Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
240


__ADS_3

Hari berikutnya pun sama. Raline masih saja tidak dianggap oleh Kenshin. Sikap acuhnya Kenshin itu membuat Raline menjadi sangat sedih. Bahkan tidurnya pun tidak bisa nyenyak karena memikirkan Kenshin yang marah padanya.


"Ken!"


Raline berseru memanggil Kenshin yang mobilnya bersamaan masuk dengan dirinya yang berjalan masuk melewati gerbang sekolah.


Lagi-lagi Raline tidak mengerti jika Kenshin sudah mengikutinya sejak tadi dari rumahnya.


Memang Kenshin berangkat seperti biasanya dia menjemput Raline, namun dia tidak menjemput Raline, dia hanya berada di dalam mobilnya dan memarkirnya tidak jauh dari depan rumah Raline untuk memantau keberangkatannya.


Raline diantar oleh Raditya menuju ke sekolah tanpa tahu jika di belakang mereka ada Kenshin yang mengikutinya sedari tadi.


"Tumben Kenshin gak pernah jemput? Apa dia kesiangan?"


Raditya bertanya pada Raline yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Raline hanya menggeleng tanpa menjawab pertanyaan dari ayahnya.


"Apa kalian sedang bertengkar? Kalian udah gede loh, masa' masih bertengkar kayak dulu waktu masih kecil?"


Raditya kembali bertanya pada Raline dan Raline hanya menghela nafasnya tanpa menjawab apa yang ditanyakan Raditya padanya.


Sesampainya di depan sekolah pun Raline tidak bersemangat untuk masuk ke dalam gedung yang sangat megah dihadapannya.


Tiba-tiba saja badannya lemas, ingin rasanya dia tidak memasuki bangunan tersebut.


Ditambah lagi kini dia diacuhkan kembali oleh Kenshin ketika mobilnya berjalan melintasinya.


Sekeras apapun dia memanggil Kenshin, tetap saja diacuhkan olehnya.


"Salah apa sih aku Ken sama kamu?"


Lagi-lagi Raline mengeluh lirih pada Kenshin yang tidak mendengarnya.


Hari-hari berlalu hingga satu minggu ini Raline diacuhkan oleh Kenshin. Jika ada Raline, sudah pasti Kenshin akan pergi dari tempat itu. Sehingga Kenshin selalu absen pada jam pelajaran Raline.


Sesampainya di rumah, Raline kembali kesepian, dan ini sudah satu minggu lamanya dia menahan kekesalan pada Kenshin.


Biasanya dia akan diajak Kenshin ke rumahnya hingga dijemput oleh Raditya. Atau kadang Kenshin juga yang mengantarkannya pulang ke rumah.


"Cukup! Sudah cukup Ken!"


Raline berseru di dalam kamarnya. Dia segera mengganti pakaiannya dan meraih tasnya.


Dipesannya ojek online melalui ponselnya untuk pergi ke rumah Aydin dan Kiki.


"Awas kamu Ken. Lihat saja nanti."


Ucap Raline lirih dengan mengepalkan tangannya.


Setelah sampai di rumah Aydin dan Kiki, dia segera berlari masuk ke dalam rumah yang sangat megah itu.


"Eh mbak Raline, Nyonya sama Tuan belum datang. Kalau -"


"Ken di mana bik?"

__ADS_1


Raline segera menyela ucapan bik Narsih yang menjelaskan keberadaan anggota keluarga di rumah itu.


"Tuan Muda Ken ada di kamar. Mbak Raline mau disiapkan minum apa?"


Pertanyaan Bik Narsih pun tidak dijawab oleh Raline. Dia segera berlari ketika Bik Narsih memberitahukan bahwa Kenshin berada di dalam kamarnya.


Brak!


Pintu kamar Kenshin dibuka dengan kasar oleh Raline. Tanpa mengetuk pintu dan tanpa ijin, Raline masuk ke dalam kamar Kenshin.


"Ken! Kenshin di mana kamu?"


"Ken!"


Raline berjalan mengelilingi kamar yang sangat luas milik Kenshin.


"Jangan dikira aku akan diam saja Ken!"


"Sebenarnya apa mau mu memperlakukanku seperti itu?!"


"Ken, keluar kau!"


Raline beralih dari kamar mandi, walk in closet, dan ruangan lain yang digunakan Kenshin sebagai ruang belajar. Namun tetap saja dia tidak menemukan Kenshin di semua tempat.


"Ken, kamu di ma-"


Ucapan Raline tidak diselesaikannya karena dia melihat selimut tebal yang sepertinya membungkus tubuh seseorang.


