
Aydin iba melihat keadaan anak sulungnya. Dia tidak mengharapkan hal seperti itu terjadi.
Sedangkan Kenshin berpura-pura tidak mengetahui jika Papinya ada di luar kamarnya sedang memperhatikannya.
Kiki yang mengetahui kepura-puraan mereka berdua ikut masuk dalam skenario mereka. Kiki mengikuti dirinya sendiri dan tidak memihak siapapun. Dia sebagai jembatan diantara ayah dan anak itu.
"Udah Mi makannya, Ken mau tidur lagi," ucapnya sambil kembali tiduran menghadap lain arah, memunggungi pintu agar tidak terlihat oleh Aydin.
Kiki pun menuruti permintaan Kenshin. Dia menghentikan suapannya meskipun hanya beberapa sendok saja yang telah dimakan oleh Kenshin.
Selimut Kenshin dipasangkan hingga ke leher, setelah itu Kiki keluar dari kamar tersebut dan mengacuhkan Aydin yang berdiri di depan pintu kamar Kenshin.
"Gimana keadaan Ken Mi?" tanya Aydin seiring langkahnya mensejajari langkah kaki Kiki.
"Kenapa gak masuk aja Pi kalau pengen tau keadaan anaknya?" bukannya menjawab pertanyaan Aydin, Kiki malah bertanya balik pada suaminya itu.
"Kata Mami kalau Ken tau Papi di sini dia bakalan pergi dari sini. Ya udah Papi lihatnya dari pintu aja," jawab Aydin kemudian.
"Papi pikir Ken gak tau kalau Papi ada disitu?" tanya Kiki sambil tersenyum mengejek Aydin.
"Jadi Ken tau Papi ada disitu?"
Aydin bertanya dengan mengulangi apa yang dikatakan oleh istrinya.
Kiki tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan kembali meneruskan langkahnya menuju meja makan.
Duduklah Kiki di salah satu kursi di meja makan tersebut. Tangannya bergerak lincah menggunakan ponselnya.
Aydin yang melihat itu merasa terganggu. Kemudian dia berkata,
"Telepon siapa Mi?" tanya Aydin ketika mengetahui Kiki sedang sibuk menelepon menggunakan ponselnya.
Kiki mengalihkan perhatiannya dari ponselnya. Kemudian dia tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya.
"Se-ling-ku-han," ucapnya sambil menekankan setiap suku katanya.
Seketika wajah Aydin membeku. Dia menatap intens mata istrinya dan berkata,
"Mi, serius?"
Hanya satu kata itu namun aura kemarahan Aydin terasa sekali bagi Kiki.
Kiki pun tidak mau mengambil resiko. Dia memberikan ponselnya pada tangan Aydin.
Aydin pun segera memeriksa ponsel istrinya itu, bahkan chat tersebut belum juga ditutup oleh Kiki.
Seketika bibir Aydin melengkung ke atas. Dia menertawakan dirinya sendiri yang terlalu cemburu pada istrinya.
__ADS_1
"Miyuki?" tanya Aydin pada Kiki seraya meletakkan ponsel istrinya itu di atas meja.
Kiki mengangguk dan mengambil ponselnya, kemudian dia kembali mangutak-atik ponselnya itu.
"Princess kecil kita?" tanya Aydin kembali yang merasa diabaikan olen Kiki.
"Iya Papi......," jawab Kiki sambil memandang suaminya yang seolah meminta perhatiannya.
Aydin tersenyum dan menjapit hidung Kiki seperti kebiasaan ketika gemas dengan istrinya itu.
Kiki pun segera melepas tangan Aydin dan bertanya padanya.
"Itu sekolahnya Ken gimana? Dia bakalan seperti itu terus jika gak ada obatnya," ucap Kiki dengan kesal.
"Lah masa' Mami gak punya obatnya sih?" tanya Aydin dengan memperlihatkan wajah herannya.
"Obat yang Mami maksud itu beda Pi. Bukan obat yang itu," Kiki berkata ketus pada suaminya.
Rasanya dia ingin memberi pelajaran lagi pada suaminya, namun dia merasa kasihan padanya.
Keinginan Kiki sangat sederhana, dia ingin suaminya itu merestui hubungan Kenshin dengan Raline agar tidak ada lagi hal-hal seperti itu.
Menurut Kiki jika Aydin merestui hubungan mereka, semua akan tenang dan baik-baik saja. Untuk masalah menikah bisa diatur nanti. Itu keinginan dari Kiki yang sebenarnya.
