
Di dalam mobil sepanjang perjalanan, Raditya dan Linda hanya ada keheningan. Mereka saling berdiam diri. Raditya merasa sangat marah dengan istrinya, namun dia juga merasa frustasi, bingung harus bagaimana. Sedangkan Linda tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelah ini. Sesampai di rumah, Raditya turun terlebih dahulu dan langsung menuju gazebo belakang, tempat favoritnya bersama teman - temannya jika berada di rumahnya, dia ingin menenangkan dirinya di tempat itu, rasanya lebih tenang karena mendengar suara gemericik air yang berasal dari kolam ikan hias, suara kicauan burung yang dipelihara oleh Abah, dan juga hembusan angin segar dari tanaman rindang di sana, serta bau harum yang menyeruak dari beberapa aneka bunga hias yang berada di sana.
Linda hanya terdiam di dalam mobil meskipun Raditya sudah keluar dari sana. Selang beberapa menit, ketika Raditya sudah tidak terlihat lagi, Linda baru keluar dari mobil. Dia berpapasan dengan Renita ketika hendak masuk dalam kamarnya. Renita yang masih menggendong baby Raline menatap datar kakak iparnya itu, dia ingin sekali memperlakukan kakak iparnya itu dengan sinis, namun dia masih belum tahu cerita dari Raditya dan Kiki, jadi dia hanya bisa mengacuhkan Linda saja untuk saat ini. Linda tersenyum pada baby Raline dan Renita, kemudian dia mengulurkan tangannya pada baby Raline, namun Renita seolah tidak tahu, dia berbalik dan mengajak baby Raline pergi. Linda bingung dengan perubahan sikap Renita, dia tidak berpikir jika Renita sudah tahu semuanya, karena baru saja itu terjadi, dan bisa dipastikan jika Raditya belum bertemu dengan Renita. Namun segera ditepisnya pikirannya itu, segera dia masuk ke dalam kamar dan mencuci mukanya untuk menghilangkan jejak tangisnya serta mengganti bajunya.
Renita turun ke bawah dengan menggendong baby Raline, matanya mengedar mencari sosok kakaknya, dia berjalan ke dapur dan dilihatnya kakaknya itu sedang duduk termenung di gazebo, tampaknya sedang diam memikirkan sesuatu.
"A'...", Renita memegang pundak kakaknya. Raditya menoleh dan tersenyum getir. Diberikannya baby Raline pada kakaknya, berharap bisa mengobati keruwetan di kepala Raditya saat ini. Raditya memangku baby Raline dan menciumi wajah anak itu. Baby Raline terkekeh dan menggeliat kegelian mendapati ciuman yang bertubi - tubi di wajahnya.
Renita duduk di sebelah Raditya, "Aa' gapapa kan?" Renita menghadap Raditya dan Raditya pun menoleh mendengar pertanyaan dari adiknya itu. Raditya hanya kembali menyunggingkan senyuman getirnya. Ingin sekali dia bercerita pada Renita, namun rasanya tidak ada tenaga untuk saat ini bercerita pada siapa pun. Dia muak dengan kejadian hari ini, belum selesai masalahnya dengan Dinda, kini ditambah lagi masalahnya dengan Linda, istrinya sendiri. Rasanya enggan sekali dia membicarakan semuanya, karena baginya semuanya menjadi hal buruk yang ingin dia tinggalkan.
"Aku ngerti A' , mungkin sekarang Aa' enggan membicarakannya. Nanti jika Aa' udah mau bicara, aku siap mendengarkan semuanya. Dan aku harap keputusan Aa' nantinya masih mempertimbangkan anak Aa'. Dia tidak bersalah A', dia masih teramat kecil untuk menerima akibat dari keegoisan orang tuanya. Aku hanya bisa berharap untuk saat ini Aa' bisa bicarakan kembali baik - baik dengan istri Aa' dan ingat A', apapun keputusan Aa' nantinya, pasti aku akan selalu mendukung. Aku yakin keputusan Aa' itu yang terbaik untuk kalian", renita kembali tersenyum menguatkan hati kakaknya itu.
