Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
241


__ADS_3

Menunggu Kenshin tertidur nyenyak dan melonggarkan pelukannya itu sangat mustahil bagi Raline. Kini dia terjebak dalam pelukan Kenshin.


Memang benar Kenshin sudah nyenyak tertidur dengan memeluk Raline. Namun tangannya yang berada di tubuh Raline tidak mengendur meskipun dia sudah tertidur dengan nyenyak.


Mata Raline tak henti-hentinya memandang wajah Kenshin yang membuatnya galau, uring-uringan dan kesal belakangan ini.


Dia mengagumi wajah tampan Kenshin yang memang tidak pernah membosankan jika dilihat.


Disentuhnya setiap garis wajahnya seperti dia sedang melukis mahakarya sempurna.


Tangan Raline menyentuh hidung Kenshin dan dia bisa merasakan hembusan nafas teratur dari laki-laki yang di hadapannya saat ini.


Sangat terlihat sekali tidur Kenshin yang sangat nyenyak, berbeda dengan tadi sebelum tidur memeluk Raline.


Nyaman, itu juga yang dirasakan oleh Raline saat ini. Dia sangat nyaman tidur dalam pelukan Kenshin.


Namun jantungnya kini yang tidak bisa dia kondisikan. Degup jantungnya sangat cepat, membuat Raline takut jika Kenshin bisa merasakan detak jantungnya yang sangat cepat.


Tenang Raline, sebentar lagi pasti tangan Kenshin bisa lepas. Kamu bisa keluar dari pelukannya. Tahan dulu sebentar.


Raline berkata dalam hatinya untuk menenangkan hatinya sendiri.


Namun tanpa diduganya, dia malah terbuai dengan kenyamanan pelukan dari Kenshin. Matanya lama-lama terpejam dan kini mereka tidur dengan saling memeluk.


Ceklek!


Suara pintu kamar yang terbuka tidak membuat Raline dan Kenshin terganggu dalam tidurnya. Mereka masih saja saling berpelukan dengan posisi Raline berada dalam pelukan Kenshin.


Mata Aydin dan Kiki terperangah melihat pemandangan anak laki-lakinya bersama anak gadis yang selama ini mereka anggap seperti anak mereka sendiri sedang tidur bersama dan berpelukan erat.


"Mi!"


"Pi!"


Aydin dan Kiki bersamaan memanggil. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.


Memang mereka tahu jika Kenshin sangat dekat dengan Raline mulai dari kecil, namun mereka belum mengetahui jika Kenshin benar-benar mencintainya.


"Tuh kan Pi, Kenshin suka sama Raline. Mungkin juga si cantik juga suka sama si Ken."


Kiki berbisik lirih ditelinga Aydin sambil memperhatikan kedua remaja yang masih tertidur nyenyak di depan mereka.


"Kenshin hanya terbiasa aja Mi sama kehadiran Raline dalam hidupnya. Beda sama cinta."


Aydin membalas bisikan Kiki, dia tidak setuju dengan pandangan istrinya terhadap mereka berdua.


"Papi lupa kalau kebiasaan bisa membuat orang jatuh cinta. Seperti kita, jatuh cinta karena terbiasa bersama."


Kiki mengatakannya dengan lirih sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum menggoda Aydin.


"Iya juga ya," ucap Aydin sambil tersenyum

__ADS_1


Dengan segera tangan Aydin meraih tubuh Kiki dan membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.


Diciumnya pipi istrinya itu dengan gemas. Dan ketika bibir Aydin ingin merambah ke bibir Kiki, dengan cepatnya Kiki menutup bibir Aydin dengan telapak tangannya.


"Jangan di sini," ucap Kiki lirih sambil menghalau bibir Aydin.


Aydin pun menghentikan aksinya. Dan dia bertanya lewat matanya.


Kiki pun memberikan jawaban dengan mengarahkan dagunya ke arah Raline dan Kenshin yang masih tidur dengan nyenyaknya.


Aydin akan melangkahkan kakinya mendekati ranjang Kenshin, namun Kiki menghentikannya.


"Tunggu dulu," ucap Kiki seraya mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


Aydin pun menurut, dia tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Dia hanya menurut saja karena dia tidak ingin bertengkar dengan istrinya.


Kiki mengarahkan ponselnya pada kedua remaja yang sedang tidur berpelukan itu. Dia mengambil dari setiap sudut tidur mereka.


Setelah itu Kiki memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celananya.


