Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
7


__ADS_3

Disaat Kiki memasuki rumah,tiba-tiba ada suara,


"Diantar siapa Dek?"


Ternyata Kevin yang bertanya sambil memainkan game online dari ponselnya di pojokan sofa di ruang tamu.


"Temen kak, tadi lama banget gak ada angkot.


Kok kakak udah pulang, bukannya tadi katanya ada kegiatan di kampus?" jawab Kiki sekalian bertanya kenapa kakaknya sudah ada di rumah sedangkan Kiki baru saja sampai di rumah.


Gimana Kiki gak baru sampai, lha wong dia tadi main suap-suapan dulu sama Raditya di warung bakso.


"Tadi cuma sebentar, banyak yang gak hadir soalnya, jadi diundur kegiatannya, besuk mungkin," jawab Kevin yang masih memainkan game di ponselnya.


"Oh gitu....kirain bohongin Kiki. Hehehehe...," jawab Kiki sambil nyengir memperlihatkan giginya.


"Ngawur kamu itu.Bisa dipecat jadi anak aku sama mama kalau gak mau antar jemput kamu,apa lagi bohong gara-gara gak mau jemput kamu, auto dicoret dari kartu keluarga aku," ujar Kevin yang masih setia dengan gamenya.


"Hehehe.... sayang banget sama adeknya. Btw, mama mana sih kak, kok kayak sepi banget di dalam?" tanya Kiki pada kakaknya.


"Sayang dong, kan kamu limited edition, princess boncel kesayangan kita, gak bakalan ada lagi yang kayak kamu," jawab Kevin sambil terkekeh dan masih dengan memainkan game di ponselnya.


"Lambemu kak," ucap Kiki sambil melempar bantal kursi dari sofa yang ada di dekatnya ke arah kakaknya.


"Njir.... ya mampus deh. Gara-gara kamu nih dek, kalah kan jadinya," seru Kevin sambil membalas melempar bantal kursi yang tadi di lempar Kiki ke arahnya dan kini dilempar kembali oleh Kevin ke arah Kiki.


"Yeee gak kena.....,"seru Kiki sambil joget-joget dan memeletkan lidahnya mengejek Kevin.


Melihat tingkah Kiki yang mengejeknya, Kevin ingin melempar kembali bantal kursi yang ada di sebelahnya. Diambilnya bantal kursi yang ada di sebelahnya itu dan diarahkannya ke arah Kiki dan..... kena. Bantal kursi tersebut mendarat manis ke muka Kiki.


Melihat itu Kevin teriak kegirangan, "Triple Kill.....,"sorak Kevin dengan tangan mengepal ke atas.


Kiki yang geram dengan tingkah kakaknya, dia ingin membalas dendam dengan melempar kembali bantal yang dengan sangat indahnya itu mendarat di mukanya.


Diambilnya bantal yang mengenai mukanya itu dengan secepat kilat dan langsung di lempar ke arah kakaknya yang masih merayakan kemenangannya itu, dan bantal itu berhasil mendarat sempurna di muka kakaknya.


Melihat itu Kiki pun bersorak kesenangan dengan berjoget-joget kembali seperti tadi sambil memeletkan lidahnya mengejek kakaknya.


Kevin pun ingin membalas lagi, bantal yang mengenai mukanya akan dia lemparkan ke arah Kiki kembali, namun sebelum bantal itu terlempar, sang mama sudah ada di belakang Kiki. Memang posisi Kiki saat ini berada di depan pintu masuk, jadi ketika mama masuk,langsung saja disuguhi tingkah laku Kiki yang sedang berjoget-joget sambil mengejek kakaknya, sedangkan Kevin akan melempar bantal kursi ke arah Kiki.


"Kalian sedang apa?" suara itu tidak asing ditelinga Kiki dan Kevin.


Sontak saja mereka berhenti dan melihat ke arah suara tersebut. Benar saja sang mama sudah melihat ke arah mereka sambil berkacak pinggang.


"Eh mama,sudah pulang ma?" tanya Kevin sambil berdiri beranjak jalan ke arah mama dan menyalimi tangan mama.


Sedangkan Kiki hanya menampilkan senyum yang memamerkan deretan giginya sambil berkata,


"Mama dari mana?" dan Kiki pun meraih tangan mama untuk salim.


"Ya udah pulang lah kan udah disini. Mama habis dari restoran, biasalah ngecek semuanya," jawab mama sambil menerima tangan Kevin dan Kiki yang menyalimi mereka dengan bergantian.


Shinta Wardani, nama mama dari Kevin dan Kiki. Seorang ibu rumah tangga yang mempunyai usaha restoran di beberapa kota.


Usaha turun-temurun dari orang tuanya yang berhasil dikelola Shinta dan membuka cabang di beberapa kota. Ada sebagian resep yang turun-temurun dari keluarganya, ada juga resep hasil kreasi Shinta dan ada juga resep hasil dari Shinta mengembangkan resep yang ada.


