Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
220


__ADS_3

Selama pesta berlangsung Miyuki tiba-tiba menjadi pendiam Dan hari-hari selanjutnya pun seperti itu.


Miyuki memikirkan tentang nafas buatan yang diberikan oleh Tristan padanya. Dan pemikiran tentang ciuman pertamanya pun selalu terlintas di benaknya.


Lebih buruknya lagi ketika Miyuki melihat rekaman CCTV yang berada di kolam renang. Rekaman CCTV tersebut dengan jelas menggambarkan bagaimana Tristan menolong Miyuki dari dalam kolam renang dan memberinya nafas buatan, serta menggendongnya masuk ke dalam rumah.


Rekaman CCTV itu dilihat oleh Miyuki sendiri ketika Mami dan Papinya tidak ada di rumah, dia menyelinap masuk ke dalam ruangan kerja Aydin karena rasa penasarannya.


Setelah melihat rekaman CCTV itu, Miyuki selalu terbayang ketika Tristan sedang memberinya nafas buatan untuk menolongnya. Bayangan itu selalu berputar bak kaset video yang memutar adegan film ketika Miyuki sedang tidak mengerjakan apapun.


"Aisss... kenapa selalu keinget itu sih?" tanya Miyuki pada dirinya sendiri sambil memukul-mukul kepalanya.


"Yuki kenapa?" tanya Lucas pada Max yang sedang duduk bersama di kantin.


"Gak tau dari tadi kayak gitu. Mau negur takut disemprot. Mau nanya takut dipukul," jawab Max sambil memakan makanannya.


Lucas masih saja memperhatikan Miyuki. Dia ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan Miyuki.


"Udah gak usah kepo. Biarin aja. Makan aja makanan kamu, sebentar lagi jam istirahat selesai," ucap Max kembali.


Terpaksa Lucas menuruti ucapan Max. Dia duduk di kursinya dan segera memakan makanannya. Namun matanya masih saja memandang Miyuki yang bertingkah aneh sedari tadi.


Sedangkan Tristan sangat senang karena keinginannya untuk dijodohkan dengan anak dari Aydin sudah disetujui oleh kedua keluarga. Sehingga apapun yang dilakukan oleh Kenshin tidak mengganggunya meskipun dia merasakan cemburu dalam hatinya.


"Sekarang kamu boleh dekat-dekat sama Raline, nanti setelah acara pertunangan, akan ku pastikan kamu tidak akan bisa mendekatinya lagi," ujar Tristan yang sedang melihat Kenshin menjemput Raline di kelas sambil menggandeng tangannya.


Raline kini tidak lagi diikuti oleh Tristan ketika pulang sekolah, hanya saja pada saat istirahat dia bisa bersama dengan Raline karena kantin mereka berbeda dengan Kenshin.


"Sayang, tau gak-"


"Enggak," Ali menyela ucapan Rania.


Seketika Ali tertawa ketika Rania memasang wajah cemberut karena ucapannya yang belum selesai malah disambar oleh Ali dengan jawaban singkat.


"Kenapa ini bibir manyun gitu?" tanya Ali sambil mencubit bibir manyun Rania.


"Habisnya kamu nyebelin sih," jawab Rania setelah berhasil melepaskan tangan Ali dari bibirnya.

__ADS_1


"Nyebelin kenapa hmmm?" tanya Ali sambil terkekeh.


"Belum juga aku selesai ngomong udah dijawab," ucap Rania sambil cemberut kembali.


"Hahaha... iya... iya... maaf deh. Sekarang terusin ngomongnya yang tadi," kini Ali sudah bersiap mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh pujaan hatinya itu.


Ali menengadahkan wajahnya pada wajah Rania, dia memandang wajah Rania seolah dia tidak pernah bosan.


"Itu loh, Resti kok udah satu minggu ini gak masuk ya? Padahal senin depan udah ujian loh," ucap Rania sambil memandang wajah Ali yang ada di hadapannya.


"Terus kenapa?" tanya Ali dengan entengnya.


"Ya gak kenapa-kenapa sih, cuma nanya aja barangkali kamu tau Resti ke mana," jawab Rania dengan senyum lebarnya.


"Gak tau dan gak mau tau," jawab Ali dengan kesal.


"Hehehe... maaf, cuma nanya aja. Jangan marah dong," Rania menggoyang-goyangkan tangan Ali dengan memasang senyum manisnya agar Ali tidak kesal lagi dengannya.


"Gak marah, cuma kesal. Lagian ngapain sih bahas-bahas dia lagi. Aku gak suka meskipun hanya dengar namanya aja," ucap Ali.


