Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
123


__ADS_3

Kenan mendengus kesal. Ingin rasanya dia menggendong Raline dan menyerahkannya pada Raditya, namun dia tidak bisa melakukannya, karena dia tahu jika Renita sangat menyayangi Raline.


Kenan menatap Renita yang kini tidur memeluk Raline. Dia menatap iba pada miliknya yang masih belum mendapatkan haknya.


"Sabar ya Entong, kalau sabar pasti nanti dapatnya lebih dari satu kali," Kenan memandang miliknya dengan iba dan mengusap-usapnya.


Renita sebenarnya tidak tidur, dia mendengar apa yang Kenan bicarakan. Sebenarnya Renita kasihan pada Kenan karena ini adalah malam pertama mereka, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Raline menangis karena memang biasanya Raline setiap hari tidur bersamanya.


Akhirnya dengan berat hati Kenan tidur disebelah Raline. Dan kini mereka benar-benar terlihat seperti keluarga yang bahagia, tidur dengan mengapit seorang anak.


Renita segera memindahkan Raline ke kamarnya. Ternyata di dalam kamar Raline sudah ada Raditya yang menunggunya.


"Udah kamu tinggal aja, kasihan tuh Bang Kenan, pasti dia kesal. Biar Raline Aa' yang jaga, nanti Aa' tinggal kalau Raline udah pulas," Raditya terkekeh melihat Renita yang gugup ketika Raditya mengatakan tentang Kenan.


Kini Renita kembali ke kamar dengan sangat gugup dan jantungnya berdegup sangat kencang. Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk terlebih dahulu memberikan hak nya. Dia takut jika dikatakan wanita agresif. Tapi dia tidak mau berdosa hanya karena tidak memberikan hak nya.


Ceklek!


Pintu kamar dibuka oleh Renita. Terlihat wajah Kenan yang pulas, bahkan terdengar suara dengkuran halus dari mulutnya ketika Renita mendekatkan telinganya pada tubuh Kenan.


"Bang, Bang Kenan, Bang Kenan bangun... bangun Sayang," Renita menggoyang-goyangkan lengan Kenan agar dia bangun.


Mungkin terlalu kelelahan, Kenan kini malah tertidur ketika Renita hendak mengajaknya melakukan ritual malam pengantin mereka.


"Sayang... bangun..," Renita menepuk-nepuk pipi Kenan.


Namun dia tetap tidak bangun, kini tubuh Renita malah dia jadikan guling. Sepertinya Kenan lupa jika dia sudah mempunyai guling hidup yang bisa dia ajak untuk berolahraga bersama di atas ranjangnya.


Renita tidak bisa bergerak. Dia benar-benar dipeluk sangat erat oleh Kenan. Sepertinya Kenan memang benar-benar menganggapnya sebagai guling.


Ingin sekali Renita meneriakinya pada saat itu juga, namun dia memilih untuk diam karena setelah dipikir-pikir, saat ini menguntungkan untuknya, selain dia gugup melakukannya, dia juga sangat lelah dengan prosesi nikah yang dilakukan dari kemarin-kemarin hingga saat ini.


Dipejamkannya mata Renita dan membalas pelukan Kenan serta menggerak-gerakkan kepalanya untuk mencari tempat ternyaman saat dia tidur.

__ADS_1


Terdengar suara adzan Subuh dari masjid yang berada di sekitar rumah dan alarm dari ponsel Renita pun membuat matanya terbuka.


Saat matanya terbuka, dia kaget melihat wajah Kenan yang berada di hadapannya, dan lebih parahnya lagi mata Kenan juga terbuka ketika Renita membuka matanya.


Mereka saling pandang, saling mengagumi hingga alarm Renita kembali berbunyi. Renita salah tingkah, dia mengambil ponselnya yang berada di meja nakas samping ranjangnya.


Kenan hanya diam, dia masih mengingat-ingat, karena sepertinya ada hal yang dia lupakan. Selama beberapa menit dia menatap Renita sambil mengingat-ingat. Dan akhirnya dia mengingatnya.


"Sayang, Sayang gawat. Raline, Raline dimana?" Kenan bangun dari tidurnya dan


dia duduk di atas ranjang dengan mencari-cari sesuatu di sekitarnya.


Renita terkekeh melihat ekspresi Kenan yang sepertinya sedang ketakutan Kehilangan sesuatu.


"Raline Sayang, Raline... mana dia?" Kenan mengguncang-guncang tubuh Renita.