Namun ada beberapa juga resep yang berasal dari chef di restoran tersebut.


Shinta merupakan seorang istri dari Ferdian Anggara. Seorang pengusaha konveksi yang juga mempunyai cabang di beberapa kota.


Seorang ayah yang sangat dibanggakan oleh Kevin dan Kiki.


Ferdian merupakan seorang lelaki yang humoris, tegas, bijaksana dan penyayang keluarga. Tak ayal Kevin dan Kiki juga memiliki sifat humoris karena turunan dari mama papanya.


Shinta juga humoris dan tentunya juga penyayang keluarga. Tak ayal mereka jadi keluarga yang memiliki rasa humor dan harmonis.


"Gimana sayang sekolahnya hari pertama, lancar?" tanya mama menghadap Kiki dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.


"Alhamdulillah lancar ma.Kiki masuk di kelas X MIPA 1. Terus tadi tempat duduknya diacak loh ma sama gurunya.Eh Kiki duduk di depan meja guru. Hehehe...., " cerita Kiki kepada mama dan kakaknya.


"Bukannya kamu memang langganan duduk di depan meja guru dek?" tanya Kevin menyelidik sambil mengekori mama dan Kiki yang berjalan menuju sofa.

__ADS_1


"Iya dong. Kebetulan banget kan kak,"jawab Kiki dengan bangganya.


Kini mereka bertiga sudah duduk di sofa ruang tamu.Sambil mengobrol mereka memakan cemilan yang ada di meja.


"Kak ambilin minum gih, pasti mama haus deh,baru pulang,di luar panas banget,"suruh Kiki kepada kakaknya.


"Dasar adek durhaka nyuruh-nyuruh kakaknya ngambilin minum," seru Kevin menggapi ucapan Kiki.


"Yaelah gapapa kali kak, berbakti pada Mama tercinta, sekalian ambilin Kiki minum juga, biar terbukti sayang adek",ucap Kiki sambil senyum yang memperlihatkan giginya.


"Dasar adek gak ada akhlak. Ngomong aja lagi mager," seru Kevin sambil melempar bantal kursi yang ada disebelahnya.


Padahal bantal-bantal tersebut baru saja mereka kembalikan ke atas sofa setelah mereka lempar-lempar tadi.


Muka Kiki terkena bantal yang dilempar Kevin barusan. Kiki tidak bisa menghindar, karena disebelahnya ada mama yang duduk mepet dengannya. Alhasil bantal yang dilempar Kevin tersebut mendarat sempurna di muka Kiki.


"Double Kill,"seru Kevin sambil mengepalkan tangannya ke atas sebagai tanda dia merayakan keberhasilannya.


Sontak Kiki akan membalas melempar bantal ke arah Kevin. Namun tangannya dihentikan oleh mama, dan berkata,


"Udah... udah kalian berantem terus kayak tom and jerry, pusing mama liat kalian berantem terus. Kevin kamu ambil minum sana, Kiki biar cerita tadi di sekolah ngapain aja," lerai mama kemudian.


"Ya mama, padahal Kevin juga pengen tau cerita Kiki, kali aja hari pertama masuk sekolah dia udah dapet cowok," ucap Kevin sambil dia berjalan ke arah lemari es yang ada di dapur untuk mengambil minum dan setelah itu dia kembali ke ruang tamu dengan tiga gelas orange juice yang tadi dia tuang dari botol yang diambil dari lemari es.


"Sembarangan,"jawab Kiki yang mendengar ucapan kakaknya yang berjalan ke arah dapur.


"Nih ya ma, tadi Kiki duduk di depan meja guru, terus Kiki duduknya sebangku sama cowok. Dia jadi ketua kelasnya, dan Kiki jadi sekretarisnya. Di belakang Kiki, cowok jadi wakil ketua kelas dan sebelahnya jadi bendahara, cewek. Kita udah lumayan akrab sih ma. Nah tadi tuh nungguin angkot lama banget, untung ada temen sebangku Kiki lewat, jadi dianter sekalian pulang deh. Lumayan duit Kiki bisa ditabung. Hehehe.....",cerita Kiki panjang lebar ke mamanya dan Kevin pun yang memang sudah ada di situ ikut mendengarkan juga.


"Wah jangan-jangan bentar lagi ada yang jadian nih ma. Awasin tuh ma," ucap Kevin menimpali omongan Kiki.


"Dih, sok tau. Cuma temen doang kok. Lagian aku gak mau kalau nilai aku jelek karena pacaran. Bisa kecewa nanti mama sama papa.


"Kalau pacaran tapi gak macem-macem dan anaknya baik,nwhy not? Iya gak ma?" tanya Kevin ke mamanya untuk mendapatkan dukungan atas opininya.


