
"Mencret," jawab enteng Kevin.
"Kak Keviiiiiin...," bantal melayang ke tubuh Kevin.
"Apaan sih, kan bener Princess Boncel lagi mencret pada saat pesta pernikahannya, mangkanya tadi ada adegan lari, ternyata lari dikejar pret-pret," ledek Kevin yang disusul tawa dari semua orang.
"Iiish awas ya," ancam Kiki dengan tatapan tajamnya pada Kevin.
"Kan bener lagi mencret adekku sayang," ucap Kevin dengan nada merayu.
"Yang kerenan dikit kek. Diare gitu, jangan mencret, gak keren," ucap Kiki.
Perkataan Kiki sukses membuat orang yang ada di dalam ruangan tertawa puas mendengar ucapan Kiki yang begitu polosnya.
Dokter Anggi bisa tertawa lepas di ruangan ini, dan baru kali ini dia seperti itu. Setelah itu dia memeriksa Kiki dan kandungannya baik-baik saja. Dan Aydin meminta tolong pada pihak hotel untuk membelikan obat sesuai resep yang diberikan oleh Dokter Anggi.
Aydin memerintahkan untuk membelikannya dengan cepat, karena dia tidak mau melihat istrinya yang menggemaskan itu merintih dan merengek kesakitan. Dan yang paling penting, dia tidak mau jika malam pengantinnya tertunda. Meskipun ini bukan yang pertama bagi mereka, namun suasana di hari pernikahan terasa beda pada saat melakukannya.
Obat yang dibelikan dari resep Dokter Anggi sudah diminum oleh Kiki. Rusaklah sudah momen terakhir pesta pernikahan yang diimpikan oleh Kiki. Harusnya diakhir pesta mereka akan keluar dari hotel dan menaiki kereta kuda yang sudah dihias sedemikian rupa mirip seperti di dongeng-dongeng, namun karena sakit yang tak terduga itu, Kiki harus beristirahat di kamar hotel dengan menahan perut yang bergejolak dan dia haru menelan kekecewaan karena ending acara yang tak sesuai harapannya.
"Huwaaaa.... Kiki gak mau selesai acaranya, kan endingnya belum dilaksanakan. Kasihan kudanya udah nungguin dari tadi, udah ke salon juga di dandani, ternyata di abaikan olehku. Hiks... hiks... hiks...," Kiki menangis sesenggukan mengingat kereta kuda yang sudah disiapkan untuknya.
"Udah sayang, gapapa, lain kali pasti Abang siapin lagi deh yang lebih bagus dan mewah ya, sama party-nya juga. Gak usah sedih gitu, lagian ending-nya kan bukan itu," bujuk Aydin dengan senyum liciknya.
"Hah, jadi ada ending-nya selain kereta kuda ya? Apa... apa Bang? Kok Kiki gak dikasih tau sih? Mau bikin kejutan ya?" tanya Kiki antusias.
"Oiya dong, buat istri dan ibunya anak-anak aku pasti aku beri servis yang terbaik deh," ujar Aydin jumawa.
"Servis? Servis apaan? Apa yang rusak sih?" Tanya Kiki bingung.
"Itu loh sayang, ending dari pesta pernikahan kan yang itu....," Aydin memberikan kode kedipan sebelah matanya pada Kiki.
"Apaan sih pakai kedip-kedip gitu, cacingan Bang? Apa kelilipan? Sini aku tiupin," Kiki memajukan mulutnya bersiap untuk meniup mata Aydin.
"Ck dosa loh sayang ngatain suami cacingan. Itu loh... Abang kangen sayang...," Aydin menyambar mulut Kiki yang bersiap untuk meniup matanya.
"Emmm... emm...," Kiki meronta-ronta untuk dilepaskan.
Aydin memulai aksinya dengan memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Kiki merasa melayang dan mengeluarkan suara yang membuat Aydin menjadi tambah semangat.
"Servis spesial untuk cintaku," bisik Aydin di telinga Kiki.
Kemudian dia melanjutkan aksinya untuk membuat istrinya ini terbuai. Aksinya itu membuat Kiki merasa terbang dan di saat hendak menyatu, keluarlah suara
"pret... pret...," yang berasal dari bagian tubuh belakang Kiki yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Suara itu berhasil membuat mood Aydin buyar. Seketika Aydin membatalkan penyatuan mereka ketika hendak mulai disatukan tadi.
"Hahaha...," Kiki tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya melihat ekspresi wajah suaminya.
