Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
6


__ADS_3

Disini,kini Kiki berdiri untuk menunggu angkot yang lewat.Tadi Kevin memberi kabar via chat jika dia ada kegiatan di kampusnya,dan dia menyuruh Kiki untuk pulang menggunakan taksi.


Sayang dong uang sakunya untuk membayar taksi,meskipun uang jajannya sudah plus transportasi.Mending naik angkot,murah meriah,uang sisanya bisa ditabung untuk hal-hal yang dia butuhkan nanti.


Panas,gerah,desak-desakan ketika naik angkot.


Tapi itu semua bisa dinikmati asalkan kita tidak mengeluh.


Motor,memang sudah dari dulu Kiki ingin mengendarai motor ke sekolah.Namun naas,semua itu hanya jadi keinginannya saja.


Sang mama tidak memperbolehkannya dengan alasan keselamatannya.


Ya,Kiki memang pernah menabrak pohon pada saat belajar motor.Alhasil setelah itu mama melarang Kiki mengendarai motor dan menugaskan sang kakak untuk mengantar jemput Kiki kemanapun.


Dan jika Kevin atau papanya tidak bisa mengantar jemput Kiki,mama menyuruhnya untuk menggunakan taksi.


Namun dasar Kiki nya saja yang malah menggunakan angkot dari pada taksi.


Ya itu tadi,selain berhemat,dia juga bisa naik angkot bareng teman.


Kiki berdiri menunggu angkot,tapi belum juga datang angkotnya.Riri juga berdiri berdampingan dengan Kiki untuk menunggu angkot.Sayangnya,angkot yang mereka naiki berbeda.Arah tujuan mereka berlawanan.


Raditya dan Aldo yang melihat Kiki dan Riri sedang berdiri menunggu angkot pun berniat untuk menghampiri mereka.


Kebetulan sekali Raditya dan Aldo sedang berada di warung pas depan tempat Kiki dan Riri menunggu angkot.Jadi mereka bisa melihat dengan jelas Kiki dan Riri saat ini.


Kiki dan Riri tidak mengetahui bahwa Raditya dan Aldo berada di warung depan mereka berada.Maklum saja warungnya ada diseberang jalan raya.Dan juga Kiki dan Riri sibuk mengobrol dan bercanda.Sekarang mereka sudah lebih akrab lagi dibandingkan dengan sebelumnya.


"Eh Al,itu si Kiki sama Riri kan? Ngapain mereka disitu? Nunggu angkot kali ya?" tanya Raditya kepada Aldo tanpa menoleh kepadanya,matanya masih menatap ke arah Kiki.


"Kayaknya iya deh.Kenapa,mau nganterin Kiki pulang? Jangan-jangan kamu suka ya sama Kiki? Terus gimana sama dia dong? Masih lanjut kan?" tanya Aldo dengan rasa penasarannya.


Raditya yang diberi pertanyaan oleh Aldo segitu banyaknya hanya tersenyum penuh arti tanpa berniat menjawab satu pertanyaan pun yang dilontarkan Aldo padanya.


"Yuk ah samperin mereka!" ajak Raditya pada Aldo.


"Bawa motor kamu aja ya,biar motorku disini dulu",ucap Aldo.


Tanpa menjawab Raditya memakai helmnya dan mengacungkan jempolnya tanda dia setuju dengan usulan Aldo.


Aldo langsung saja naik ke boncengan motor Raditya tanpa memakai helm,karena dia pikir hanya nyamperin mereka saja .Mungkin Raditya berniat nyamperin mereka untuk ngobrol ataupun menggoda mereka sampai angkot mereka datang,toh gak mengantar mereka pulang,motor Aldo masih disini,di warung,jadi helmnya pun masih bertengger di atas motornya.


"Mang nitip motor sama helm bentar ya",ucap Aldo pada Mang Asep yang punya warung.


"Beres ",ucap Mang Asep sambil mengacungkan jempolnya.


Kiki dan Riri kaget ketika di depan mereka kini sudah ada Raditya dan Aldo yang masih berada di atas motor.


Mesin motor Raditya dimatikan,kemudian Raditya melepas helmnya.


"Lagi nungguin angkot?" tanya Raditya yang menatap lurus ke arah Kiki.


