
Keesokan harinya, Tristan, Naufal dan Rania tersenyum penuh kemenangan ketika mereka melihat Resti masuk ke dalam kelasnya.
Sedangkan Resti masuk ke dalam kelas dengan wajah yang kusut dan kesal. Pasalnya Resti sampai di sekolah tepat pada saat bel berbunyi. Dia tadi tidak lagi diantar oleh Ali, sehingga drama pagi berangkat ke sekolah dialami kembali olehnya seperti sebelum Ali mengantar jemputnya.
Resti harus menunggu angkutan umum yang diminati juga oleh banyak orang, sehingga dia berkali-kali harus menunggu kembali angkutan umum yang berikutnya.
Belum lagi antara rumahnya ke jalan raya yang harus dia tempuh dengan berjalan kaki. Sama dengan jarak antara jalan raya dengan sekolahannya yang harus dia lalui dengan berjalan kaki.
Penampilan Resti pagi ini menampakkan bagaimana suasana pagi yang dilalui oleh Resti. Penampilan yang kusut sekusut suasana hatinya, dan pagi yang menyebalkan baginya.
"Teman-teman, ada yang mau tau kebenarannya gak?" tiba-tiba saja Naufal berteriak sehingga mengalihkan perhatian semua siswa yang berada di dalam kelas tersebut.
"Kebenaran tentang apa?" tanya salah satu siswa yang berada di dalam kelas tersebut.
"Tentang Resti yang menuduh Raline seperti gosip yang sudah beredar," jawab Naufal dengan senyum sombongnya.
"Memangnya gosip itu benar atau salah?" tanya salah satu siswa yang lain.
Resti sangat kesal, karena harinya sudah berawal dengan pagi yang buruk, dan sekarang dia sudah harus mempersiapkan pembelaan dirinya untuk bisa lepas dari gosip Raline yang telah dia buat.
Resti sudah bersiap akan membalas ucapan Naufal, namun tiba-tiba...
"Selamat pagi anak-anak....," terdengar suara guru yang mengajar masuk ke dalam kelas sehingga Resti tidak jadi menimpali ucapan Naufal.
Pada jam pelajaran selanjutnya, tiba-tiba saja ada guru BK yang memanggil Raline, Tristan, Naufal dan Resti untuk ikut dengannya.
Resti yang tidak tahu apa-apa merasa kaget dan dia mempunyai firasat akan terjadi hal yang buruk karena harinya sudah diawali dengan pagi yang sangat menyebalkan baginya.
"Loh Pak kita mau ke mana?" tanya Naufal pada guru Bk tersebut.
__ADS_1
"Kalian dipanggil oleh Kepala sekolah untuk menghadap beliau sekarang juga," jawab guru BK tersebut sambil berjalan di depan mereka semua.
"Kepala sekolah? Ada apa? Kenapa kita disuruh ke sana?" Resti memberondong guru BK tersebut dengan beberapa pertanyaan.
"Sudah, jangan banyak tanya. Jika kalian mau tau, cepatlah jalan ke sana agar kalian tau kenapa kalian dipanggil ke kantor Kepala sekolah," jawab guru BK tersebut dengan tegas tanpa menoleh pada mereka yang berjalan di belakangnya.
Tok... tok... tok..
"Silahkan masuk!" terdengar suara daei dalam sana menyuruh mereka untuk masuk ke dalam ruangan Kepala sekolah.
Pintu dibuka oleh guru BK dan masuklah mereka semua satu persatu ke dalam ruang Kepala sekolah.
"Papi... Mami.... Ayah...," ucap Raline yang kaget karena melihat Aydin, Kiki dan Raditya berada di dalam ruangan kepala sekolah.
Aydin, Kiki dan Raditya tersenyum melihat Raline yang tersenyum senang melihat mereka berada di sana.
Raline dengan senangnya berjalan cepat dan bersalaman dengan mereka serta memeluk mereka seperti biasanya.
Ada rasa iri dalam hati Resti, dia tidak pernah mengalami apa yang dilihatnya saat ini. Dia ingin sekali seperti Raline yang sangat disayangi oleh orang tuanya.
"Mami, Papi sama Ayah kok ada di sini?" Raline bertanya pada Aydin, Kiki dan Raditya setelah selesai memeluk mereka secara bergantian.