__ADS_1
Aydin diam, dia hanya menatap istrinya tertawa lepas, dia hanya memberikan waktu untuk istrinya menertawakannya. Namun, setelah satu menit, Aydin dengan segera menerkam istrinya itu yang masih tertawa dan dibungkamnya mulut Kiki dengan mulutnya seolah menerkam musuhnya dengan mengungkung badan Kiki di bawahnya.
Kiki tidak bisa lagi memberontak, dia hanya pasrah karena kini suaminya ini melampiaskan semuanya padanya. Melampiaskan hasratnya dan melampiaskan kekesalannya atas ulah jahilnya yang tak disengaja tadi.
Pagi menyapa pasangan pengantin lama rasa baru ini dengan indahnya. Sang pengantin masih terlelap karena kelelahan yang mereka rasa akibat kegiatan santap menyantap tadi malam.
Tok... tok... tok...
Suara pintu di ketuk oleh seseorang. Mata Aydin mengerjap dan terbuka lebar ketika suara ketukan pintu kembali terdengar olehnya.
Aydin bergerak melepaskan tangannya dari pinggang Kiki, namun tangannya ditarik oleh Kiki dan diletakkan kembali ke pinggangnya dan memegangnya lebih erat lagi.
"Sayang... lepas dulu ya, itu ada yang ngetuk pintu terus-terusan dari tadi," bisik Aydin di telinga Kiki dan menghembuskan nafasnya ke belakang telinga Kiki yang menjadikan Kiki membuka matanya karena bulu kuduknya meremang terkena nafas Aydin di titik sensitifnya.
"Siapa sih yang ganggu aja?" Kiki mendengus kesal membuat Aydin terkekeh dan mencubit hidungnya karena gemas.
Aydin menutup tubuh Kiki dengan selimut dan dia memakai bathrobe kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ternyata selalu si biang pengganggu yang datang. Kevin tertawa jahil melihat penampilan Aydin saat ini yang masih terlihat mengantuk, acak-acakan dan memakai bathrobe.
"Dih penganten lama rasa baru masih sempat-sempatnya melaksanakan acara sakral ditengah prat pretnya," sindir Kevin pada Aydin yang terlihat enggan menyambutnya.
"Apaan pagi-pagi udah ganggu aja," sewot Aydin.
"Disuruh para kanjeng mami ke bawah noh, ditungguin buat sarapan," ucap Kevin dengan mengulum senyumnya.
"Duluan aja, aku sama Kiki sarapan nanti aja sendiri. Tuh Kiki gak mau bangun," tunjuk Aydin pada tubuh Kiki yang masih tiduran di ranjang.
"Enak aja, kita udah nungguin dari tadi. Gak bisa pokoknya kalian harus turun, daripada aku yang kena semprot pagi-pagi, mending kalian aja, aku mah ogah. Udah sana buruan mandi, tak tunggu disini wes gapapa daripada di damprat emak-emak," omel Kevin membuat telinga Aydin risih.
"Sabar... sabar..., gak adek sendiri, gak adek ipar sama aja kelakuannya," Kevin dengan telaten menenangkan jantungnya yang kaget akibat ulah Aydin.
Selang lima belas menit, Aydin dan Kiki turun ke bawah untuk mengikuti sarapan bersama keluarga besar mereka. Kiki yang tidak mau turun dari ranjang, membuat Aydin bekerja ekstra. Aydin mengangkat tubuh Kiki dan memandikannya. Setelah itu dia memakaikan pakaian layaknya memandikan dan memakaikan baju seorang bayi. Setelah itu tetap saja Kiki masih enggan untuk berdiri, jadilah Aydin menggendongnya dari kamarnya menuju restauran hotel yang ada di lantai bawah. Aydin acuh pada semua tatapan mata yang melihat mereka. Dia tidak keberatan melakukan semua itu demi istri dan bayinya. Karena kehamilan Kiki yang sekarang membuatnya semakin manja dan tidak mau lepas darinya.
Keluarga besar mereka menatap senang melihat pengantin yang meresmikan hubungan mereka di publik kemarin malam ini terlihat semakin bertambah mesra.
"Duuuh mesra banget sih, pagi-pagi udah main gendong-gendingan aja," sindir Kevin pada mereka berdua ketika Kiki sudah di dudukkan Aydin di kursi dekat dengannya.
"Nih gak mau turun, kalau gak digendong, gak bakalan bisa sampai disini dia," senyum jahil Aydin menatap Kiki. Dan Kiki mencebik kesal mendengar suaminya mengadu pada semuanya.
"Manja banget sih anak Mama, hormon kehamilan kali ya," sahut Mama Kiki.
