Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
227


__ADS_3

Sudah dua hari ayah Resti mencari Putra dan mengintai dua tempat yang telah ditunjukkan oleh Resti padanya. Dalam dua hari itupun ayah Resti tidak melihat Putra ataupun kawan-kawannya datang ke basecamp dan kos-kosan milik Putra.


Sepertinya usahanya sia-sia karena ayah Resti sudah mencari ke sana kemari namun tidak menemukan identitas ataupun alamat tempat tinggal Putra bersama kedua orang tuanya.


Setelah dua hari ini, semangat ayah Resti semakin melemah untuk bisa menemukan Putra dan meminta pertanggung jawabannya untuk menikahi anaknya, Resti.


Resti merasa diambang kehancuran. Sekolahnya sudah tamat. Dia tidak bisa melanjutkan, bahkan dia tidak bisa mengikuti ujian, sehingga dia tidak mempunyai ijazah SMA untuk bekerja ataupun meneruskan kuliah.


Dengan keadaannya saat ini yang hamil di luar nikah dan tanpa laki-laki yang mau bertanggung jawab menikahinya, dia merasa dunianya sudah hancur binasa.


Rasa percaya diri yang selama ini dia pupuk dan sikap angkuhnya kini sudah tidak bisa dia tampakkan.


Hidupnya kini terasa tidak berarti sama sekali. Bahkan kehamilan dan bayi yang ada di dalam kandungannya kini dia rasa hanya sebuah petaka yang telah menghancurkan hidup dan impiannya.


"Bu, Resti mau ke rumah teman Resti sebentar ya Bu," Resti meminta ijin pada ibunya.


"Mau ke mana? Ini sudah hampir maghrib, kamu di rumah saja ya," ibu Resti menghentikan keinginan Resti.


"Resti hanya sebentar saja Bu. Resti cuma ingin mengembalikan buku milik teman Resti. Pasti bukunya diperlukan untuk ujian Bu," Resti mencoba membujuk ibunya.


Ibu Resti memandang Resti, dia mencoba melihat kebohongan dari mata Resti. Namun ibu Resti mengijinkannya meskipun mengetahui jika Resti berbohong. Dia juga melihat kesedihan dalam mata anaknya itu.


Ibu Resti hanya ingin memberikan Resti kesempatan untuk keluar rumah sebelum perutnya semakin membesar seiring usia kehamilannya.


"Ya sudah, tapi pulangnya jangan malam-malam ya. Dan Ibu tidak mau kamu pulang di atas jam sembilan," ucap ibu Resti sambil tersenyum untuk memberikan ketenangan pada putrinya itu.


Resti pun mengangguk dan memberikan senyum manisnya untuk ibunya sebelum dia mencium tangan ibunya untuk berpamitan.


Ibu Resti menatap punggung Resti yang semakin menjauh. Punggung itu, punggung anak yang selama ini dia rawat, namun dia merasa gagal untuk mendidiknya sejalan dengan bertambahnya usianya.

__ADS_1


Resti si anak yang sudah merasa dirinya bisa menjaga dan mengurus semua tentang hidupnya kini menuai sendiri hasil dari perbuatannya.


Si ibu yang selalu sedih melihat keadaan putrinya itu hanya bisa menerima semuanya dengan lapang dada dan mendoakan yang terbaik untuknya.


Di perjalanannya untuk bisa ke jalan raya, Resti harus berjalan melewati pemukiman warga. Di sepanjang jalan dia mendengar kasak-kusuk warga yang menggunjingnya, mencemoohnya dan menjelek-jelekkan dirinya dan keluarganya.


"Eh itu ya yang namanya Resti? Yang lagi hamil gak ada bapaknya."


"Gak ada yang mau tanggung jawab. Dia murahan sih."


"Maksudnya gonta-ganti pasangan gitu?"


"Katanya sih gitu. Lakinya yang katanya bapak dari bayi yang ada dalam kandungan dia tuh gak mau mengakui."


"Wah, kasihan anaknya dong."


"Lah siapa yang mau bertanggung jawab Bu kalau mereka saja tidak yakin jika anak itu anak mereka."


"Gak tau lah, gak jelas. Yang jelas itu lakinya bilang kalau dia gak mau tanggung jawab karena si Resti itu sering berhubungan gituan sama banyak laki."


