
Tiga hari sudah Pak Gunawan dan Linda berada di luar kota. Awalnya mereka hanya dua hari berada di sana. Namun karena hubungan mereka sangat baik, mereka menambah hari untuk bersenang-senang di kota lain.
Riko menyambut kedatangan Linda dengan tangan terbuka yang ia rentangkan lebar-lebar ke samping. Dia ingin memberitahu bahwa dia sangat merindukannya dan tujuan utamanya agar dia tidak marah karena ulah Pak Gunawan. Namun melihat raut wajah senang dari Linda, Riko yakin bahwa Linda tidak ada masalah dengan Pak Gunawan.
Sudah ku duga kamu bisa diandalkan Sayang, Riko berbicara dalam hati ketika memeluk Linda.
"Sayang, aku rindu sekali sama kamu," Riko memeluk erat tubuh Linda dan mencium bibirnya.
Linda tersenyum, rasanya dia sudah tidak mempunyai hal yang dikhawatirkan lagi karena kini dia mempunyai Pak Gunawan yang bisa menyokong karir dan juga keuangannya.
"Kamu habis belanja Sayang?" Riko menanyakan beberapa paper bag belanjaan yang dibawa oleh Linda ketika pulang tadi.
"Ya... begitulah," Linda mengganti bajunya dengan bersenandung gembira.
Riko melihat perubahan dari sikap Linda yang biasanya tenang kini menjadi sangat bahagia.
Ternyata benar, uang bisa merubah segalanya, tak terkecuali wanita, Riko menyeringai tatkala berucap dalam hati.
"Wow bagus-bagus sekali Sayang bajunya, seksi-seksi sekali. Dan ini tas, dompet, jam tangan semuanya barang mahal," Riko mencoba mencari tahu dengan menanyakan dan mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam paper bag Linda.
"Oh iya dong, itu bonus dari pekerjaan aku kemarin. Kerja ku bagus, jadi aku dapet bonus banyak," Linda memberikan jawaban pada Riko seperti itu agar Riko tidak curiga padanya.
"Tapi ada yang kurang Sayang," ucap Riko sambil melihat-lihat isi paper bag yang lain.
"Apa?" tanya Linda bingung.
"Perhiasan. Harusnya ada perhiasan mahal juga, biar lengkap," Riko tersenyum agar Linda tidak curiga atas idenya untuk meminta perhiasan mahal pada Pak Gunawan.
"Ini... wow... lingerie, seksi bangeeeet. Udah kamu coba?" tanya Riko sambil menenteng beberapa lingerie secara bergantian.
"Sudah beberapa," jawab Linda sambil mengganti pakaiannya hanya menyisakan pakaiannya yang bagian dalam.
Riko mendekat dan memeluk Linda dari belakang sambil tangannya membawa lingerie warna hitam.
"Sayang.... kangen nih," Riko mengendus-endus ceruk leher Linda.
__ADS_1
"Main yuk, pakai ini ya....," Riko memperlihatkan lingerie yang ada di tangannya.
"Aku capek Sayang, nanti aja ya...," Linda menolak ajakan Riko karena dia baru selesai bermain dengan Pak Gunawan sebelum pulang ke rumah.
Namun bukan Riko namanya jika dia tidak bisa membuat Linda menyerah akan ketidakmauannya. Riko mulai memberikan sentuhan-sentuhan yang tidak bisa ditolak oleh Linda dan akhirnya Linda pun berakhir bermain di ranjang bersama dengan Riko.
Riko menyeringai melihat bekas merah yang memudar, sudah tentu itu diberikan oleh Oak Gunawan. Jika memang Linda benar-benar istrinya, pasti Riko akan marah melihat bekas merah itu meskipun sudah memudar. Dan beruntungnya Linda hanya teman bermainnya di ranjang, sehingga Riko tidak mempermasalahkannya.
Gila, Pak Gunawan bikin tandanya banyak banget. Mereka main berapa kali? Riko berbicara dalam hati sambil menyeringai namun tangan dan bagian tubuh lainnya masih bekerja membuat Linda merasakan buaian dan kenikmatan yang sangat dia nantikan ketika bermain bersama dengan Riko.
Linda benar-benar dibuat lemas oleh Riko, selain karena Riko, tenaganya tadi sudah digunakan bermain bersama Pak Gunawan. Namun Linda tersenyum puas karena dia mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan untuk dirinya sendiri.
......................
Hari-hari berganti sangat cepat. Kini Baby Ken sudah bisa berjalan dan berlari. Kenshin Anggara Permana anak dari Aydin Permana dan Kiara Anggara Putri, kini tumbuh menjadi anak yang sangat tampan, lucu dan menggemaskan.
