Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
174


__ADS_3

Pagi menjelang tidak terasa oleh pasangan suami istri yang sudah lama namun masih merasa seperti pengantin baru ini. Aydin dan Kiki masih terlelap dengan saling memeluk erat. Mereka tidak merasakan jika pagi sudah menyambut hari baru mereka.


Kepala Kiki yang berada pada dada Aydin terasa sangat nyaman mendengar alunan detak jantung orang yang dicintainya. Sedangkan tubuh Kiki yang di dekap erat oleh Aydin merasa sangat hangat dan terlindungi oleh tubuh atletis Aydin.


Tiba-tiba Kiki terbangun karena alarm perutnya berbunyi. Matanya mengerjap-ngerjap terkena pantulan sinar matahari yang menembus celah-celah gorden cendela.


"Sayang... Pi... Papi... udah pagi Pi," Kiki membangunkan Aydin dengan cara yang berbeda.


Kiki berbisik di telinga Aydin sehingga hembusan nafasnya mengenai kulit Aydin sehingga membuat Aydin meremang. Tak hanya itu saja, Kiki memberikan ciumannya di semua wajah Aydin agar Aydin terbangun dari tidurnya.


Mata Aydin perlahan terbuka dan dia tersenyum melihat wajah cantik yang sangat dicintainya. Tangan Aydin secepat kilat menyambar tubuh istrinya itu dan meletakkannya di atas tubuhnya. Tidak bosan dia memandang wajah cantik istrinya itu. Hanya saling memandang saja suasana romantis antara mereka bisa tercipta. Tanpa basa-basi Kiki mencium bibir Aydin secepat kilat.


"Morning kiss!" seru Kiki sambil tersenyum manis dan tentunya Aydin tersenyum setelah kekagetannya mendapatkan kejutan ciuman selamat pagi dari istrinya.


Secepat kilat Aydin menahan tubuh Kiki yang akan turun dari atas tubuhnya dan Aydin mencium sekilas bibir Kiki namun berkali-kali dengan gemasnya.


Kiki tertawa geli mendapat perlakuan seperti itu dari Aydin. Mereka memang sedang merasakan seperti pengantin baru tanpa kedua anak mereka yang selalu merecoki mereka ketika mereka sedang berduaan.


"Pi, apa kita akan begini terus? Apa kita gak akan kerja?" Kiki bertanya dengan senyum manisnya dan matanya tetap menatap mata kekasih hatinya.


"Papi gak keberatan Mi. Papi malah senang jika kita bisa begini terus selamanya," jawab Aydin dengan senyumnya yang tak kalah manis dari Kiki dan matanya juga menatap mata Kiki.


Tatapan mata mereka benar-benar memberitahukan bahwa mereka saling mencintai, ada rasa cinta yang paling dalam untuk orang yang ada di hadapannya.


"Apa kita gak akan menemui anak-anak? Sekarang pasti Raditya dan Raline mengambil alih tugas kita," Kiki terkekeh mengatakannya dan posisi mereka masih tetap sama.


"Biarkan mereka bersama karena kita akan memulai honeymoon kita seperti janjiku padamu waktu di rumah sakit," ucap Aydin dengan lebih mengeratkan pelukannya dan menggoyang-goyangkan tubuh mereka ke kiri dan ke kanan dengan gemasnya.


Kemudian Aydin membalik posisi mereka. Kini Kiki berada di bawah tubuh Aydin.


"Beneran Pi?" tanya Kiki antusias.


Aydin mengangguk, dan mencium kembali bibir Kiki sekilas. Kiki tersenyum dan mencubit hidung Aydin dan memainkannya ke kiri dan ke kanan.


"Pi...," Kiki memanggil Aydin.

__ADS_1


"Hmmm...," jawab Aydin dengan senyumnya yang menggoda.


"Berat iiih... awaaaaas.... banguuun....," seru Kiki dengan menyingkirkan badan Aydin dari atas tubuhnya.


Aydin terkekeh dan bangkit dari atas tubuh Kiki. Kemudian dia menggendong tubuh Kiki untuk dibawa ke dalam kamar mandi.


"Mandi dulu yuk Mi, biar gak bau asem," ucap Aydin sambil menggesekkan hidungnya dengan hidung Kiki dan itu membuat Kiki semakin terkekeh.


Mandi mereka tidak begitu lama karena terbatasnya fasilitas di dalam kamar mandi tersebut. Sesudah itu mereka kembali berjalan kaki menuju mobil mereka yang terparkirkan di pos penjagaan semalam.


Kenshin dan Miyuki memasang wajah kesal ketika mereka dijemput di sekolah oleh Aydin dan Kiki. Mereka tidak menyambut Mami dan Papinya seperti biasanya. Mereka malah membuang muka seolah tidak melihat Mami dan Papinya yang sedang berdiri di hadapan mereka saat ini.


"Ehemmm... ada yang marah kayaknya Pi," Kiki menyindir Kenshin dan Miyuki.


