
"Tante.... ayo bobok, Raline udah ngantuk," Raline merengek pada Renita yang sedang berada di pelaminan.
"Raline Sayang, Raline bobok sama Ayah aja ya," Kenan berkata dengan senyum namun dalam hatinya sungguh kesal.
"Gak mau, Raline biasanya bobok sama Tante Rere," Raline masih merengek sambil memainkan gaun pengantin milik Renita.
"Sayang, Tante masih harus di sini, nanti dulu ya," kini giliran Renita yang membujuknya karena dia tahu jika Kenan sedang kesal karena sedari tadi gangguan-gangguan kecil proses pernikahannya berasal dari Raline dan Kenshin.
Kenan memanggil Raditya dengan melambaikan tangannya untuk menyuruh Raditya datang mendekat padanya.
"Kenapa Bang?" tanya Raditya ketika sudah agak dekat jaraknya dari pelaminan.
"Raline minta bobok tuh sama Renita. Bro, bisakah pernikahan ini normal seperti pesta pernikahan pada umumnya?" Kenan menirukan gaya bicara reporter yang sedang membawakan berita.
Raditya terkekeh dan menepuk-nepuk pundak adik iparnya.
"Bro, dia emang udah biasa dikelonin sama Renita. Siap-siap aja ya nanti takutnya tiba-tiba dia nyelip di tengah kalian nanti malam," Raditya tertawa setelah berbicara pada Kenan dan ekspresi Kenan sungguh sangat kesal dan tidak bisa disembunyikan lagi kekesalannya itu.
"Raline, yuk bobok sama Ayah," Raditya menggendong tubuh Raline.
"Tapi Raline maunya bobok sama Tante Rere," jawab Raline sambil mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Bener-bener titisan Kiki nih bocah. Manggilnya aja udah sama, Rere, sekarang tuh lihat, bibirnya ke depan sama kayak Kiki kalau lagi ngambek, tuh liat," Kenan mengeluarkan unek-uneknya.
Raditya dan Renita tertawa mendengar ucapan Kenan tentang Raline.
"Ah iya bener kata Om Kenan, aku minta bobok sama Mami Kiki aja, yeeee.....," Raline bertepuk tangan merayakan idenya yang sangat dia sukai.
Kaki Raline digerak-gerakkan agar diturunkan Raditya dari gendongannya.
"Turun... turunin Ayah... aku mau ke Mami...," Raline memberontak minta diturunkan dari gendongan Raditya.
"Sama Ayah aja ya, Mami Kiki lagi ngurusi Ken," Raditya membujuk Raline agar tidak minta tidur dengan Kiki.
"Ya gapapa Ayah, nanti kita tidur bertiga," jawab Raline dengan entengnya.
Kenan menahan tawanya mendengar jawaban Raline yang masih polos dan lugu.
"Sekalian aja berempat sama Ayah," celetuk Kenan yang mendapatkan pelototan dari Raditya dan cubitan di perutnya dari Renita.
"Ayah selalu gak mau kalau tak ajakin tidur berempat sama Mami Kiki sama Ken waktu menginap di rumah Ken," dengan polosnya Raline mengatakan hal itu hingga membuat Kenan yang tadinya menahan tawanya kini tawanya lepas tidak bisa ditahan lagi.
__ADS_1
"Buwahahahaha.....," kini Kenan sudah tidak bisa menahan tawanya, Kenan tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan polos dari ponakannya.
"Ini pasti ajarannya Bang Kenan nih," Raditya menuduh Kenan yang masih tertawa hingga memegangi perutnya.
Renita kembali mencubit perut Kenan hingga dia mengadu kesakita.
"Auch... awww... sakit Sayang," Kenan memegang perutnya yang kesakitan bekas cubitan Renita dua kali ditempat yang sama.
"KDRT nih. Belum juga apa-apa udah main cubit-cubitan aja," Kenan menggerutu sambil memegangi perutnya.
Sedangkan Raline tertawa senang melihat Kenan yang kesakitan karena dicubit Renita. Raline memang sangat dimanjakan oleh semua orang karena mereka semua takut jika Raline sedih karena tidak ada Bundanya bersamanya. Sehingga semua kemauannya selalu dituruti oleh mereka semua. Hanya saja mereka juga memberi pengertian jika memang yang diinginkan tidak bisa dipenuhi.
.
"KDRT... KDRT... itu anak kec diajarin ngomong yang enggak-enggak," kini Renita memukul lengan Kenan.
"Aku gak ngajarin Sayang, beneran. Tanya aja noh sama anaknya sendiri diajarin siapa," Kenan menantang renita untuk bertanya pada Raline.
"Raline Sayang, tadi ngomong kayak gitu diajarin siapa? Diajarin Om Kenan apa bukan?" Renita bertanya pada Raline.