Namun dia menjadi kesal karena suaminya itu malah melarang hubungan mereka. Dan kini hubungan mereka tidak seperti biasanya. Raditya dan Raline kini menjauh dari mereka.
"Ini semua gara-gara Papi. Lihat, Raline dan ayahnya menjauh dari kita. Sepertinya mereka terhina dengan penolakan Papi," ucap Kiki yang berniat melebih-lebihkan agar suaminya itu merasa bersalah dan merubah keputusannya.
"Mami.... Papi.... Princess datang....!"
Suara teriakan cempreng dari Miyuki membuat Aydin berhenti berbicara.
Aydin dan Kiki tidak lagi membicarakan tentang Kenshin dan Raline karena kedatangan putri mereka.
"Kak Ken mana Mi?" tanya Miyuki setelah mencium pipi Mami dan Papinya.
"Lagi sakit di kamarnya," jawab Kiki sambil meraih cangkir teh untuk diminumnya.
"Sakit yang kemarin Mi?" tanya Miyuki kembali.
Kiki pun mengangguk dan meminum kembali minumannya
"Kok bisa sih? Bukannya sudah sembuh setelah Kakak cantik datang ke rumah ya?" Miyuki kembali bertanya dengan memperlihatkan wajah bingungnya.
Kiki menatap suaminya dengan tatapan kesal dan menjawab pertanyaan Miyuki,
"Tanyakan saja sama Papimu."
__ADS_1
Miyuki bingung karena tidak biasanya Maminya berkata seperti itu pada Papinya.
"Sebenarnya ada apa sih ini Pi?" tanya Miyuki pada Aydin.
"Sudah, sebaiknya kamu berangkat sekolah saja sekarang," jawab Aydin sambil merangkul pundak Miyuki dan membalikkan badannya untuk mengantarkannya ke sekolah.
"Eh Pi tunggu, Yuki belum pamit sama Mami," ucapnya seraya menghentikan kakinya dan melepaskan tangan Papinya yang bertengger di pundaknya, kemudian dia berlari untuk berpamitan pada Maminya.
"Gak sarapan dulu sayang?" tanya Kiki pada Miyuki ketika berpamitan padanya.
"Yuki ke sini kan mau sarapan sama Mami Papi dan Kak Ken," jawab Miyuki dengan wajah yang cemberut.
"Sarapan di sekolah aja. Ini Papi kasih uang saku tiga kali lipat," sahut Aydin sambil memberikan uang seratus ribuan sebanyak enam lembar.
"Yes! Mi, Yuki berangkat dulu ya," ucap Miyuki sambil bersorak kegirangan.
Kiki hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat putri kesayangannya itu bertingkah seperti dirinya waktu dulu.
"Mi, Papi antar princess kecil dulu ya," ucap Aydin dari tempatnya berdiri saat itu.
Kiki hanya menganggukkan kepalanya, tanpa melihat ke arah suaminya.
Melihat istrinya seperti itu, Aydin melangkahkan kakinya dengan lebar ke arah istrinya. Dengan cepatnya dia mencium kedua pipi istrinya itu dan berbisik di telinganya,
"Papi akan kembali. Tunggu Papi dan kita akan membicarakan masalah ini."
Setelah itu Aydin segera menyusul Miyuki yang sudah berada di luar menunggu dirinya.
Sesampainya di sekolah, Miyuki segera menuju kantin, namun pandangan matanya terarah pada seseorang yang berjalan melewatinya dengan menundukkan kepalanya dan terlihat tidak bersemangat.
"Kakak cantik!"
Miyuki berseru memanggil Raline dan berlari menghampirinya.
Raline yang masih sangat lemas dan tidak bersemangat berjalan terus tanpa mendengarkan Miyuki yang sedang memanggilnya.
"Kak, Kakak cantik kenapa diam aja sih? Gak suka ya dipanggil sama Yuki?"
Miyuki yang tiba-tiba sudah ada di sebelah Raline memberondong Raline dengan beberapa pertanyaan dengan kesalnya.
"Eh Yuki, maaf Kakak gak dengar," ucap Raline dengan senyum paksanya.
"Kakak kenapa? Kakak sakit? Kak Ken juga sakit. Semalam aja Mami sama Papi sampai datang ke rumah Kak Ken gara-gara dapat telepon dari Bik Ratmi," ucap Miyuki.
"Apa? Ken sakit? Di rumahnya? Di mana? Kok bisa?"
Kini giliran Miyuki yang diberondong dengan banyak pertanyaan dari Raline.
__ADS_1
"Iya, Kak Ken-"
"Di mana?"