Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
173


__ADS_3

Tak terasa hari sudah sangat malam. Aydin dan Kiki benar-benar menikmati malam berdua mereka tanpa hadirnya anak-anak mereka.


"Sayang udah malam, yuk pulang, rasanya kangen juga dengan kehebohan Tuan muda dan Princess manis kita," ucap Kiki sambil terkekeh.


"Iya ya Sayang, udah lama kita gak berduaan kayak gini seharian, jadi aneh kalau tanpa mereka berdua," jawab Aydin yang juga terkekeh menerawang kejahilan dan kehebohan dari kedua anaknya.


"Kira-kira mereka sedang apa ya Sayang? Ayah dan Bunda bisa ngatasin mereka gak ya?" kini Kiki merasa bersalah pada mertuanya, namun dia mengucapkannya sambil terkekeh karena membayangkan Ayah dan Bunda kerepotan mengatasi kedua anaknya yang sangat amazing itu.


"Coba tanya aja sama Bunda. Sebentar, aku bayar dulu ya. Sayang mau di sini aja atau ikut sekalian?" ucap Aydin yang sudah berdiri siap membayar ke kasir.


"Ikut aja deh Pi sekalian pulang," ucap Kiki sembari berdiri.


Aydin pun menggandeng istrinya dengan sangat mesra, seperti biasanya tangannya melingkar erat di pinggang istrinya hingga membuat banyak pasang mata merasa iri dan baper melihat keromantisan mereka berdua.


"Berapa Mbak?" Aydin bertanya pada kasir.


Kasir wanita tersebut sempat tertegun melihat ketampanan Aydin yang mencerminkan kedewasaan namun tetap berkharisma.


"Mbak, berapa ya totalnya pesanan kami di meja itu," kini Kiki yang bertanya pada kasir tersebut dengan menunjuk meja mereka yang berada di pojok.


Seketika kasir yang tertegun tadi sadar setelah mendengar suara Kiki. Dan dengan kikuk dia melihat meja yang ditunjuk oleh Kiki tadi.


"Orang tuanya Raline ya?" tanya kasir tersebut setelah melihat meja yang ditunjuk oleh Kiki tadi.


"Iya, kenapa Mbak?" jawab Kiki yang sekaligus bertanya pada kasir tersebut.


"Kata Mas Tristan gak usah bayar. Semuanya free untuk orang tuanya Raline," jawab kasir tersebut menirukan perkataan Tristan.


Aydin dan Kiki saling menatap, mereka kaget dan bingung mendengarnya. Dan mereka merasa sungkan pada Tristan yang menjamu mereka dengan banyak makanan di cafenya.


"Tristan nya ke mana Mbak? Apa kita bisa bertemu dengan Tristan?" lagi-lagi Kiki bertanya pada kasir tersebut.

__ADS_1


"Sudah pulang Bu. Tadi sebelum pulang Mas Tristan berpesan pada kita untuk tidak memperbolehkan Bapak dan Ibu membayar tagihannya," kasir tersebut menjawab pertanyaan Kiki.


Akhirnya Kiki dan Aydin pulang dari cafe tersebut tanpa bertemu dan tanpa mengucapkan terima kasih pada Tristan.


Ketika mereka sudah berada di dalam mobil, hujan pun turun dengan lebatnya. Padahal mereka masih berada di parkiran mobil dan belum menyalakan mesinnya, namun hujan yang turun seolah menyuruh mereka untuk berdiam di sana karena hujannya sangat lebat disertai angin yang kencang.


"Sayang, gimana ini, hujannya sangat lebat dan anginnya menyeramkan," ucap Aydin yang masih melihat keadaan sekitar melalui kaca jendela mobilnya.


"Sayang, apa gak sebaiknya kita di sini aja dulu. Aku gak mau ambil resiko. Dan kamu juga baru aja pulih," Kiki berkata dengan resah.


"Ya sudah kita tunggu dulu sampai hujan reda, dan sebaiknya kita hubungi Ayah dan Bunda agar mereka tenang," Aydin menyampaikan keputusannya.


Kiki mengangguk setuju dan dia menghubungi Bunda, namun mata Kiki membelalak sempurna ketika Bunda mengalihkan panggilan Kiki menjadi panggilan video dan dilayar itu Kiki dan Aydin melihat Kenshin dan Miyuki yang memeluk Raditya dan Raline dengan menempelkan serbuk tepung pada wajah dan baju Raditya dan Raline.


Aydin dan Kiki tertawa melihatnya, mereka tenang karena Kenshin dan Miyuki bisa teratasi jika ada bersama Raline dan Raditya. Dan mereka mengabarkan pada Bunda suasana di tempatnya saat ini sehingga Aydin dan Kiki kemungkinan akan pulang telat nantinya.


Di luar prediksi Aydin dan Kiki. Ayah malah menyuruh Aydin dan Kiki untuk menginap di sana sehingga tidak terburu-buru untuk pulang karena cuacanya terlalu meresahkan.


