
Rania naik ke boncengan motor sport Ali. Dia melihat ke arah di mana Tristan dan Naufal berada. Dan Naufal mengacungkan jempolnya ke atas untuk memberi kode pada Rania.
Memang Resti jika pulang pasti paling belakangan, karena dia tidak memiliki kendaraan atau dijemput seperti teman-temannya yang lain. Dia akan malu jika ketahuan teman-temannya berjalan kaki hingga jalan raya untuk menaiki angkot.
Resti keluar dari gerbang sekolah setelah sekolah sudah dalam keadaan sepi. Namun dia tidak melihat sosok Ali yang biasanya nangkring di motor sport nya untuk menunggu Resti di depan gerbang sekolahnya.
"Tumben banget sih dia gak jemput? Padahal kan lumayan bisa ngirit ongkos kendaraan. Mana lapar lagi, biasanya kan kalau di jemput Ali kita selalu makan yang enak-enak. Hufffttt.... jalan kaki deh, lapar....," Resti menggerutu di setiap langkah kakinya.
Sedangkan Ali dan Resti sekarang sedang berada di sebuah danau yang biasanya didatangi Raditya dan teman-temannya. Di sana Tristan dan Naufal masih tetap mengikuti Rania dan selalu mengawasi mereka.
"Kamu sama Resti udah kenal lama?" tiba-tiba Resti bertanya pada Ali setelah Ali memberikannya sebotol minuman yang dia beli di depan danau tersebut.
"Bisa dibilang lama juga sih, mulai SD kita satu sekolahan dan SMP juga satu sekolahan, hanya saja aku kakak kelas dia," Ali menjawab pertanyaan dari Rania.
Rania mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Ali.
"Aku gak tau aku suka sama dia atau tidak, yang aku rasakan hanya ingin melindunginya ketika dia sedang di bully oleh teman-temannya. Dia memang anak orang yang perekonomiannya biasa saja, sehingga dia tidak mempunyai barang seperti milik kebanyakan teman-temannya. Hanya itu sih yang aku rasakan sama dia. Apa itu namanya cinta? Sayang? Atau....," Ali menggantung ucapannya karema dia sedang berpikir untuk kalimat selanjutnya.
"Kasihan," Rania menyahuti ucapan Ali.
"Hah?" tampak Ali sedang bingung dengan ucapan Rania.
"Iya, kasihan. Kamu kasihan sama Resti. Jika kamu benar-benar cinta sama dia, pasti kamu akan takut kehilangannya, kamu selalu ingin menemuinya, selalu ingin bersamanya dan kamu akan selalu terbayang wajahnya," Rania menjelaskannya pada Ali.
"Terbayang senyumannya dan jantungku selalu berdegup dengan kencang," Ali menyahuti perkataan Rania.
"Betul sekali," ucap Rania dengan senyum lebarnya.
Lagi-lagi Ali terpesona dengan Rania, hingga Rania yang sedang tersenyum pun membuat jantungnya berdegup dengan kencang.
"Al, Ali... kamu kenapa? Kesambet?" tanya Rania dengan entengnya.
"Iya, kesambet senyum manis kamu," jawabnya tanpa sadar dengan masih memandang wajah Rania tanpa berkedip.
Tanpa sadar wajah Rania merona, tiba-tiba dia malu mendapatkan pengakuan dari lawan jenisnya.
__ADS_1
Ali semakin gemas dan terpesona melihat Rania yang dengan jelas terlihat malu padanya. Sekarang dia yakin jika dia menyukai dan mencintai Rania, bukan Resti.
"Al!"
"Ran!"
Mereka memanggil secara bersamaan, sehingga membuat mereka sama-sama tertawa. Kemudian Rania bertanya pada Ali setelah tawanya reda.
"Al, apa kamu sama Resti akhir pekan kemarin pergi ke puncak?" tanya Resti pada Ali dengan ragu-ragu.
Ali kaget mendengar pertanyaan Rania, dia diam karena takut jika Rania akan menjauhinya pada saat dia ingin mulai mendekatinya sekarang ini.
"Apa kamu gak bisa ngomong jujur ke aku Al?" pertanyaan Rania ini membuat Ali merasa bersalah padanya.
"Kenapa kamu tanya masalah itu Ra?" tanya Ali pada Rania.
"Ya karena aku dan temanku yang bernama Raline ada di sana waktu itu. Dan juga Tristan dan Naufal pernah bertemu kalian di cafe bukan?" Rania bertanya pada Ali sehingga membuat Ali seperti terciduk.
