
"Tidak, tidak Sayang. Aku gak akan menikah sama dia. Laki-laki itu yang menghamilinya."
Ali meraih kembali tubuh Rania dan memegang lengannya dengan erat agar Rania tidak bisa pergi darinya.
"Ali! Bicara apa kamu? Apa kamu mau warga sini menikahkan kalian dengan paksa?" ayah Resti berteriak penuh emosi pada Ali.
"Lihat itu Pak, anak Bapak malah seperti itu. Dia mengabaikan calon istrinya bermesraan dengan perempuan lain di depan calon istrinya," ayah Resti mengadu pada ayah Ali.
"Sampai kapan pun aku gak akan menikahi Resti. Anak itu bukan anakku. Dia anak dari laki-laki itu," Ali berteriak tidak kalah emosinya dengan ayah Resti.
"Tapi warga sini-"
"Sebentar semuanya. Saya ke sini hanya ingin membantu Ali untuk meluruskan berita yang ada," Aydin menyela ucapan ayah Resti yang sedari tadi memojokkan Ali.
"Anda siapa? Kenapa anda ikut campur masalah ini?" tanya ayah Resti tidak terima.
"Perkenalkan, saya Aydin Permana. Saya... mmm.. lebih baik Bapak tanya sendiri pada anak Bapak siapa saya sebenarnya," jawab Aydin dengan tegas.
Siapa sebenarnya dia? Berani-beraninya dia bicara seperti itu padaku, ayah Resti bertanya-tanya dalam hatinya.
Ayah Resti merasa ada yang tidak beres sehingga dia menoleh pada Resti dan bertanya padanya,
"Siapa dia Res?"
"Mmm itu... dia..," jawab Resti ragu.
"Tidak perlu tau siapa saya. Lebih baik segera kita selesaikan saja masalah ini," Aydin berkata dengan tegas.
Aydin menggandeng Kiki untuk mendekati mereka. Dan Kiki menarik tangan Rania agar ikut serta berada di antara mereka. Sementara Ali yang masih menggenggam erat tangan Rania, dia ikut tertarik dan bergabung dengan mereka kembali.
Mulailah Kiki mengajukan beberapa pertanyaan pada Resti. Dengan gemetar Resti menjawab semua pertanyaan dari Kiki. Dan akhirnya Kiki sebagai seorang dokter yang sudah mengetahui tentang hal itu menyimpulkan bahwa anak tersebut adalah anak dari Putra.
"Ini tidak benar. Kamu hanya mengada-ada saja. Mana mungkin dengan hanya hitungan seperti itu bisa mengetahui ini anak siapa!" Ayah Resti berang, dia tidak setuju dengan hasil yang diberikan oleh Kiki.
__ADS_1
"Memang hitungan ini tidak bisa mengetahui ini anak siapa Pak, tapi paling tidak bisa dipastikan bahwa anak yang di dalam kandungan Resti ini bukan anak Ali. Karena sudah jelas setelah berhubungan dengan Ali Resti sudah mengalami menstruasi. Sedangkan setelah itu Resti berhubungan dengan laki-laki itu. Jadi ya... bisa kita telaah saja sebenarnya. Mungkin warga sini ada yang pernah melakukan hitungan seperti ini?" Kiki menjawab dengan tenang dan tersenyum.
"Saya pernah dihitungkan seperti itu oleh bu bidan. Dan hitungannya tepat sekali," sahut salah satu warga yang ada di situ.
"Tapi bukannya memang harusnya laki-laki yang terakhir berhubungan dengan Resti yang harus bertanggung jawab?" tanya salah satu warga pada mereka semua.
"Iya benar!" teriak beberapa warga.
"Belum tentu. Siapa tau saja ketika berhubungan dengan laki-laki ini, ternyata Resti sudah hamil dengan Ali," ucap ayah Resti tidak terima.
"Bukannya hitungan tadi sudah sangat jelas sekali Pak, jika kemungkinan besar memang dia yang menjadi bapak dari anak yang dikandung Resti?" salah satu warga menyahuti ucapan ayah Resti.
Ayah Resti merasa terpojok. Dia menatap Putra yang sangat tenang sekali menghadapi semua orang yang mengatakan bahwa anak dalam kandungan Resti adalah anaknya.