Segera dibukanya selimut tebal tersebut dan mata Raline terbelalak sempurna ketika melihat tubuh orang yang dicarinya sedang menggigil di dalam selimut.


"Ken!"


Raline mengusap keringat dingin yang berada di dahi dan pelipis Kenshin. Dia sangat cemas melihat keadaan Kenshin saat ini.


Sudah sangat lama dia tidak pernah melihat Kenshin sakit seperti ini. Terakhir kali Kenshin sakit seperti itu ketika Raline berada di Pondok Pesantren milik buyutnya.


"Ken, buka matamu Ken."


Raline mengusap lembut wajah Ken agar dia membuka matanya.


Perlahan Ken membuka matanya. Mata Kenshin seperti berkunang-kunang, tidak bisa melihat jelas wajah Raline saat ini.


"Can-tik....."


Ucap Kenshin terbata-bata memanggil Raline.


"Iya Ken, aku di sini. Kamu kenapa Ken? Apa yang sakit? Aku hubungi Mami dulu ya."


Raline akan beranjak dari ranjang Kenshin, namun tangan Kenshin menahannya.


"Jangan pergi," ucap Kenshin lemah.


"Aku cuma menghubungi Mami. Sebentar, aku telepon Mami dulu ya."


Raline sudah lupa dengan tujuannya datang ke rumah itu. Kini dia bersikap manis dan lembut pada Kenshin.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Mi... Ken demam, dia menggigil Mi, sama seperti waktu Raline tinggal di Pondok Pesantren waktu itu."


Raline menghubungi Kiki yang masih berada di rumah sakit dan kini dia sedang menunggu di jemput oleh Aydin untuk pulang bersama.


"Di mana Mi? Oh baik Mi, Raline akan cari."


Raline segera berjalan menuju ruang kerja Aydin dan mengambil kotak obat sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Kiki.


Raline bergegas berlari kecil menuju kamar Kenshin yang pintunya sengaja tidak dia tutup tadi ketika keluar untuk mengambil obat.


Kaki Raline terhenti di depan pintu kamar Kenshin ketika mendengar Kenshin mengigau nama Raline dan meminta Raline agar tidak pergi meninggalkannya.


Mata Raline berkaca-kaca mendengar Kenshin yang mengigau memanggilnya.


Ternyata bukan hanya dia saja yang merasa tersiksa karena tidak bersama Kenshin. Dan ternyata Kenshin lebih tersiksa daripada dirinya.


Segera Raline memberikan obat yang dibawanya ketika mendengar Kenshin yang menggigil lebih keras.


"Ken, diminum dulu obatnya."


Raline membantu Kenshin untuk membangunkannya dan membantunya untuk meminumkan obatnya. Setelah itu dia menidurkan kembali Kenshin dan menyelimutinya sebatas leher agar Kenshin bisa tidur dengan nyenyak.


Lagi-lagi tangan Kenshin menahan Raline ketika dia akan pergi. Dia tidak memperbolehkan Raline pergi sama seperti waktu itu.


"Jangan pergi, tidurlah di sini. Temani aku agar aku bisa tidur."


Tanpa sadar Kenshin mengatakannya, sama seperti waktu itu.


Waktu itu Kenshin sakit karena terlalu lama tidak bertemu dengan Raline, dan sekarang dia kembali sakit yang sama dengan alasan yang sama.


Namun kali ini merupakan kesalahan dari Kenshin sendiri. Dia yang sengaja menghindari Raline dan mengacuhkannya hingga dirinya sendiri tersiksa karena rindu.


"Tapi Ken-"


"Aku mohon."


Kenshin mengucapkannya sambil menarik tubuh Raline ke dalam pelukannya.


"Ken, jangan begini. Kita tidak boleh-"


"Sebentar saja, sampai aku tertidur."


Ken tidak mau melepaskan tubuh Raline yang sudah ada dalam pelukannya.


Mata Kenshin terpejam dan hanya dalam beberapa menit saja nafas Kenshin sudah beraturan. Dia sudah bisa tidur nyenyak dengan memeluk Raline.


Mata Raline tak henti-hentinya memandang wajah Kenshin. Entah mengapa dengan dipeluk Kenshin seperti itu terasa sangat nyaman baginya.


Namun jantungnya tidak bisa dikondisikan. Jantungnya berdegup dengan cepat dalam kondisinya seperti itu.


Tenang Raline, ini hanya sebentar. Setelah Kenshin sangat nyenyak dan pelukan tangannya sudah mengendur, barulah kamu bisa bangun.


Raline berkata dalam hatinya untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Kalian sedang apa?"

__ADS_1


__ADS_2