Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
190


__ADS_3

Resti berteriak marah karena Ali mengabaikannya kali ini.


"Sialan! Ali berani-beraninya kamu mengabaikan aku. Lihat aja nanti kamu pasti akan menyesal!" Resti berteriak seperti orang kesetanan, hingga membuat orang di sekitarnya bergidik ngeri dan menjauh darinya.


Ali mengantar Rania sampai di depan rumahnya. Orang tua Rania keduanya bekerja, dan Rania biasanya pulang menggunakan taksi, dan kali ini dia diantarkan oleh Ali.


"Ra, aku seneng banget kenal sama kamu. Dan ingat Ra, aku belum dengar jawaban dari kamu," ucap Ali setelah menerima helm yang dikenakan oleh Rania tadi ketika berkendara bersamanya.


"Hah?!" lagi-lagi Rania seperti orang bodoh ketika ditanya oleh Ali tentang pernyataan cintanya tadi.


Ali tersenyum dan mengusap lembut kepala Rania.


"Ra, aku belum punya nomer kamu loh. Gimana nanti kalau aku kangen?" tukas Ali sambil menyerahkan ponselnya pada Rania.


Rania pun mengambil ponsel Ali dan menuliskan nomernya. Kemudian dia menyerahkan ponsel itu kembali pada Ali.


"Terima kasih Ra, nanti aku kabari jika aku udah sampai di rumah," ucap Ali sambil tersenyum dan mengedipkan matanya pada Rania.


Rania hanya diam, dia tidak percaya akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari lawan jenisnya. Baru kali ini Rania berani hanya berduaan dengan lawan jenisnya. Entahlah, mungkin karena menjalankan misi atau memang karena dia menginginkannya, Rania pun tidak mengerti akan perasaannya yang menurutnya asing baginya.


Akhirnya Resti pulang ke rumah dengan naik angkutan umum seperti biasanya sebelum Ali menjemputnya. Dengan langkah penuh amarah dia pulang berjalan kaki masuk ke kampungnya, namun dia tidak mendapati Ali yang biasanya nongkrong bersama teman-temannya di warung tempat biasanya mereka berkumpul.


"Hei, kalian tau di mana Ali?" tanya Resti dengan amarahnya.


Mereka semua saling memandang dan secara bersamaan mereka menggelengkan kepalanya. Mereka dari dulu memang tidak pernah suka dengan Resti sejak pertama berpacaran dengan Ali. Karena mereka tahu jika Ali hanya dijadikan seperi budaknya saja dan dimanfaatkan oleh Resti.


"Halah pasti kalian melindunginya. Cepat katakan di mana dia sekarang!" Resti berseru pada empat cowok di depannya yang notabene nya adalah sahabat-sahabat Ali sejak dari kecil.

__ADS_1


"Terserah kita mau bilang atau gak sama kamu. Hak kita untuk ngasih tau Ali ada di mana sekarang," jawab salah satu diantara mereka.


Resti bertambah kesal dengan mereka. Biasanya mereka tidak pernah seberani itu padanya jika ada Ali bersamanya. Dan kini jika tidak ada Aki bersamanya, mereka bahkan tidak memandang Resti layaknya seorang perempuan yang menarik, bahkan mereka menganggap Resti tidak ada di sana.


"Kurang ajar kalian!" Resti berseru kembali dengan memasang wajah penuh amarah pada mereka.


"Ada apa ini?" tiba-tiba Ali datang dengan motornya.


Sebenarnya Ali sudah tahu jika yang ada bersama sahabat-sahabatnya adalah Resti. Dan dia enggan untuk bertemu dengan Resti. Namun, Ali berpikir kembali jika inilah saatnya dia memperjelas hubungannya dengan Resti.


"Ali, mereka berani sekali padaku," Resti merengek pada Ali dengan bergelayut manja di lengan Ali.


Seketika Ali menghempaskan tangan Resti dari lengannya. Semua sahabat Ali terperangah melihat Resti yang diperlakukan seperti itu oleh Ali.


