Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
250


__ADS_3

"Papi ijinkan. Masuklah."


Tiba-tiba suara Aydin menghentikan ucapan Raline.


Sontak saja Raline dan Kiki menoleh ke arah sumber suara, dan di sana sudah berada Aydin yang berdiri dengan menghadap mereka.


"Papi?!"


Raline panik, dia merasa takut dan malu karena sudah berani masuk ke dalam rumah itu untuk bertemu dengan Kenshin.


"Masuklah, tapi jangan sampai tidur bersama seperti waktu itu," ucap Aydin sambil tersenyum, kemudian dia pergi ke taman belakang.


Aydin sungguh dilema, dia ingin sekali mewujudkan keinginannya secara matang, namun anak-anaknya itu sepertinya tidak bisa menunggu hingga semuanya terjadi sesuai keinginannya.


Huffftt....


Dihelanya nafasnya itu dengan berat. Kini dia harus memutuskan apa yang harus dia lakukan. Keputusan itu tidak bisa dia ambil sendiri karena itu menyangkut anak mereka berdua, jadi Kiki harus ikut memutuskan apa yang terbaik untuk anak mereka.


Kiki mengajak Raline masuk ke dalam kamar Kenshin. Terlihat di dalam kamar tersebut Kenshin sedang tidur dan lagi-lagi dia memanggil nama Raline.


Entah disengaja atau tidak, ketika Kiki memeriksanya memang benar jika Kenshin dalam keadaan yang sama seperti sebelumnya. Kiki jadi heran dengan penyakit anaknya yang sepertinya tidak mempan dengan obat-obatan medis.


Kiki menghubungi Aydin menggunakan ponselnya. Dia menyuruhnya untuk datang ke kamar Kenshin saat itu juga. Kiki hanya menginginkan agar suaminya mengetahui apa yang terjadi dengan anaknya.


Aydin yang memang sedang dalam perjalanan ke kamar Kenshin mendapatkan telepon dari Kiki, membuat Aydin hanya sekitar lima menit saja sudah sampai di kamar Kenshin.


"Lihat Ken Pi. Apa Papi masih tega menyiksanya seperti itu?" tanya Kiki dengan berbisik pada Aydin.


Aydin tidak menjawab pertanyaan istrinya. Dia mendekat pada Raline dan merangkul pundaknya untuk dibawa mendekat pada Kenshin.


Kiki melipat kedua tangannya di depan dadanya dan dia tersenyum melihat suaminya sudah membiarkan Kenshin dan Raline berdekatan untuk sekarang.


"Rawat dia dan sembuhkan lah dia, karena kamu dokter yang diinginkannya," ucap Aydin sambil mendudukkan Raline di atas ranjang Kenshin.


Raline merasa heran ketika Aydin membawanya mendekati Kenshin dan dia merasa lega ketika mendengar Aydin menyuruhnya untuk merawat Kenshin, yang itu berarti Aydin sudah tidak marah lagi padanya.


"Terima kasih Pi," ucap Raline dengan senyumnya yang tulus.


Aydin pun membalas senyuman Raline dan membiarkan Raline dan Kenshin berdua di kamar tersebut.


Aydin dan Kiki meninggalkan mereka berdua dengan pintu yang terbuka. Karena mereka tidak ingin jika ada hal yang tidak mereka inginkan terjadi dalam kamar tersebut.


"Kakak cantik... Raline... Raline...."


Kenshin mengigau dengan suara lirih dan keringat dinginnya masih saja keluar seperti sebelumnya.

__ADS_1


Raline mengusap keringat Kenshin dan mencoba untuk menyadarkannya.


"Ken... Kenshin... ini aku, Raline. Bangun Ken... Ken..."


Berkali-kali Raline mencoba menyadarkan Kenshin dengan mengusap-usap pipinya dan memanggil-manggil namanya.


Perlahan mata Kenshin terbuka, senyum tipis diperlihatkannya pada Raline ketika melihat wajah Raline tepat berada di depannya.


"Kamu beneran datang?" tanya Kenshin dengan suara lirih.


Raline mengangguk dengan matanya yang berkaca-kaca melihat Kenshin yang biasanya terlihat sangat menawan, kini dia terbaring lemas tidak bersemangat.


Kenshin tersenyum dan memegang pipi Raline. Kemudian dia berkata,


"Ternyata memang kamu benar-benar datang."


Aydin dan Kiki yang menyaksikan itu semua menjadi iba dan terharu pada kedua manusia yang berada di depannya.


"Kamu makan dulu ya Ken, setelah itu minum obat," ucap Raline dengan lembut.


Kenshin pun mengangguk dan tersenyum lemah pada Raline.


"Jangan tinggalkan aku," ucap Kenshin dengan menggenggam tangan Raline.


