Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
193


__ADS_3

Rania yang sedang berada di dalam kelas merasa gelisah karena teman-temannya tak kunjung kembali ke kelas.


Rania memang tahu jika inilah saatnya mereka untuk membongkar apa yang dilakukan oleh Resti pada Raline. Tapi tetap saja Rania gelisah karena nama Ali nantinya akan ikut tercemar.


Rania memang tidak mengerti dengan perasaannya saat ini, dia memang merasa bimbang dengan perasaannya pada Ali, namun dia tidak bisa bohong jika dia takut terjadi hal yang buruk pada Ali.


Dan yang paling utama dia takutkan adalah jawaban yang akan dia berikan pada Ali untuk pernyataan cintanya kemarin.


Tadinya Rania akan menerima pernyataan cinta Ali padanya, namun ada sedikit keraguan dalam hatinya dikarenakan kehadiran Resti dalam masa lalu Ali.


Sebenarnya Rania tidak mempermasalahkannya, hanya saja dia tidak menyukai jika nantinya Resti akan mengganggu hubungan mereka.


Lama Rania terhanyut dalam lamunannya, sehingga dia tidak memperhatikan apa yang sedang dijelaskan oleh gurunya sekarang ini.


"Rania! cepat keluar dari pelajaran saya!" teriak guru yang ada di depan kelas itu pada Rania.


Sontak saja Rania terhenyak dari lamunannya. Dan dengan tidak sadarnya dia langsung berdiri dan berkata,


"Iya Pak!"


Seketika semua yang ada di dalam kelas tertawa menertawakan Rania.


"Cepat keluar!" seru guru tersebut pada Rania karena mendengar jawaban dari Rania.


"A-apa? Apa salah saya Pak? Kenapa saya disuruh keluar?" saking kagetnya Rania bertanya beberapa pertanyaan langsung pada guru tersebut.


"Kamu dari tadi melamun selama pelajaran saya berlangsung. Kalau memang kamu tidak mau mengikuti pelajaran saya, lebih baik kamu keluar saja sekarang," guru tersebut berkata dengan tegas pada Rania.


"Maaf Pak, saya janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Rania dengan wajah mengiba.

__ADS_1


Guru tersebut yang tadinya berdiri di depan papan tulis, kini dia berjalan menuju mejanya dan duduk di kursinya.


"Saya tidak akan meneruskan pelajaran saya jika Rania tidak mau menuruti perintah saya," dengan tegas guru tersebut mengatakannya.


"Keluar... keluar... huuuu....," seisi kelas berteriak menyuruh Rania keluar dari kelas.


Rania menatap nanar seisi kelas yang menyuruhnya keluar seolah dia pembuat onar di dalam kelas. Dengan wajah yang cemberut dan kesal, Rania melangkahkan kakinya keluar kelas tanpa tujuan.


Ternyata tanpa sadar langkah kakinya membawanya ke depan ruang Kepala sekolah dan dia mendengar Resti yang sedang berteriak histeris dari dalam ruang Kepala sekolah.


Rania segera mendengarkan dari balik pintu. Dia teringat jika sudah pasti sekarang Resti mendengar pengakuan dari Ali. Kaki Rania mundur satu langkah dari pintu ruang Kepala sekolah, namun hatinya ingin sekali mendengar apa yang terjadi di dalam ruang Kepala sekolah.


Rania memegang dadanya, dan ternyata dia tidak siap untuk mendengar apa yang terjadi. Dia takut jika apa yang dia dengar nanti akan mempengaruhi jawaban yang akan dia berikan pada Ali.


Dengan bukti dan saksi yang diberikan oleh Tristan membuat Rania menjadi terpojok dan dia dinyatakan sebagai pelaku penyebar gosip tentang Raline dan keluarga Raline akan melaporkan hal tersebut dengan tuntutan pencemaran nama baik.


Sebenarnya Raline tidak setuju, namun melihat raut marah dari Aydin dan Raditya membuat Raline sadar jika mereka semua hanya ingin melindunginya dan dia sebagai anak harus menyetujui apa yang sudah ditentukan oleh orang tuanya.


"Akhirnya kamu mengaku juga," ucap Aydin dengan tersenyum sinis pada Resti.


