Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
134


__ADS_3

Aydin menggandeng Kiki dengan hati yang kesal dan marah. Meskipun banyak sekali wanita yang mendekatinya, dia tidak menemukan yang senekat Cindy dan berbahaya seperti Cindy.


"Sayang, apa aku harus membatalkan kerja sama ini?" tanya Aydin Pada Kiki ketika dia sudah duduk di restoran untuk makan siang bersama.


"Apa itu berarti perusahaan akan merugi?" tanya Kiki menyelidik.


"Aku gak peduli selain keutuhan rumah tangga kita dan kebahagiaan kita," ucap Aydin meyakinkan Kiki sambil menggenggam tangan Kiki yang berada di atas meja.


"Aku sih terserah kamu aja Sayang, tapi aku gak mau jika keputusan kamu itu nantinya berdampak buruk bagi semua orang. Sebaiknya kita tanyakan pada Ayah aja dulu. Siapa tau Ayah akan memberikan solusi yang lebih baik untuk kita," Kiki berbalik menggenggam tangan Aydin dan tersenyum ketika berucap untuk meyakinkannya.


Aydin ikut tersenyum dan merasa lebih tenang dengan perlakuan Kiki dan keberadaan Kiki di dekatnya. Dia merasa bersyukur karena semua rasa takut yang dia punya selama ini selalu dienyahkan oleh Kiki.


Seolah Kiki adalah pahlawannya, Aydin berhasil mengatasi semua trauma dan rasa takutnya yang selama ini menjadi momok dalam hidupnya.


Trauma akan pesta ulang tahunnya, trauma berhubungan dengan wanita, rasa takut ditinggalkan oleh kekasih dan rasa takut akan pernikahan semua sudah hilang berkat adanya Kiki di hidupnya.


"Baiklah, apa rencana kita nanti? Apa kita akan bersenang-senang dan honeymoon sekalian di sini Sayang?" tanya Aydin sambil menikmati makanannya.


"Emmm... apa Papi punya banyak waktu? Bukannya Papi bilang jika seharian hanya bekerja saja?" Kiki bertanya dengan curiga.


"Tinggal selangkah aja udah selesai sih. Cuma berhubung Papi sedang malas dengan bisnis ini karena wanita itu, Papi jadi ingin berhenti mengerjakannya Mi. Apa Mami udah gak ada niatan jalan-jalan dan honeymoon kembali di sini?" tanya Aydin dengan memandang wajah istri tercintanya itu.


Aydin melihat Kiki yang belum memakan sedikitpun makanannya, dan dia sadar itu berarti Kiki tidak mau memakan makanannya sendiri, dengan artian dia ingin disuapi seperti biasanya.


Aydin menyendokkan makanannya dan mengarahkannya pada mulut Kiki. Seketika mulut Kiki terbuka sambil tersenyum mengunyah makanannya.


"Beruntungnya diriku punya suami seperti dirimu suamiku," ucap Kiki dengan nada manjanya.


"Aku ju-"


"Bro... bro... aku... aku akan jadi Daddy. Renita hamil," suara Kenan menghentikan ucapan Aydin yang akan membalas ungkapan hati Kiki padanya.


"Beneran Bang Ke Renita hamil?" tanya Kiki penasaran.


"Iya Ki, ini dia mengirim fotonya. Sekarang aku akan ke kamar menemuinya," ucap Kenan sambil menyodorkan ponselnya yang memuat gambar testpack dengan dua garis yang tampak pada testpack tersebut.


"Tuh kan benar firasatku. Selamat ya Bang Ke," ucap Kiki dengan senyum bahagianya.


"Daddy, Daddy apaan. Bapak aja udah manggilnya. Gak cocok kalau dipanggil Daddy," ucap Aydin sambil menyuapkan kembali makanan ke dalam mulut Kiki.


"Masa' Bapak sih, gak keren amat," Kenan kesal pada Aydin.


"Lagian lari-larian ke sini ganggu orang lagi pacaran aja," kini giliran Aydin yang mengeluarkan kekesalannya.

__ADS_1


"Ck, pacaran. Ingat anak noh di rumah di telantarin, emak bapaknya malah pacaran di mari," ucap Kenan sambil menepuk punggung Aydin ketika Aydin sedang minum, alhasil Aydin tersedak.


