Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
176


__ADS_3

Pagi ini Tristan bangun dengan senyuman yang tak henti-hentinya merekah di bibirnya. Naufal juga tak henti-hentinya meledek sahabatnya itu. Mereka semalam tidak jadi ke cafe karena Tristan yang memutuskan untuk memantau dari dalam mobilnya yang diparkir tidak jauh dari villa milik Aydin di mana Raline sedang berada di dalamnya.


Tristan membatalkan kunjungannya ke cafe meskipun dia sudah ditunggu orang yang akan menyewa cafenya untuk dijadikan tempat pertunangan. Dia tidak mempermasalahkan jika mereka membatalkannya, karena bagi Tristan sekarang ini yang terpenting adalah Raline, wanita yang membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya.


Namun karena cafe milik Tristan yang sangat menarik dengan pemandangan yang indah terutama di malam hari, membuat mereka enggan untuk membatalkannya. Mereka akan menunggu Tristan kapanpun dia bisa ke sana sebelum acara itu dilaksanakan.


Semalam Tristan mendadak memutuskan untuk menginap di villanya yang jaraknya tidak jauh dari villa milik Aydin. Dia menghubungi orang tuanya untuk memberi kabar bahwa dia menginap di villa tersebut selama akhir pekan. Tristan tidak mengetahui jika villa yang berada di dekat villa Aydin adalah villa milik Raline karena villa itu sudah diberikan Abah untuk Raditya.


"Kita jalan-jalan yuk Fal, mumpung masih pagi," ajak Tristan pada Naufal dengan senyumnya yang tidak pernah luntur ketika berada di sana.


"Pagi banget malah. Tumben banget sih, biasanya juga masih molor," Naufal menggerutu sambil turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


"Kan ada pujaan hati," teriak Tristan dari balkon kamar mereka.


Dari balkon itu Tristan bisa melihat villa milik Aydin. Dan sekarang dia melihat bahwa Raline bersama semua orang yang ada di sana sedang bercanda berjalan-jalan keluar dari villa mereka. Sepertinya mereka akan melihat matahari terbit seperti kebanyakan orang yang datang ke daerah ini.


"Fal... Naufal... Ayo buruan. Itu mereka udah pergi jalan-jalan!" Tristan berteriak dari balkon dengan matanya yang masih saja melihat ke arah Raline dan keluarganya berada.


Setelah Raline dan keluarganya sudah tidak terlihat lagi dari balkon kamarnya, Tristan segera mengedor-gedor pintu kamar mandi dengan kerasnya dan berkali-kali tanpa jeda agar Naufal segera keluar dari kamar mandi tersebut.


"Gak sabaran banget sih jadi orang," Naufal menggerutu sambil memakai kaosnya keluar dari kamar mandi.


"Ayo buruan!" ucap Tristan sambil menarik tangan Naufal dengan terburu-buru dan sedikit berlari untuk keluar dari villa mereka.


"Sialan, belum juga ngaca udah main tarik-tarik aja," Naufal memukul-mukul punggung Tristan dengan kesal.


"Udah gak usah ngaca, muka kamu ya gitu-gitu aja, gak bisa ngalahin Tristan sang idola kaum hawa," ujar Tristan dengan bangganya.


"Percaya... percaya... daripada mikir kan jadi stress nanti Abang Naufal ini," ucap Naufal yang tidak ingin mendengar kenarsisan Tristan lagi.


"Ini kita mau ke mana?" tanya Naufal yang masih ogah-ogahan berjalan kaki di pagi hari dengan cuaca yang masih sangat dingin.


"Nyamperin mereka lah. Ayo buruan jangan letoy gitu," Tristan menjawab dengan menarik tangan Naufal dengan tidak sabaran berjalan menelusuri jalan yang telah dilewati oleh Raline dan keluarganya.


"Mereka ke mana sih?" tanya Naufal kembali yang sudah merasa perjalanan mereka sudah jauh dari villa mereka.


"Kamu sih mandi aja lama banget. Udah kayak cewek aja mandinya," Tristan menggerutu di sepanjang jalan.

__ADS_1


"Eh belum tau ya rasanya menahan sesuatu itu gak enak. Apalagi kalau belum selesai tapi dipaksa selesai. Sumpah gak enak banget," ucap Naufal dengan kesal.


Tristan mengernyitkan dahinya, dia merasa ada yang aneh dengan ucapan Naufal. Tristan menoleh pada Naufal yang berwajah kesal padanya.


"Maksudnya kamu lagi nahan gitu? Nahan apaan?" tanya Tristan heran dan menampakkan wajah bingungnya.


"Nahan boker pe'a. Pasti otak kamu lagi traveling ke mana-mana nih. Dasar otak mesum," ucap Naufal sambil melepaskan tangan Tristan yang sedang menggandengnya, setelah itu dia menoyor kepala Tristan dan berlari untuk menghindari kemarahan Tristan.


