
Hawa horor mencekam dirasakan Kiki ketika berada di dalam mobil. Mulutnya komat kamit merapal semua doa yang dia hafal agar dia selamat dari kemarahan suaminya.
Tak ada pembicaraan apapun di dalam mobil selama perjalanan pulang ke rumah. Yang ada hanya tatapan kesal penuh ancaman dari mata Aydin.
Flashback
Raditya dan Kiki ditunjuk sebagai The King & Queen dalam acara tersebut. Mereka diminta untuk naik ke atas panggung.
Aydin mengeram marah melihat istrinya bersanding dengan lelaki yang pernah mengisi hati istrinya dan yang terlebih lagi dia sangat marah ketika Kiki tidak memakai blazer nya, Kiki hanya membawa blazer itu di tangannya.
Awas kamu sayang, pasti ku hukum nanti di rumah. Lihat saja dan tunggu hukuman dari suamimu ini , tercetak smirk di bibir Aydin.
Setelah Kiki dan Raditya diberi mahkota ala King & Queen, mereka turun dari panggung.
Dengan penuh ketakutan Kiki mendekat ke arah suaminya. Sedari tadi di panggung, dia melihat suaminya yang wajahnya seperti akan menerkamnya.
Kiki tersenyum kikuk ketika berada di hadapan suaminya. Aydin menarik tangan Kiki dan mengajaknya masuk ke dalam mobil untuk segera pulang tanpa sepatah katapun yang dikeluarkan oleh Aydin.
Flashback end
Di dalam kamar, Kiki meletakkan mahkotanya tadi di dalam box yang ada di atas lemari ketika Aydin sedang berada di dalam kamar mandi.
Setelah itu Kiki mengambil pakaiannya di lemari, namun matanya tertuju pada lingerie warna merah menyala yang begitu menggoda. Seketika Kiki mempunyai ide untuk merayu dan menggoda suaminya agar tidak marah lagi kepadanya. Dibawanya lingerie itu di dalam handuk yang dia bawa ke kamar mandi ketika Aydin sudah keluar dari kamar mandi.
Kiki membuka pintu kamar mandi dengan perasaan berdebar. Jujur dia takut jika dia malah diacuhkan oleh suaminya. Bisa-bisa dia malu karena berpakaian seperti wanita penggoda yang sedang menggoda suaminya sendiri tapi diacuhkan.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Kiki dengan memakai lingerie merah menyala yang begitu menggoda. Warna kulitnya yang putih begitu memikat dengan warna merah yang melekat di badannya.
Bohong jika Aydin tidak tergoda ataupun terpikat. Matanya melirik meskipun tangannya sedang sibuk sibuk dengan ponselnya.
Kiki berjalan dengan gaya yang memikat, dia mengurai rambutnya dan bergaya sensual berharap suaminya akan tertarik padanya.
Namun setelah Kiki mengeluarkan semua gaya sensualnya di depan cermin, Aydin tidak mendekatinya sama sekali.
Wah parah nih, kok bisa gak tergoda ya? Aneh deh, apa kurang hot ya?
Kemudian Kiki berjalan ke arah Aydin yang berada di ranjang dan Kiki pun naik di atas ranjang untuk duduk di sebelah suaminya.
Aydin hanya diam saja, matanya tetap tak beralih dari layar ponselnya. Kiki tidak tahu bahwa sebenarnya Aydin sangat berdebar dan sesak menahan sesuatu yang sedang terkurung.
__ADS_1
Sungguh Aydin sangat tersiksa, apalagi saat Kiki melancarkan aksinya dengan menyandarkan kepalanya di bahu kanan Aydin, setelah lama tidak ada respon dari Aydin, Kiki naik ke atas perut Aydin dan duduk manis di sana.
Dalam hati Aydin mengeram mati-matian menahan gejolaknya. Sang adik kecil yang terkurung meronta-ronta ingin dibebaskan dari kurungannya.
Kiki dengan santainya malah tengkurap disitu sambil menelusupkan tangannya di bawah kaos yang Aydin pakai. Jari tangan Kiki menari-nari di atas dada Aydin dengan membuat pola abstrak yang dirinya sendiri tidak tahu bentuknya.
Jari jemari Kiki menari-nari hingga menyentuh benda yang bisa membangkitkan keinginan Aydin. Hanya di daerah dada saja Aydin sudah tidak tahan, apalagi di daerah selanjutnya.
Dengan sekuat tenaga Aydin mencoba menghalau keinginannya itu untuk menghukum istrinya terlebih dahulu dan nanti jika istrinya sudah tidur, dia akan berencana untuk menyerangnya. Namun kini apa yang dilakukan Kiki telah membalikkan keadaan.
Runtuh sudah pertahanan Aydin. Kini Aydin membalikkan keadaan. Kini posisi Kiki ada dibawah kungkungan Aydin. Seringai pemangsa ditampilkan Aydin ketika melihat wajah dan tubuh Kiki.
Glek...
Kayaknya tadi aku salah baca doa. Kenapa doa akan makan juga tadi aku bacakan? Jadinya sekarang aku yang akan dimakan Bang Ay. Mampus ah...
Aydin menundukkan kepalanya, hidung mancungnya menyusuri rahang wajah Kiki, sehingga membuat Kiki memejamkan matanya menikmati getaran dalam dirinya, hingga sampailah mulut Aydin di telinga Kiki yang membuat desiran yang menggebu dalam diri Kiki melalu nafas Aydin menerpa kulitnya di sekitar telinganya.
