
Hanya sekitar tiga puluh menit mereka sampai di cafe Tristan. Aydin segera mengajak Raditya masuk ke dalam cafe tersebut karena Raditya sendiri sama dengan Kenshin yang cemasnya tidak karuan.
"Udah, yuk masuk. Tenang aja, kalau sampai dia macam-macam sama si cantik, bakal aku hajar dia," Aydin merangkul pundak Raditya dan membawanya masuk ke dalam cafe tersebut.
"Tristan ada Mbak?" tanya Aydin pada salah seorang pelayan perempuan yang sedang sibuk membersihkan meja.
Pelayan tersebut mendongak melihat wajah orang yang ada di depannya dan bertanya padanya. Mata pelayan wanita tersebut terasa segar karena melihat dua pria tampan yang kharismatik dengan badan atletis berada di depan matanya.
"Mbak... Mbak... ada gak Tristan nya?" tanya Raditya pada pelayan wanita tersebut mengulangi pertanyaan Aydin pada pelayan wanita tersebut.
"A-ada, Pak Tristan kan?" pelayan wanita tersebut tergagap karena gugup berbicara pada dua pria dewasa yang ada di depannya.
"Eh Om, mau disiapkan meja untuk semua orang tadi kah?" tiba-tiba ada suara yang menghampiri mereka.
"Eh siapa tadi namanya?" Aydin kesusahan mengingat nama Naufal.
"Saya Naufal Om. Sepertinya yang hanya diingat nama Tristan saja ya Om," ucap Naufal sambil terkekeh dan itupun membuat Aydin serta Raditya ikut terkekeh.
"Mana Tristan sama Raline?" Raditya bertanya pada Naufal dengan tidak sabaran.
"Di atas lagi makan Om," jawab Naufal dengan santainya.
"Berdua?" tanya Raditya kembali.
"Iya Om, kan saya baru aja ke sini, jadi sekarang mereka sedang berdua," jawab Naufal yang sedikit berbohong jika dia ikut makan sebelum dia turun ke lantai bawah menemui Aydin dan Raditya.
Tanpa menunggu waktu lama, Raditya segera melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa untuk menemui anaknya yang sedang berduaan dengan teman laki-lakinya.
Aydin dengan segera mengikuti Raditya ketika melihat Raditya yang dengan langkah lebarnya tergesa-gesa menaiki tangga untuk bisa sampai ke lantai atas. Aydin tahu jika Raditya sangat khawatir terhadap putri semata wayangnya. Aydin juga menyadari jika peran Raditya sangat berat karena harus bisa menjadi seorang ayah dan ibu dalam waktu bersamaan. Sehingga dia harus bisa menempatkan dirinya sebagai teman, sahabat, ibu dan ayah jika dibutuhkan oleh Raline.
Ternyata pada saat itu Resti sedang berjalan hendak menuju toilet, sehingga dia mendengar nama Raline disebut. Dan saat itu juga Resti mengintip untuk mencari tahu siapa yang menyebut nama Raline. Ternyata dia mengenali sosok Aydin yang sering menjemput Raline.
__ADS_1
Resti melihat kecemasan di mata Raditya. Sehingga Resti bertanya-tanya siapakah Raditya sebenarnya dan apa yang terjadi dengan Raline sehingga Papinya menjemputnya ke cafe itu.
"Gak boleh berduaan di dalam ruangan yang tertutup," tiba-tiba ada suara laki-laki yang masuk ke dalam ruangan kantor Tristan.
Tristan terkejut dan meneguk ludahnya sendiri, takut jika dia akan dimarahi. Raditya masuk terlebih dahulu ke ruangan kantor Tristan, kemudian Aydin menyusul di belakangnya.
Awalnya Raline terkejut mendengar suara yang membicarakannya bersama dengan Tristan, namun beberapa detik kemudian dia tersenyum senang dan segera berdiri menghampiri orang tersebut.
"Ayah....," Raline memeluk Raditya, setelah itu mendongak melihat wajah Raditya untuk memberi senyuman lebarnya.
"Ehemm... main pelukan di depan pintu, jadi bikin orang susah masuk aja," Aydin menyindir Raditya dan Raline.
Seketika Raditya dan Raline tertawa mendengar sindiran dari Aydin. Raline melepas pelukannya dari Raditya dan beralih pada Aydin.
