Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
149


__ADS_3

"Raline Sayang... apa Raline mau bercerita pada Mami, Papi dan Ayah tentang pertemuan Raline dengan Bunda?" Kiki mencoba mencari tahu apa yang dilakukan oleh Linda hingga gadis sekecil Raline harus dipaksa memilih sesuatu yang tidak dia inginkan.


"Apa Ayah tidak akan marah pada Raline? Raline takut Ayah kecewa pada Raline dan Raline juga takut jika Ayah melarang Raline untuk bertemu dengan Bunda," suara Raline bergetar menahan tangisnya.


Raditya memeluk tubuh Raline dengan sangat erat. Dan meneteskan air matanya yang sejak tadi dia tahan. Raditya tidak menyangka jika anak gadisnya yang masih sangat belia bisa terjebak dalam permasalahan orang tuanya.


"Ayah janji gak akan marah sama Raline. Tapi Raline harus janji menceritakan semuanya pada Ayah tentang Bunda yang menemui Raline," Raditya mengatakannya dengan menahan amarahnya pada Linda sebisa mungkin agar Raline tidak mengetahuinya.


Raline menganggukkan kepalanya menyetujui syarat dari Ayahnya. Kemudian Raline mulai bercerita tentang pertemuannya dengan Bundanya dan apa saja yang dibicarakan Bundanya dengannya.


Sesuai janji Raline pada Ayahnya, dia tidak akan menyembunyikan apapun dari Ayahnya. Semua yang dia katakan benar adanya, dan dia tidak menyembunyikan apapun dari Ayahnya.


Raditya mengepalkan tangannya menahan amarahnya. Rahangnya mengeras, dan raut wajah Raditya penuh dengan amarah, sepertinya emosinya sudah memuncak.


Kiki segera memberi kode Aydin agar menenangkan Raditya. Sedangkan Kiki mendekati Raline dan memberikan senyuman manisnya pada Raline untuk memberikan ketenangan bagi Raline. Kiki mengusap pipi Raline dengan lembut dan sedetik kemudian dia menciumi seluruh bagian wajah Raline.


Air mata Raline menetes dengan sendirinya. Dia mengingat bahwa perlakuan Bundanya beda dengan perlakuan Kiki. Linda, sebagai Bundanya hanya mencium Raline di pipi kanannya hanya sekali saja selama mereka beberapa kali bertemu, sedangkan Kiki yang dipanggilnya sebagai Mami, dia selalu menciumi semua bagian wajahnya tiap kali mereka bertemu dan ketika mereka akan berpisah.

__ADS_1


Aku harus bagaimana Ya Allah? Jujur saja aku tidak bisa meninggalkan orang-orang yang sangat mencintaiku seperti ini, bahkan kasih sayang dan perhatiannya melebihi dari Bundaku sendiri. Bantu aku Ya Allah... tunjukkan padaku apa yang harus aku pilih, Raline berdoa dalam hatinya dengan memandang wajah Kiki yang menurutnya penuh kasih sayang untuknya.


"Mami... apa Mami sayang sama Raline? Apa Mami gak akan melupakan Raline?" mata Raline berkaca-kaca melihat Kiki yang akan jauh darinya selama beberapa tahun ketika dia sudah masuk ke dalam Pondok Pesantren ini.


"Raline Sayang.... Mami dari Raline bayi pun sudah sayang dan cinta dengan Raline. Kalau gak percaya, tanya tuh sama Ayah dan Papi. Dan sampai kapanpun itu gak akan berubah. Raline percaya kan sama Mami, Sayang?" Kiki meyakinkan Raline akan perasaannya pada Raline.


Raline pun meneteskan kembali air matanya, bahkan tutur kata dan panggilan dari Kiki saja sangat berbeda dari Linda. Kiki selalu memanggil nama Raline disertai embel-embel sayang, dan juga tutur kata Kiki sangat lembut pada Raline. Berbeda sekali dengan Linda yang sepertinya tidak tulus pada Raline, tutur kata dan sikapnya tidak setulus Kiki, itu yang dirasakan oleh Raline.


Raditya sangat frustasi dengan kenyataan yang ada. Dia tidak mengira jika Linda akan senekat itu menemui Raline dan menekannya agar menjauh dari Ayahnya dan orang-orang yang selama ini menyayangi Raline selama Linda menelantarkannya.