"Iya nih dari tadi belum juga ada angkot yang lewat",jawab Kiki.


"Padahal angkot Riri sudah sering lewat dari tadi,berkali-kali malahan,tapi dia gak mau naik duluan sebelum aku dapat angkot juga",sambung Kiki sambil menyeka keringatnya.


"Takut kamu diculik kali Ki",ucap Aldo sambil terkekeh.


"Mau dianterin abang pulang neng?" tanya Raditya kemudian.


"Hah,kayak cabe-cabean dong naik motor berempat",jawab Kiki spontan sambil tertawa.


Sontak saja Raditya dan Aldo tertawa mendengar perkataan Kiki barusan.


Riri hanya tersenyum lebar mendengar ucapan Kiki tadi.


"Tenang aja,biar Riri diantar Aldo naik motornya.Tuh motor Aldo ada di warung depan",pungkas Raditya kemudian.


"Lagian kamu tuh ada-ada aja,motor kayak gini mana bisa buat boncengan berempat?" ucap Aldo sambil terkekeh.


Bagaimana tidak tertawa Raditya dan Aldo mendengar ucapan Kiki,lihat saja motor Raditya jenis motor sport,sudah jelas tidak bisa untuk berboncengan berempat.


"Gimana Ri,mau diantar pulang?" tanya Kiki ke Riri.


"Gak usah deh,tuh angkotnya udah datang.Aku duluan ya Ki.Kamu biar diantar Raditya aja",jawab Kiki sambil menunjuk angkot yang sudah terlihat.


"Udah bareng aku aja pulangnya sekalian.Ke arah sana kan rumahmu?" tanya Aldo sambil menunjuk arah jalan pulang mereka.


"I ... iya sih",jawab Riri disertai anggukan malu-malunya.


"Udah gak usah malu-malu gitu.Kalian kan satu bangku,harus akrab.Lagian Aldo udah jinak kok,gak bakalan gigit kamu",ucap Raditya dengan senyum jahilnya.


"Asem lu....",balas Aldo sambil menoyor kepala Raditya.


"Udah Ri gapapa kita bareng mereka aja.Udah panas banget nih.Gerah aku",ajak Kiki kepada Riri.


"Beneran nih gapapa?" tanya Riri ragu.


"Yaelah masih nanya aja.Kan udah ditawarin tadi,ya gapapa lah.Emang kenapa sih?" tanya Aldo.

__ADS_1


"Ya takut aja kalian ngerepotin",jawab Riri.


"Kalau aku takut cewek kalian marah",ceplos Kiki kemudian.


"Hahahaha.... tenang aja gak bakalan ada yang marah ya bro",ucap Raditya meminta dukungan Aldo dengan menggerakkan dagunya kepada Aldo.


"Yoi.... udah tunggu disini aja dulu.Aku mau ambil motor di warung depan dulu",ucap Aldo.


"Ngapain motornya di warung depan?" tanya Kiki dengan lugunya


"Ngopi",jawab Raditya sambil terkekeh.


sedangkan Aldi sudah menyebrangi jalan menuju warung untuk mengambil motornya.


Kini Kiki sudah berada di boncengan motor bersama Raditya.Sedangkan Aldo boncengan dengan Riri ke arah yang berlawanan dengan Raditya dan Kiki.


"Radit,Dit,eh enaknya manggil kamu apa ya,kok gimana gitu,hehehe....",ucap Kiki yang masih berboncengan dengan Raditya.


"Apa? Kamu ngomong apa? Aku gak denger",ucap Raditya seolah dia tidak mendengar karena duduk Kiki terlalu jauh ke belakang,kayak boncengan sama mang-mang ojek aja nih Kiki,jadinya apa yang dikatakan Kiki tidak terdengar oleh Raditya.


"Kamu duduknya agak majuan dikit biar kedengeran kalau kamu ngomong.Lagian gak takut jatuh apa duduknya jauh banget di belakang,kayak boncengan sama mang-mang ojek aja",sambung Raditya yang sudah sedari tadi membuka kaca helm full face nya sejak menjawab pertanyaan Kiki tadi.


Dengan ogah-ogahan Kiki pun memajukan duduknya hingga berjarak sedikit dengan Raditya.