"Iya gapapa si. Yang penting fokus juga sama sekolah. Dan selalu cerita ke keluarga, terutama ke Mama. Oke sayang?" tutur mama ke Kiki.


"Apaan sih ma, cuma temen, beneran deh. Ya kalau memang Kiki punya pacar pasti cerita deh ke Mama," pungkas Kiki.


"Boncal... boncel... dasar tiang listrik berjalan," olok Kiki kepada Kevin.


"Udah ah mulai lagi deh.Udah sana pada mandi,bersih-bersih dulu," lerai mama kemudian.


"Ok ma, Kiki ke kamar dulu ya," pamit Kiki pada mamanya.


"Kevin juga ma," sambung Kevin.


Kemudian mereka berdua berjalan ke kamar atas beriringan. Namun tetap saja yang namanya Kiki dan Kevin selalu saja punya cara untuk menjahili saudaranya.


Kevin menyenggol Kiki ketika berjalan di tangga, namun dia tetap saja siaga jikalau adiknya jatuh karena senggolannya itu.


Kiki pun membalas dengan menyenggol kakaknya. Begitu terus ulah mereka hingga sampai di depan kamar mereka yang berjejeran. Mereka masuk ke kamar masing-masing.


Di meja makan


Sekarang mereka semua sedang berada di meja makan. Papa sudah pulang dari kerja satu jam yang lalu saat anak-anaknya masih berada di kamar.


"Gimana sekolahnya tadi Ki, lancar?" tanya papa pada Kiki untuk memulai obrolan.


"Alhamdulillah lancar pa," jawab Kiki sambil mengambil nasi yang diletakkan di piringnya.


Di rumah ini memang tidak ada peraturan makan dilarang ngobrol. Karena menurut Ferdian dan Shinta, ngobrol pada saat makan bisa mengakrabkan hubungan mereka. Tapi perlu digaris bawahi, no debat, no marah-marah ketika di meja makan. Hanya obrolan ringan, bercanda dan saling menceritakan keseharian mereka saja yang menjadi topik pembicaraan ketika di meja makan.


Kemudian mereka saling menceritakan keseharian mereka bergantian sambil makan.


Dan setelah itu mereka berkumpul di ruang keluarga hanya untuk sekedar ngobrol atau nonton TV bersama sambil ngopi dan ngeteh.


Hanya sebentar saja Kiki dan Kevin berada disitu. Kemudian mereka pamit untuk pergi ke kamar masing-masing.


Mama dan papa masih menonton acara TV dengan ditemani kopi untuk papa dan teh untuk mama.


Inilah quality time untuk mereka berdua selain di kamar. Hitung-hitung pacaran lah.

__ADS_1


Mereka selalu meluangkan waktu untuk berdua di sela kesibukan pada pekerjaan dan anak-anak mereka.


Kadang Ferdian dan Shinta menyempatkan diri jalan hanya berdua saja layaknya muda-mudi yang sedang pacaran. Atau makan di luar hanya berdua ketika anak-anak mereka tidak ada di rumah. Kadang juga mereka berdua menonton bioskop jikalau ada film yang ingin mereka berdua tonton tapi kedua anaknya tidak ingin menonton. Memang kalau menonton bioskop mereka suka nonton bersama berempat. Sungguh keluarga yang harmonis bukan.


Tetap ya, anak-anak dan keluarga nomer satu bagi mereka.


Mereka hanya berpikir di usia mereka ini harus tetap meluangkan waktu hanya berdua saja dan sifat romantis itu harus tetap ada agar tidak basi kata mereka.


________________________________________________


Kini Raditya berada di Mushalla dekat rumahnya.


Rumah Raditya memang bukan wilayah perumahan seperti rumah Kiki.


Raditya tinggal di perkampungan yang padat penduduknya, namun masih banyak sawah di sana. Wilayahnya selalu ramai.Karena aktifitas penduduk kampung,berbeda dengan wilayah di rumah Kiki yang selalu sepi karena kebanyakan penghuninya kerja.


Raditya memang seringkali diminta Ustad Fahri untuk mengajar anak-anak ngaji. Tapi cuma kadang-kadang saja, ketika Ustad Fahri sedang tidak bisa hadir atau kadang jika Ustad Fahri butuh bantuan saja.


Dulu memang Raditya pernah menjadi santri di Pondok Pesantren milik kakeknya. Hanya tiga tahun, kelas 1 sampai kelas 3 SMP.


Dan Aldo yang menjadi sahabat mulai kelas 1 SD pun mengikuti Raditya menjadi santri selama tiga tahun.


