
Proyek kerja sama Aydin dengan Papa Cindy sudah berjalan beberapa tahun, dan sejak saat itu Cindy tidak lagi terdengar kabarnya.
"Bro, gawat ada yang berulah dengan proyek kerja sama kita di Jepang," ucap Kenan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kantor Aydin dengan tergesa-gesa.
"Berulah? Siapa?" tanya Aydin dengan ekspresi kaget.
"Entahlah, pihak kita sedang menyelidikinya. Ini laporannya, coba kamu lihat," Kenan berbicara serius dengan memberikan laporan-laporan yang baru saja dia cetak sebelum masuk ke dalam ruangan Aydin.
"Bagaimana bisa ini terjadi?" Aydin mengeram marah dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat kertas-kertas laporan tersebut.
"Cepat buat janji dengan pihak klien agar kita bisa bertemu secepatnya," perintah Aydin pada Kenan.
"Ok, akan aku beritahukan pada mereka," jawab Kenan dengan bergegas keluar dari ruangan tersebut.
"Ya Tuhan... ada apa lagi ini?" Aydin menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Ayah... iya Ayah... aku akan memberitahu Ayah terlebih dahulu," ucap Aydin sambil menghubungi Ayahnya melalui telepon.
Setelah berkonsultasi dengan Ayahnya, Aydin bergegas pergi menemui Ayahnya dengan membawa laporan-laporan yang diberikan oleh Kenan tadi.
"Bro, mau ke mana?" tanya Kenan yang akan memberikan sesuatu pada Aydin.
"Mau menemui Ayah. Ayo kamu ikut denganku," Aydin memerintahkan pada Kenan untuk ikut dengannya.
Kenan pun bergegas masuk ke dalam ruangannya untuk mengambil tas miliknya, kemudian dia mengikuti Aydin untuk menemui Ayahnya.
__ADS_1
Setelah beberapa jam Aydin dan Kenan berkonsultasi dan membicarakan kendala mereka pada Ayahnya, Aydin kembali ke kantornya untuk mengadakan rapat dengan tim yang terkait menangani proyek tersebut.
Rapat itu berjalan sangat lama karena mereka harus menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh perusahaan dengan segera.
Aydin sampai di rumah tengah malam dan itu membuat Kiki menunggunya di ruang tamu. Aydin masuk ke dalam ruang tamu dan tersenyum melihat Kiki sedang tertidur di sofa karena menunggunya.
Memang tadi Kiki sempat menghubungi Aydin karena tidak pulang di jam yang seharusnya dia sudah berada di rumah. Dan Aydin pun tidak sempat memberi kabar pada Kiki karena kesibukannya yang luar biasa hari ini.
Aydin menggendong tubuh Kiki dari sofa dan membawanya menuju kamar mereka yang terletak di lantai atas. Kiki merasakan badannya melayang, dan dia membuka matanya. Lalu dia tersenyum ketika melihat wajah suami yang dirindukan dan ditunggunya sedari tadi.
"Turunin Sayang, pasti kamu capek," ucap Kiki sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Aydin.
"Suruh nurunin tapi malah tangannya pegangan," ucap Aydin sambil terkekeh.
"Kan pegangan," jawab Kiki yang ikut terkekeh.
Aydin tersenyum dan dia mencium sekilas bibir istrinya yang masih ada dalam gendongannya.
"Biarkan aku menggendongmu seperti ini lebih lama, karena aku takut jika tidak bisa menggendongmu lagi seperti ini," ucap Aydin yang masih menggendong Kiki masuk ke dalam kamarnya.
"Huss... gak boleh ngomong kayak gitu. Aku gak suka. Kita harus selalu bersama sampai kapanpun, sampai akhir hayat kita," Kiki menyanggah ucapan Aydin sambil menutup mulut Aydin.
"Umur siapa yang tau Sayang, dan aku harap jika aku tidak bisa menemanimu lagi, kamu jangan melupakan suamimu yang bucin ini ya," ucap Aydin yang kemudian mencium kembali bibir Kiki dengan sangat lembut hingga Kiki terbuai.
Tubuh Kiki direbahkan di ranjang, awalnya Kiki akan memprotes ucapan Aydin, namun dirinya terbuai oleh ciuman Aydin dan berakhir pada malam panas yang mereka ciptakan sebelum subuh datang.