Kemudian Ali meletakkan tangannya pada kedua pipi Rania dan menatap intens kedua manik matanya.


Rania pun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Ali.


Keesokan harinya sekolah dihebohkan dengan berita bahwa Resti sudah tidak bersekolah lagi karena dia sedang hamil.


Sontak saja seluruh siswa di sekolah tersebut kaget dan menjadikan berita tersebut menjadi trending topic di sekolah.


Tiba-tiba saja Rania merasa takut karena berita tersebut. Entah mengapa dia merasa seperti akan terjadi sesuatu yang membuatnya bersedih nantinya.


Semua orang membicarakan tentang kehamilan Resti. Dan pastinya mereka mencari tahu tentang kehamilan Resti itu dengan bertanya pada teman-teman dekatnya, bahkan mereka tidak segan-segan bertanya pada beberapa guru BK yang menurut mereka pasti tahu apa yang terjadi dengan Resti.


"Kenapa lemes gitu sih Sayang?" Ali bertanya pada Rania ketika dia menjemput Rania di sekolah.


"Gapapa, cuma ada berita yang gak enak aja di dengarnya," jawab Rania dengan lesu.


"Berita? Berita apa sih yang bikin pacar aku ini jadi lesu kayak gini?" tanya Ali sambil mencubit hidung Rania.

__ADS_1


"Resti," jawab Rania singkat.


"Kenapa lagi dengan dia? Apa dia nyakitin kamu?" tanya Ali dengan nada khawatir.


Rania menggelengkan kepalanya. Namun wajahnya masih saja lesu tidak bergairah.


"Terus, kenapa?" tanya Ali yang masih saja terlihat sangat khawatir pada Rania.


Rania merasakan kekhawatiran Ali padanya sehingga dia bertambah ragu untuk memberitahukan kabar tentang Resti padanya.


"Kok diem sih? Ayo dong ngomong. Aku kan khawatir sama kamu," Ali memaksa Rania agar mau berbicara padanya.


"Sayang... ayo ngomong dong. Ada apa sih sebenarnya?" Ali kembali memaksa Rania.


"Resti, dia udah satu minggu gak masuk dan katanya dia sekarang sedang hamil," jawab Rania dengan suara lirih.


Rania memandang wajah Ali, dia ingin mengetahui bagaimana reaksi Ali ketika mengetahui berita tersebut.


Rania sangat takut jika keadaan Resti saat ini ada hubungannya dengan Ali. Dia tidak meragukan Ali dan memang Ali terbukti sangat setia padanya. Setiap saat Ali pasti menghubunginya sehingga tidak mungkin jika Ali dengan perempuan lain.


Namun, sebelum berpacaran dengannya Ali pernah berhubungan dengan Resti, dan itulah yang membuat Rania menjadi takut dan berpikiran yang tidak-tidak sejak tadi.


Dan sekarang, laki-laki dihadapannya ini hanya tersenyum mendapati berita tersebut. Hal itu membuat Rania menjadi semakin bingung.


"Kok kamu malah senyum-senyum gitu sih Sayang? Kenapa?" Rania bertanya dengan heran pada Ali.


"Lah terus aku harus gimana Sayang? Harus jingkrak-jingkrak gitu dengar Resti hamil?" tanya Ali padanya.


"Bukannya gitu, aku cuma.... aku... aku cuma...," Rania ragu untuk meneruskan ucapannya.


"Kamu kenapa? Kamu takut jika anak itu adalah anak-"


"Cukup! Jangan teruskan lagi. Aku... aku gak sanggup dengernya," Rania berseru menyela perkataan Ali.


"Bukan. Itu bukan aku. Kamu tau sendiri kan pada saat itu dia akhir-akhir ini melakukannya dengan siapa? Dan sebenarnya dia itu sudah sering melakukan itu sejak dia akan menginjak sekolah ini," Ali menjelaskan pada Rania.


"Apa? Yang benar saja," Rania tidak percaya dengan apa yang dibicarakan oleh Ali padanya.

__ADS_1


Kemudian Ali menceritakan kisah Resti di sekolahnya yang lalu dan bagaimana dia bisa dekat dengan Resti. Semua yang diceritakan oleh Ali membuat Rania terkejut dan syok mendengarnya. Dia tidak mengira jika Resti melakukan semua itu dengan alasan yang menurutnya Resti tidak perlu melakukan hal itu.


"Ali, kurang ajar kamu! Kamu harus bertanggung jawab pada putri saya!"


__ADS_2