Orang tua Aldo mengijinkan bahkan sangat mendukung keputusan Aldo untuk belajar di Pondok Pesantren bersama Raditya, alasan utamanya karena demi kebaikan Aldo, meskipun ada rasa tidak rela karena jauh dari anaknya dan pastinya akan merasakan kehilangan anaknya sementara dari kehadirannya di rumah.


Dan sekarang awal yang baru bagi Raditya dan Aldo setelah keluar dari Pondok Pesantren.


Di SMA PERTIWI ini mereka merasakan menjadi ABG di dunia luar. Namun mereka tetap pada batasnya. Tetap menjaga dan melakukan kebiasaannya selama berada di Pondok Pesantren. Oleh karena itu mereka tetap menjaga diri dan tau batasan-batasannya.


Dan karena itu juga Raditya merasa kaget kala dia duduk sebangku dengan Kiki.


Aldo pun juga demikian. Mereka berdua merasa malu, canggung dan kikuk, takut tidak bisa berinteraksi dengan lawan jenis yang satu bangku.


Namun dekat dengan Kiki dan Riri menurut mereka asik-asik saja tidak ada rasa canggung dan malu.


Orang tua Raditya termasuk orang yang disegani di kampungnya, karena selain asal-usulnya dari keluarga Kyai yang memiliki Pondok Pesantren yang patut disegani, juga karena memiliki banyak sawah dan empang lele, udang windu, gurame dan nila. Sebenarnya ada juga perkebunan teh dan peternakan sapi perah,ntapi itu di kota lain.


Orang-orang memanggilnya Abah haji karena memang beliau sudah berhaji dan merupakan keturunan seorang kyai dari Pondok Pesantren dimana Raditya dan Aldo pernah menjadi santri di sana.


Karena asal usul dari keluarganya dan karena Raditya pernah menjadi santri, maka dari itu Ustad Fahri sering meminta bantuannya untuk mengajar ngaji di mushalla. Bukan hanya karena itu saja, bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an nya juga begitu merdu.


Pernah dia adzan dan menjadi imam di mushalla karena disuruh oleh abah,subhanallah begitu indah alunan ayat-ayat suci Al-qur'an yang dibacakannya, adzan nya pun begitu merdu, sehingga orang-orang serasa terhipnotis mendengarnya. Mereka kagum kepada seorang Raditya anak dari bapak haji.


Sepulang dari mushalla Raditya mendapati ada notifikasi pada ponselnya yang berada di meja belajarnya. Memang dia tidak membawa ponselnya ketika di mushalla.Takut mengganggu katanya.


Ada satu notifikasi chat dari seseorang yang telah mengisi hatinya selama ini. Dan ada juga dua notifikasi telepon juga dari orang yang sama.


Senyumnya mengembang disaat dia membuka chat dari seseorang itu. Namun kemudian dia diam seketika karena malah terbayang wajah Kiki yang sedang ngambek dengan bibit manyunnya dan terbayang senyum manis Kiki.


Entah apa yang dirasakan oleh Raditya saat ini, dia tidak tahu dan tentu saja dia bingung karena ini menyangkut masalah cewek, dia tidak banyak mengerti.


Karena bingung dengan apa yang dirasakan, maka Raditya pun tidak mau ambil pusing, lalu dia menaruh ponselnya kembali di atas meja belajarnya. Dan dia pun merebahkan dirinya di tempat tidurnya.


Krucuk....krucuuuuk....


Suara perut Raditya berbunyi, tanda dia kelaparan, perutnya minta diisi.


Raditya bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar kamar menuju meja makan.


Karena memang sedari tadi ia belum makan, dan tadi dia hanya memakan bakso di kantin dan makan bakso juga ketika pilang sekolah bersama Kiki tadi. Perutnya belum diisi sama sekali dengan nasi.


Semua anggota keluarga sudah makam,kini mereka sedang melakukan aktifitasnya masing-masing.


Abah sedang mengaji di kamar.


Ambu sedang pengajian rutin dengan ibu-ibu di sekitar kampung.


Sedangkan Renita, adiknya yang bawel itu mungkin sekarang masih belum pulang dari lesnya. Renita masih SMP dan jika kemana-mana pasti diantar jemput oleh Kang Suta, rewang Abah, sama seperti Kiki. Mungkin itu yang membuat Raditya bisa dekat dengan Kiki hinggan rela mengantarnya pulang,teringat dengan adiknya.


Setelah makan sendiri, karena merasa badannya sangat lelah Raditya kembali ke kamar dan mengganti baju koko dan sarungnya dengan kaos dan celana pendek.Kemudian dia membaringkan dirinya di tempat tidur dan memejamkan matanya.


Bahkan dia lupa belum membalas chat dari seseorang tadi atau menelepon balik orang itu. Memang Raditya tidak begitu tergantung pada ponselnya. Karena selama ini dia berada di Pondok Pesantren, jadi sudah terbiasa tidak memegang ponsel.

__ADS_1


__ADS_2