Kemudian Tristan dan Naufal ikut bersalaman pada Raditya, Aydin dan Kiki. Dan mereka bertiga mengucapkan terima kasih ketika Tristan dan Naufal menjabat tangan mereka.
"Silahkan duduk semuanya," ucap Kepala sekolah untuk mempercepat agar masalah yang akan mereka bicarakan bisa cepat terselesaikan.
Mereka semua duduk di kursi yang tersedia di sana. Resti merasa sendirian karena dia tidak ada teman ataupun pendukung yang berada di dalam ruangan tersebut.
Aydin dan Raditya memandang Resti yang sudah mereka ingat bahwa Resti lah orang yang menemui mereka di cafe Tristan pada saat itu.
__ADS_1
Guru BK yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Guru BK tersebut membicarakan tentang gosip yang beredar tentang Raline, kemudian menceritakan kejadian di kantin yang terjadi pada saat istirahat beberapa hari yang lalu, Tristan yang membela Raline dari murid laki-laki kelas lain yang melecehkannya, hingga mereka yang memberitahukan bahwa gosip tersebut disebarkan oleh Resti.
"Tidak, bukan saya. Gosip itu bukan saya yang menyebarkannya," Resti mengelak pada saat guru BK tersebut menyebut namanya sebagai penyebar gosip yang menjelekkan nama Raline.
"Banyak saksi yang mengatakan bahwa dia yang membuat gosip itu Pak, dan sebenarnya apa yang dituduhkannya pada Raline adalah apa yang dia sendiri lakukan pada saat akhir pekan di puncak," Tristan dengan percaya dirinya menyanggah pembelaan diri Resti.
"Apa kamu bilang? Kamu tega sekali memfitnahku Tristan. Aku tidak pernah berbuat seperti itu," Resti menampakkan wajah sedihnya agar semua percaya dan iba padanya.
"Saya punya buktinya Pak. Apa semua mau melihat buktinya?" ucap Tristan dengan percaya dirinya berniat untuk menantang Resti dengan bukti yang dia miliki.
"Bukti? Boleh kalau memang kamu memiliki buktinya," tukas Kepala sekolah menanggapi ucapan Tristan.
"Maaf Pak, bukannya kita sedang membicarakan Raline? Tapi kenapa malah jadi saya yang dipojokkan seperti ini? Saya juga siswa di sekolah ini Pak, saya juga punya hak yang sama seperti Raline," Resti mencoba membela dirinya sendiri.
"Memang kamu siswa di sekolah ini, dan kamu memang punya hak yang sama dengan Raline. Maka, buktikan apa yang mereka katakan mengenai dirimu itu salah," jawab Kepala sekolah dengan tenang dan tegas.
Aydin, Raditya dan Kiki tersenyum melihat kegusaran Resti. Panik, Resti saat ini sedang panik dan bingung untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Tristan memberikan rekaman suara yang diberikan oleh Rania padanya semalam. Serta dia menyetujui permintaan Rania agar merahasiakan sosok Ali dari pihak sekolah. Kecuali jika memang benar-benar dibutuhkan, Ali bersedia untuk datang atau mengakui melalui rekaman video sebagai saksi.
Namun Tristan merasa tidak perlu karena Tristan sudah mempunyai bukti dan saksi yang lain, yaitu pemilik villa yang ditempati oleh Ali dan Resti pada saat itu.
Dan satu lagi, Tristan merasa harus menjaga perasaan Rania, karena dia akan merasa malu ataupun sakit hati jika sosok Ali diperjelas di lingkungan sekolah.
Hal yang bisa dibaca oleh Tristan adalah, Rania menyukai Ali dan Ali pun juga mempunyai rasa yang sama seperti Rania. Semuanya terbukti dari rekaman yang ada ditangan Tristan.
Namun bagian yang tidak dibutuhkan sudah dipotong oleh Tristan sehingga tidak ada yang mengetahui ungkapan perasaan Ali pada Rania.
"Tidak.. itu tidak benar! Ini semua fitnah! Siapa yang memberikan ini pada kalian?!" Resti berteriak histeris ketika rekaman suara Ali yang menceritakan apa yang terjadi di puncak waktu itu.
__ADS_1