Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
135


__ADS_3

Tok... tok... tok...


Bunyi suara pintu yang diketuk oleh seseorang.


Kenan sudah bisa menebak bahwa orang yang mengetuk pintu adalah Kiki dan tidak mungkin jika tidak bersama Aydin.


Kenan membukakan pintu dan tepat seperti dugaannya, di depan pintu terdapat Kiki bersama dengan Aydin yang memeluknya.


Kenan tersenyum lebar melihat pasangan suami istri yang berada di depannya itu.


"Napa Bro? Kesambet?" hanya beberapa kata yang keluar dari mulut Aydin bisa membuat orang yang diajak ngomong menjadi kesal.


"Njir, bakat bener sih bikin orang jadi kesel. Tiap ngomong, kata-katanya bikin orang kesel, padahal ngomongnya irit banget," ucap Kenan kesal tanpa menyuruh Kiki dan Aydin masuk ke dalam.


"Biarin, daripada banyak omong kayak Lu. Minggir Nyonya Aydin mau lewat," ucap Aydin sambil menyingkirkan badan Kenan dari tengah pintu.


"Apa, apa? Nyonya Aydin? Gak salah denger?" ledek Kenan dengan mengikuti Kiki dan Aydin masuk ke dalam kamarnya.


"Ya enggak lah. Dokter Kiara ini istriku, Nyonya Aydin. Mengerti?" Aydin menimpali ledekan Kenan.


"Dasar bucin akut," ucap Kenan sambil berlari kecil meninggalkan Aydin yang menoleh padanya.


"Huwek... huwek... Stop! Jangan mendekat!" Renita kembali melarang Kenan untuk mendekatinya.


"Hahahaha...," Aydin dan Kiki tertawa terbahak-bahak melihat wajah Kenan yang berubah menjadi sendu ketika Renita melarangnya mendekatinya.


"Tuh Ki cepetan sembuhin. Masa' kita jauh-jauh di sini cuma di kamar aja, gak bisa ngapa-ngapain lagi. Di deketin gak mau, mual terus muntah. Liat tuh sampai lemes gitu dia. Iya kalau lemesnya karena bercocok tanam gak masalah, lah ini lemesnya karena muntah, kasihan kan dia. Mana kita di sini sedang hon-"


"Stop!" Kiki menghentikan ocehan Kenan yang panjang dan cepat seperti orang sedang hafalan.


"Bang Ke, istri sedang lemas malah ngoceh aja. Mau dilakban tuh mulut?" kini Kiki menguarkan ancamannya yang sedari dulu dijadikan senjatanya jika debat dengan Kenan.


Dan tentu saja Kenan yang kalah, karena Kiki selalu akan dibela oleh orang-orang yang bisa menindas Kenan, seperti Kevin dan Aydin.


Seketika Kenan mengatupkan bibirnya dan menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, kemudian dia menggelengkan kepalanya pada Kiki.


"Bagus, sekarang cepetan menjauh. Duduk di sofa sana," Kiki memerintah Kenan dengan menunjuk sofa untuk Kenan duduk.

__ADS_1


Aydin terkekeh melihat Kenan yang sangat menurut ketika Kiki menyuruhnya. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya.


Kenan menatap kesal Aydin yang menertawakannya. Ingin rasanya dia menyumpahinya agar berada dalam posisinya. Namun dia tidak bisa melakukannya karena pekerjaannya lah taruhannya.


Kenan tidak mau kerja di tempat lain karena di perusahaan Aydin dia mendapatkan gaji besar dan tambahan bonus apabila dia membantu Aydin menyenangkan Kiki dan menjaganya.


Di mana pun dia tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan seperti itu. Apalagi bekerja dengan sahabat sendiri itu lebih asyik, selain rasa solidaritas mereka yang tinggi, mereka juga sudah saling menganggap sebagai saudara dan keluarga mereka pun juga begitu.


Saling membantu tanpa disuruh pun sudah mendarah daging bagi mereka semua yang masuk di dalam grup sahabat² Aydin dan Kiki. Mereka bisa membuktikan sahabat rasa saudara pada semua orang, karena belum tentu saudara bisa sebaik dan setulus sahabat-sahabat mereka yang benar-benar membantu mereka tanpa ada imbal balik apapun.


Kiki memeriksa keadaan Renita yang benar-benar pucat dan lemas. Setelah memeriksanya, Kiki memberikan obat mual dan vitamin untuk Renita yang dia beli tadi sewaktu dalam perjalanan menuju hotel. Kiki sudah memprediksikannya sewaktu Kenan menceritakan keadaan Renita tadi pada saat berbicara di telepon bersamanya.


"Udah, kamu istirahat aja ya Re. Kamu gapapa kok, wajar aja sih kalau awal-awal kehamilan seperti ini. Dan obat-obat ini harus diminum ya untuk mengurangi rasa mual dan ini vitamin-vitaminnya. Jangan sampai lupa ya," ucap Kiki pada Renita yang mengangguk pelan sambil tersenyum padanya.


"Bang Ke, jangan lupa obatnya harus diminum tepat waktu ya, jangan sampai telat," ucap Kiki sambil merapikan alat-alatnya ke dalam tasnya.


"Jadi udah boleh ***-*** kan Ki?" tanya Kenan dengan spontan saking ingin tahunya.


"Gituan mulu yang ditanyain. Noh pikirin istrinya lagi lemes tuh. Mau digarap juga? Gak kasihan apa sama istri dan si utun?" tanya Kiki.


