
Dion yang membonceng Sofyan merasa bingung dengan arah jalannya, dia bimbang akan arah jalan yang dia tuju. Dan Aldo yang membonceng Riri hanya mengikuti Dion dan Sofyan dari belakang.
"Ini jalan beneran bisa sampai pasar gak sih?" Dion mengatakannya dengan tidak yakin.
"Lah kagak tau. Bukannya kamu yang tau?" Sofyan bertanya balik pada Dion.
"Lupa. Perasaan kemarin jalannya gak gini deh, apa salah belok ya?" ucap Dion yang ragu-ragu dengan ingatannya.
"Wah ngajak gelut nih orang. Berhenti, kita liat dulu GPS nya," Sofyan menepuk-nepuk pundak Dion sambil berucap.
Dion pun menghentikan motornya sesuai keinginan Sofyan, dan Aldo pun ikut menghentikan motornya di samping motor yang dikendarai oleh Dion.
"Ada apaan Bang?" tanya Aldo ketika sudah berada di dekat Dion dan Sofyan.
"Kayaknya kita nyasar deh Bro. Bantu liat GPS," jawab Dion sambil mengutak-atik ponselnya.
"Tuh kaaan kita salah belok tadi. Lu sih diem aja," Dion menoyor kepala Sofyan sambil mengomel padanya.
Riri mengedarkan penglihatannya sambil menunggu para cowok-cowok memeriksa GPS. Mata Riri membola ketika melihat seorang lelaki dan seorang perempuan sedang berciuman dengan sangat panas dan posisi perempuan tersebut berada di pangkuan lelaki itu.
Reflek Riri memukul-mukul punggung Aldo untuk memberitahu apa yang dilihatnya.
"Apaan sih Ri?" tanya Aldo sedikit kesal.
"Tuh lihat di teras rumah itu," Riri memberitahu Aldo sambil menunjuk teras rumah yang dia maksud.
"Busyeeeet... main sosor-sosoran disitu," celetuk Aldo.
Dion dan Sofyan yang mendengar ucapan Aldo seketika menoleh pada Aldo karena merasa tertarik dengan apa yang diucapkan oleh Aldo.
"Apaan Bro?" tanya Sofyan pada Aldo mewakili Dion yang juga ingin tahu.
"Tuh Bang liat. Gara-gara kita nyasar malah nemu yang begituan," Aldo mengucapkannya sambil melihat ke arah yang dituju.
Dengan segera Dion dan Sofyan mengikuti arah pandang Aldo, dan ekspresi mereka berdua sama dengan ekspresi Riri dan Aldo tadi. Mereka jadi melupakan tentang belanjaan mereka dan tentang kesalahan jalan yang mereka ambil. Kini mereka seolah mendapat tontonan gratis tanpa sensor.
Ketika Pak Gunawan dan Linda berhenti sejenak, wajah mereka sedikit menjauh. Tangan Pak Gunawan mengusap bibir Linda yang terkena banyak saliva. Dan Linda pun melakukan hal yang sama.
"Bro... bro... bukannya itu orang yang tadi?" Sofyan menepuk-nepuk punggung Dion tapi matanya masih melihat ke arah Linda dan Pak Gunawan.
__ADS_1
"Eh iya, mirip," jawab Dion yang matanya juga masih saja melihat dua orang tersebut.
Mereka berempat memang tidak secara langsung berada di depan villa yang ditempati oleh Linda dan Pak Gunawan, tapi sudut pandang mereka lebih jelas meskipun tidak begitu dekat karena mereka berada di arah yang dihadap oleh Linda dan teras villa tersebut tidak ada pohon ataupun pagar yang menghalangi pandangan mereka.
"Bukannya mirip Bang, itu memang mereka. Tuh yang dipangkuannya kan Linda," Riri menyahut untuk memberitahukan hasil penglihatannya.
"Eh bener Bro, itu si Linda sama bapak-bapak yang tadi pagi ketemu sama kita," Dion membenarkan perkataan Riri.
"Gila, bener-bener nekat tuh cewek," Sofyan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Bersyukur banget Raditya udah gak sama dia. Gak bisa bayangin kalau istri kita kayak gitu sama orang lain," kini giliran Aldo yang berkomentar.
"Tuh.. tuh... liat, si Linda ngebet juga sama tuh bapak-bapak. Liat tuh dia yang agresif gitu," Sofyan berkomentar kembali sambil matanya tidak absen melihat setiap adegan yang ditampilkan.
"Kan dapet duit dia. Harus memuaskan, kalau gak memuaskan servisnya gak bakalan dapet duit dia," sahut Dion menimpali ucapan Sofyan.