"I want you!" bisik Aydin di telinga Kiki dengan suara paraunya.
Mata Kiki membelalak mendengar bisikan suaminya. Kiki tersenyum karena misinya berhasil.
Gayung bersambut, Aydin pun tak melepaskan kesempatan untuk menerkam istrinya ini bak pemangsa yang sedang memangsa musuhnya.
Mereka saling *******, membelitkan indera perasa mereka dan saling bertukar saliva. Setelah itu tangan Aydin bergerilya ke bagian-bagian yang membuat Kiki melayang sehingga penyatuan mereka terjadi dengan saling menginginkan dan berakhir dengan kenikmatan yang mereka sampai bersama.
Mereka tidur masih dalam penyatuan yang belum terlepas karena Kiki sedang dihukum. Hingga akhirnya perut Kiki merasa lapar dan dia bangun ingin mengisi perutnya yang dari semalam hanya diisi camilan saja karena suaminya mengajaknya pulang sebelum makan.
"Bang Ay... sayang... aku lapar," rengek Kiki sambil menggerak-gerakkan badan suaminya.
"Emmm... apa sih sayang... emmm," jawab Aydin yang masih memejamkan matanya.
"Lapaaaaaar...," rengek Kiki kembali dengan tangan yang masih menggerak-gerakkan badan suaminya.
Seketika mata Aydin terbuka, karena dia ingat jika dia tidak bangun maka dia akan menghadapi hal yang serupa, pasti Kiki akan meminta pada Raditya.
"Mau makan apa sayang," tanya Aydin sambil mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya lampu.
"Emmm... beli nasi goreng sambil jalan-jalan malam yuk sayang," rengek Kiki manja.
"Kamu gapapa keluar malam? Gak di rumah aja, biar Abang yang beliin?" tanya Aydin sambil merapikan rambut Kiki yang berantakan.
__ADS_1
"Mau ikuuuut... pokoknya mau ikut, mau maem di sana," Kiki merengek membuat Aydin tidak tega untuk menolaknya.
Aydin segera berganti pakaian. Begitu juga Kiki yang diwajibkan untuk memakai jaket. Padahal Kiki sudah memakai sweater dan celana joger, namun perintah sang suami tidak bisa ditolak.
Aydin membuka lemari Kiki dan mengambilkan jaket lilac pemberiannya. Aydin tersenyum-senyum sendiri ketika memakaikan jaket itu di badan istrinya.
"Kenapa Bang?" tanya Kiki heran.
"Gapapa, ingat jaman perjuangan," Aydin terkekeh menjawab pertanyaan Kiki.
"Jaman perjuangan? Abang udah lahir saat jaman perjuangan?" tanya Kiki heran.
"Perjuangan untuk mendapatkan hati gadis pujaan Abang," jawab Aydin sambil mencubit hidung Kiki dan memainkannya ke kanan dan ke kiri.
Blush...
Pipi Kiki tiba-tiba merona mendengar jawaban dari suaminya. Kiki lupa jika jaket lilac yang dia pakai adalah kado pertama pemberian Aydin sebelum menjadi suaminya.
Aydin mendekap erat tubuh Kiki ketika keluar dari kamarnya. Sebenarnya Aydin tidak menyetujui permintaan Kiki untuk mengendarai motor, karena sudah sangat malam Aydin ingin memakai mobil saja, namun Kiki menolak dengan jurus ngidamnya jadi Aydin tidak bisa mengelak lagi.
Kini mereka berdua mengendarai motor sport Aydin yang sudah lama tidak dia pergunakan karena Kiki kurang suka menaikinya. Tapi entah mengapa, malam ini Kiki ingin sekali dibonceng menggunakan motor sport itu sambil menikmati udara malam.
Kiki memeluk erat pinggang Aydin dan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya itu. Aydin tersenyum karena akhirnya dia bisa menikmati momen mesra menggunakan motor sportnya sesudah mereka menikah.
Dulu-dulu memang sering mereka berboncengan, namun tidak sedekat ini Kiki memeluknya, bahkan gundukan Kiki pun terasa menempel di punggung Aydin.
Motor Aydin berhenti di sebuah taman yang ramai akan anak muda-mudi dan banyak para penjual makanan dan minuman yang menjajakan jualannya di sana.
Setelah memarkirkan motornya, Aydin memeluk erat pinggang Kiki dari samping dan mengajaknya berjalan menuju penjual nasi goreng.
Setelah Aydin memesan dua piring nasi goreng, mereka menunggu pesanannya di tempat yang sudah disediakan.
Nasi goreng yang diantarkan oleh penjual nasi goreng langsung dimakan dengan lahap oleh Kiki. Aydin membantu mengambil nasi yang menempel di sudut mulut Kiki ketika Kiki sedang makan.
Tiba-tiba ada orang yang duduk di depan mereka. Aydin dan Kiki tetap melanjutkan makanannya meskipun mereka merasa ada orang yang duduk di hadapannya.
Karena merasa diabaikan, orang tersebut berdehem.
"Ehem..."'
Dengan terpaksa Aydin dan Kiki melihat ke depan mereka, dan raut wajah Kiki berubah ketika melihat orang tersebut.
__ADS_1