Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
77


__ADS_3

"Ampun Ma... ampuuun...," pekik Kevin kesakitan karena telinganya dijewer oleh Mamanya.


"Ampun... ampun... ini anak gadis kamu apain sampai mual-mual mau muntah gini," omel Mama masih dengan tangannya yang berada di telinga Kevin.


"Diapain apa sih Ma, gak diapa-apain kok, beneran deh, suer...," Kevin membela dirinya sambil melepaskan tangan Mamanya dari telinganya, namun semakin Kevin berusaha menyingkirkan tangan Mamanya, semakin kuat pula Mamanya menjewernya.


"Terusin Ma, jewer sampai putus telinganya," ucap Kiki mendadak jadi suporter Mamanya.


" Boncel awas lu," tunjuk Kevin dengan telunjuknya pada Kiki.


"Eh gak usah ngancam-ngancam adek mu," Mama membela Kiki.


"Ampun Ma... ini lepasin dulu, sakit...," rengek Kevin.


"Dih cowok dijewer doang udah sakit. Melempem," ledek Kiki.


"E-em... maaf aku ke toilet du.. lu...," Vina berlari menuju toilet karena sudah tidak tahan ingin muntah.


"Sayang...," Kevin berseru namun Vina tetap berlari tanpa menoleh pada Kevin.


"Ma, lepasin, itu Vina kenapa biar aku susulin," Kevin mengiba pada Mamanya.


"Ya udah sana cepat susulin Vina. Ajak dia periksa ke dokter," perintah Mama.


Kevin berlari mengejar Vina yang ternyata masuk ke dalam toilet wanita. Kevin menunggunya di depan toilet wanita. Banyak yang memandang aneh pada Kevin karena berada di depan toilet wanita. Namun Kevin masa bodoh, dia cuek saja karena dia menunggu seorang wanita yang berada di dalam toilet tersebut.


Tidak berapa lama Vina keluar dari dalam toilet wanita dengan wajah agak pucat dan keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Segera diraih tubuh lemah Vina ke dalam rangkulan Kevin dan menyandarkan kepala Vina pada dadanya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Kevin dengan nada khawatir.


Vina hanya mampu menggeleng. Dia lemas karena sedari tadi dia mengeluarkan isi dalam perutnya sewaktu di dalam toilet.


"Kita periksa ke dokter ya," Kevin melihat wajah Vina.


Vina menggeleng dan berkata,


"Aku istirahat aja ya, tolong kabari rumah sakit aku ijin gak masuk," Vina kembali bersandar pada tubuh Kevin dan melingkarkan tangannya ke pinggang Kevin dengan erat.


"Masalah kerjaan biar aku yang urus. Kamu sekarang harus periksa dulu ke dokter. Atau dokternya aku panggil aja ya kesini?" Kevin mengutarakan pendapatnya.


"Ya udah dipanggil kesini aja ya, aku lemas pengen istirahat," jawab Vina.


"Ok, kita ke kamar kamu aja sekarang. Kamu kuat jalan gak? Apa aku gendong aja?" Kevin tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


"Ish kesempatan, masih belum halal. Jalan aja," Vina memukul pelan lengan Kevin.


Kevin terkekeh sambil menuntun Vina menuju ke kamarnya. Sesampainya di dalam kamar Vina, Kevin menghubungi dokter keluarganya untuk datang ke kamar hotel tersebut. Dan tak lupa dia mengabarkan pada Mamanya.


Tak lama pintu kamar Vina berbunyi. Mama, Papa, Bunda ,Ayah , Aydin dan Kiki berada di ruangan tersebut. Mereka semua ingin mengetahui apa yang terjadi pada Vina hingga Vina mengalami tanda-tanda seperti orang yang sedang hamil.


Selang lima menit dokter yang dihubungi Kevin datang. Mereka semua menunggu Vina diperiksa dengan harap-harap cemas.


Setelah dokter memeriksa Vina, dia menatap Kevin dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, membuat semua orang semakin yakin jika Vina sedang hamil.


"Vin, dia tunangan kamu kan?" tanya dokter tersebut pada Kevin.


"Iya Om, gimana keadaannya?" Kevin balik bertanya pada Dokter Reno, sahabat dari Papanya.


"Kamu harus jaga dia baik-baik Vin. Jangan biarkan dia kelelahan," jawab Dokter Reno.


Mama menutup mulutnya yang agak terbuka karena kaget. Papa menggelengkan kepalanya tanda dia tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Dasar kamu ya anak bandel. Nunggu sebentar aja gak bisa. Sebentar lagi kan kalian akan menikah. Gak sabaran banget sih jadi cowok," omel Mama sambil berjalan ke arah Kevin dan mendaratkan tangannya kembali ke telinga Kevin.