Raditya, Aydin dan Kiki membicarakan masalah ini hanya bertiga. Sedangkan Renita bertugas untuk menjaga Raline, Kenshin, Miyuki dan Lucas.


"Lalu bagaimana Bang?" Raditya menanyakan pada Aydin rencana mereka selanjutnya.


"Bagaimana kalau kita coba saja dalam beberapa hari Raline berada di sini, apakah Linda akan datang kemari? Dan nantinya Raline akan tau sendiri bagaimana Bundanya dan apa saja yang dikatakan oleh Bundanya jika dia benar-benar datang menemui Raline. Raline juga pasti akan bisa menilai Bundanya seperti apa jika mereka sering bertemu," Aydin memberitahukan idenya.


"Aku setuju. Raline bukan gadis bodoh, dia pasti akan dengan sendirinya merasakan ketulusan seorang ibu ada pada Linda atau tidak. Dan Raline di sini hanya beberapa hari saja, karena aku gak mau dia dalam bahaya jika berdekatan dengan Linda. Aku takut Linda mempengaruhinya dengan gaya hidupnya yang sekarang," Kiki mengatakan ketakutannya.

__ADS_1


"Tenang Sayang, aku akan membayar orang untuk mengawasi Raline di sini, di dalam dan di luar. Tapi apa boleh kita menaruh orang luar di dalam Pondok Pesantren ini?" Aydin menanyakan keraguannya pada Raditya.


"Masalah itu gampang Bang, aku bisa mengaturnya. Aku akan bilang pada pihak pesantren dan Uwa yang bertanggung jawab di Pondok Pesantren ini, dan Uwa pasti akan memberi perhatian ekstra jika Abah yang memerintahkannya," ucap Raditya.


"Ya sudah. Apa kita setuju dengan rencana kita barusan?" Aydin kembali menanyakan rencana mereka untuk Raline.


Raditya mengangguk lemah. Rasanya dia tidak tega meninggalkan putri kesayangannya di sini jika tidak dengan keikhlasan dari Raline. Dia terpaksa datang ke Pondok Pesantren ini, itulah yang membuat Raditya tidak rela. Dan satu hal lagi yang membuat Raditya sangat khawatir, Linda. Raditya takut jika Linda nekat membawa Raline pergi tanpa sepengetahuannya.


Sebenarnya Raditya, Abah dan Ambu sangat senang karena Raline dengan sendirinya meminta untuk masuk ke dalan Pondok Pesantren ini. Abah dan Ambi mengira jika Raline menginginkannya karena sering Abah ajak ke Pondok Pesantren itu bersama dengan Kenshin. Dan jika hanya karena terpaksa, Abah dan Ambu pasti tidak akan pernah mengijinkannya.


Aydin segera menghubungi orang kepercayaannya untuk segera datang ke Pondok Pesantren yang mereka datangi saat ini. Dan mereka menginap di Pondok Pesantren tersebut untuk melihat situasi pondok dan ingin menanti kedatangan Linda yang bisa saja datang hari itu ketika Raline masuk dalam Pondok Pesantren tersebut.


Mereka menginap di rumah orang tua Abah yang merupakan pendiri dan pemilik asli daei Pondok Pesantren itu. Dan Raline pada malam itu tidak mau tidur di asrama, dia ingin menghabiskan waktu dengan keluarga besarnya sebelum mereka berpisah dan kembali ke kota asal mereka.


Raline, Kenshin, Miyuki dan Lucas tidur bersama, mereka bercanda dan bermain bersama seperti biasanya hingga mereka kelelahan dan tertidur dengan posisi tidak beraturan.


Dan kini lah saatnya mereka berpisah. Raline berderai air mata mengiringi kepergian keluarga besarnya. Keluarga yang dia dapatkan bukan dari silsilah keluarganya, melainkan teman baik Ayahnya. Mereka meninggalkan Raline dengan dijaga oleh beberapa orang kepercayaan dari Aydin.

__ADS_1


"Ayah, Mami, Papi, Ken, Yuki, Max, Lucas, Aunty Rere, Uncle Kenan, Abah, Ambu, Raline kangen kalian," suara lirih Raline disertai deraian air matanya.


__ADS_2