"Iya, waktu itu kami berada di sana," jawab Ali lemas sambil melihat wajah Rania, dia ingin melihat ekspresi apa yang akan ditampilkan oleh wajah Rania pada saat mengetahui dirinya berada di puncak bersama dengan Resti.
Sontak saja Ali tersedak minumannya ketika dia panik karena ditatap dengan intens oleh Rania.
"Ka-kamu tau?" tanya Ali pada Rania dengan gugup.
Rania mengangguk dan tersenyum pada Ali, hingga membuat Ali salah tingkah dan merasa bersalah.
"Apa kalian melakukannya Al?" tanya Rania dengan ragu.
Seketika Ali tersedak ludahnya sendiri. Dia tidak menyangka jika Rania bisa menanyakan hal seperti itu padanya.
"A-apa maksudmu?" tanya Ali gugup.
"Ya melakukannya Al. Melakukan hubungan terlarang untuk pasangan yang belum menikah," Rania menjelaskannya pada Ali yang pura-pura tidak tahu.
Ali menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa menjawab iya atau tidak. Entah mengapa Ali tidak bisa berbohong jika bersama dengan Rania. Apa mungkin itu karena cinta?
__ADS_1
"Jujur aja Al, aku gapapa kok. Aku hanya ingin tau aja kamu yang sebenarnya itu seperti apa. Dan aku tau kamu jujur atau tidak," Rania kembali berkata sambil tersenyum yang membuat Ali semakin terpesona.
"Aku ingin tau aja Al, apa kamu bisa berbuat seperti itu pada perempuan yang kamu cintai sebelum kamu menikahinya?" Rania bertanya kembali pada Ali karena Ali tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Enggak, gak akan pernah. Aku akan melindunginya, melindungi kehormatannya sebelum kami menikah karena aku juga memiliki ibu dan adik perempuan. Aku gak ingin mereka diperlakukan seperti itu, karena orang tua ku bilang jika semua perbuatan pasti ada karmanya," jawab Ali seperti terhipnotis oleh pertanyaan Rania dan senyum Rania.
"Berarti kamu mencintai Resti kan Al? Katanya kamu tidak berbuat apa-apa dengannya. Jadi...," Rania menggantung ucapannya berniat untuk menjebak Ali.
"Enggak. Aku gak cinta sama dia. Benar katamu, aku hanya kasihan dengannya. Dan akhir pekan kemarin itu semua terjadi karena dia sendiri yang menjanjikannya padaku," Ali menjawab dengan cepat tanpa berpikir.
Ah... aku mengatakannya. Apa Rania memancingku agar aku mengatakannya? Ali bertanya dalam hatinya.
Rania tersenyum pada Ali sehingga membuat Ali merasa jika Rania hanya menjebaknya.
"Ran, apa kamu menjebakku agar aku mengatakannya?" tanya Ali dengan nada kesal.
"Enggak, siapa bilang. Aku hanya ingin tau, apa laki-laki yang mengaku suka terhadapku ini seorang lelaki yang jujur, pembohong atau playboy?" Rania menjawab masih dengan senyumnya yang merekah.
"A-apa? Jadi... jadi kamu percaya padaku?" Ali tergagap karena mendengar ucapan Rania yang membuatnya sedikit bahagia.
"Emmm... cuma suka kan? Nanti juga perlahan rasa suka itu akan menghilang. Tinggal tunggu waktunya saja," ucap Rania masih dengan senyumnya.
Dengan cepat Ali mengambil tangan kanan Rania dan meletakkannya di dada Ali.
"Rasakan Ran, apa kamu bisa merasakan detak jantungku yang semakin cepat?" Ali bertanya pada Rania yang masih menempelkan tangannya di dada Ali.
Rania kaget dan mengangguk setelah benar-benar merasakan apa yang dikatakan Ali memang benar.
"Itu yang aku rasakan setiap kali aku bertemu dan berdekatan denganmu Ran. Bahkan rasa ini aku rasakan ketika awal kita berjumpa," ucap Ali yang masih menempelkan tangan Rania di dadanya sambil menatap intens mata Rania.
Tiba-tiba pipi Rania merona karena malu sehingga dia tidak bisa berkata apa-apa, berbeda dengan Rania yang tadi dengan mudahnya bisa memancing kejujuran dari Ali.
"Sedang apa mereka?" tanya Naufal pada Tristan yang sedang mengamati Rania dan Ali dari jarak aman.
"Laki-laki itu lagi jantungan kali," jawab Tristan dengan entengnya.
__ADS_1