__ADS_1


"Aduh... aduh... Mama apaan sih. Malu Ma.. lepasin....," Kevin merengek pada Mamanya.


"Itu anak gadis orang kamu hamili. Mau bilang apa Mama sama Papa dihadapan irang tuanya Vina?" Mama semakin memperkuat jewerannya.


" Hamil apaan sih Ma? Siapa yang hamil?" tanya Kevin.


"Vina yang hamil," seru Mama di depan muka Kevin.


" Hah? Sayang beneran kamu hamil? Kita kan gak pernah ngelakuin itu, kok kamu bisa hamil?" Kevin melihat ke arah Vina dan bertanya padanya.


"Hah, hamil?" Vina bingung dengan kata hamil yang ditujukan padanya.


"Ini kenapa jadi ngomongin hamil?" sela Dokter Reno sambil terkekeh.


"Lah itu kata Dokter calon mantu saya sedang hamil," Mama melepaskan tangannya dari telinga Kevin.


"Saya tidak mengatakan dia sedang hamil Mbak, hanya saja dia kelelahan dan kurang makan, jadi kemungkinan asupan gizinya kurang," jelas Dokter Reno pada semuanya.


"Jadi Vina gak hamil Ren?" Papa Kevin bertanya pada Dokter Reno.


"Enggak Mas, dia baik-baik saja. Hanya istirahat yang cukup dan makannya gak boleh telat. Itu aja sih. Nanti akan saya berikan resep untuk vitaminnya," jawab Dokter Reno.


"Lah kok bisa mual dan muntah?" tanya Mama heran.


"Sepertinya dia masuk angin Mbak, mungkin karena gak makan terus kecapekan kan bisa jadi faktor juga," jawab Dokter Reno.


"Aku aja hamil gak pernah muntah-muntah. Iya kan sayang?" Kiki menyahuti penjelasan Dokter Reno kemudian dia bertanya pada suaminya.


"Kamu mah ngebo Dek," ejek Kevin.


"Enak aja adek sendiri dikatain kebo," Kiki mencebik kesal.


"Ya kamu itu hamil kebo gak mengalami morning sickness," jawab Mama Kiki.


"Dasar bumil sensitif. Kevin curiga kalau sebenarnya manjanya itu cuma rekayasa, biar tambah disayang Aydin," cibir Kevin.


Mendengar itu, Kiki langsung menyambar bantal sofa yang ada di dekatnya, namun dengan sigap Aydin merampasnya. Aydin menggeleng dan menaruh kembali bantal sofa tersebut kemudian dia mendekap erat tubuh Kiki agar tidak bisa menggapai bantal sofa itu lagi.


Semua orang yang ada di ruangan tersebut tersenyum dan tertawa, merasa terhibur dengan sikap Kiki.


"Ah aku ingat, tadi pagi aku ketiduran di dalam bathub pas lagi berendam. Hehehe....," ucap Vina sambil tersenyum lebar.


"Ya ampun sayang kamu ngapain berendam sampai ketiduran?" tanya Kevin ketika sudah duduk di ranjang dekat Vina.


"Ih pada gak tau sih, gimana enaknya tidur didalam bathub," sahut Kiki yang kini sudah berada di pangkuan Aydin.


"Itu mah kelakuan lu," seru Kevin pada Kiki.


Kiki mencebik kesal dan membuat Aydin bertambah erat mendekapnya, karena takut istrinya itu akan membalas kakaknya.


"Udah... udah... ribut mulu kalian. Kita keluar aja, biar Vina bisa istirahat.


Kemudian mereka semua keluar dari ruangan tersebut kecuali Kevin.


Kiki memutar kakinya kembali menghadap Kevin yang masih duduk di ranjang samping Vina.


"Kak, ngapain disitu? Ayo keluar," seru Kiki dari arah pintu.


"Kalian aja dulu, kakak mau nemenin Vina dulu," jawab Kevin.


"Udah sayang, ayo keluar. Biarin Kevin disini, dia mau bikin adonan," ucap Aydin.


"Mama.... Kak Kevin gak mau keluar, mau bikin adonan katanya," seru Kiki pada Mamanya yang belum jauh dari pintu.

__ADS_1


Mama kembali masuk ke kamar Vina.


"Kevin... ayo keluar, biarin Vina istirahat," perintah Mama yang tidak bisa ditolak.


"Enggeh kanjeng ratu," jawab Kevin asal karena sebal.


Kevin terpaksa meninggalkan Vina sendiri di dalam kamarnya untuk beristirahat. Dan dia mengikuti semua keluarga besarnya menuju kolam renang.