"Ya elah ngomongnya gitu sih Ki. Di deketin aja udah bisa gak? Masa' iya jauh-jauh ke Jepang malah pisah ranjang sih Ki. Kalian aja gak mau kam kalau pisah ranjang. Mangkanya a-"


"Udah sana pergi kalau gak mau bantu," sewot Kenan sambil melempar bantal pada Aydin.


"Emang kita mau pergi kok, ngapain di sini lihat suami yang sedang merana dicuekin oleh istrinya," ucap Kiki sambil terkekeh dan menarik tangan Aydin untuk berdiri.


"Yuk Sayang pacaran lagi mumpung ada yang merana di kamar," ejek Aydin sambil melempar kembali bantal yang dilempar Kenan pada Aydin tadi.


"Dasar sahabat lucknut, bersenang-senang di atas penderitaan sahabatnya," ucap Kenan kesal yang membuat Renita membuka matanya karena mendengar Kenan yang bersuara agak tinggi.


"Ada apa Sayang?" tanya Renita ketika membuka matanya.


"Enggak... gak ada apa-apa kok. Sayang aku bobok di sana ya, gak ngapa-ngapain kok. Cuma bobok aja di dekat kamu, ya... ya...," Kenan merengek pada Renita.


"Masih enek Abaaaaang...," jawaban Renita inj membuat Kenan kasihan tapi dia juga merasa kesal dengan keadaan ini.


"Ya udah kamu tidur aja ya, udah diminum kan tadi obatnya yang dari Kiki?" Kenan mencoba bersikap sabar dengan bumil yang sensitif di awal kehamilannya.

__ADS_1


"Udah tadi diminumkan sama Mbak Kiki," jawab Renita lemah sambil memejamkan matanya.


Kenan menatap iba pada istrinya, karena ulahnya yang menghasilkan benih yang sudah dibuahi itu membuatnya terkulai lemas di ranjang. Namun dia tetap kesal dengan momen yang tidak tepat ini. Momen yang seharusnya untuk mereka bekerja di Jepang sekalian honeymoon malah berakhir tidur sendiri-sendiri karena kehamilan dari istrinya yang tidak menyukai jika dia mendekatinya.


Kenapa jadi apes gini sih. Dulu malam pertama yang apes, sekarang pas honeymoon. Kenapa keadaan gak pernah berpihak padaku Tuhan... Kenan merintih dalam hatinya.


Dan akhirnya Kenan harus tidur di sofa sesuai perintah dari Renita. Namun mata Kenan tak bisa terpejam meskipun dia sudah mencoba segala cara. Akhirnya dia mencoba mendekati Renita ketika dia lihat Renita sudah tertidur dengan pulas. Kenan merebahkan tubuhnya di belakang Renita dan mulai memejamkan matanya. Terasa sangat nyaman, Kenan akhirnya tertidur pulas di sana.


"Bang Kenaaaaan....," seru Renita ketika melihat Kenan berada di sampingnya sedang memeluk erat tubuhnya.


Renita menutup mulutnya dan menahan rasa mual yamg bergejolak di dalam perutnya.


"Ada apa? Ada apa Sayang? Kenapa? " Kenan tiba-tiba bangun ketika mendengar teriakan dari Renita.


"Howek... ming-giiiir....," Renita segera menyingkirkan tangan Kenan yang memeluk erat perutnya dan berjalan tergesa-gesa ke dalam kamar mandi.


Kenan melihat jam di ponselnya, ternyata masih sangat dini hari Renita terbangun. Kenan segera menuju kamar mandi dengan tujuan untuk membantu Renita.


Kenan memijat-mijat tengkuk leher Renita, setelah itu dia menggendong tubuh Renita yang lemas karena kembali memuntahkan makanannya.


Ternyata ketika digendong ala bridal style oleh Kenan, Renita tidak merasa mual, mungkin karena Kenan tidak memakai baju sehingga bagian dadanya tidak ada yang menutupi, seperti kebiasaannya ketika tidur yang memang tidak memakai atasan.


Yang lebih aneh lagi, Renita tidak ingin Kenan melepaskannya. Renita ingin selalu berada bersama Kenan tanpa baju yang menutupi bagian tubuh atasnya.


"Sayang, gini aja gak usah pakai atasan," ucap Renita sambil memeluk erat pinggang Kenan ketika berada di ranjang.


"Nanti kamu muntah lagi gimana?" tanya Kenan khawatir.


"Sepertinya tadi memang morning sickness aja. Tapi justru gini aku gak mau lepas dari kamu. Aku ingin selalu mencium bau tubuhmu. Aneh kan?" ucap Renita.


"Lalu yang kemarin gimana? Kenapa setiap dekat denganku kamu pasti mual, terus muntah," tanya Kenan heran.


"Gak tau, aku gak suka baunya. Apa mungkin karena parfum kamu ya Sayang?" tanya Renita mengira-ira.


"Mungkin juga Sayang. Berarti aku gak usah pakai parfum dong," ucap Kenan yang penuh dnegan pertanyaan.


Renita pun mengangguk, kemudian dia menyandarkan kepalanya di dada Kenan sambil tangannya memeluk erat pinggang Kenan.

__ADS_1


Yes, akhirnya menang banyak. Hahahaha... Kenan bersorak merayakan keberhasilannya dalam hatinya.


__ADS_2