
Kiki menatap tajam Kenan ketika dia dan Aydin sudah melepaskan ciumannya. Sedangkan Aydin hanya bersikap biasa saja pada Kenan, karena dia tahu pastilah Kiki tidak akan melepaskan Kenan jika dia mengganggunya.
"Bang Ke ngapain masuk?" tanya Kiki dengan sewotnya.
"Ya maaf, kan gak ngerti kalau kalian lagi gituan," jawab Kenan sambil tersenyum lebar.
"Terus ngapain sekarang masih di sini?" tanya Kiki kembali dengan posisi masih duduk menyamping di pangkuan Aydin dan tangannya masih melingkar di leher Aydin.
"Mau ngasih ini sama Pak bos," jawab Kenan sambil memperlihatkan map yang sedang dibawanya.
"Apaan tuh?" tanya Kiki pada Kenan.
"Nih baca sendiri," ucap Kenan sambil berjalan mendekat.
"Ki, posisinya biasa aja bisa gak? Bikin orang pengen cepat pulang aja," Kenan berucap kembali pada Kiki ketika memberikan map tersebut di depan Aydin dan Kiki.
Aydin menerima map tersebut sambil tersenyum sombong pada Kenan dengan tangan kanannya melingkar indah di pinggang Kiki dan tangan kirinya menerima map dari Kenan.
"Terserah kita dong mau ngapain di sini. Gak terima?" tanya Kiki yang lebih mendekatkan tubuhnya pada tubuh Aydin.
"Ck, suami istri sama aja. Sama-sama suka bikin orang baper, sama-sama bikin orang kesel, sama-sama-"
"Apa? Mau dipecat?" Kiki menggertak Kenan.
"Nah ini, sama-sama suka ngancam mecat orang," ucap Kenan meneruskan ucapannya yang belum selesai karena disela oleh Kiki.
"Sstttt...," Aydin memberi kode Kenan agar Kenan tidak melawan Kiki lagi dan Aydin menggerakkan dagunya ke arah pintu agar Kenan segera keluar dari ruangan tersebut.
Kenan pun segera kabur ketika melihat Kiki melepas sepatunya dan itu berarti tanda-tanda nyonya besarnya akan melemparkan sepatunya pada dirinya.
Brak!!!
__ADS_1
Pintu ditutup dengan sangat keras oleh Kenan karena dia menutup pintunya dengan berlari keluar dari ruangan tersebut. Bukannya marah, Aydin dan Kiki malah tertawa terbahak-bahak melihat Kenan yang benar-benar takut pada Kiki jika sedang marah.
"Yuk pulang Sayang, aku kesini buat jemput kamu. Kita makan di luar berdua sebelum pulang. Gimana?" Kiki merayu Aydin dengan menggodanya seperti biasa.
"Yuk, sepertinya udah lama kita gak quality time berdua. Tuan muda sama Princess di mana sih, kira-kira mereka nyariin kita gak?" jawab Aydin.
Benar-benar suami dan seorang ayah yang sempurna, Aydin selalu mengkhawatirkan keluarganya karena baginya istri dan anaknya adalah hartanya yang paling berharga di dunia ini.
"Mereka aman dengan nenek kakeknya," jawab Kiki yang kemudian mencium sekilas pipi Aydin sebelum dia turun dari pangkuan Aydin.
Hal seperti inilah yang selalu dirindukan oleh Aydin meskipun dia sedang sibuk bekerja. Bayang-bayang istrinya yang selalu manja dan berbuat hal yang tak terduga membuatnya selalu ingat dan ingin bertemu dengan istrinya.
Sepanjang berjalan dari ruangan kantornya, tangan Aydin tidak pernah lepas dari pinggang Kiki seperti biasanya. Semua orang yang bertemu mereka merasa senang melihat bos mereka selalu seperti itu dan ada pula yang baper dan iri melihat keromantisan mereka yang benar-benar terlihat. Hingga semua orang di kantor Aydin menyebut mereka dengan pasangan yang sempurna karena wajah mereka yang cantik dan tampan itu begitu sempurna di pandang oleh setiap mata.
"Mau makan di mana Sayang?" tanya Aydin pada Kiki yang sedari tadi masih saja menatap wajahnya meskipun kini mereka sudah duduk di dalam mobil.
