
"Resti!" teriak ibu Resti ketika jenazah Resti dimasukkan ke liang lahat.
Brukk!!
Tubuh ibu Resti terjatuh di tanah dekat makam Resti ketika jenazah Resti ditutup dengan tanah.
Beberapa orang menolong mengangkat ibu Resti yang sudah tidak sadarkan diri dan dibawa ke rumah Resti yang hanya ada beberapa orang sedang bertakziah di sana.
Mereka memberikan pertolongan agar ibu Resti cepat sadarkan diri. Setelah hampir satu jam ibu Resti masih belum juga sadarkan diri, hingga mereka memberi saran pada ayah Resti untuk membawanya ke rumah sakit.
Mereka membawanya dengan mobil pinjaman dari tetangga untuk menuju ke rumah sakit yang terdekat.
Naasnya, dokter memberitahukan bahwa ibu Resti terkena serangan jantung dan mereka semua tidak tahu jika ibu Resti sudah tiada.
Entah sejak kapan ibu Resti tiada, ayah Resti tidak ingin tahu lebih dalam lagi semua itu. Kini dunianya seolah runtuh dan hancur berkeping-keping.
Baru saja anak mereka satu-satunya meninggal, dan kini ibu Resti juga meninggal karena tidak sanggup menerima fakta bahwa anaknya pergi untuk selamanya.
Ayah Resti mencoba menahan tangisnya seperti yang dia lakukan ketika mengetahui Resti meninggalkan mereka. Namun air matanya tak kuasa jatuh deras di pipinya.
Tubuhnya terasa lunglai seperti tak bertenaga dan tidak bertulang. Tubuh yang sedari tadi lemah karena memakamkan anaknya kini menjadi lemas jatuh di lantai dengan berderai air mata mendengar kenyataan yang tidak ada kesiapan sama sekali untuk menerimanya.
Mereka yang mengantar ke rumah sakit membantu untuk mengurus jenazah ibu Resti. Mereka tidak tega melihat ayah Resti yang sangat terpukul seperti itu.
Para tetangga Resti bersama-sama membantu pemakaman ibu Resti. Beberapa dari mereka mengurusi masalah pemakaman, ada juga yang mengurusi jenazah ibu Resti dan ada juga yang membantu ayah Resti untuk tetap bisa sabar dan tegar menghadapi kenyataan yang sangat menyakitkan dalam hidupnya.
Mereka memang selalu membicarakan Resti akhir-akhir ini, tapi mereka juga merasa kasihan pada kedua orang tua Resti yang sangat terpukul dengan nasib tragis Resti.
"Sttt... apa ibunya Resti dengar waktu kita ngomongin Resti ya?"
"Kamu sih mulutnya pedes banget kayak cabe satu ton."
"Enak aja, kamu tuh yang mulutnya kayak petasan kalau udah ngomongin Resti."
"Udah... udah, semuanya salah. Ibu Resti selalu mendengar kalian menjelek-jelekkan anaknya meskipun dia sudah tidak ada di dunia ini. Wajar saja jika ibunya Resti sedih, apalagi dia syok melihat anaknya dimasukkan di liang lahat. Pantas saja dia terkena serangan jantung."
"Hati-hati, kali aja dia gak terima kalau anaknya diomongin sama kalian."
Percakapan para tetangga Resti ini memanglah tidak jauh dari kenyataan. Semua yang mereka bilang merupakan wujud penyesalan dari mulut mereka yang sangat suka membicarakan orang lain.
__ADS_1
Jenazah ibu Resti pun disemayamkan saat itu juga. Meskipun hari sudah akan gelap, ayah Resti tidak mau menunda pemakaman istrinya.
Dia memang sedih ditinggalkan oleh anak semata wayang dan juga istrinya, namun dia akan lebih sedih jika melihat jenazah istrinya yang terbujur kaku sudah tidak bernyawa.
Malam ini merupakan malam tersunyi bagi ayah Resti. Rumahnya terasa sangat sepi seperti tidak berpenghuni. Dan rumah itu terasa dingin tanpa kehangatan keluarga yang selalu ada menyambutnya ketika pulang bekerja.
Istrinya, belahan jiwanya yang sudah berpuluhan tahun menemaninya mengarungi kehidupan. Susah dan senangnya mereka tanggung bersama. Bahkan ketika kekurangan uang pun ibu Resti tidak pernah meninggalkan ayah Resti.
Mengingat hal itu, ayah Resti menangis tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak dan nafasnya terasa tercekat. Ingin sekali rasanya dia menyusul istrinya agar tidak merasakan kesedihan itu lagi.
Tiba-tiba bayangan senyum Resti ketika diberi uang olehnya membuatnya kembali menangis histeris. Bayangan Resti ketika baru saja lahir, pada saat dia menggendongnya, pada saat dia melihat Resti belajar berjalan dan pada saat Resti tumbuh remaja berhasil meraih beasiswa di sekolah favoritnya membuat ayah Resti tidak bisa menahan rasa sesak yang ada di dadanya.
