Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
229


__ADS_3

"Resti tadi berpamitan akan ke rumah temannya Pak. Ibu sudah melarangnya, tapi katanya dia akan mengembalikan buku temannya untuk bahan ujiannya. Ibu kasihan Pak melihat Resti sepertinya sedih tidak bisa meneruskan sekolahnya. Jadi ibu biarkan saja agar dia senang sebelum perutnya tambah membesar dan dia tidak bisa ke mana-mana sebelum anaknya lahir," ibu Resti menjelaskan pada ayah Resti sambil mengelap keringat di wajahnya.


"Sebentar, biar Ayah hubungi lagi dia sekarang," ucap ayah untuk menenangkan ibu Resti.


Ayah Resti menghubungi ponsel Resti berkali-kali, namun tidak juga diangkat oleh Resti. Hingga ayah dan ibu Resti tertidur di kursi ruang tamu menunggu kedatangan Resti.


Suara adzan subuh berkumandang menembus indera pendengaran ayah dan ibu Resti. Mereka tidak sengaja tertidur hingga subuh menyapa.


"Resti, Resti.... Resti di mana? Apa kamu udah pulang nak?" ibu Resti berseru memanggil nama Resti.


Ibu Resti mencari Resti di seluruh ruangan dan tentunya di kamar Resti terlebih dahulu sebelum di ruangan lainnya.


Kecemasan ibu Resti bertambah ketika tidak mendapati Resti di kamarnya. Di kamar mandi pun dia tidak mendapatkan Resti yang dia kira sedang mandi saat ini.


Hingga di seluruh ruangan pun tak ditemukannya membuat ibu Resti seketika lemas dan gemetaran.


Anak perempuannya yang sedang mengandung tidak pulang ke rumah hingga pagi dan tidak bisa dihubungi serta tidak ada kabar sama sekali darinya.


"Yah... Ayah... Resti tidak pulang Yah. Bagaimana ini? Di mana dia sebenarnya?" ibu Resti cemas dan menggoyang-goyangkan badan ayah Resti yang masih tertidur di kursi ruang tamu.


"Apa Resti belum pulang Bu," tanya ayah Resti dengan suara seraknya baru bangun tidur.


"Belum Yah. Bagaimana ini?" ucap ibu yang masih saja terlihat cemas dan matanya sedikit berkaca-kaca.


"Ayah akan mencarinya Bu," ucap ayah Resti sambil beranjak dari duduknya.


Setelah beberapa jam, terdengar suara motor ayah Resti. Ibu Resti yang sedari tadi menunggunya segera bangkit dari kursi dan menyambut kedatangan ayah Resti. Dari raut wajahnya sepertinya ayah Resti tidak menemukannya.


"Bagaimana Yah? Apa ayah menemukannya? Apa Ayah tau di mana rumah temannya Resti?" ibu Resti memberondong dengan beberapa pertanyaan pada ayah Resti.

__ADS_1


"Tidak Bu. Ayah bingung harus mencarinya di mana lagi," jawab ayah Resti yang terlihat sangat kusut dan lesu.


"Terus gimana dong Yah?" tanya ibu Resti yang saat ini sangat cemas pada Resti hingga tidak bisa melakukan apapun kecuali menunggu suaminya pulang dari mencari anaknya.


"Ayah masih bingung Bu. Ayah tidak bisa berpikir lagi. Rasanya kepala Ayah pusing sekali," jawab ayah Resti sambil memijat kedua pelipisnya.


"Selamat pagi," suara seseorang di depan pintu mengagetkan ibu dan ayah Resti.


Ayah Resti dan ibu Resti kaget melihat kedatangan dua orang polisi di rumah mereka. Pasalnya mereka belum melaporkan masalah hilangnya Resti pada polisi. Tapi kini polisi sudah berada di rumah mereka.


"Pagi Pak, ada apa ya?" tanya ayah Resti pada polisi yang ada di hadapannya saat ini.


"Apa benar di sini rumah Resti Apriyani?" tanya polisi tersebut pada ayah dan ibu Resti.


"Benar Pak, ada apa ya? Apa Bapak mengantarkan anak kami pulang? Sejak sore kemarin anak kami belum pulang Pak. Apa Bapak menemukannya dan mengantarkannya pulang?" ayah Resti bersemangat bertanya pada polisi tersebut.