Raditya mengangguk dan tersenyum mendengar petuah dari adiknya. Tidak disangka, adik kecilnya yang selalu manja dan sering bertengkar juga dengannya, kini dia menjadi lebih dewasa dan bisa sedikit menenangkan hatinya. Dibalik pintu dapur yang tidak jauh dari tempat Raditya dan renita berada, Linda mengintip dan mendengar dengan jelas obrolan kakak beradik itu. Tadinya dia hanya ingin mengambil Baby Raline untuk diberi ASI, namun tidak disangkanya, dia malah mendengar dengan jelas semuanya. Sudut kedua mata Linda basah oleh air matanya. Dia seperti tertohok dengan perkataan Renita. Apa benar ini keegoisannya? Atau keegoisan Raditya? Atau mungkin mereka berdua yang egois? Lalu bagaimana dengan anaknya? Pertanyaan - pertanyaan itu memenuhi otaknya. Linda segera berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya, dia benar - benar berpikir tentang apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Raditya masuk ke dalam kamarnya, dia berlalu ke dalam kamar mandi setelah mengambil pakaiannya di dalam lemari, bahkan dia mengabaikan Linda yang duduk termangu di sofa menatap dirinya. Tadi,Baby Raline dititipkannya pada Ambu sebelum dia pergi ke kamar,agar dia bisa berbicara dengan leluasa nantinya bersama Linda, tentunya setelah dia mandi untuk mendinginkan kepalanya, berharap pikirannya kembali jernih. Setelah keluar dari kamar mandi, Raditya menghampiri Linda yang sedari tadi masih duduk di sofa. Raditya menghembuskan nafas panjang, menata hatinya, pikirannya, kemarahannya, dan juga emosinya. Dia ingin setelah ini hubungan mereka kembali normal seperti sebelumnya. Linda menoleh kesamping ketika Raditya duduk di sebelahnya.
"Ada yang mau kamu jelaskan?" Raditya menatap dalam mata istrinya mencari kejujuran dalam setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Linda terdiam sejenak, kemudian dia berucap, "Tolong jelaskan apa yang terjadi di kampus, agar aku tidak salah paham", mata Linda berkaca - kaca, tidak kuasa menahan perih di dadanya.
Raditya memegang erat kedua telapak tangan istrinya. Dia tidak tega melihat mata istrinya basah oleh air mata. Bagaimanapun sikapnya dia adalah ibu dari anaknya. Kemudian Raditya menceritakan semuanya pada istrinya tanpa menutup - nutupi sedikitpun, terserah penilaian Linda terhadapnya seperti apa, yang dia lakukan hanya jujur menceritakan semuanya pada istrinya. Air mata Linda tidak bisa terbendung lagi, air matanya lolos jatuh membasahi pipinya. Raditya menyeka air mata istrinya itu dengan lembut, kemudian dia meraih tubuh istrinya, dipeluknya badan istrinya itu, diciumnya puncak kepalanya memperlihatkan perhatian dan rasa sayang padanya.
"Maaf... maaf A', maaf aku tidak mempercayaimu", Linda berbicara disela isakan tangisnya.
Raditya mengurai pelukannya, menatap mata istrinya dengan lembut dan bertanya, "Apa kamu mencintaiku? Apa mungkin kamu mencintai Bang Aydin? Apa masih ingin bertukar pasangan?" Raditya bertanya dengan lembut tanpa emosi, dia berusaha tersenyum lembut agar istrinya mau berbicara jujur padanya.