Hingga tanpa sadar ayah Resti tertidur dalam tangisnya yang tidak ada hentinya.
Suara adzan subuh yang masuk ke dalam indera pendengarnya membangunkan ayah Resti, dan dia juga mendengar suara istrinya yang sedang berusaha membangunkannya.
"Bu... ibu... Resti... tidaaaaak...."
Ayah Resti kembali histeris mengingat bahwa anak dan istrinya telah tiada. Air matanya seolah tak habis-habisnya keluar dari pelupuk matanya.
"Ini semua gara-hara kamu Putra!"
"Lihat saja, akan ku temukan kau di mana pun kau berada!"
Ayah Resti mengatakan itu semua dengan raut muka yang sangat menakutkan. Tangannya yang mengepal dengan kuat seolah memberitahukan bahwa dendamnya sangat besar pada Putra.
Ayah Resti beranjak dari duduknya dan menyambar kunci motor yang tergeletak di atas mejanya. Segera dia mengendarai motornya menuju tempat yang ada dalam pikirannya.
Sangat terlihat dengan jelas bahwa emosi ayah Resti sangat besar. Semua itu bisa dilihat dari caranya mengendari motornya seperti orang yang sedang marah besar, dan biasanya orang-orang menyebutnya seperti orang yang sedang kesetanan.
Ayah Resti mendatangi tempat-tempat di mana dulu pernah dia datangi bersama dengan Resti untuk mencari Putra.
Selalu dua tempat itu yang dia datangi akhir-akhir ini untuk mencari Resti. Dan selalu mendapatkan hasil yang sama. Dia tidak menemukan Putra di dua tempat itu.
Basecamp dan kos-kosan Putra itu sudah lama tidak dia datangi bersama geng motornya, sehingga tidak ada jejak orang yang akhir-akhir ini datang ke tempat itu.
Sejenak dia beristirahat di pinggir jalan. Dia melihat sekeliling jalan yang masih belum terlalu banyak kendaraan yang lewat.
Matanya tertuju pada semak-semak di sekitar sawah. Dia teringat tentang Resti yang mayatnya ditemukan di rawa-rawa dekat perkebunan jagung yang berada di sekitar persawahan lain desa.
__ADS_1
Ingin sekali ayah Resti pergi ke tempat tersebut. Dia ingin melihat tempat yang menjadi pijakan terakhir anaknya di bumi ini.
Tak terasa air matanya kembali menetes. Dadanya kembali terasa sakit memikirkan anaknya sehingga ingatan tentang meninggalnya istrinya pun ikut muncul tanpa diingatnya.
Dengan segera dia usap air matanya dan melajukan motornya kembali dengan kencang ke tempat yang menjadi lokasi penemuan mayat Resti.
Dia berdiri membayangkan tubuh Resti yang tergeletak di tempat itu dengan mengenaskan. Hal itu membuatnya kembali teringat akan niatnya mencari Putra.
Tangannya yang mengepal dengan keras membuatnya memiliki kekuatan dan keinginan yang kuat untuk memberi pelajaran pada Putra.
"Aaaaaaah....!!!!"
Ayah Resti berteriak di tempat itu untuk meluapkan rasa sesak di dadanya. Teriakan itu membuat semua orang yang ada di sawah, kebun dan sekitarnya menoleh ke arahnya.
Tanpa pikir panjang lagi, ayah Resti kembali melajukan motornya dengan amarah dan emosi yang memuncak.
"Putra!"
"Brengsek!"
"Berhenti!"
Ayah Resti melihat Putra bersama geng motornya melewati jalan raya yang sama dengan ayah Resti. Mungkin saja Putra dan geng motornya baru saja keluar dari rumah yang di datangi Resti malam itu untuk menemuinya.
Ayah Resti mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar Putra yang tentunya sangat lihai dalam berkendara. Jalanan seperti sesuatu yang sudah biasa mereka taklukan, sehingga mereka tidak pernah takut meskipun dikejar oleh pihak yang berwajib sekalipun.
Brak!!
Suara tabrakan kendaraan terdengar sangat keras hingga Putra yang berada jauh di depan jalan menghentikan motornya.
Dan ternyata ayah Resti yang menabrak trotoar jalan hingga motornya tidak berbentuk.
"Inna lillahi wa inna ilahi raji'un"
Kalimat itu diucapkan oleh semua orang yang berada di lokasi kecelakaan.
Kini, keluarga Resti hanya tinggal nama saja. Seluruh anggota keluarga yang menempati rumah Resti sudah meninggal dalam berurutan hari.
Putra yang melihat ayah Resti tergelatak mengenaskan dengan motornya yang sudah tidak berbentuk itu merasa syok hingga tubuhnya disanggah oleh teman-temannya.
__ADS_1
Apa aku penyebabnya?