"Memeriksa? Kenapa harus diperiksa Pak?" sahut ibu Resti.


"Kami menemukan jasad seorang perempuan memakai kaos berwarna pink dengan celana jeans berwarna hitam dan jaket berwarna merah. Dan kami menemukan dompet yang berisi identitasnya bernamakan Resti Apriyani. Sekarang jenazahnya sedang ada bersama kami. Silahkan Bapak dan Ibu ikut kami untuk memeriksanya."


Polisi tersebut menjelaskan ciri-ciri mayat yang ditemukannya di rawa-rawa dekat perkebunan jagung.


Tadinya petani yang akan pergi ke sawah dekat kebun jagung tersebut menemukan mayat perempuan yang masih lengkap dengan pisau ditangannya.


Petani tersebut bergegas melaporkan pada polisi tentang mayat yang ditemukannya tanpa menyentuhnya sekalipun.


Polisi yang datang ke TKP segera memeriksa dan mengadakan olah TKP. Sesudah itu mereka membawa mayat tersebut bersama dengan bukti-buktinya.


Sekarang polisi tersebut berada di rumah Resti untuk mengabarkan pada kedua orang tua Resti dan meminta mereka untuk memeriksa mayat tersebut apakah benar Resti yang sama dengan yang dimaksud oleh orang tua Resti.

__ADS_1


"Yah... Resti Yah... Resti....," ucap ibu Resti dengan suara bergetar dan tangan yang gemetar.


Tubuh ibu Resti terasa lemah, jantung dan hatinya terasa dihantam batuan yang sangat besar sehingga terasa sangat menyakitkan dan membuatnya syok.


"Sabar Bu, kita lihat dulu, siapa tau itu bukan Resti anak kita," ucap ayah Resti menenangkan istrinya.


Sebenarnya ayah Resti juga sangat gemetar dan kaget mendengar berita yang disampaikan oleh polisi yang ada di depannya. Namun dia harus kuat agar istrinya juga kuat menghadapi ini semua.


"Baiklah Pak, kami akan ikut Bapak untuk melihat mayat tersebut," ucap ayah Resti menyetujui permintaan dari polisi.


Ibu Resti ikut bersama ayah Resti meskipun dia dalam keadaan lemah seperti kehilangan semangat hidupnya.


Bersama polisi ayah dan ibu Resti melihat mayat tersebut. Dan ibu Resti berteriak histeris ketika melihat keadaan anaknya saat ini.


Ibu Resti pingsan di tempat tidak sadarkan diri sesudah melihat mayat anaknya. Sedangkan ayah Resti bercampur aduk perasaannya ketika melihat mayat Resti dan istrinya yang tiba-tiba pingsan di sampingnya.


Ayah Resti menolong istrinya terlebih dahulu untuk dipindahkan ke tempat sesuai dengan perintah dari polisi yang ada di tempat itu.


Setelah ibu Resti sadarkan diri, ayah Resti segera menghadap polisi untuk proses yang selanjutnya.


Dari hasil yang di duga untuk sementara adalah Resti bunuh diri menggunakan pisau yang dia bawa dari rumah. Karena menurut kesaksian ibu dan ayah Resti bahwa pisau itu merupakan pisau yang mereka gunakan untuk di rumah sehari-hari.


Pemakaman dilakukan setelah semua proses telah dilakukan. Semua warga daerah tempat tinggal Resti bergosip jika Resti bunuh diri karena laki-laki yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab.


Berita yang beredar pun banyak sekali versinya hingga kedua orang tua Resti merasa risih mendengarnya.


Ibu Resti yang sangat terpukul dengan kematian Resti menjadi pendiam dan selalu meneteskan air matanya. Belum lagi omongan-omongan tetangganya itu membuat ibu Resti selalu terngiang-ngiang di indera pendengarnya. Keadaan Resti yang terbujur kaku dengan bersimbah darah yang sangat mengenaskan membuatnya selalu teringat di matanya.


"Resti....," ucap ibu Resti dengan lirih dan lemah serta air mata yang terus mengalir di pipinya tanpa suara tangisannya.

__ADS_1


__ADS_2