
"Ayo kita pulang!"
Ken menyambar tangan Raline dan menariknya agar mengikutinya masuk ke dalam mobilnya.
"Hei tunggu! Apa maksudmu menarik-narik tangan Raline?" tanya Tristan dengan memegang tangan Kenshin untuk melepaskan tangan Raline yang dipegang oleh Kenshin.
"Apa pedulimu?"
Kenshin menatap bengis pada Tristan yang kini sedang berhadapan dengannya.
"Dia calon istriku dan aku peduli padanya!" ucap Tristan dengan tegas dan membalas tatapan mata Kenshin dengan tajam.
"Calon istri? Mimpi!"
Ken terkekeh mendengar ucapan Tristan dan dengan segera dia meraih pundak Raline dan diajaknya berjalan menuju mobilnya.
Tristan masih saja tidak terima, dia mengejar dan Raline. Dipegangnya tangan Raline bermaksud untuk memisahkannya dari Kenshin.
"Aww!"
Raline mengeluh kesakitan karena tangannya ditarik dengan tenaga yang tidak dikontrol oleh Tristan.
Kenshin pun menoleh dan dia menampakkan kembali wajah bengisnya pada Tristan.
"Lepas! Atau ku beri kau pelajaran!"
Kenshin memberikan peringatan dengan tegas pada Tristan. Namun Tristan tidak pernah gentar, dia membalas tatapan Kenshin seolah menantangnya.
"Tristan, lepaskan tanganku. Aku akan pulang bersama dengan Ken," ucap Raline pada Tristan.
Apa ini? Kenapa Raline lebih memilih si anak sombong ini? Kenapa dia tidak memilihku? Apa karena hubungan persaudaraan mereka? Atau mungkin dia belum tau tentang perjodohan ini? Ahh... benar, aku rasa dia belum tau jika kami dijodohkan. Lihat saja tadi ekspresinya seperti bingung gitu saat aku bilang padanya dia adalah calon istriku.
Tristan melepaskan tangan Raline seraya berkata dalam hatinya. Dia bertanya-tanya tentang semua kemungkinan yang terjadi saat ini.
Tristan kini hanya bisa melihat punggung Raline yang telah berjalan menjauh darinya dengan pundaknya yang dirangkul oleh Kenshin.
"Ken kok udah ada disini? Udah lama? Aku kan belum menghubungi kamu."
Raline memberikan Kenshin banyak pertanyaan agar dia tidak marah padanya.
"Aku tiba beberapa menit yang lalu, saat kamu menghubungiku," jawab Kenshin dengan datar.
__ADS_1
"Menghubungi? Kapan? Perasaan aku tadi belum menghubungi kamu. Ya memang sih tadi aku akan menghubungimu, tapi saat itu aku dikagetkan oleh Tristan, jadi lupa deh mau menghubungimu," ucap Raline dengan menampakkan senyum lebarnya.
"Mungkin tombolnya gak sengaja terpencet jari kamu," tukas Kenshin seraya memulai mengendarai mobilnya.
Tentu saja Raline sangat kaget, dan dia mulai mengambil ponselnya untuk melihat riwayat panggilannya. Seketika raut wajahnya berubah. Raline meringis dan memukuli kepalanya sendiri karena merasa bodoh dengan apa yang dia lakukan.
Bisa-bisanya aku seperti itu. Kan malu.... ini lagi, kenapa jariku bisa kepleset mencet tombol telepon sih? OMG... pantas aja Ken langsung masuk menemuiku.
Raline merutuki kebodohannya dalam hatinya. Diam-diam dia melirik ke arah Kenshin yang ternyata sedang tersenyum lebar. Sepertinya dia melihat apa yang dilakukan oleh Raline sejak tadi.
Ken nyebelin banget sih, lagi nyetir masih aja bisa ngelirik ke samping. Pakai senyum-senyum gitu lagi. Pasti dia lagi ngetawain aku deh. Nyebeliiiiiiin.........
Lagi-lagi Raline menggerutu dalam hatinya dan bibirnya kembali maju ketika sedang kesal seperti biasanya.
Seketika Raline kaget mendapati tangan Kenshin yang sudah berada di mulutnya. Tangan Kenshin menjapit bibir bawah dan bibir atas Raline menjadi satu sehingga bertambah maju seperti bebek.
Raline yang tidak terima diperlakukan seperti itu, dia membalas Kenshin dengan menjewer telinga Kenshin yang dekat dengannya.
"Lepasin cantik, aku lagi nyetir nih," ucap Kenshin sambil menahan rasa panas pada telinganya.
Raline pun menurut dan dia segera melepaskan tangannya dari telinga Kenshin karena sebenarnya dia reflek saja menjewer telinga Kenshin tanpa sadar jika Kenshin sedang mengemudikan mobil yang mereka tumpangi.