"Mangkanya Resti sama keluarganya cari aman. Mereka menuduh Ali yang menghamili biar Ali yang tanggung jawab menikahi Resti."


"Enak amat. Kasihan kan si Ali dijadikan kambing hitam. Padahal pacar Ali tuh cantik banget Bu, kaya lagi. Waktu kapan hari rame-rame itu dia datang ke rumah Ali. Jauh banget sama si Resti yang tampangnya aja pasaran dan keluarganya biasa aja. Mimpi banget bisa jadi istri Ali biar jadi bagian dari keluarga juragan tanah."


Tawa mereka hadir setelah mereka membicarakan Resti dan keluarganya. Telinga Resti masih bisa mendengar meskipun dia mencoba untuk tidak mau mendengar suara yang ada di sekitarnya.


Dia sangat menyesal melewati jalan tersebut. Namun tidak ada jalan lain untuk bisa dia lewati selain jalan tersebut.


Akan ku sumpal mulut mereka ketika aku sudah berhasil mendapatkan Putra. Dan akan ku permalukan mereka ketika aku dan Putra menikah nanti. Lihat saja. Aku bersumpah, Resti berkata dalam hatinya dengan kesal dan amarah yang meluap-luap.

__ADS_1


Kini Resti sudah berada di salam angkutan umum. Dia akan mencari Putra di semua tempat yang selama ini meraka kunjungi selain basecamp dan kos-kosan.


Resti mengingat-ingat tempat mana saja yang sudah dia pernah kunjungi bersama dengan Putra.


Rumah kedua orang tua Putra tidak diketahui oleh Resti. Seperti keinginan Putra bahwa dia ingin bebas dari kekangan, tak terkecuali kekangan dan peraturan dari kedua orang tuanya.


Langkah kaki Resti kini melemah. Dia sangat lelah mencari tahu di mana tempat Putra kini berada. Semua tempat yang diketahuinya sudah dia datangi dan semuanya tidak mendapatkan hasil.


Resti duduk merenung di sebuah kursi yang terdapat di tepi jalan. Tidak disangkanya dia melihat Putra yang sedang mengendarai motornya bersama geng motornya sedang berhenti karena lampu yang berwarna merah di seberang jalan tempat Resti duduk saat ini.


Dengan segera Resti menghentikan tukang ojek yang kebetulan telah menurunkan penumpangnya di dekat Resti berdiri saat ini.


"Bang, ikuti motor itu," ucap Resti sambil menunjuk motor yang dikendarai oleh Putra.


Tukang ojek yang tidak tahu apa-apa pun mengikuti perintah dari Resti. Meskipun tidak dapat menyalip atau menjejeri motor Putra, tapi tukang ojek tersebut berhasil mengikuti Putra dan geng motornya yang sedang berhenti di sebuah rumah kecil di daerah yang agak jauh dari rumah tetangga lainnya karena rumah tersebut dikelilingi oleh kebun jagung.


"Putra!" Resti berseru di depan pintu.


Putra dan kawan-kawannya yang saat ini sedang meminum minuman keras di ruang tamu itu kaget melihat sosok Resti berdiri di tengah-tengah pintu rumah mereka.


"Hei Resti, bagaimana kabarmu?" ucap Putra yang sedang mabuk.


"Buruk! Kenapa kamu tidak datang untuk melamarku padahal waktu itu kamu sudah berjanji padaku dan kedua orang tuaku?" Resti berkata dengan suara yang sedikit tersendat karena sedih mengatakan kemalangan dirinya pada hari itu.


"Kamu udah tau kan aku gak suka dikekang. Diatur aja gak mau malah disuruh nikah. Gila kamu ya?" ucapan Putra itu disambut tawa para anggota geng motor lainnya yang ada di situ.


Hati Resti semakin sakit dan terhina. Dia tidak peduli apapun lagi. Kini waktunya dia membuktikan janjinya pada dirinya sendiri ketika mendengar hinaan dari warga sekitar rumahnya.


Resti berjalan mendekat ke arah Putra dan menarik tangan Putra. Tentu saja Putra memberontak dengan tubuhnya yang sudah mabuk itu.

__ADS_1


"Resti!" teriak ibu Resti ketika tertidur di kursi ruang tamu menunggu kedatangan Resti.


__ADS_2