"Sudah suamiku, silahkan," ucap Kiki sambil menggerakkan tangannya ke arah anak-anaknya.


"Ehem....!"


Aydin berdehem untuk membangunkan anak-anaknya. Namun mereka tidak terganggu sedikitpun, malah Kenshin lebih mengeratkan pelukannya pada tubuh Raline.


"Kenshin!"


Aydin berseru memanggil Kenshin namun seperti tadi, anaknya itu lebih memilih memeluk gadis pujaan hatinya.


Kini Aydin berseru berganti memanggil Raline.


Lagi-lagi Aydin harus menelan kekecewaan. Suaranya tidak dianggap sama sekali oleh kedua anaknya yang ada di hadapannya itu.


"Kenshin! Raline!"


Seruan yang setengah berteriak itu membuat Raline dan Kenshin terlonjak kaget dalam tidurnya.


Sontak saja mereka membuka matanya dan mereka terpaku karena melihat diri mereka saling berpelukan.


"Ken," ucap Raline sambil memandang Kenshin.


Kenshin yang merasa namanya disebut oleh gadis yang ada di depannya itupun mengembangkan senyumnya sambil memandang wajah cantiknya tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh gadis itu.


"Sedang apa kalian?"


Aydin bertanya dengan tegas dan itu membuat Kenshin dan Raline terperanjat kaget dan melepaskan pelukan mereka masing-masing.


Raline membenarkan posisi duduknya dan menjauhi Kenshin dengan menundukkan kepalanya seolah dia ketahuan melakukan sesuatu dan menjadi terdakwa saat ini.


Sedangkan Kenshin, dia santai seperti biasanya. Dan tidak terlihat takut ataupun gelisah karena terciduk kedua orang tuanya sedang tidur berpelukan bersama seorang gadis.

__ADS_1


"Jelaskan, kalian sedang apa tadi?"


Aydin meminta penjelasan Kenshin dan Raline tentang apa yang dilihatnya tadi.


"Kami sedang tidur Pi," jawab Kenshin dengan entengnya.


"Iya tapi-" ucapan Aydin menggantung, dia tidak ingin menjabarkannya terlalu jelas.


Kiki menahan tawanya melihat suaminya yang tidak tega mengatakan hal yang akan membuat anak mereka menjadi malu.


Aydin menoleh pada Kiki dan melihat istrinya itu yang menahan tawanya membuatnya kesal. Kemudian dia berkata,


"Mi, jelaskan pada mereka."


"Ehem...."


Kiki menetralkan suaranya, dia takut suaminya marah padanya karena ketahuan menertawakannya.


"Apa kalian tidur bersama?" tanya Kiki pada Raline dan Kenshin.


Sontak saja Raline mendongakkan kepalanya dan menatap Kiki yang berada tepat di depannya.


Sedangkan Kenshin, dia memandang Kiki dengan senyum yang mirip sekali dengan yang ditampilkan Kiki saat ini.


Ternyata ibu dan anak itu saling meledek dan mereka tahu arti dari senyuman yang mereka tampilkan.


"Mi, kok malah tanya gitu sih?"


Aydin bertanya dengan kesal pada Kiki.


"Papi diem deh. Apa Papi sendiri yang nanya mereka?"


Kiki sedikit membentak pada Aydin agar tidak mengganggunya ketika bertanya pada anak-anaknya.


"Raline, Kenshin, kenapa kalian tidak menjawab?"


Kiki kembali bertanya pada kedua remaja yang ada di hadapannya itu.


"Ken sakit Mi," jawab Ken untuk menyelamatkan dirinya.


"Mami tau," jawab Kiki sambil tersenyum jahil.


"Syukur deh kalau Mami tau," ucap Kenshin kemudian.


"Lalu kenapa tidur pelukan gitu Kenshin sayang.....?" tanya Kiki kemudian.


"Kenshin gak bisa tidur Mi. Mami ingat kan pada saat si cantik ini berada di pondok, Kenshin sakit dan baru bisa tidur ketika dia tidur di sebelah Ken? Nah sama kayak ini tadi."


Kenshin menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini.


"Apa dengan pelukan seperti itu Ken? Kalian itu bukan mahram. Apa yang nanti akan dikatakan Ayahnya Raline kalau tau tentang ini?"

__ADS_1


Aydin tidak tahan lagi menahan apa yang ingin dia tanyakan sedari tadi.


"Nikahkan saja kami!"


__ADS_2