Linda terdiam dalam isakan tangisnya, tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan suaminya padanya, dia tidak ingin berpisah dengan suami dan anaknya, namun dia mendambakan suami dari temannya, Aydin yang dimata Linda begitu sempurna. Dulunya dia hanya mengidolakannya saja ketika di kampus,oleh sebab itu dia sangat senang ketika Aydin menjemput Kiki di rumah Raditya waktu mereka makan saat itu dan pada saat liburan di villa dia senang karena bisa melihat Aydin dan bersama menikmati liburan,tapi tidak pernah terbersit di hatinya untuk ingin memilikinya. Namun kini entah mengapa dia menginginkan sosok Aydin untuk menjadi suaminya, mungkin karena iri melihat perlakuan Aydin pada Kiki dan rasa marah karena suaminya juga masih ada rasa pada Kiki.
Linda tak sanggup berkata - kata, dia hanya mengangguk dan mendekap tubuh suaminya, mencari tahu perasaannya yang sebenarnya dia rasakan sekarang.
Di rumah, Kiki tidak bisa lepas dari Aydin. Dia selalu berada di pangkuannya. Dia ingin bermanja-manja, tidak menginginkan hal lainnya. Tentu saja Aydin sangat menyukai sisi manja istrinya itu. Tidak bisa diragukan lagi, istrinya sangat mencintainya. Sampai jika ingin kemana - manapun dia maunya digendong oleh suaminya, dia tidak mau beranjak dari tubuh suaminya. Aydin merasa heran, namun dia menyukainya.
Beberapa hari berlalu sejak peristiwa tersebut. Kevin mengingatkan Kiki bahwa beberapa hari lagi Aydin berulang tahun. Namun selama ini dia tidak mau merayakan ulang tahunnya. Bahkan dia akan sangat marah jika teman - temannya menginginkan dia merayakan ulang tahunnya. Kiki merasa heran, namun dia tidak mau bertanya pada suaminya, karena dia mempunyai rencana untuk mengadakan surprise party untuk suaminya. Kiki mengutarakan pada Ayah dan Bunda tentang rencananya membuat surprise party untuk Aydin. Bunda dan Ayah terdiam. Bunda menoleh pada Ayah, seakan Ayah tahu apa yang ditanyakan oleh istrinya itu. Ayah menggeleng dan berucap, "Jangan, biar Kiki tau sendiri dari Aydin. Ayah harap trauma Aydin bisa berganti dengan kebahagiaan di hari ulang tahunnya".
Ibu mengangguk lemah, "mudah - mudahan ya Yah"
__ADS_1
Kiki heran dengan apa yang mertuanya bicarakan. "Trauma? Trauma apa yang dimiliki Bang Ay dihari ulang tahunnya?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutnya karena rasa ingin tahunya yang begitu tinggi.
"Nantilah, kamu pasti akan tahu dari suamimu. Ayah dan Bunda harap kamu bisa mengerti dan sabar jika ada kemarahan dari suamimu", Ayah menjawab pertanyaan Kiki.
Namun Kiki masih tetap ingin tahu apa yang dulu terjadi dihari ulang tahun suaminya. Kiki memaksa Ayah dan Bunda untuk menceritakannya. Akhirnya Bunda menceritakannya, namun hanya garis besarnya saja.
"Dulu, beberapa tahun yang lalu Aydin merencanakan pertunangannya dengan pacarnya dihari ulang tahunnya, acara sudah dipersiapkan dengan begitu mewah dan meriah, namun pacarnya itu tidak datang, dan kita dibuat menunggu berjam - jam, ternyata kami dapat berita dari orang suruhan Ayah yang mencarinya, katanya dia beberapa jam sebelum acara dimulai pergi ke luar negeri dengan seorang lelaki yang ternyata menghamili pacar Aydin. Orang tua wanita itu begitu malu, sehingga mereka tidak berani memberikan kabar pada kami. Dan lelaki yang menghamili wanita itu adalah sahabatnya sendiri, mereka telah lama menjalin hubungan dibelakang Aydin. Dari situlah Aydin berubah menjadi pribadi yang dingin dan tidak mau berhubungan dengan wanita lagi. Namun ketika kami tahu Aydin menyukaimu, kami sangat senang. Dan kami berharap kalian tidak akan pernah berpisah. Tolong jangan pernah tinggalkan atau membuat Aydin kecewa", Bunda meraih kedua tangan Kiki, memohon padanya.