"Emmm... kalau diajarin Om Kenan nanti Om Kenan dicubit lagi sama Tante?" Raline berbalik tanya pada Renita.
"Oh pasti dong. Tante bakalan cubit Om Kenan kalau Om Kenan ngajarin kamu yang enggak-enggak," jawab Renita sambil melirik Kenan.
"Jadi, Raline diajarin siapa ngomong kayak tadi?" Renita kembali bertanya pada Raline.
"Diajarin sama Om Kenan. Yeee.... Om Kenan kena cubit lagi," Raline bersorak kesenangan sedangkan Kenan berekspresi sebaliknya, dia tampak kaget mendengar jawaban dari Raline kemudian dia memelas menatap Renita.
"Bukan Sayang beneran, bukan aku, suer....," Kenan menggeleng-gelengkan kepalanya dan berekspresi seperti mau menangis
Sialan nih bocah, kalau kayak gini alamat malam pertamaku bisa gagal nih, Kenan meratapi kesedihannya dalam hati.
"Udah... udah bisa-bisa kalian berantem nanti. Aku bawa Raline ke sana dulu ya. Eh Re, liat tuh ekspresi wajah Bang Kenan, ekspresinya takut kehilangan malam pertama," Raditya menggoda Kenan ketika Raline sudah diturunkannya dan lari menuju keluarganya.
Renita mengulum senyumnya melihat reaksi Kenan yang seperti maling sedang ketahuan, kaget dan malu, seperti itulah dirinya saat ini.
Pernikahan mereka dihadiri oleh teman-teman dan kerabat mereka, serta tetangga-tetangga Renita yang datang secara silih berganti.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh Kenan, malam hari saatnya mereka untuk pertama kalinya berada di dalam satu kamar yang sama.
Kenan tersenyum-senyum melihat Renita yang masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badan.
__ADS_1
"Sayang, gantinya di sini aja ya," Kenan mengharapkan matanya mendapatkan bonus sebelum acara inti mereka di malam pertamanya.
"Dih, ngarep. Udah ah aku mau mandi dulu," Renita masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Tiba-tiba pintu kamar mandi tidak bisa ditutup oleh Renita, dan ternyata pintu tersebut ditahan oleh Kenan sehingga tidak bisa ditutup. Renita melotot sebagai kode agar Kenan tangan Kenan melepaskan pintunya.
"Mandi bareng yuk Yang," Kenan tersenyum manis berharap agar Renita luluh dan menuruti permintaanya.
Namun permintaan Kenan tidak direspon oleh Renita. Pintu tetap didorong oleh Renita, sayangnya tenaga Kenan sangat kuat, sehingga pintu tidak bisa bergerak sedikitpun. Akhirnya Renita menggigit tangan Kenan hingga Kenan menjerit kesakitan.
"Rasain...," Renita teriak dari dalam kamar mandi.
"Berdosa tau gak Yang sama suami kayak gitu," Kenan berteriak dari balik pintu agar Renita mendengarnya.
"Aku malu.....," Renita berteriak keras agar Kenan tidak lagi berada di balik pintu kamar mandi.
Kenan tersenyum, namun dia melihat ke arah bawah miliknya, dia menatap prihatin pada miliknya yang masih berada di dalam sangkarnya.
"Sabar ya, tunggu sampai nanti malam," ucap Kenan sambil melihat miliknya yang meronta ingin segera digunakan.
Beberapa menit kemudian bunyi kunci pintu kamar mandi terdengar, dan keluarlah sosok yang paling dinantikan oleh Kenan.
Renita menatap heran pada Kenan yang senyum-senyum melihatnya.
"Kenapa Bang?" tanya Renita heran.
"Abis ini ya, kasian nih si otong dari tadi minta jatah," celetuk Kenan sambil melihat wajah Renita.kemudian melihat miliknya yang masih terkungkung oleh celana.
Mata Renita melotot kaget, namun wajahnya merona karena malu mendengar ucapan frontal dari suaminya.
"Cihuuuuy malam pertama....," sorak Kenan sambil tiba-tiba menggendong Renita ala bridal style.
Renita kaget namun tak bisa menolak karena dia sadar ini sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri.
"Gak mandi dulu Bang?" tanya Renita ketika dia sudah berada di atas ranjang dan Kenan sudah membuka kancing piyama Renita satu persatu.
"Nanti aja sekalian, abis ini juga mandi keringat Sayang," Kenan menjawab dengan matanya masih menatap lapar pada wajah dan tubuh Renita.
Wajah Kenan mendekat dan semakin dekat pada wajah Renita hingga bibir mereka sudah saling menempel. Namun pada saat Kenan hendak ******* bibir Renita tiba-tiba pintu kamar mereka digedor dengan sangat keras.
"Tok... tok... tok..."
__ADS_1
"Brak... brak... brak..."
"Tante.... Tante... Tante... Raline mau bobok sama Tante..."