
Tristan mengajak Ali menjauh dari mejanya. Dengan tatapan penuh tanya dan rasa penasaran, Tristan bertanya pada Ali,
"Apa maksudmu berpacaran dengan Rania?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Ali dengan senyum meremehkan pada Tristan.
"Rania temanku, dan aku tidak akan membiarkanmu mempermainkannya," ucap Tristan yang mendekatkan tubuhnya di depan tubuh Ali seolah menantangnya.
Ali mendorong tubuh Tristan menjauh darinya, kemudian dia berkata,
"Aku benar-benar mencintainya. Aku tidak ada maksud apa-apa selain itu."
"Benarkah?" tanya Tristan dengan wajah penasarannya.
"Apa perlu aku membuktikannya padamu?" tanya Ali dengan tatapan tajamnya pada Tristan.
"Apa aku bisa memegang ucapanmu bahwa kamu akan menjaga Rania? Apa kamu tidak akan merusaknya?" Tristan bertanya pada Ali dengan pertanyaan yang dia ingin tanyakan sedari tadi.
"Apa maksudmu? Aku merusak Rania? Bagaimana mungkin? Aku mencintainya dan aku tidak akan merusaknya," jawab Ali dengan tegas sambil menatap mata Tristan.
"Maksudku kamu tidak akan melakukan itu kepada Rania kan? Seperti kamu melakukannya dengan Resti," ucap Tristan dengan senyum meremehkan pada Ali.
"Asal kamu tau, Resti sudah rusak sebelum denganku," ucap Ali dengan emosi dan pergi meninggalkan Tristan.
Tristan pun berjalan menyusul Ali, dan ketika dia sudah berada di samping Ali dia memperingatkan Ali kembali,
"Pegang ucapanmu itu seperti lelaki sejati. Jika kamu merusak Rania, kami tidak akan mengampunimu," ucap Tristan lirih di samping Aki, kemudian dia berjalan mendahului Ali menuju meja Raline dan Rania.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Raline pada Rania.
"Apa makanannya udah siap?" tiba-tiba saja suara Tristan membuat pembicaraan Raline dan Rania terhenti.
"Udah, kita makan di sini aja gabung sama mereka gapapa kan Tris?" Raline bertanya pada Tristan.
"Dengan senang hati cantik," jawab Tristan yang keceplosan memanggil Raline dengan panggilan 'cantik'.
"Ehemmm... bau-baunya udah ada yang jadian nih," Rania menyindir Raline dan Tristan.
__ADS_1
"Apaan sih, gak ada yang jadian kok. Tristan aja yang suka godain aku," ceplos Raline yang sedang malu-malu.
"Aku kan manggil kamu cantik meniru Mami Papi kamu," Tristan mengelak karena takut jika Raline marah padanya.
Padahal kan aslinya memang cantik, Tristan berkata dalam hatinya untuk menyambung ucapannya tadi.
Tiba-tiba Ali datang bersamaan dengan pelayan yang datang membawa pesanan makanan Ali dan Rania.
Mereka memakan makanan mereka dengan diam, namun Ali selalu melempar senyumnya pada Rania, sehingga Rania menjadi malu dan salah tingkah.
Ali tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Rania. Hingga ada saus yang menempel di ujung bibir Rania pun dia tahu dan segera mengusapnya dengan lembut menggunakan tisu yang tersedia di meja.
Rania kaget mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ali, namun tak bisa dipungkiri jika hatinya sangat senang dan berbunga-bunga.
Raline dan Tristan saling menatap, kemudian mereka berdehem untuk menyadarkan Ali dan Rania.
Sontak saja Rania salah tingkah hingga menumpahkan minumannya yang ada di depannya.
Dengan seketika Ali beranjak dari duduknya dan membantu Rania membersihkan celananya yang karena ketumpahan minumannya.
Raline dan Tristan kembali saling menatap dan mereka berdua tersenyum dan saling mengangguk. Dengan hanya seperti itu mereka berdua percaya pada Ali untuk saat ini, tapi mereka akan tetap menjaga Rania sebagai sahabat mereka, karena mereka tidak ingin Rania menjadi rusak karena berpacaran dengan Ali.