"Ya udah yuk Sayang kita cari hotel atau penginapan yang dekat dari sini aja," ucap Aydin yang dengan seketika diangguki oleh Kiki.


Aydin melajukan mobilnya dengan pelan dan sangat hati-hati. Mereka bertanya pada penjaga yang ada di sana, dan kebetulan sekali mereka akan berjalan ke arah penginapan yang terdekat, karena tidak ada hotel di sekitar tempat itu.


Aydin dan Kiki pun terpaksa berjalan kaki mengikuti penjaga tersebut karena penginapan yang mereka tuju hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki.


"Sayang, ini salah satu momen romantis kita. Aku sukaaaaaaa sekali," ucap Kiki sambil berjalan dibawah hujan dengan satu payung berdua dengan Aydin.


"Ah iya aku baru ingat, seperti di drama-drama kan," ucap Aydin sambil terkekeh.


"Iya benar sekali suamiku.... Yang kurang hanya digendong aja kayak biasanya," ucap Kiki dengan tersenyum dan menaik turunkan alisnya.


"Nanti ya Sayang, ini jalannya licin, takut kepleset malah gak jadi romantis nanti," jawab Aydin sambil terkekeh.

__ADS_1


"Gini aja deh," ucap Kiki seraya menempelkan dengan erat tubuhnya pada tubuh Aydin sehingga tidak ada jarak pada tubuh mereka dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Aydin.


Aydin terkekeh senang dengan sikap Kiki yang manja padanya. Mereka mengacuhkan penjaga yang berada di depannya sedang berjalan menunjukkan jalan untuk mereka berdua.


Sesampainya mereka di dalam penginapan tersebut, mereka langsung berganti pakaian dengan pakaian yang mereka beli di penginapan tersebut.


Dengan telatennya Aydin mengeringkan rambut Kiki setelah mereka membersihkan diri bersama tadi. Jari-jari Aydin tidak sengaja menyentuh leher Kiki sehingga membuat tubuh Kiki meremang. Di cuaca yang dingin seperti itu setelah mereka mandi bersama, sentuhan Aydin di tempat yang sensitif pada tubuh Kiki membuat Kiki menginginkan hal yang lebih.


Dengan seketika tubuh Kiki sudah berada di atas Aydin. Tanpa mengatakannya pun Aydin tau maksud dari istrinya itu. Aydin tersenyum dan berkata,


"I want you!"


Kiki pun tersenyum karena Aydin mengetahui keinginannya. Mulailah Kiki memperlakukan Aydin seperti Aydin memperlakukannya ketika mereka sedang melakukan hal itu. Sentuhan-sentuhan Kiki yang dilakukan oleh tangan dan mulutnya membuat Aydin semakin terbuai, dia senang karena hari ini Kiki benar-benar membahagiakannya.


Aydin pun ingin melakukan hal yang sama, dia ingin membahagiakan istrinya walaupun hanya dengan kegiatannya sekarang ini. Kini Aydin mengambil alih kegiatan mereka. Dan dia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Kiki padanya.


Gayung pun bersambut, Kiki dan Aydin sama-sama tidak mau kalah, mereka saling menyenangkan bergantian, hingga ada dering dari ponsel mereka bergantian menginterupsi kegiatan mereka.


"Siapa sih ganggu aja," ucap Aydin yang masih dalam posisinya sekarang ini.


"Lah tuh gantian bunyinya sama punya Papi. Siapa ya Pi?" ucap Kiki yang sedikit lirih menahan rasa yang masih tertahan karena kegiatan mereka.


"Udah biarin aja Sayang, tanggung nih," ucap Aydin yang tidak mau diganggu siapapun.


Kemudian mereka kembali melakukan kegiatannya. Namun beberapa menit kemudian, ponsel mereka berdua berbunyi bersamaan. Aydin dan Kiki yang masih dalam posisi penyatuan mereka merasa terganggu karena bunyi ponsel mereka tidak henti-hentinya berbunyi. Dengan berat hati mereka mengangkat ponsel mereka.


"Halo...," ucap Kiki setelah mengangkat teleponnya.


"Mami... Mami kenapa kok ngos-ngosan gitu? Habis lari-lari ya?" suara Miyuki membuat Kiki dan Aydin melotot sempurna karena suara Miyuki yang terdengar sangat nyaring meskipun tanpa loudspeaker yang diaktifkan.


"Halo... Papi, apa Papi juga lari-larian sama Mami?" suara Kenshin yang keluar dari ponsel Aydin pun membuat Aydin dan Kiki saling menatap kemudian mereka tertawa karena sepertinya kedua anak mereka tidak menginginkan kehadiran seorang adik karena mereka selalu menggangu jika kedua orang tuanya sedang proses berkembang biak di mana pun mereka berada.

__ADS_1


__ADS_2