Kevin berjalan di belakang Kiki dan menjahilinya dengan menarik-narik rambut belakang Kiki. Kiki tidak terima, dia memukul-mukul Kevin dan mengejarnya, namun Aydin yang gesit segera menangkap tubuh Kiki dan menggendongnya ala bridal style berjalan disepanjang lorong hotel sampai kolam renang.


Kevin sebal pada Kiki karena ulah Kiki yang melapor pada Mamanya yang mengakibatkan dia tidak bisa berduaan dengan Vina di dalam kamarnya. Padahal kan itu bisa jadi waktu berdua mereka disela kesibukan mereka ketika sudah kembali menjalani rutinitas mereka masing-masing.


"Ck udah kayak cicak aja nemplok terus," sindir Kevin pada Kiki yang kini sedang rebahan di kursi berjemur dan memeluk erat tubuh Aydin.


"Suka pedes ya omongan orang yang lagi menahan hasratnya," sindir Kiki balik.


"Udah... udah... pusing aku kalau kalian ribut terus," sahut Aydin melerai.


"Mentang-mentang suaminya belain terus, ingat Bro aku ini sahabatmu," ucap Kevin sambil duduk di kursi sebelah mereka.


"Lebih tinggi kastanya istri daripada sahabat," sahut Kiki.


"Ah udah ah, pusing dengernya. Vin udah jangan jahilin Kiki lagi, takutnya dia kelupaan lari-lari kayak tadi. Kan bahaya lagi hamil," Aydin memarahi Kevin.


Kevin makin merasa sebal, dia berdiri dan menutupkan handuk yang ada di kursinya ke kepala Kiki, setelah itu dia berlari menjauh dan masuk ke kolam renang setelah melepas bajunya.


Aydin hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan kakak beradik yang ada di depannya ini. Selalu saja bisa membuatnya pusing namun juga terhibur.


"Sayang, aku mau dong berjemur ditengah-tengah situ pakai pelampung. Tapi yang warnanya kuning ya," Kiki merayu Aydin seperti biasa membuat pola abstrak di dada Aydin yang tidak memakai baju.


Aydin mengernyitkan dahinya dan berkata,


"Hah, kuning? Gak lilac? Kok tiba-tiba kuning?"


"Lagi pengen kuning," rengek Kiki pada Aydin.


Aydin memijit pelipisnya mendengar permintaan ibu hamil yang aneh ini.


"Ya udah tunggu sebentar biar Abang suruh orang menyiapkan."


Aydin mengambil ponselnya di saku celananya dan dia menghubungi manager hotel untuk menyiapkan apa yang diinginkan istrinya tadi.


Selama beberapa menit, pegawai hotel sudah selesai menyiapkan semua hal yang diinginkan Kiki. Mulai dari pelampung besar warna kuning untuk berjemur di tengah-tengah kolam renang dan rompi pelampung untuk dikenakan Kiki agar lebih aman, mengingat Kiki sedang hamil.


Aydin membawa Kiki yang sudah berada di atas pelampung besar itu ke tengah-tengah kolam renang. Kemudian dia naik ke atas kolam renang untuk mengambilkan minuman yang diminta oleh Kiki dan Aydin menyuruh Kevin untuk menjaga Kiki ketika Aydin tidak berada disitu.


Kevin memutar-mutar pelampung Kiki dan Kiki menciprati Kevin dengan air kolam. Kemudian terjadilah seperti biasanya, mereka berdua perang air, saling menciprati air.


"Princess Boncel, ini konsepnya apa nih? Kuning-kuning kayak limbah pencernaan manusia aja," ledek Kevin dengan tertawa mengejek.


"Kak Kevin... awas ya aku bilangin Bang Ay loh kalau kesini," ancam Kiki.


"Dih bisanya ngadu, abisnya kamu Dek pakai kuning-kuning ngambang di air, persis banget kan sama limbah pencernaan kamu," Kevin tertawa terbahak-bahak merasa sukses meledek adiknya.


Kiki menggapai tubuh Kevin namun tak bisa. Akhirnya dia hanya bisa menciprati lagi badan Kevin dengan air disekitarnya sama seperti tadi. Kevin pun membalasnya. Dan terjadilah perang air kembali.


Namun pandangan mata Kiki teralihkan ketika ada sosok wanita yang duduk disebelah Kevin dan terlihat mengajak Kevin berbicara dengan selalu tersenyum pada Kevin.


"Kak... itu siapa?" tanya Kiki yang matanya masih melihat ke arah suaminya.


"Siapa?" tanya Kevin heran.


"Itu, siapa wanita yang sedang bersama Bang Ay?" tanya Kiki yang kini mengarahkan telunjuknya ke arah suaminya berada.

__ADS_1


Kevin mengikuti arah telunjuk Kiki. Dan dia menemukan sosok seorang wanita cantik yang kelihatannya sudah akrab dengan Aydin.


__ADS_2