
"Raline mau main ke rumah tante Kiki lagi?" tanya Renita yang ada di belakangnya.
"Mau....," seru Raline sambil melonjak-lonjak kegirangan.
"Yuk, main dulu sama tante," ajak Renita pada Raline kemudian mereka berjalan masuk ke dalam kamar Renita.
Ambu menatap wajah Raditya yang terlihat jelas tidak terurus dan frustasi. Mukanya kuyu dengan beban berat dan kesedihan. Dan badannya tidak segagah dan sesegar biasanya.
Ambu mendekat pada Raditya dan mengusap pundaknya sambil tersenyum menenangkan. Dia tahu beban berat yang ada di pundak anaknya itu sekarang ini.
"A' maaf ya... Ambu dan Abah minta maaf sama Aa'. Tolong maafin kami ya," pinta Ambu dengan suara yang serak penuh kesedihan.
"Tidak Ambu, bukan salah Abah dan Ambu. Ini salah kami. salah Aa' yang tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangga Aa' dan salah Linda yang dengan gampangnya tergoda oleh pria lain dan meninggalkan kami," ucap Raditya sambil memeluk Ambu.
"Aa' jangan khawatir ya, Abah, Ambu dan Renita akan selalu membantu Aa'. Jadi Aa' fokus saja untuk mendapatkan hak asuh Raline," ucap Ambu menenangkan Raditya.
Terima kasih Ambu, terima kasih karena kalian selalu ada untuk Aa' dan Raline," ucap Raditya yang sudah tidak dapat membendung tangisnya lagi.
Di pelukan Ambu, di pelukan Ibunya itu, Raditya menumpahkan semua kesedihannya, semua rasa yang menghimpit dadanya. Air matanya kini lolos tanpa permisi sehingga baju yang dikenakan Ambu basah oleh air mata Raditya.
"Sudahlah A', istirahatlah dulu. Pasti akhir-akhir ini Aa' kurang tidur. Tidurlah yang nyenyak A'. Awalnya memang berat, tapi lama-kelamaan pasti Aa' bisa melewatinya. Ambu yakin itu," ucap Ambu sembari tersenyum menenangkan.
Raditya ikut tersenyum dan mengangguk. Dia akan melakukan apa yang diucapkan oleh Ambu. Mulai sekarang Raditya bertekad akan melakukan semuanya demi Raline, anaknya. Dia tidak ingin Raline kekurangan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Meskipun Linda sudah tidak ada dalam hidup mereka.
"Oiya A', apa perlu bantuan untuk mendapatkan hak asuh Raline?" tanya Ambu ketika Raditya sudah menaiki satu tangga.
Raditya menggeleng, " Enggak Ambu, Bang Aydin akan membantu Aa' dengan menugaskan pengacaranya yang handal untuk menangani kasus ini."
Umi mengangguk dan tersenyum. Bersyukur rasanya memiliki orang-orang baik seperti mereka di dalam kehidupan anaknya. Dan semua itu berkat Kiki. Jika tidak ada Kiki dalan kehidupan mereka, maka mereka tidak akan mengenal kakak Kiki dan sahabat-sahabatnya.
"Sayang, aku kasihan sama Raline," ucap Kiki yang sedang tiduran di depan kolam renang berbantalkan paha suaminya.
"Kamu gak ada niatan ninggalin aku kan sayang?" tanya Aydin yang menunduk melihat wajah Kiki.
__ADS_1
Kepala Kiki mendongak melihat wajah suaminya yamg menunduk melihatnya. Tanpa menunggu lama Kiki menarik tengkuk suaminya dan ******* bibirnya.
"Jangan pernah ragukan kesetiaanku, aku tidak akan pernah bisa meninggalkanmu dan Baby Ken dalam hidupku," ucap Kiki setelah melepaskan bibir mereka yang saling memberi tahukan perasaan mereka.
"Aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa kalian. Aku tidak pernah bisa membayangkan hidup tanpa kalian, dan aku tidak mau itu terjadi," Aydin meraih tubuh Kiki yang tiduran di pahanya untuk berada dalam pelukannya.
"Jangan berkata begitu sayang, kita tidak akan terpisah karena orang lain. Kita hanya bisa terpisah karena kematian," ucap Kiki yang kembali mengecup bibir suaminya.
"Wow... kita benar-benar sedang menonton real drama secara live," ucap Dion yang berada di kolam renang bersama sahabat-sahabatnya yang lain.
"Kampret memang si Aydin. Gak liat kita yang belum nikah ada di sini apa main sosor-sosoran aja," sahut Sofyan yang juga melihat adegan romantis itu.
"Sengaja apa gimana mereka ini? Untung Baby Ken digendong Vina. Kalau gak, gimana nasib Baby Ken?" celetuk Kenan.