"Bisa jadi Ma, tadi aja Aydin yang mandiin dan gantiin baju," lapor Aydin pada Mama Kiki.
"Hahaha... udah punya bayi besar lu Bro," ledek Kevin pada Aydin.
"Ck, awas ya kalau Kak Vina hamil, pasti bakalan lebih nyusahin Kakak," Kiki menyumpahi kakaknya.
"Gak mungkin lah, Vina kan gak sebar-bar dan semanja kamu. Iya gak sayang?" Kevin menjawab Kiki, tapi matanya menatap Vina dan tangannya kini berada di atas tangan Vina yang berada di atas meja.
__ADS_1
"Dih belum tau aja orang hamil kayak gimana. Awas aja kalau minta bantuan," Kiki kembali menyumpahi kakaknya.
"Udah... udah yuk makan dulu biar gak sakit lagi perutmu," Mama memberikan sepiring buah dan Bunda memberikan segelas susu untuk Kiki.
Kiki menerima dengan perasaan sangat senang karena diperhatikan oleh semua orang yang dia sayangi.
Aydin memberikan piring yang berisi pasta, sandwich dan salad. Dan tentu saja Kiki minta disuapi oleh suaminya. Kiki tidak membiarkan suaminya mengabaikannya. Dengan telaten Aydin menyuapi Kiki dan dirinya sendiri. Aydin tidak masalah melakukannya karena sudah terbiasa dia melakukan itu bersama dengan Kiki.
"Manjanya tuh anak Mama," sindir Kevin.
"Biarin aja, yang lihat aja seneng, apa lagi mereka yang melakukan. Kalau kamu iri langsung aja lakuin kayak mereka, kita yang tua-tua ini ngerti kok," jawab Mama atas sindiran Kevin dengan tertawa dan diikuti tawa orang tua lainnya.
"Hahaha... iri... wleeee...," ejek Kiki dengan menjulingkan matanya dan mengeluarkan sedikit lidahnya.
Kevin bersiap akan melempar Kiki dengan kerupuk udang yang ada di meja, namun dengan sigap Aydin melemparkan tatapan membunuhnya, sehingga membuat Kevin mengurungkan niatnya.
Mama dan Papa saling memandang dan tersenyum senang melihat putri kesayangannya mendapatkan suami yang begitu mencintainya dan memperlakukannya seperti seorang tuan putri.
"Udah sembuh kan sayang sakitnya yang kemarin malam?" tanya Bunda pada Kiki.
Kiki mengunyah makanannya dan mengangguk.
"Sakit apaan Bunda, orang prat pret doang kok," jawab Kevin mengolok Kiki.
"Tetep aja itu sakit namanya," jawab Kiki yang sudah menelan makanannya.
"Aku gak bisa bayangin deh Bro, pas kalian ritual malam lagi seru-serunya tiba-tiba ada bunyi pret-pret. Hahaha.. pasti gak banget deh," Kevin masih saja tertawa mendengar perkataannya sendiri.
"Kok tau," celetuk Aydin.
"Hahahaha... berarti bener... hahahaha...," Kevin tertawa terbahak-bahak disertai tawa semua orang kecuali Aydin dan Kiki.
Glek...
Aydin menelan ludahnya melihat Kiki melotot padanya dan Aydin baru sadar bahwa dia telah menggali kuburannya sendiri. Aydin merayu Kiki dan menyuapinya, namun Kiki mengacuhkannya tapi mulutnya tetap menerima suapan dari tangan Aydin.
Hal itu membuat hiburan tersendiri bagi keluarga besar mereka. Karena dengan adanya Kiki membuat kehidupan mereka lebih bermakna.
Tiba-tiba Vina merasa mual, rasanya enek, dia ingin muntah. Di tutupnya mulutnya itu dengan telapak tangan kanannya, dan tangan kirinya memegang perutnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Kevin memegang pundak Vina dan melihat wajahnya yang tiba-tiba menjadi agak pucat.
Mama mendekat dan melihat kondisi calon mantunya yang memang agak pucat, padahal tadi mereka tertawa bersama dan Vina baik-baik saja.
"Kamu kenapa Vina? Apanya yang sakit?" tanya Mama dengan lembut.
Sambil menetralkan rasa mualnya Vina membuka telapak tangannya yang berada di mulutnya dan menjawab,
__ADS_1
"Gak tau Ma, tiba-tiba enek, mual, pengen muntah."
Mama melotot mendengar jawaban Vina dan reflek saja dia menjewer telinga Kevin.