Biasanya mereka melihat Ali yang tunduk dengan semua perintah Resti, dan kali ini Ali tidak terpengaruh oleh apa yang dikatakan Resti padanya. Bahkan Ali tampak tidak suka melihat Resti berada di dekatnya.


Diletakkannya telapak tangan Resti di kening Ali, namun belum sampai menempel, Ali menghindar dari tangan Resti.


"Kamu kenapa sih Li? Oh jangan-jangan gara-gara perempuan tadi ya kamu jadi gini sama aku?" Resti mulai mengeluarkan tuduhannya pada Ali.


"Kalau iya kenapa? Aku sekarang baru sadar jika ternyata selama ini aku gak cinta sama kamu. Dan baru kali ini aku merasakan cinta yang sesungguhnya, sangat indah dan membahagiakan," jawab Ali dengan senyum dan mata yang berbinar membayangkan senyuman manis milik Rania.


"Kamu bercanda? Kalau kamu gak cinta sama aku, kenapa kamu selalu kejar-kejar aku?" tukas Resti dengan senyum percaya dirinya.


"Ternyata aku salah. Yang kurasakan bukan cinta. Aku gak pernah berdebar saat dekat sama kamu, berbeda dengan yang ku rasakan pada perempuan itu," Ali menjelaskannya pada Resti dengan bangganya.


"Bodoh, lalu apa yang kamu rasakan padaku kalau bukan cinta?" ucap Resti dengan mendekat seolah menantang Ali.

__ADS_1


Ali tersenyum meremehkan pada Resti yang dengan percaya dirinya mengatakan bahwa Ali mencintainya.


"Kasihan. Aku hanya merasa kasihan padamu karena selalu menjadi target bully an teman-temanmu di sekolah," jawab Ali yang tersenyum meremehkan Resti.


"Sialan! Aku gak butuh belas kasihanmu! Aku gak butuh perlindunganmu! Kamu memanfaatkan aku, kamu mengambil kesucianku!" Resti berseru sehingga membuat orang yang berada di sana menoleh pada mereka.


"Tutup mulutmu. Kamu bukan gadis suci! Bukan aku yang menikmati tubuhmu untuk yang pertama kali. Ingat kamu tidak akan bisa memfitnahku semaumu!" Ali tidak kalah emosi dengan Resti.


"Apa maksudmu, aku-"


"Kamu pikir aku gak tau semua yang terjadi denganmu? Karena aku tau jadi aku kasihan sama kamu!" Ali mengeluarkan emosinya pada Resti.


"Jangan berpikir untuk menjebakku, karena aku bisa membuktikan semua yang aku bicarakan. Dan masalah uang yang aku berikan padamu gak usah kamu pikirkan. Anggap aja aku bersedekah padamu," ucap Ali sambil menyalakan motor sport nya.


"Oh iya, jangan coba-coba mengganggu kehidupanku jika kamu masih ingin menikmati hidupmu. Jauhi aku dan jauhi semua orang-orang yang dekat denganku. Jika kamu melanggarnya, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu!" Ali memberikan peringatan pada Resti sebelum dia meninggalkan tempat itu dengan motor sport miliknya.


Semua sahabat Ali menatap jijik dan meremehkan pada Resti. Mereka semua menertawakan, bahkan mereka bersorak dan bertos ria ala mereka. Hal itu membuat Resti bertambah marah.


Resti marah dengan perubahan sikap Ali, dan dia juga tidak terima karena dia kalah dengan perempuan yang sudah membuat Ali jatuh cinta padanya. Tidak hanya itu saja, kini dia merasa malu pada semua orang karena Ali yang merendahkannya.


Dada Resti bergemuruh. Dia marah pada Ali dan perempuan yang kini telah mencuri hati Ali, serta sahabat-sahabat Ali yang merasa menang dari Resti.


Awas kamu Ali, aku akan membalasmu. Lihat saja nanti pembalasan apa yang akan aku berikan padamu, Resti berkata dalam hatinya yang masih bergemuruh akan kemarahannya.


Dengan cepat Resti pergi dari tempat itu diiringi omelannya seiring langkah kakinya.


"Brengsek... brengsek... brengsek....!!!" teriak Resti ketika sudah berada di dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2