"Dasar ipar dan adik gak ada akhlak, kita di sini malah disuguhi begituan. Harusnya olahraga malam mereka sekalian di sini, biar yang jomblo ngenes," Kevin terkekeh melihat teman-temannya tidak berkedip melihat adik dan adik iparnya itu.
"Kampret Lu!" Dion memercikkan air kolam pada Kevin dan diikuti oleh Sofyan dan Kenan.
"Mangkanya cepat nikah biar gak ngiler liat adegan-adegan kayak gitu," seru Kevin yang bersiap menghindar dari serangan sahabat-sahabatnya itu.
Kiki dan Aydin hanya menonton mereka semua dari tepi kolam dengan Kiki yang kini berada di pangkuan Aydin. Dengan kejadian Raditya, mereka jadi lebih mesra lagi, saling takut kehilangan pasangannya.
"Ante... ante... ayo ke lumah dedek Ken. Ayo Te... ayo...," Raline merengek meminta main ke rumah Kiki.
"Jangan sekarang ya, nanti aja nunggu Ayah pulang," bujuk Renita pada Raline.
Raline menggeleng dan matanya sedikit demi sedikit mengeluarkan air mata.
Renita sungguh tidak tega melihat keponakan yang sangat dia sayangi sedih ataupun menangis. Karena Raline yang sekecil itu sudah menderita karena sikap egois Ibunya yang lebih memilih lelaki lain daripada suami dan anaknya.
"Oke.. oke... Tante tanya Tante Kiki dulu ya ada di rumah atau tidak," Renita mencoba menghibur Raline agar tidak bersedih lagi.
Renita menghubungi Kiki untuk mengabarkan bahwa Raline ingin main ke sana dan Kiki sangat senang sekali mendengar Raline akan main ke rumahnya. Kemudian Renita menghubungi Raditya dan Kenan.
__ADS_1
Kini Renita dan Raline sudah berada di rumah Kiki dengan diantar oleh Kenan. Sedangkan Raditya akan langsung ke rumah Kiki setelah dia pulang bekerja.
Semua sahabat Kiki dan sahabat Aydin berkumpul di rumah Aydin dan Kiki. Mereka berkumpul dan bercanda di taman belakang dekat kolam renang. Bercerita, bernyanyi dan saling menjahili satu sama lain.
Kini Kiki bergelut dengan peralatan masak. Bik Darmi belum pulang membeli bahan masakan yang kurang. Kiki malah sok-sokan bisa memasak, sehingga di dapur terjadilah perang yang tidak di duga sama sekali.
"Aww... aww... bandel ya. Awas aja kamu kalau udah mateng bakalan aku abisin semuanya."
"Aww... awww... Abaaaaang....," teriak Kiki lari dari dapur menuju kolam renang.
Aydin kaget dan tergopoh melihat istrinya berlari ke arahnya, dengan segera dia berlari mendekati istrinya.
"Kenapa sayang, ada apa?" tanya Aydin kaget dan khawatir.
"Pinjam helm... cepetan mana helmnya," Kiki mengguncang-guncang tangan Aydin.
"Di tempat biasanya sayang. Kenap-"
Belum juga Aydin selesai, Kiki sudah berlari menuju garasi untuk mengambil helm Aydin.
Aydin melongo, kaget dan heran melihat istrinya sepertinya terburu-buru, dia mengikuti Kiki kemanapun pergi.
Dari garasi untuk mengambil helm dan kembali berlari menuju dapur. Sesampai dapur, Kiki kembali menyalakan kompornya. Dengan style berbeda kini Kiki merasa sangat percaya diri menghadapi ikan yang berada di dalam penggorengan.
"Nakal ya kamu... ayo sekarang lawan aku. Hahaha... gak berani kan kamu," monolog Kiki yang memakai helm sambil membalik ikan yang di goreng.
Kemudian Kiki mencopot helm tersebut karena merasa situasi telah aman.
"Awww... awww... kurang ajar kamu. Hei ikan, kamu punya dendam apa sih sama aku? Kayaknya dendam banget kamu sama aku. Apa di kehidupan yang lalu aku pernah menyakitimu sehingga kamu dendam padaku sekarang?" Kiki mengoceh panjang lebar memarahi ikan yang berada di dalam penggorengan.
Aydin melongo tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ternyata di situ bukan hanya ada Aydin, semua orang yang ada di taman dekat kolam renang tadi sudah berpindah ke dapur mengikuti Aydin dan Kiki yang entah sepertinya mereka dalam masalah.
Kini mereka semua menahan tawa melihat aksi Kiki yang berperang di dapur melawan seekor ikan yang sedang di goreng.
__ADS_1
"Bini Lu sehat Bro?" celetuk Kenan sambil menepuk-nepuk pundak Aydin yang terpesona melihat tingkah ajaib istrinya.