"Sorry, sengaja," ucap Kenan sambil tertawa terbahak-bahak dan lari keluar restoran.


"Gak waras tuh anak," ucap Aydin sambil mengelap mulutnya yang terdapat banyak minuman yang tumpah akibat tersedak tadi.


"Udah, yuk Sayang makan dulu abis itu kita tanya Ayah masalah yang tadi. Setelah itu kita bisa jalan-jalan malam kan?" ucap Kiki dengan sangat antusias.


Aydin pun setuju dan mulai memakan makanan mereka sambil saling menyuapi untuk mempersingkat waktu mereka namun masih terkesan romantis.


Setelah mereka berada di dalam kamar, Aydin segera menghubungi Ayahnya dan menceritakan semua yang terjadi padanya ketika berada di Jepang.


Tentu saja Ayah Aydin sangat marah dengan kejadian tersebut, marah pada Cindy yang berani berbuat seperti itu pada Aydin. Dan Ayah memutuskan bahwa Aydin digantikan oleh Ayah mengurus proyek tersebut.


"Sayang, ayo kita honeymoon," Aydin berseru kegirangan ketika menutup teleponnya.


"Apa yang Ayah katakan?" tanya Kiki penasaran.


"Ayah yang akan mengurus proyek ini untuk menggantikanku," jawab Aydin dengan meletakkan kedua tangannya pada kedua pipi Kiki.


"Ayah akan datang ke sini?" tanya Kiki bingung.


"Sepertinya iya. Ayo Sayang kita jalan-jalan sekarang," Aydin mencium bibir Kiki sekilas setelah berucap.


"Sayang, jangan sekarang, kalau kayak gini alamat gak jadi berangkat loh, kita di sini aja gimana?" ucap Aydin yang gantian menggoda Kiki.


Seketika wajah Kiki berubah, dari yang tadinya tersenyum manis, kini wajahnya menjadi datar karena mendengar Aydin yang mengatakan bahwa acara jalan-jalan malam mereka dan rencana honeymoon mereka batal.


"Ayo berangkat," ucap Kiki seraya tangannya mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.


Aydin terkekeh melihat istrinya yang selalu menggemaskan dan susah ditebak. Itulah yang membuat Aydin selama ini sangat tertarik dan selalu memikirkan Kiki sebelum dia menikahinya. Dan ketika sudah menikahinya, Aydin selalu memikirkan Kiki karena takut jika istrinya itu di dekati oleh lelaki lain dan terpengaruh oleh lelaki tersebut sehingga berakhir meninggalkannya.


Tapi sekarang, Aydin sangat percaya pada Kiki, karena sudah bisa dibuktikan jika cinta Kiki memang teruntuk dirinya.


"Ayo, iiih lama...," Kiki menarik tangan Aydin yang sedari tadi hanya menatap ke arah istrinya dengan tertawa.


Kini Aydin dan Kiki sedang berjalan-jalan menikmati malam mereka di Jepang. Seperti dejavu, mereka sangat romantis di negara yang sama, kota yang sama dan dengan orang yang sama.


"Sayang, aku sangat... sangat... sangat mencintaimu," ucap Aydin dengan menyelipkan rambut Kiki di belakang telinganya.


Hembusan angin malam ditambah suasana malam yang sangat romantis seolah sengaja tercipta untuk mereka berdua. Untuk menuangkan semua rasa cinta yang mereka miliki bersama. Dan untuk mengikat janji untuk saling setia sampai maut memisahkan mereka.


Pipi Kiki merona malu, meskipun sudah bertahun-tahun lamanya dia menjadi istri Aydin dan selalu mendapat perlakuan romantis yang sama dari Aydin, Kiki selalu malu dan merona tiap kali mendengarnya. Dan jantungnya terasa berdegup sangat kencang. Itulah hal yang paling membuat Kiki merasa menjadi istri yang paling beruntung di samping perlakuan-perlakuan Aydin yang lain padanya. Perlakuan yang menjadikannya sebagai seorang istri yang seperti seorang ratu. Ratu di hatinya, ratu di kehidupannya, dan ratu di dalam rumah tangganya.