__ADS_1
Pagi harinya, Aydin kembali sibuk hingga membuat Kiki menjadi cemas. Tidak biasanya Aydin terburu-buru dan tidak menghabiskan sarapannya. Dan juga untuk hari ini Aydin tidak bisa mengantarkan Kiki ke rumah sakit. Kiki sedikit kesal, namun dia lebih kesal karena Aydin yang tidak menjaga kesehatannya karena kesibukannya.
Dalam beberapa hari ini Aydin selalu pulang larut malam dan berangkat pagi dengan terburu-buru, hingga Kiki mengomel padanya. Namun Aydin hanya tersenyum dan membalas omelan Kiki itu dengan ciuman di bibirnya. Alhasil, Kiki yang tadinya mengomel mendadak diam karena tersipu malu. Itu lah salah satu cara Aydin untuk menaklukan Kiki yang sikapnya menyenangkan bagi Aydin.
"Bro, pihak dari Jepang sudah datang, mereka akan menemui kita untuk membahas proyek yang bermasalah ini," Kenan memberitahukan pada Aydin berita yang dia terima beberapa menit yang lalu sebelum Aydin tiba di kantor.
"Ok, kalau gitu persiapkan pertemuan kita sebaik mungkin. Dan kita harus usahakan masalah ini selesai saat ini juga, agar tidak berlarut-larut. Aku udah capek soalnya," ucap Aydin sambil tersenyum pada Kenan.
"Beres Bos, kita adakan meeting dulu sekarang, sebelum kita mengadakan pertemuan dengan pihak Jepang," Kenan berucap sebelum dia beranjak pergi diiringi jempol dari tangan Aydin.
Meeting Aydin dan Kenan dengan tim mereka berlangsung beberapa jam, setelah itu mereka mengadakan pertemuan dengan pihak klien mereka dari Jepang itu di restoran miliknya.
Kiki tau jika Aydin berada di restoran tersebut, oleh sebab itu Kiki mengajak Ken dan Miyuki ke restoran karena disuruh oleh Aydin untuk mengajak anak-anaknya. Ketika mereka akan berangkat, ternyata Raditya dan Raline datang untuk berkunjung seperti biasanya.
"Kita akan ke restoran, yuk kalian ikut sekalian. Papi udah ada di sana dengan klien-kliennya yang dari Jepang," Kiki mengajak Raditya dan Raline ikut dengannya.
"Jepang? Apa yang perusahaan waktu itu Ki? Yang kamu menyusul ke sana itu?" tanya Raditya untuk memperjelas.
"Eh iya juga ya, katanya sih selama beberapa hari ini ada masalah dengan mereka, mangkanya Papinya anak-anak pulangnya larut malam terus, dan sekarang pihak mereka datang ke sini untuk menyelesaikannya," jawab Kiki yang mempunyai kecurigaan sama dengan Raditya.
"Ya udah yuk buruan ke sana, jangan sampai terjadi apa-apa lagi sama Bang Aydin," Raditya mengajak Kiki dan anak-anak untuk pergi ke restoran dengan segera.
Di dalam restoran, Aydin berwajah kesal melihat Cindy hadir diantara pihak klien Jepang yang datang menemuinya. Aydin mengutuk Cindy dalam hatinya habis-habisan. Tatapan Cindy masih sama dengan yang dulu pada Aydin. Kenan yang menyadari hal itu ikut geram dan kesal. Dia berpikiran bahwa permasalahan yang timbul pada proyek mereka adalah ulah Cindy.
Dengan profesional Aydin dan Kenan mengenyahkan perasaan kesal mereka agar dapat dengan cepat menyelesaikan permasalahan tersebut. Setelah pembicaraan yang rumit dan tidak mau mengalah satu sama lain, akhirnya mereka mendapatkan kesepakatan yang tidak saling merugikan.
__ADS_1
Setelah pembicaraan selesai, Aydin meninggalkan mereka yang sedang menikmati hidangan makan malam mereka. Aydin menghubungi Kiki yang belum juga datang. Entah mengapa Aydin sangat gelisah dan ingin sekali makan bersama dengan istrinya dan anak-anaknya.
"Sayang!"