"A-apa?" Resti kaget dan dia memandang ke arah Aydin, Kiki dan Raditya yang duduk bersebelahan.


"Apa sebenarnya masalahmu dengan Raline sehingga kamu melakukan ini padanya?" tanya Kepala sekolah pada Resti.


"Saya... saya... bukan saya Pak. Saya hanya-"


"Sudah.... tidak usah berkelit, jika memang kamu tidak mau mengaku, kita serahkan saja pada pihak yang berwajib," Aydin kembali bersuara.


"Bukannya mereka sudah dalam perjalanan ke sini? Dan semua kejadian di dalam ruangan ini sudah terekam, jadi percuma saja meskipun kamu mengelak toh nantinya kamu bakalan dihukum dengan bukti-bukti yang kuat ini dan saksi yang benar-benar tidak akan kamu duga, penjaga villa dan.... laki-laki yang bersamamu waktu di villa itu," kini Raditya yang mengancam Resti agar mengakui kesalahannya.

__ADS_1


"A-apa? Bagaimana bisa kalian-"


"Bahkan kami tau semua apa yang kamu kerjakan, jadi percuma saja kamu mengelak pun tetap terbukti bersalah," Kiki yang tadinya diam saja kini ikut bersuara.


"Kami sebagai pihak sekolah sangat malu dengan perbuatan kamu Resti. Sangat disayangkan sekali siswa yang tergolong berprestasi seperti kamu ternyata berprilaku sangat memalukan dan tidak mencerminkan seorang pelajar. Jadi, untuk sekarang kamu saya skors selama satu minggu untuk menunggu keputusan dari pihak sekolah mengenai hukuman apa yang akan kamu terima," Kepala sekolah memberikan keputusannya pada Resti.


Seketika wajah Resti pucat pasi mendengar keputusan yang diberikan oleh Kepala sekolah padanya. Dia tidak mengira jika perbuatannya akan menjadi boomerang baginya.


"Maaf Pak, saya ingin Resti mengaku di depan semua orang bahwa dia memfitnah Raline. Jika tidak, kami tidak akan bertanggung jawab jika bukti ini akan terdengar oleh mereka semua," Tristan memberikan persyaratan untuk Resti.


"Hah?! Kamu gila? Tidak mungkin aku-"


"Baiklah, silahkan Resti untuk mengakui kesalahan kamu di depan semua orang, lebih tepatnya kita akan mengumpulkan semua orang di lapangan sekolah untuk mendengarkan pengakuan darimu," Kepala sekolah menyahuti ucapan Resti.


"Ta-tapi Pak-"


"Tidak ada bantahan, dan cepat laksanakan!" seru Kepala sekolah dengan tegas tak terbantahkan.


"Naufal dan Tristan tolong bantu persiapkan semuanya untuk pengakuan Resti," Kepala sekolah memerintahkan pada Naufal dan Tristan.


"Baik Pak, laksanakan?" ucap Tristan dan Naufal secara bersamaan dengan semangat dan senyum lebarnya.


Naufal dan Tristan keluar dari ruangan Kepala sekolah dengan senyum mengejek pada saat mereka melihat Resti.


Saat ini Resti merasa dunianya hancur. Dia tidak bisa mengelak lagi. Hanya bisa menjalani semua hukuman yang telah diberikan padanya.


Raline mendekat pada Resti. Dia meraih kedua tangan Resti namun Resti segera menjauhkan tangannya dari tangan Raline.


"Resti, apa salahku padamu? Selama ini aku selalu menganggapmu sebagai temanku. Bahkan beasiswa yang aku dapatkan telah aku serahkan buatmu. Kenapa kamu berbuat seperti itu padaku?" Raline benar-benar sedih bertanya pada Resti.

__ADS_1


"Karena kamu... kamu memiliki semua yang aku inginkan. Keluarga yang sangat bahagia dan sangat sayang padamu. Bahkan Tristan saja selalu mengejarmu meskipun kamu abaikan dia. Lalu aku.... ," Resti tidak bisa meneruskan ucapannya, dia berlari keluar dari ruangan Kepala sekolah tanpa permisi dan rasa sesak di dadanya yang membuatnya ingin menangis.


__ADS_2