"Raline udah aku pindahin semalam ke kamarnya," Renita menjelaskannya masih sambil terkekeh melihat raut kebingungan dari wajah suaminya.


Renita mengangguk, dia melihat raut kekecewaan pada wajah suaminya.


"Semalam?" Kenan kembali bertanya untuk memastikan pendegarannya.


Dan lagi-lagi Renita tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kamu gak bangunin aku Sayang? Tau gitu kita kemarin kan... Aaah gagal deh si Entong dapat jatah," Kenan menunduk ke bawah melihat miliknya.


"Aku udah bangunin tapi Abang gak mau bangun, malah aku dijadikan guling semalam sampai gak bisa gerak sama sekali, mana meluknya erat banget lagi, untung aku masih bisa nafas," Renita mengadukan keadaan dirinya semalam yang di peluk Kenan dengan sangat erat.


"Beneran?" tanya Kenan untuk memastikan.


Renita kembali menganggukkan kepalanya, membuat Kenan kesal dam marah pada dirinya sendiri.


"Bodoh, tolol, Kenan ngapain kamu tidur? Gagal kan dapat jatah perdananya," Kenan menoyor-noyor kepalanya sendiri membuat Renita tertawa geli melihat tingkah suaminya yamg seperti itu.

__ADS_1


"Udah yuk Bang kita shalat subuh dulu. Bang Kenan mau jadi imamnya Renita kan?" Renita bertanya agar Kenan cepat bangkit dari tidurnya untuk mengambil air wudhu.


"Hah, shalat ya? Harus gitu Abang jadi imam?" tanya Kenan yang ragu akan dirinya sendiri.


"Ya harus dong, Abang kan udah jadi suamiku yang artinya Abang udah jadi imamku," jawab Renita yang kini sudah berdiri dan menarik tangan Kenan.


"Ayo Bang," Renita benar-benar menarik tangan Kenan agar beranjak dari tidurnya.


"Iya... iya... Eh tapi Sayang, jangan diketawain ya kalau ada salah-salahnya. Abisnya Abang gugup kalau shalat sama kamu. Biasanya shalat sendiri, eh sekarang ada makmumnya," Kenan malah menggoda Renita sembari berjalan ke kamar mandi yang tangannya masih ditarik oleh Renita.


......................


Di sebuah apartemen mewah, Pak Gunawan menunggu kedatangan Linda. Pak Gunawan mengatakan pada istrinya bahwa dia masih ada meeting penting yang harus dihadirinya. Ternyata dia meminta Limda untuk datang ke apartemennya yang dia beli tanpa sepengetahuan istrinya.


Linda mengatakan pada Riko bahwa dia sedang ada urusan dengan temannya. Riko sudah mengetahui bahwa Linda akan bertemu dengan Pak Gunawan karena Pak Gunawan sendirilah yang mengatakan pada Riko.


Sesuai perjanjiannya dengan Pak Gunawan, Linda harus selalu siap jika Pak Gunawan membutuhkannya sewaktu-waktu kecuali pada saat dia sedang kedatangan tamu bulanannya.


Sore itu Linda datang ke apartemen Pak Gunawan dengan menggunakan dress yang sangat ketat dan terbuka, sesuai dengan permintaan dari Pak Gunawan. Dan tak lupa dia harus menggunakan lingerie yang kemarin baru saja dikirimkan Pak Gunawan padanya.


Seperti biasa Linda akan menginap di apartemen itu sampai subuh, sedangkan Pak Gunawan pulang tepat jam dua belas malam agar istrinya tidak curiga.


Sedangkan Riko, dia tidak mungkin melewatkan malamnya seorang diri. Riko lebih memilih menghabiskan malamnya bersama wanita lain di kamar hotel yang disewa oleh wanita tersebut, wanita yang memberinya dana setiap dia meminta.


"Sayang, apa kamu mau kita berlibur lagi?" tanya Pak Gunawan pada Linda yang kini berada di atas pangkuannya.


"Apa bisa?" tanya Linda dengan manja.


"Tentu saja, asal kamu selalu seperti ini padaku. Apa kamu mau?" Pak Gunawan mengangkat dagu Linda dan ******* bibir Linda tanpa mendengarkan jawaban dari Linda.


Sepertinya Linda memang tidak perlu menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Pak Gunawan, karena pertanyaan yang keluar dari mulut Pak Gunawan sama saja perintah baginya.


"Pak... Pak... saya... saya sudah... tidak tahan lagi..."

__ADS_1


__ADS_2