Raline sudah bersekolah SD dan dia masih sering bermain bersama dengan Ken bahkan sering menginap di rumah Kiki dan Aydin. Raline sudah tidak memperdulikan Linda lagi, sepertinya dia sudah lupa wajah Linda karena dia benar-benar tidak kekurangan kasih sayang dari siapapun.
Renita merangkap sebagai seorang ibu untuk Raline. Dan dia juga mendapatkan kasih sayang dari Kiki sebagai Maminya.
Kenan tidak bisa apa-apa, dia tidak bisa menolak keinginan Renita, karena dia benar-benar ingin menikahi Renita untuk dijadikan istrinya dan ibu dari anak-anaknya.
Semua sahabat Raditya dan Kenan ikut serta membantu acara pernikahan Renita dan Kenan yang diselenggarakan di rumah Renita.
Mereka semua sibuk mempersiapkan dan membuat kejutan untuk Kenan dan Renita di malam pertama mereka. Keisengan mereka semua akan diterima oleh Kenan sebagai hadiah pernikahannya.
"Kenapa Re, gugup?" suara Kiki mengagetkan Renita yang sedang menatap dirinya di cermin.
"Mbak Kiki, sini deh," Renita melambaikan tangannya ke arah Kiki untuk memanggilnya agar mendekat padanya.
Kiki pun menurut, dia mendekat dan duduk di sebelah Renita.
"Ada apa Re? Apa kamu mau tanya tentang malam pertama?" Kiki mulai menggoda Renita yang sedang tegang.
"Iih Mbak Kiki malah bahas malam pertama. Aku lagi deg-degan nih Mbak," Renita memegang kedua tangan Kiki sehingga Kiki bisa merasakan kedua telapak tangannya yang terasa dingin.
__ADS_1
"Eh iya, ini tangan kamu dingin banget. Mau dikompres?" pertanyaan Kiki versi somplak kini telah keluar.
"Mbak Kiki iiih...," belum selesai Renita berbicara pada Kiki, terdengar suara ketukan pintu.
Tok... tok... tok...
Masuklah Ambu ke dalam kamar Renita. Ambu menatap Renita lama dan tersenyum.
"Anak Ambu sudah dewasa. Sekarang sudah jadi istri orang," Ambu mendekat dan memeluk tubuh Renita.
"Belum Ambu... kan belum ijab kabul," Kiki menepis perkataan Ambu.
"Sudah Ki, barusan selesai, mangkanya Ambu ke sini nyusul Renita untuk turun ke bawah," Ambi terkekeh menanggapi perkataan dari Kiki.
"Hah, beneran Ambu? Kok kita gak denger ya Re?" tanya Kiki dengan wajah heran dan bingung.
"Mbak Kiki sih kebanyakan omong dari tadi," Reni ikut terkekeh melihat Kiki yang tidak berubah meskipun sudah mempunyai anak.
Kiki hanya tersenyum lebar menanggapi Renita yang mengatainya kebanyakan omong.
"Hehehe... padahal bahasannya lagi seru-serunya ya Re," Kiki menaik turunkan alisnya untuk menggoda Renita dan Renita tersipu malu mengingat bahasan mereka tentang malam pertama.
"Sudah kalian ngobrolnya nanti saja. Renita sudah ditunggu Kenan di bawah," Ambu menggandeng tangan Renita untuk mengantarkannya pada Kenan.
"Eh tunggu Re, Maminya Kenan mau ikut," Kiki berjalan mengikuti Renita dan Ambu di belakang mereka.
Sampailah mereka di bawah dan Kiki langsung disambut oleh suara yang selalu dirindukannya.
"Mami.... Mami... Mami..."
"Mami.... Mami... Mami... Mami...."
Suara Ken dan Raline bersahut-sahutan dengan suara teriakan khas anak kecil memanggil-manggil Kiki sehingga membuat acara yang seharusnya sakral menjadi sedikit ribut dan menjadi hiburan bagi orang-orang karena Ken dan Raline yang berkejar-kejaran di sekeliling Kiki yang berada di dekat Renita dan Kenan tidak bisa disingkirkan dari sana sampai mereka kelelahan.
"Ah capek, yuk Ken ke sana," Raline mengajak Ken pergi dari tempat pengantin setelah puas berkejar-kejaran lama di sana dan membuat pengantin menunggu mereka selesai berkejar-kejaran hanya untuk prosesi salam pada suami dan mencium dahi sang istri.
__ADS_1
"Owalah... apes... apes... dasar didikan si Kiki somplaknya diturunin ke mereka," Kenan menggerutu lemas sambil menghela nafasnya melihat Ken dan Raline yang pergi dari tempat mereka setelah membuat mereka menunggu lama untuk menyelesaikan proses sakralnya.