"Ayah?!" seru Raline memanggil Raditya yang baru datang bersama Aldo.
Raline mendekat dengan senyuman bahagianya dia mencium punggung tangan Raditya dan Aldo.
"Kok Ayah tau Raline di sini sih?" tanya Raline pada Raditya.
"Bang Dion tuh ngasih tau," jawab Raditya sambil mengarahkan dagunya ke belakang di mana Aldo sedang berada tidak jauh dari mereka.
"Uncle!" Raline memanggil Dion dan melambaikan tangannya.
"Ya udah nanti pulang bareng Ayah aja ya. Sekarang Ayah mau makan dulu," ucap Raditya yang diangguki oleh Raline.
Rania dan Tristan memandang interaksi antara Raline dan Raditya. Mereka berdua merasa aneh melihat Raditya dan Raline yang seperti bapak dan anak. Berbeda dengan orang-orang yang dipanggil Raline dengan sebutan uncle.
"Kamu jadi pulang bareng aku kan Ra?" tanya Tristan pada Raline.
__ADS_1
"Tristan sorry ya, aku pulang bareng Ayah aja," jawab Raline yang merasa tidak enak pada Tristan.
"Kok gitu Ra? Udah pulangnya kamu-"
"Kakak cantik!" suara yang tidak asing itu membuat semua orang di meja tersebut menoleh.
Yaelah... datang lagi deh pengganggu. Kapan bisa ngantar pulang si Raline? Berduaan aja gak bisa dari tadi, Tristan menggerutu dalam hatinya.
Raline tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya pada Kenshin dan Miyuki. Tenyata di belakang Kenshin dan Miyuki terdapat Aydin dan Kiki yang baru saja menjemput mereka pulang dari sekolah.
Raline mendekat ke arah mereka dan mencium punggung tangan Aydin dan Kiki serta Kiki menciumi wajah Raline seperti biasa.
Mereka semua tetap memperlakukan Raline sepeti dulu waktu kecil agar Raline merasa memiliki orang tua yang utuh meskipun tidak mempunyai Bunda dan dia tidak kekurangan kasih sayang. Bahkan Raline sedari kecil sangat berlimpah kasih sayang.
"Om, Tante," Tristan menyapa mendekati mereka dan bersalaman dengan mereka.
Hal itu membuat Kenshin merasa kesal. Sehingga tangan Raline ditarik oleh Kenshin menuju tempat makan yang mereka gunakan biasanya.
Sedangkan Miyuki melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Tristan dengan tatapan meremehkannya. Kemudian dia menyusul Kenshin dan Raline masuk ke dalam cafe.
"Maaf ya Tristan, mereka memang begitu kalau sudah bersama. Yang lain dianggap gak ada, jadi maklum aja," ucap Kiki yang merasa tidak enak pada Tristan.
"Oh gapapa Tante, saya ngerti kok," Tristan menanggapi permintaan maaf Kiki.
"Ya sudah, kamu selesaikan aja makannya. Kami akan ke dalam dulu, kami juga lapar soalnya," ucap Aydin sambil terkekeh.
"Silahkan Om, Tante," ucap Tristan dengan sopan.
Kemudian Aydin dan Kiki masuk ke dalam cafe dengan tangan Aydin yang melingkar dengan indah di pinggang Kiki seperti biasanya.
Tristan tersenyum melihat Aydin dan Kiki yang menurutnya menjadi orang tua yang menyenangkan bagi anaknya.
Namun seketika Tristan memikirkan hubungan Raline dengan pria yang dipanggil dengan sebutan Ayah oleh Raline, Kenshin dan Miyuki.
Jauh-jauh hari Tristan akan menanyakannya pada Raline, namun dia selalu gagal bertanya karena kelupaan setelah berdua dengan Raline, sehingga apa yang sudah dia persiapkan untuk ditanyakan selalu saja gagal.
Seperti tadi, ketika dia bertanya tentang pacar Raline. Belum juga Raline menjawab, namun ada halangan yang membuat Tristan kembali harus menanyakannya pada Raline di lain kesempatan.
__ADS_1
"Huffttt.. apes... apes.."