Raline tak kuat mendengar semua itu, tanpa terasa air matanya menetes dan dia mengangguk dengan segera.


"Pi..."


Aydin mengerti apa yang dimaksudkan oleh istrinya. Tanpa berpikir panjang dia menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan istrinya.


Kiki tersenyum melihat suaminya setuju dengannya. Dia memeluk suaminya dan berkata,


"Terima kasih."


Kemudian Kiki dan Aydin meninggalkan mereka berdua di dalam kamar tersebut masih dengan pintu yang terbuka.


Tidak lama setelah itu, Bik Ratmi datang membawa makanan dan minuman hangat untuk Kenshin sesuai dengan perintah Kiki.


Tentu saja Raline menyuapi Kenshin sesuai dengan perintahnya. Hanya dengan hal kecil seperti itu saja mereka sangat bahagia.


Setelah beberapa saat, Aydin, Kiki dan Raditya datang ke kamar Kenshin dan melihat keadaan Kenshin sudah lebih baik daripada sebelumnya. Kenshin dan Raline saling bercanda dan itu membuat orang tua mereka merasa bersalah jika harus memisahkan mereka.


"Raline, Kenshin, Papi mau tanya pada kalian. Apa kalian berdua saling mencintai?" tanya Aydin pada mereka berdua.


Kini mereka semua berkumpul di kamar Kenshin dan duduk seolah sedang rapat keluarga di sana.

__ADS_1


"Ken mencintai Raline sejak dulu," ucap Ken tanpa ragu.


"Apa kamu yakin Ken?" tanya Raditya kemudian.


"Ken yakin Yah," jawab Ken dengan tegas.


"Apa kamu tidak sedang bingung merasakan antara kasih seperti kakak beradik atau cinta pada lawan jenis?" tanya Aydin kembali.


Kenshin menghela nafasnya, dia menatap satu-satu ke arah Raditya, Aydin dan Kiki


"Ken yakin dan Ken sudah buktikan sendiri. Buktinya Ken menjauhi dia malah Ken sendiri yang sakit seperti ini," jawab Ken kemudian.


"Kalau Raline bagaimana, apa kamu benar-benar mencintai Ken?" tanya Aydin pada Raline.


Raline mengangguk malu, lalu dia menundukkan kepalanya.


"Bukan karena kamu takut padanya kan?" tanya Aydin kembali.


Raline melihat ke arah Aydin dan dengan segera dia menggelengkan kepalanya.


"Tadinya Papi itu mempunyai rencana. Papi dan Mami tau kalian sangat dekat, tapi Papi tidak mau kalian salah mengartikan perasaan kalian. Mangkanya Papi ingin Raline bisa mengurus sekolahan dan Ken mengurus perusahaan agar kalian bisa matang sebelum kalian menikah. Dan ternyata, kalian mendahului keinginan Papi," ucap Aydin sambil terkekeh.


Sontak saja Raline dan Kenshin kaget mendengar perkataan Papinya. Mereka berdua saling menatap kemudian mengalihkan pandangannya pada Aydin.


"Jadi Papi...."


"Iya Ken, Papi hanya ingin tau perasaanmu yang sebenarnya dan ingin benar-benar menyiapkan pernikahan kalian dengan sangat matang," Aydin menyahuti ucapan Kenshin.


"Jadi...."


"Jadi kami merestui hubungan kalian," Kiki menyela ucapan Kenshin.


"Tapi bukan berarti kalian menikah sekarang. Kalian akan menikah setelah Kenshin tamat sekolah dan bisa mengurus perusahaan Papi agar kamu bisa menafkahi istrimu," ucap Aydin kemudian.


"Gimana Di?" tanya Kiki pada Raditya.


"Kalau mereka setuju, aku juga setuju. Yang terpenting mereka harus berjanji tidak akan berpisah agar hubungan kita juga tidak terpisah," jawab Raditya.


"Pi, berarti Ken harus lulus kuliah dulu dong baru menikah? Apa gak bisa langsung nikah aja Pi setelah lulus SMA?" ucap Kenshin untuk mencoba membujuk pada Papinya.


"Yang penting kami merestui kalian berdua. Dan Miyuki juga sudah memiliki calon suami. Mami dan Papi sudah cukup bahagia karena mendapatkan calon mantu yang baik dan pintar seperti Raline dan calon suami Miyuki," ucap Kiki sambil tersenyum bahagia.


Begitupula dengan Aydin dan Raditya, mereka berharap anak-anak mereka selalu saling mencintai selamanya.


Raline dan Kenshin saling menatap dan tersenyum bahagia mendengar kisah cinta mereka akhirnya direstui oleh orang tua mereka.

__ADS_1


...Tamat...


__ADS_2