__ADS_1


Aydin meraih tubuh Kiki dan merangkulnya dari belakang, mendekap erat tubuh istrinya dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang istrinya dengan sangat erat.


Memandangi lautan yang sangat indah terkena pantulan sinar rembulan, Aydin memegang dagu Kiki dan menolehkannya ke samping. Aydin memagut bibir Kiki, mereka berciuman lama dengan ditemani sinar rembulan dan angin yang berhembus dengan nuansa sangat romantis.


Di kamar hotel, Kenan sedang bersusah payah membujuk Renita agar dia bisa mendekatinya. Renita selalu menolak untuk dekat dengannya, karena setiap Kenan mendekat selalu saja perut Renita memberontak ingin mengeluarkan semua apa yang ada di dalam perutnya.


Rasa mual itu selalu membuat Renita memuntahkan semua apa yang telah dia makan. Hingga dia melarang Kenan untuk mendekatinya dan menyentuhnya.


Kenan merasa frustasi, hari-harinya di Jepang yang dia bayangkan akan seindah honeymoon pada umumnya kini berubah menjadi adegan pisah ranjang demi si utun.


Dia berpikir keras agar Renita bisa berdekatan dengannya tanpa merasa mual dan muntah. Dia sangat kasihan melihat istrinya lemas. Lemas karena muntah, mengeluarkan semua apa yang dia makan, bukan lemas karena ritual adegan ranjang mereka.


Coba saja jika Renita lemas karena adegan ranjang mereka, sudah bisa dipastikan jika Kenan akan sangat bangga bisa membuat istrinya lemas tak berdaya di ranjang.


Dan sekarang dia yang lemas karena sudah bisa dipastikan jika dia tidak akan mendapatkan jatah dari istrinya selama masa mual itu hilang, dan artinya tidak bisa dipastikan kapan mual dan muntah Renita itu akan hilang.


Yaelah apes banget dah, jauh-jauh ke Jepang malah jauh-jauhan. Tau gitu kita di rumah aja Yang... Yang... nasib... nasib... sampai kapan Ya Allah aku tidak bisa menyentuhnya, Kenan berkata dalam hati secara dramatis dengan memandang Renita yang terbaring lemas di ranjang sesudah muntah untuk kesekian kalinya.


Mata Kenan terbelalak ketika dia mengingat sesuatu. Segera dia mengambil ponselnya, keluar ke balkon dan menghubungi orang yang nomernya dia tuju.


"Halo, Ki, tolongin Renita dong. Dia lemas udah beberapa kali muntah, semua isi makanannya dia keluarkan dan tiap aku dekati malah dia mual lagi. Cepetan ke sini dong, tolongin dia," Kenan berbicara dengan Kiki melalui telepon.


"Ya udah aku tunggu ya. Cepetan Ki, kasihan istriku, kasihan juga anakku, kasihan-"


Tut... tut... tut... tut...


Telepon diputus sepihak oleh Kiki membuat Kenan mendengus kesal.


"Dasar, gak istri gak suami, sama-sama kurang ajar, sama-sama nyebelin, sama-sama bikin kesel aja bisanya," ucap Kenan sambil mengomel di depan ponselnya.


Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya dan mencoba mendekati Renita.


"Sayang, sebentar lagi Kiki akan datang. Dia akan memeriksamu. Kamu tenang saja ya," Kenan berucap sambil berjalan selangkah demi selangkah mendekat pada Renita yang terbaring di ranjang.


"Stop! Jangan dekat-dekat!" seru Renita seraya mengulurkan tangannya di depan untuk menghentikan Kenan yang akan mendekatinya.


"Sayang.... sampai kapan... kita ini honeymoon loh," ucap Kenan sambil merajuk seperti anak kecil dengan berdiri dan menghentak-hentakkan kakinya.


"Sampai aku gak mual lagi," jawab Renita enteng.


"Kamu tidur di sofa aja ya," ucap Renita sambil melempar bantal ke arah Kenan.


"Sayang, tapi aku gak mau tidur. Aku maunya-"

__ADS_1


Tok.. tok.. tok...


__ADS_2