"Eh Bang, apa dia gak dikasih duit ya sama Riko? Sampai segitunya dia cari duit," ucap Aldo yang merasa heran.
"Pantengin aja di depan kos-kosannya Riko, kalian pasti bakalan tau mereka masih bersama atau tidak," Sofyan mengatakan ide yang ada di pikirannya.
"Bener juga ya," jawab Aldo sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tapi matanya masih melihat adegan yang kembali membuat mata mereka terbelalak.
"Buat oleh-oleh," ucap Riri sambil tersenyum.
"Wah pinter," Dion memuji tindakan Riri.
"Eh udah yuk, bisa-bisa kita gak jadi makan nanti malam," Sofyan memutus percakapan mereka.
"Eh tunggu, pakai hoodie kalian semua," Dion memerintahkan mereka.
Sofyan, Aldo dan Riri menuruti perintah Dion. Dan Dion pun memakai hoodie mereka sambil berkata,
"Kota kerjain mereka," ucap Dion yang membuat mereka bertiga kebingungan dengan ucapan Dion.
Dion menyalakan motornya dan mulai menggeber-geberkan gas motornya sehingga Linda dan Pak Gunawan menghentikan adegan ciuman panas mereka dan menoleh ke arah mereka berempat yang sudah hilang tidak terlihat oleh mata Linda dan Pak Gunawan.
"Siapa ya?" Linda bertanya pada Pak Gunawan yang masih memangkunya.
"Gak tau. Udahlah biarin aja. Kita terusin di dalam aja," ucap Pak Gunawan sambil menurunkan Linda dari pangkuannya.
__ADS_1
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam villa dengan tangan Pak Gunawan yang tidak mau lepas dari tubuh Linda.
Dengan bantuan GPS, akhirnya Aldo, Riri, Dion dan Sofyan bisa sampai di pasar tanpa salah jalan lagi. Belanjaan mereka akhirnya lengkap dan mereka bisa cepat pulang.
"Bro, kita ada oleh-oleh buat Aa' Raditya," ucap Sofyan ketika baru sampai ke villa milik Aydin.
"Apaan Bang?" tanya Raditya penasaran.
"Kasih liat Ri!" Sofyan memerintahkan Riri memberikan rekaman video Linda dan Pak Gunawan yang diambil oleh Linda menggunakan ponselnya.
"Tapi Bang," ucap Riri ragu sambil menyerahkan ponselnya pada Raditya, namun ditarik kembali oleh Riri
"Apaan sih, siniin Ri," Raditya meminta paksa ponsel Riri.
"Apa yang mau ditunjukin?" tanya Raditya pada Riri karena tidak bisa membuka sandi ponsel milik Riri.
Riri mengambil ponselnya dari tangan Raditya dan dia membuka video yang dimaksud oleh Sofyan.
Raditya melihatnya dengan ekspresi biasa saja tanpa ada rasa kaget, dan bibirnya mengembangkan senyuman yang licik. Tak ada rasa marah, kesal dan emosi yang dirasakan oleh Raditya. Dia semakin bersyukur karena Allah memisahkan dia dari wanita yang tidak pantas dipanggil ibu oleh Raline.
Raditya mengembalikan ponsel Riri dan berkata,
"Kalau cuma begini aja biasa Bang. Aku udah pernah liat dan dengar yang lebih dari ini."
"Sama Riko?" tanya Dion yang sedari tadi diam sambil mengeluarkan barang belanjaan mereka.
"Iya, bahkan lebih parah dari ini yang cuma di teras aja. Bahkan aku tau yang mereka kerjakan di dalam kos-kosan Riko," Raditya berucap sambil tersenyum getir mengingat apa yang dia lihat dan dia dengar dari rekaman video dan suara yang diberikan oleh orang yang dibayar Raditya untuk mencari bukti perselingkuhan Linda.
"Serius Bro?" tanya Sofyan yang masih tidak percaya dengan penjelasan dari Raditya.
Raditya pun mengangguk dan menjawabnya sambil terkekeh,
"Coba aja sekarang kalian ke sana, pasti kalian bakalan melihat adegan itu langsung."
"Udah... udah.. yuk persiapan masak," Kiki membuyarkan percakapan mereka.
Kiki sedari tadi memang tidak berada bersama mereka, namun di saat dia hendak mengambilkan Raline dan Ken snack, malah dia mendengar percakapan meeka tentang Linda. Kiki tidak ingin membuka luka Raditya kembali, oleh karena itu dia membubarkan percakapan mereka agar tidak membahas kembali tentang Linda.
"Dion, mau gak ngintipin ke sana? Lumayan live cuy," bisik Sofyan di telinga Dion.
__ADS_1