Putra mengerti maksud dari pandangan ayah Resti padanya. Dia tersenyum meremehkan ayah Resti yang sedang melihat ke arahnya.
"Belum tentu dia anakku. Resti sering berhubungan dengan laki-laki lain dan mungkin saja dia melakukannya dengan banyak laki-laki. Buktinya saja sudah jelas. Dan mungkin saja dia malu jika mengatakannya di depan kita," Putra berkata dengan entengnya.
Ayah Resti menggebrak meja di depannya. Dia merasa dipermalukan oleh laki-laki yang umurnya sangat jauh lebih muda darinya.
Sedangkan Resti tanpa sadar meneteskan air matanya. Kini air mata yang Resti keluarkan adalah kebenaran, berbeda dengan air mata kebohongan yang sedari tadi dia lakukan.
Resti sangat terhina oleh ucapan Putra. Dia menatap wajah Putra yang tersenyum meremehkannya. Dan kini Resti tahu jika Putra masih saja seorang Putra yang dulu. Putra yang tidak mau terikat oleh apapun dan tidak mau mengakui apapun meskipun memang dia yang melakukannya.
Ali kini bisa bernafas dengan lega. Ibu Ali yang sedari tadi berwajah tegang, kini menangis mengucap syukur dengan mengelus dadanya. Sedangkan ayah Ali kini bisa tersenyum lega mendengar semuanya.
Tangan Ali tidak lepas dari genggaman tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan Rania.
Dalam hati Rania sangat bersyukur, namun dia masih tidak bisa melupakan perisitiwa ini karena dia sangat takut jika kedua orang tuanya mengetahui masalah ini, maka sudah bisa dipastikan jika mereka tidak akan memperbolehkannya berhubungan dengan Ali.
"Sudah bisa dipastikan ya Bapak-bapak dan Ibu-ibu jika anak saya Ali bukan Bapak dari anak yang dikandung Resti," ayah Ali mengatakannya pada semua orang yang ada di teras rumahnya bersama dengannya saat ini.
"Iya, buat apa kita di sini. Mending kita bubar saja," ucap salah satu warga.
__ADS_1
"Pulang, ayo pulang semuanya," sahut warga yang lain.
"Ternyata Resti perempuan yang seperti itu. Memalukan," timpal seorang warga yang terkenal julid di kampung tersebut.
"Iya ya, memalukan ternyata," ucap warga yang lain sambil terkekeh.
Tangan ayah Resti mengepal. Rahangnya keras menahan amarahnya. Dan dia menatap Resti dengan tatapan tajam bak pembunuh yang akan menghabisi Resti.
"Sudah Pak, sebaiknya Bapak pulang saja dan bicarakan dengan laki-laki itu agar tidak lepas dari tanggung jawabnya," ayah Ali mengusir ayah Resti secara halus.
Ayah Resti tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sangat malu pada keluarga Ali, terutama pada warga sekitar yang akan selalu menghujatnya.
Ayah Resti menarik tangan Putra untuk ikut dengannya.
"Resti, ayo pulang!" ayah Resti berseri dengan emosi pada Resti.
Resti segera mengikuti ayahnya yang membawa Putra entah kemana.
Awalnya Putra menurut saja tanpa perlawanan, namun setelah tangannya dilepaskan, Putra segera berlari cepat untuk pergi dari tempat itu.
"Maling... maling... cepat tangkap maling itu!" ayah Resti berteriak sambil berlari mengikuti Putra.
Memang dia kalah energik dengan Putra yang masih sangat muda dan bugar fisiknya dibandingkan dengan ayah Resti yang sudah berumur.
Brakk!!
Prang!!!
Sialnya Putra karena teriakan ayah Resti tersebut didengar oleh warga sekitar dan dia dihadiahi pukulan-pukulan bertubi-tubi dari beberapa warga yang membawa alat pemukul serta alat masaknya.
Naas sekali Putra yang tidak siap menangkis pukulan-pukulan tersebut sehingga dia bisa dengan mudah ditangkap oleh warga tersebut.
"Ini mau diapakan Pak?" tanya salah satu warga pada ayah Resti.
__ADS_1