Mata Kiki berkaca - kaca, rasanya dia ingin teriak, memaki wanita di masa lalu suaminya itu. Namun dia kini mengerti, mengapa Aydin begitu waspada pada Raditya dan mengapa dia tidak suka persahabatan Kiki dengan Raditya. Apalagi dia tahu jika Raditya dan Kiki pernah saling menyukai, ternyata itu semua karena wanita di masa lalunya.
Kiki mengangguk, "Kiki tidak akan meninggalkan Bang Ay apapun yang terjadi, Kiki sangat mencintainya Bunda. Mohon bantu Kiki agar bisa mengganti rasa sakit dan trauma Bang Ay dihari ulang tahunnya menjadi momen kebahagiannya".
Ayah dan Bunda tersenyum setuju mambantu Kiki. Kevin membantu Kiki menyusun rencana. Mereka berencana membuat acara kejutan itu di restauran baru yang diberikan Ayah untuk kado Aydin.
Siang itu sepulang kuliah, Kevin mengajak Aydin ke kampus Kiki karena dia ada urusan di sana. Memang Aydin berniat akan menjemput Kiki sekarang karena tahu Kiki juga jam kuliahnya selesai sama dengan Aydin. Jadi, dia membawa mobil sportnya sekalian ke kampus. Pemandangan yang sangat jarang, Aydin tidak pernah membawa mobilnya itu ke kampus, biasanya dia hanya membawa motor sport atau mobil Pajero atau HRV. Namun khusus hari ini dia membawa mobil sportnya ke kampus karena akan sekalian menjemput istrinya di kampusnya. Dia ingin memperlihatkan pada Raditya bahwa dia tidak sebanding dengannya. Mobil dan motor Raditya palingan dibeli dengan uang orang tuanya, dan dia ingin pamer pada Raditya bahwa mobil mewahnya hasil dari usahanya sendiri, padahal mobil sportnya ini kado dari orang tuanya sih, namun mobil - mobil mewah dan motor sportnya kan hasil pembeliannya sendiri. Dan tidak ada yang tahu jika mobil itu pemberian dari orang tuanya, setahu mereka Aydin banyak usahanya uang menghasilkan pundi - pundi uang di rekeningnya. Memang setiap hari Aydin menjemput Kiki dengan mambawa kendaraan berbeda, bergantian tiap harinya, seolah ada urutan harinya untuk mengendari kendaraan yang akan dibawa untuk mengantar jemput istrinya selain mobil sport ini. Dulu dia tidak pernah seperti ini, dia sangat cuek tentang kendaraannya, dia hanya membawa kendaraan yang menurutnya nyaman saja, namun kini dia ingin memberikan yang terbaik untuk istri tercintanya. Hanya hari ini, entah mengapa Aydin ingin sekali menyombongkan nya pada Raditya.
Dari kejauhan Linda memperhatikan Aydin yang berdiri di samping mobil sportnya itu dengan teman - temannya di parkiran. Dalam hati Linda sangat mendambakan posisi Kiki menjadi istri Aydin, apalagi dia melihat begitu kerennya Aydin saat ini, dia begitu mengharapkannya. Namun dia ingat akan statusnya sebagai seorang istri dan seorang Ibu. Dia menghela nafas kasar, seolah ingin berontak dengan keadaan. Untuk saat ini pun setelah kejadian waktu itu, Linda tidak berani bertemu dengan Aydin dan teman - temannya. Dia selalu bersembunyi jika akan berpapasan dengan mereka.
__ADS_1