"Maaf, kamu sih Ken kebiasaan gituin mulut aku. Kan jadinya aku reflek jewer telinga kamu. Habisnya yang ada di depan mataku telinga kamu yang ini sih," ucap Raline sambil terkekeh melihat telinga Kenshin yang sudah mulai memerah.
"Gak sengaja Ken. Aku lupa kalau kamu lagi nyetir. Kalau sadar kamu lagi nyetir, gak bakalan deh aku bales langsung sekarang. Pasti balasnya nanti," tukas Raline yang terkekeh kembali.
Seketika Kenshin tersenyum. Inilah yang dia suka jika bersama dengan Raline. Pasti ada saja keseruan diantara mereka.
Tangan kiri Kenshin meraih pundak Raline dan membawanya pada pelukannya dengan tangan kanan yang masih memegang kemudi. Diusapnya secara perlahan rambut Raline yang kini berada dalam pelukannya.
Deg!
Kenapa ini? Kenapa dadaku jadi berdebar gini? Tapi.... hatiku sangat senang dipeluk seperti ini sama Ken. Nyaman, sangat nyaman sekali rasanya.
Raline berkata dalam hatinya sambil memejamkan matanya untuk merasakan kenyamanan yang lebih untuk sekarang ini.
"Bangun cantik. Kalau mau dipeluk sambil tidur, lebih baik kita nikah saja biar bisa pelukan sambil tidur," ucap Kenshin sambil terkekeh.
Ucapan Kenshin itu membuat mata Raline seketika terbuka. Dia sangat malu kedapatan sangat menikmatinya.
Bodoh... bodoh... bodoh....!!! Raline... Raline... sejak kapan sih kamu sebodoh ini? Kenshin jauh lebih muda dari kamu, tapi bisa-bisanya kamu selalu berbuat bodoh di depannya. Lagian Kenshin itu kenapa sih? Kenapa dia bisa mengobrak-abrik hati aku? Jadi terlihat bodoh banget kan aku.
__ADS_1
"Kenapa? Lagi bayangin kita nikah ya?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Kenshin itu membuat Raline tersadar kembali.
Dengan segera Raline menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Kenshin padanya. Melihat reaksi Raline yang seperti itu, sontak saja membuat Kenshin tertawa lebar.
Sepertinya dia sangat puas sekali menertawakan aku. Awas aja Ken nanti. Tunggu aja pembalasanku!
Raline menatap Kenshin dengan kesal dan mengancam Kenshin dalam hatinya.
Tanpa sadar karena terlalu lama menatap Kenshin sambil berkata dalam hatinya, kini mobil Kenshin sudah masuk ke dalam rumah dengan halaman yang sangat luas dengan taman bunga yang mekar berwarna-warni menambah keindahan taman tersebut.
"Ken, ini rumah siapa?"
Raline bertanya dengan matanya yang masih memandang takjub ke sekeliling halaman rumah tersebut.
Kenshin tersenyum, dan dia menggandeng tangan Raline mengajaknya untuk mendekat ke taman bungan yang sangat luas dan indah itu.
"Waaaah... indah sekali," ucap Raline yang semakin takjub ketika mendekati taman bunga tersebut.
"Kamu suka?" tanya Kenshin pada Raline yang masih memperhatikan bunga-bunga tersebut satu persatu.
Raline mengangguk dengan cepat, kemudian dia menjawab pertanyaan Kenshin.
"Banget."
"Kalau begitu mulai sekarang kamu aja yang merawatnya," ucap Kenshin dengan entengnya.
"Hah? Aku? Kok bisa? Ini punya siapa?"
Raline memberikan pertanyaan beruntut pada Kenshin karena kaget mendengar saat Kenshin menyuruhnya untuk merawat bunga-bunga yang sangat indah di lahan yang begitu luas itu.
"Iya. Kamu yang akan merawatnya mulai sekarang," jawab Kenshin.
Raline hanya diam menatap Kenshin untuk mengetahui kelanjutannya.
"Yang mempunyai ide membuat taman ini adalah Mami," ucap Kenshin kembali.
Raline membelalakkan matanya, karena dia teringat pada saat melihat foto-foto Kiki yang berada di luar negeri di tengah-tengah taman bunga yang sangat indah berwarna-warni, dan Raline mengatakan jika dia ingin memiliki taman bunga seperti itu.
Kenshin melihat Raline yang tampak kaget dan sepertinya sedang berpikir, setelah itu dia berkata pada Raline untuk menyadarkannya.
__ADS_1
"Dan anggap aja kamu tukang kebunnya yang bertugas merawat bunga-bunga ini."
"Apa?!"