"Papi...," seru Raline yang juga memberikan pelukannya pada Aydin.
Aydin terkekeh mendapat pelukan dari Raline yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri sejak kecil.
Tristan melihatnya dengan heran dan bingung. Dia tidak bisa menemukan atas pertanyaannya tentang Raditya sedari tadi.
"Tristan. Kenapa bengong?" Raditya mendekati Tristan dan bertanya padanya.
Raditya melihat seluruh isi ruangan tersebut. Dia salut dengan penataan cafe tersebut yang tidak membosankan jika berada lama di cafe tersebut.
"Waaah... indah sekali pemandangan di sini. Pantas saja si cantik kesayangan Ayah jadi betah berada di sini, sampai-sampai ditelepon berkali-kali gak diangkat. Gak mau diganggu ya?" Raditya menyindir Raline, namun matanya menatap Tristan.
Tristan yang ditatap Raditya dengan senyuman yang tidak bisa diartikan olehnya menjadi sungkan pada mereka. Tristan tersenyum takut melihat Raditya.
"Kayaknya kita memang ganggu Bro," Aydin ikut menyahuti ucapan Raditya.
"Benarkah itu cantik?" Raditya bertanya pada Raline yang malu-malu memandang Raditya dan Aydin.
__ADS_1
"Emangnya kalian telepon Raline?" Raline malah bertanya pada Aydin dan Raditya dengan memandang mereka secara bergantian.
"Wah saking asyiknya kayaknya sampai gak tau kalau kita berkali-kali menghubungi si cantik ini," Aydin kini yang menyindir Raline.
"Ah bohong, orang dari tadi Raline gak dengar ada suara telepon kok," ucap Raline membela dirinya.
Raline mengambil ponselnya di dalam tasnya dan matanya membelalak ketika melihat layar ponselnya memperlihatkan panggilan tak terjawab hingga delapan puluh enam kali. Seketika Raline tersenyum lebar, dia malu karena merasa bersalah pada orang tuanya.
"Maaf, mode silent," ucap Raline sambil memperlihatkan ponselnya yang dalam mode silent sejak dia bersekolah kemarin.
"Kebiasaan neng... neng... itu si Tuan muda marah-marah mulu dari tadi nyuruh kakak cantiknya pulang," ucap Raditya sambil menggelengkan kepalanya, heran melihat Raline yang suka lupa mengubah mode silent ponselnya, sama persis seperti dia.
"Ya ampun... aku lupa belum hubungi dia," Raline nyengir merasa bersalah pada mereka yang menjemputnya sampai ke cafe tersebut.
"Udah, terusin makannya. Kalian belum makan kan?" Aydin bertanya pada Raline dan Tristan.
"Kok tau Om?" tanya Tristan heran.
"Kamu pikir kita cenayang bisa tau kalian udah makan apa belum? Lah itu makanan kalian aja masih utuh," ucap Raditya sambil menunjuk makanan yang ada dimeja.
"Eh iya," ucap Tristan malu dengan kebodohannya sendiri.
"Papi sama Ayah gak makan? Kita makan bareng ya?" Raline bertanya untuk mengajak Aydin dan Raditya makan bersama mereka.
"Boleh, tapi kita berdua makan di bawah aja," jawab Aydin sambil menarik lengan Raditya untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Eh tapi mere-"
"Udah biarin. Kayak gak pernah muda aja. Gak mungkin kan kamu gak pernah makan bareng cewek cuma berdua?" ucap Aydin sambil berjalan keluar ruangan kantor Tristan.
Sontak saja bibir Raditya tertutup, dia benar-benar tidak bisa menjawab karena memang benar jika dia pernah makan berdua dengan cewek pada saat masa-masa sekolah. Bukan hanya pernah, sering malahan dia makan bersama Kiki hanya berdua sebelum Kiki pindah dari sekolah mereka.
__ADS_1
"Kita pesan makan dulu yuk," ucap Aydin ketika dia duduk di kursi biasanya dia makan disitu bersama dengan Kiki.
"Permisi Om, apa Raline juga ada disini?" tiba-tiba suara seorang perempuan membuat Aydin dan Raditya mengalihkan perhatiannya dari buku menu.