
"Didi..."
Raditya menoleh ke arah sumber suara dan dia menemukan sosok yang sangat dia rindukan sebagai seorang teman, sahabat dan juga sebagai seorang yang spesial baginya.
Raditya tanpa sadar berhambur memeluknya. Aydin yang berada tidak jauh dari mereka ingin memisahkannya, namun dihalangi oleh semua sahabatnya yang datang bersamanya.
"Biarin aja dulu untuk kali ini aja dia bersandar pada sahabatnya. Aku tau Raditya tidak akan melakukan lebih dari komitmen sahabat, karena dia tau rasanya dikhianati," Kenan menghentikan langkah Aydin yang dengan perasaan cemburu melihat Raditya memeluk Kiki.
"Iya Bro, sebentar aja biarkan mereka seperti itu untuk memberikan kekuatan dan semangat bagi Raditya melawan gugatan istrinya," Dion menimpali ucapan Kenan.
Aydin melihat semua sahabatnya menganggukkan kepalanya dan Aydin pun setuju untuk kali ini saja dia menahannya.
Raditya menangis dalam pelukan Kiki. Tangisan Raditya sungguh memilukan bagi Kiki. Karena dia tidak pernah melihat seorang. Raditya menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi bajunya.
"Aku salah apa Ki? Aku harus bagaimana? Aku tidak mau kehilangan Raline meskipun nantinya dia akan mengingatkanku akan penghianatan Linda," ucap Raditya disela tangisannya.
"Di, tenanglah, kita semua ada di sini untukmu, untuk mendukungmu, kami akan membantumu sekuat tenaga kita. Kami juga tidak ingin kehilangan Raline," ucap Kiki sembari menepuk-nepuk punggung Raditya untuk menenangkannya.
Setelah itu Kiki mengurai pelukan mereka dan mengajak Raditya duduk di atas rerumputan di tepi danau.
Kemudian mendekatlah semua orang yang datang bersama Kiki. Aydin yang menggendong Baby Ken, Kenan, Kevin, Dion, Sofyan, Aldo, Riri dan Renita yang bersama Raline.
Mereka semua hadir untuk memberikan dukungan pada Raditya agar dia tidak merasa dirinya sendiri.
Sedangkan Linda sudah berada di rumah Raditya untuk mengemasi baju-bajunya dan barang-barang pribadinya.
Setelah itu dia mencari-cari Raline untuk diajaknya, namun dia tidak menemukannya. Dia bertanya pada Ambu yang berada di dapur.
"Ambu, Raline dimana?" tanya Linda pada Ambu yang sedang memasak di dapur.
__ADS_1
Ambu menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Biasanya kan kalau jam segini Raline bersama Renita. Lagian tumben jam segini kamu udah pulang, biasanya kan malam? Mungkin Renita gak tau kalau kamu pulang jam segini," jawab Ambu dengan lembut seperti biasa.
Linda diam sebentar, dia ragu untuk menyampaikan keputusannya dan berpamitan pada Ambu dan Abah.
"Ada apa Neng kok tiba-tiba diam?" tanya Ambu kembali.
"Emmm.... Aa' udah pulang Ambu?" tanya Linda kembali.
"Belum, dari tadi Aa' belum pulang. Kenapa, ada janji? Susul aja ke kantornya," Ambu tersenyum.
Linda kini kebingungan akan mengatakannya seorang diri atau menunggu Raditya. Suara notifikasi pesan mengagetkannya. Diambilnya ponsel yang ada di saku celananya dan dibacanya pesan tersebut. Ternyata Riko yang mengirimkan pesan padanya.
Akhirnya Linda memutuskan untuk langsung berangkat karena Riko sudah menunggunya di tempat biasa mereka bertemu.
Linda merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Terasa berat, sakit dan menyedihkan.
Kenapa rasanya seperti ini? Kenapa sangat berat untuk melangkah pergi? Bahkan hati ini rasanya sakit dan aaaah.... apa ini, apa yang ku rasakan? Apakah keputusan yang aku ambil ini benar? Linda membatin sembari mencium tangan Ambu.
"Wa'alaikumussalam...."
"Linda, Linda... ada apa?" Ambu membuyarkan lamunan Linda ketika bersalaman lama pada Ambu.
"Gapapa Ambu, Linda berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum...," Linda melepaskan tangan Ambu dan melangkah pergi dari rumah itu.
