, dipakaikan baju tidur dan disisir rambutnya. Kiki, yang punya badan hanya diam dan melihat suaminya dengan sayangnya merawatnya.
Mata Kiki selalu memandang cermin di depannya, terbit senyum ketika melihat suaminya dengan telaten memanjakannya.
Kiki berbalik badan dan memegang tangan suaminya. Kemudian dia berdiri dan berjinjit untuk bisa menggapai telinga suaminya.
"Dedek bayi pengen ditengokin," bisik Kiki di telinga Aydin.
Senyum senang tersungging di bibir Aydin. Langsung saja dia membawa tubuh Kiki ke atas ranjang untuk proses menjenguk dedek bayi.
Sungguh cepat sekali berubah mood Kiki disaat hamil ini. Entahlah anaknya seperti apa ketika sudah lahir nanti.
Keesokan harinya diadakan pesta pernikahan yang kedua dengan tema sesuai keinginan Kiki. Kemarin kebanyakan yang datang dari tetangga rumah Vina dan Kevin. Sedangkan yang sekarang tamu yang datang merupakan kolega bisnis dan teman-teman mereka, ada juga rekan-rekan seperjuangan mereka yang sengaja datang untuk memberikan selamat pada mereka.
Memang bagi kaum wanita yang dulu menjadi penggemar Kevin, mereka merasa patah hati, namun mereka masih dalam batas wajar. Tapi ada seseorang yang tidak terima jika Kevin yang di klaim menjadi miliknya kini dimiliki oleh wanita lain.
Wanita itu datang dengan pakaian super minim yang benar-benar memperlihatkan semua lekuk tubuhnya, dan dia menghampiri Kevin di pelaminan.
__ADS_1
"Hai sayang.... long time no see," wanita itu memeluk dan mencium pipi Kevin pada saat Kevin lengah.
"Ka-kamu..."