"Emmm... di mana ya?" ucap Kiki sambil berpikir.
"Boleh. Ide yang bagus Mami Sayang... Tapi benar kan Tuan muda sama Princess kita gak bakalan minta kita buat balik?" tanya Aydin untuk memastikan bahwa kegiatan mereka nanti tidak akan terganggu oleh anak-anak mereka.
"Beneran Papi... udah ah let's go kita pacaran. Mami udah ungsikan mereka supaya gak gangguin kita," Kiki meyakinkan Aydin agar tidak mengkhawatirkan anak-anaknya.
"Mami tumben banget sih gak seperti biasanya? Kayaknya Mami sekarang ketularan bucin deh. Biasanya kan Papi yang bucin sama Mami," ucap Aydin sambil mencubit hidung mancung Kiki yang masih saja memandang wajah Aydin.
"Sengaja. Mami pengen manjain Papi aja. Gak boleh?" ucap Kiki sambil mengerlingkan sebelah matanya menggoda Aydin.
"Auh Mami, kalau kayak gini Papi jadi pengen pulang aja Mi," ucap Aydin dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Kiki.
Perlahan Kiki lebih mendekatkan wajahnya pada wajah Aydin yang berada di depannya, namun tiba-tiba Kiki membelokkan wajahnya ke samping Aydin untuk berbisik di telinganya.
"Buruan, biar kita bisa pacaran di sana, pemandangannya lebih indah," bisik Kiki di telinga Aydin.
__ADS_1
Aydin pun mencebik kesal, namun setelah itu senyumnya mengembang setelah mendapatkan ciuman sekilas dari Kiki di bibirnya.
Sepanjang perjalanan mereka mengenang masa-masa setelah mereka menikah, masa di mana mereka saling mencintai setelah pernikahan mereka dan masa pacaran mereka setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri.
Tempat yang sama dengan pasangan yang sama membuat mereka semakin bersyukur dengan takdir yang diberikan oleh Allah pada mereka. Di tempat yang indah dan berhawa dingin itu ditemani angin yang semilir dan langit yang begitu indah sangat romantis untuk mereka berdua yang ingin memadu kasih mereka.
Aydin melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Kiki dan memeluknya dari belakang.
"Tetap begini, biarkan aku menjadi penghangat tubuhmu dan biarkan aku selalu menyatu dalam hatimu," ucap Aydin dengan meletakkan dagunya di ceruk leher Kiki.
"Dan tetaplah begini untuk selalu menjadi pelindungku, pelindung hatiku, pelindung jiwaku dan pelindung cintaku," ucap Kiki dan kemudian dia menoleh ke arah kepala Aydin setelah berbicara.
Suasana yang mendukung itu membuat Aydin dan Kiki larut dalam perasaan mereka. Tanpa basa-basi, bibir mereka saling bertautan dan ciuman mereka kini lebih indah karena suasana yang berbeda dengan biasanya.
Priiiit....!!!
Suara peluit yang keras dan berbunyi sangat panjang membuat mereka menghentikan aktivitas ciuman mereka.
"Sayang, itu suara apa? Kok kayak bunyi pinalti," ucap Kiki yang masih dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
"Tukang parkir kali," jawab Aydin dengan entengnya dan dia malah mempererat pelukannya di pinggang Kiki.
Priiit.... priiit.... priiiit...!!!
Suara peluit kembali terdengar dan lebih dekat suaranya dengan mereka membuat Aydin dan Kiki heran, namun mereka mengacuhkannya karena mereka lebih memilih untuk menikmati pemandangan indah di depan mereka.
"Maaf, sebaiknya jangan berbuat mesum di tempat ini," terdengar suara seorang laki-laki di belakang mereka.
"Mesum?" ucap Aydin dan Kiki berbarengan tanpa menoleh ke belakang.
"Sayang, apa kita akan di tangkap seperti waktu itu?" tanya Kiki pada Aydin.
__ADS_1
Dan itu membuat mereka terkekeh berdua mengingat adegan di mobil yang mereka lakukan waktu itu sehingga membuat warga menggerebek mereka dan akan menikahkan mereka malam itu juga.