"Wa'alaikumussalam...," Ambu menatap nanar punggung menantunya yang akan segera menjadi mantan menantunya sebentar lagi.
Ambu tahu apa yang terjadi hari ini antara Raditya dengan Linda dari Renita. Tentu saja Renita diberitahu oleh Kenan. Dan semua sahabat Kenan diberitahu oleh Dion, sehingga semua berkumpul di danau untuk memberikan dukungan mereka pada Raditya.
__ADS_1
Linda berjalan ragu dengan membawa koper yang tadinya dia taruh di teras pada saat berpamitan pada Ambu, sehingga Linda mengira Ambu tidak mengetahuinya.
Ambu dan Abah sangat menyesal dan menyayangkan pernikahan Raditya dan Linda bisa berakhir seperti ini. Mereka merasa bersalah karena membiarkan Raditya menerima perjodohan dari almarhum kakeknya dulu ketika beliau masih hidup.
Seandainya saja dulu mereka tidak menyetujui perjodohan itu, seandainya mereka mencegah Raditya untuk menerima perjodohan itu, seandainya mereka menyuruh Raditya untuk memperjuangkan cintanya pada Kiki, pasti semuanya tidak akan seperti ini. Seandainya... seandainya... dan seandainya...
Namun semua itu tidak lagi bisa diubah. Semua sudah terjadi dan sekarang mereka hanya bisa berharap agar semuanya bisa dilalui dengan baik oleh Raditya.
Kini Linda sudah berada di kamar kosan Riko. Untuk sementara Linda tinggal bersama Riko, dan tentunya itu atas perintah Riko. Padahal sebelumnya Riko mengatakan bahwa dia akan memberikan tempat tinggal Linda bersama Raline dan tentunya dia juga berjanji akan menikahi Linda dan menerima Raline menjadi anaknya.
Namun kini ada sedikit keraguan di hati Linda, karena masalah tempat tinggal saja belum ditepati oleh Riko, lalu bagaimana dengan yang lainnya. Namun alasan Riko kembali bisa meluluhkan keraguan Linda.
Riko mengatakan bahwa untuk sekarang ini dia akan lebih tenang jika Linda tinggal bersamanya. Dengan berkata bahwa Riko sangat mencintainya dan tidak bisa hidup tanpa dirinya sehingga cepat-cepat dia membayar pengacara untuk menangani kasus perceraian Linda dan Raditya agar Riko dan Linda bisa segera bersatu tanpa ada halangan lagi.
Dengan gampangnya Linda percaya kata-kata manis yang diberikan oleh Riko. Entah itu benar atau tidak. Yang dirasakan oleh Linda adalah dia sangat nyaman dan merasa sangat bahagia jika bersama Riko.
Sampai-sampai Linda lupa jika dia memiliki orang tua yang berhak tau akan apapun tentang dirinya, bahkan keputusannya untuk bercerai pun belum didengar oleh kedua orang tua Linda.
Hari ini memang Linda dan Riko sengaja mengambil cuti untuk membicarakan masalah perceraian. Dan kini akhirnya Riko bisa membujuk Linda agar dia mau bercerai dengan Raditya dan tinggal bersamanya.
Riko mengurung Linda seharian di kamarnya dengan alasan untuk merayakan kebebasan Linda dan merayakan kebersamaan mereka berdua. Riko pun melakukan aksinya untuk membuat Linda terbuai dan seperti biasanya mereka melakukan kegiatan panasnya tanpa merasa terbebani lagi karena Linda secara agama sudah di talak oleh Raditya.
Dan kini mereka saling memberikan kepuasan di atas ranjang yang selama ini menjadi saksi aksi panas mereka meskipun Linda masih berstatuskan istri Raditya.
Raditya pulang ke rumah dengan Renita dan Raline setah mereka pergi ke rumah Aydin dan Kiki untuk menghibur Raditya dengan mengadakan acara barbeque di taman belakang rumah Aydin dan Kiki.
Raline segera berlari dan memeluk Ambu ketika melihat neneknya itu berada di teras.
"Nenek... Alin tadi main ke lumah ante Kiki. Ante Kiki baik deh, Alin pengen punya Mama kayak ante Kiki. Abisnya Bunda gak pelnah di lumah."
__ADS_1