"Sialan Lu!" Tristan berteriak sambil berlari mengejar Naufal yang sudah jauh berada di depannya.


Setelah tidak berapa jauh Naufal berlari, tiba-tiba dia berhenti dan itu membuat Tristan kegirangan karena itu merupakan kesempatan buatnya untuk membalas pukulan Naufal padanya.


"Nah loh kena!" seru Tristan ketika sudah mendapatkan tubuh Naufal dalam pegangannya.


"Ssttt.... sssttt... tuh," ucap Naufal sambil mengarahkan dagunya ke arah depannya.


Tristan pun mengikuti arah pandang Naufal dan dia sangat terkejut namun senyumnya segera mengembang ketika melihat sosok Raline berada di depannya terkena biasan sinar matahari yang terbit di depannya.


"Wow... cantik....," ujar Tristan tanpa mengedipkan matanya melihat matahari terbit yang berada di depan Raline.


"Iya, cantik, banget," sahut Naufal yang kemudian mendapatkan toyoran di kepalanya dari Tristan.


"Belum sah, kagak napa-napa ditikung," ucap Naufal tanpa mengalihkan pandangannya dari depannya di mana Raline berada di sana.


"Sialan!" Tristan memukul keras punggung Naufal hingga Naufal meringis dan mengalihkan pandangannya dari Raline pada Tristan.


"Awas aja kalau macam-macam. Bakalan aku sunatin lagi tuh si kecil," Tristan mengeluarkan ancamannya pada Naufal.


"Enak aja kecil, kalau berani ayo kita bandingkan. Kita lihat lebih besar milik siapa," ucap Naufal dengan penuh percaya diri.


"Wong edan!" Tristan kembali menoyor kepala Naufal.


Naufal tidak terima dan dia membalas Tristan dengan perlakuan yang sama. Berulang-ulang mereka melakukan itu hingga mereka lupa jika tujuannya ke sana untuk menemui Raline.


"Yuk ah sarapan bubur ayam yang biasanya," seru Miyuki yang sudah merasa lapar dengan menarik tangan Kenshin.


"Kakak cantik ayo....," Kenshin melambaikan tangannya memanggil Raline agar segera mengikutinya.

__ADS_1


"Tunggu...," seru Raline sambil berlari kecil, namun Miyuki yang memang suka jahil, dia lebih kencang menarik tangan Kenshin dan berlari dengan lebih kencang membuat Kenshin memberontak, namun Kenshin sadar jika Miyuki akan terjatuh jika dia memberontak lebih jauh lagi, sehingga dia menuruti saja kemauan Miyuki.


"Ra!" seru Tristan memberhentikan Raline yang sedang berlari kecil menyusul Kenshin dan Miyuki.


"Tristan? Naufal?" ucap Raline yang tidak percaya melihat Tristan dan Naufal berada di hadapannya.


"Eh Tristan. Kok bisa ada di sini?" tanya Kiki yang tiba-tiba berada di samping Kiki.


"Eh iya Tan, kita lagi menginap di villa dekat sini," jawab Tristan dengan senyum.


"Villa? Daerah sini?" tanya Kiki seolah tidak percaya.


"Iya Tan, Villa milik keluarga," jawab Tristan malu-malu sambil menggaruk rambutnya.


"Loh, ini Tristan ya?" tiba-tiba saja Aydin dan Raditya menghampiri mereka.


"Iya Om," jawab Tristan dengan tersenyum lebar.


"Tristan menginap di villa keluarganya loh Pi, katanya villa nya di daerah sini," sahut Kiki.


"Oh ya? Yang mana?" Aydin bertanya pada Tristan.


"Di sebelah-"


"Di daerah sini kok Om, dekat," Tristan menyela ucapan Naufal ketika dia akan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Aydin. Tristan tidak mau jika mereka tahu Tristan mengetahui villa mereka, karena mereka pasti akan berpikiran jika Tristan mengikuti mereka.


"Beneran? Di sebelah mana sih?" tanya Aydin penasaran.


"Nanti deh Om mampir, biar Om tau villa saya," jawab Tristan kemudian.


"Siapa?" Raditya bertanya pada Aydin karena heran melihat Aydin, Kiki dan Raline yang kenal dengan pemuda di depannya ini.


"Tristan Om," Tristan memperkenalkan dirinya pada Raditya dengan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Raditya.


"Calon mantu," sahut Kiki dengan terkekeh yang bermaksud menjahili Raline.


"Mami!" seru Raline sambil memeluk Kiki karena malu.

__ADS_1


Sedangkan Tristan tersenyum malu sekaligus bersorak senang dalam hatinya.


__ADS_2