"Iya ya, padahal Mami sama Papi bela-belain pulang saat hujan-hujan loh. Tau gak ya Mi anak-anak kita kalau dari semalam di sana hujan sangat deras, ditambah petir yang menggelegar bersahut sahutan dengan angin yang sangat kencang. Apa anak-anak kita gak takut terjadi apa-apa sama Mami dan Papinya jika mereka nekat menembus hujan yang seperi itu?" Aydin mencoba menjelaskan pada Kenshin dan Miyuki dengan cara yang berbeda.


"Iya ya Pi. Kalau Mami sih udah trauma nungguin Papi selama itu di rumah sakit. Mami gak mau lagi ada keluarga Mami yang masuk rumah sakit Pi, ngeri....," ucap Kiki sambil bergidik ngeri di depan dan Miyuki.


Kenshin dan Miyuki saking menatap, seketika mereka berdua memeluk Mami dan Papinya.


"Jangan sakit lagi Mi, Pi. Kita gak mau Mami sama Papi kenapa-napa. Kami mau selalu bersama Mami dan Papi. Kami janji gak akan nakal. Iya kan Mimi?" ucap Kenshin sambil memeluk Aydin dan Kiki yang sedari tadi berjongkok di hadapan Kenshin dan Miyuki untuk bisa sejajar dengan mereka.


"Kamu yang lebih nakal Mimi... Kamu yang selalu membuat Mami pusing," Kenshin melepaskan pelukannya pada Mami dan Papinya, kemudian dia mencubit kedua pipi Miyuki menggunakan kedua tangannya.


"Mami... Papi..., " suara Raline terdengar karena dia berlari mendekat ke arah mereka.


"Hai cantik....," Kiki menyapa Raline yang berlari mendekati mereka.


Seperti biasa, Raline segera memeluk Kiki ketika sudah berada di dekat Kiki.


"Papi gak dipeluk nih?" Aydin menyindir Raline yang hanya memeluk Kiki saja.


"Papi iya dong, kan Raline juga dayang Papi," ucap Raline yang kemudian memeluk Aydin, hanya sebentar karena dia juga malu jika ada yang tahu bahwa Aydin bukanlah ayah kandungnya.


"Mau ikut pulang ke rumah kan cantik?" Kiki bertanya pada Raline dan tanpa ragu Raline pun mengangguk.

__ADS_1


Sejak dulu memang Raline tidak pernah menolak apapun yang diperintahkan atau yang diminta oleh Kiki dan Aydin, karena dia sadar bahwa kasih sayang dan apa yang dilakukan Kiki dan Aydin padanya tidak sebanding dengan apa yang mereka minta atau perintahkan padanya.


"Yeee Kakak cantik ikut pulang ke rumah....," Kenshin bersorak kegirangan dan diikuti oelh Miyuki yang memang sedari dulu tidak mau kalah dengan Kenshin.


"Yuk masuk yuk," Raline mengajak Kenshin dan Miyuki masuk ke dalam mobil.


Ketika Aydin membukakan pintu mobil untuk Kiki, ternyata Tristan datang menyapa dan Kiki karena memang mobil Tristan terparkir di sebelah mobil Aydin.


"Sore Om, Tante," Tristan menyapa Aydin dan Kiki.


"Sore Tristan. Terima kasih atas makanannya kemarin. Maaf baru bisa mengucapkannya sekarang karena semalam kami sudah pulang," Aydin mengucapkan apa yang akan dia ucapkan pada Tristan semalam.


"Tidak usah sungkan Om. Lain kali mampir aja lagi, dan sebelumnya Om bisa bilang dulu pada saya agar saya bisa menyiapkan tempat spesial buat Om dan Tante seperti tahun-tahun sebelumnya," ucap Tristan dengan bangganya.


"Loh, kamu tau?" Kiki menyahuti ucapan Tristan.


Tristan pun mengangguk dengan cepat dan berkata,


"Kebetulan yang menyiapkan waktu itu Tristan sendiri, dan sejak malam kemarin Tristan baru ingat wajah kalian ketika melihat beberapa foto kenangan kalian di papan kenangan yang berisikan foto-foto kenangan para tamu di cafe kami," Tristan menjelaskan pada Aydin dan Kiki.


"Wah... hebat kamu Tristan," Aydin memuji Tristan.


"Calon menantu idaman kan Om, Tante?" Naufal yang berada di samping Tristan ikut menyahut.


Aydin dan Kiki saking menatap dan tersenyum penuh arti.


"Mami... Papi... ayo pulang!"


"Maaf Tristan kita permisi dulu, semoga kita bisa berbincang-bincang lagi ya," Aydin berpamitan pada Tristan.


"Iya, kami permisi dulu ya. Gawat kalau Tuan muda sampai ngamuk," ucap Kiki sambil terkekeh dan berjalan ke dalam mobil setelah dibukakan pintu mobilnya oleh Aydin.


"Benar katamu Bro, keluarga mereka sepertinya bahagia ya," ucap Naufal yang masih melihat perlakuan Aydin yang sangat manis pada istrinya.


"Besok pasti akan aku praktekan bersama Raline," ucap Tristan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Praktek? Emang Biologi?" canda Naufal pada Tristan yang berakhir toyoran di kepala Naufal.


"Tristan, bisa kita bicara berdua?" tawa Tristan dan Naufal seketika berhenti ketika mendengar suara seorang wanita yang memanggil nama Tristan.


__ADS_2