"Lagian kamu ngapain sih pakai motor kayak gini,nyiksa banget yang di bonceng tau gak?" ucap Kiki sambil bergerak ke depan agar lebih dekat dengan Raditya.


"Kamu itu aneh,bukannya cewek suka banget ya kalau di bonceng cowok naik motor kayak gini?" tanya Raditya kepada Kiki.


"Aku gak tuh,mangkannya kalau kakak aku anatar jemput pasti aku suruh naik mobil,dari pada tersiksa dibonceng motor model beginian.Kalau ada motor selain motor kayak gini mah mending naik yang itu",jawab Kiki.


"Kakak kamu juga suka motor kayak gini?" tanya Raditya.


"Punya,gak mau motor yang lain,biar keren katanya.Karena aku gak dibolehin bawa motor sendiri,jadi kakak disuruh mama antar jemput aku.Nah aku tuh selalu protes kalau diantar jemput pakai motor beginian,tersiksa banget punggungku.Aku suruh ganti motor yang lain gak mau.Akhirnya papa beliin mobik buat antar jemput aku.Motor cuma satu yang ada di rumah.Cuma motor kakak itu",jawab Kiki dengan panjang lebar.


"Loh...loh ngapain ini kok berhenti disini?" tanya Kiki kaget karena tiba-tiba motor Raditya berhenti di depan warung bakso.


"Makan dulu yuk,laper aku.Kamu suka bakso kan?" tanya Raditya sambil menengok ke belakang menghadap ke arah dimana Kiki yang masih betah duduk di boncengan motor Raditya meskipun motor sudah berhenti.


"Ya suka sih.Banget malah.Tapi tadi gak ngomong kalau mau mampir makan bakso dulu",ucap Kiki sambil turun dari motor Raditya.


"Nih juga dimana lagi,aku gak pernah lewat jalan ini",ucap Kiki sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mengamati jalanan sekitar.


"Ya jelas kamu gak tau,kamu gak pernah lewat jalan sini,kita kan lewat jalan dalam.Kan kamu gak pakai helm",ucap Raditya sambil menarik tangan Kiki untuk segera masuk ke warung bakso tersebut.


"Mang bakso dua ya,makan disini",ucap Raditya kepada Mang Ucup tukang bakso langganan Raditya dan Aldo.


"Siap,sama minumnya sekalian?" tanya Mang ucup.


"Beres",jawab Mang ucup sambil meracik bakso ke dalam mangkok.


"Tapi nanti bisa sampai ke rumahku kan?" tanya Kiki dengan nada khawatir


Mungkin dia takut diculik Raditya kali,atau mungkin dijual untuk diambil organnya dan dipasarkan dengan harga mahal.


Ada-ada saja pikiran Kiki ini.


"Tenang aja kamu pasti sampai rumah dengan selamat tanpa kurang satu apapun",jawab Raditya.


"Radit,Dit,eh enaknya aku panggil kamu apa sih?" tanya Kiki mengulang pertanyaannya di motor tadi kepada Raditya yang belum dijawab.


"Terserah kamu aja deh,biar seneng.Sayang juga boleh",jawab Raditya sambil membuka kaleng kerupuk yang ada di depannya,kemudian dia mengambil satu kerupuk dan memakannya.


"Mau?" tanya Raditya sambil mengunyah kerupuknya dan mengarahkan kerupuk yang ada ditangannya kepada Kiki.


Kiki hanya menggeleng tanda dia tidak mau.


"Raditya kepanjangan,Radit juga kepanjangan,Dit gak enak. Eehmmm... Didi aja kali ya",ucap Kiki sambil tertawa kecil.


"Hah Didi? Aneh-aneh aja kamu ini.Kiki,Riri,Didi biar samaan gitu? Nah Aldo gimana?" tanya Raditya yang kaget mendengar ide Kiki sambil memakan kerupuknya kembali.


"Hehehehe.... gak sengaja dapat namanya itu,Didi,eh malah samaan ya. Hahahaha..... Kalau Aldo biar aku panggil Dodo aja kali ya.Gak boleh dibantah.Itu panggilan khusus yang Kiki berikan untuk kalian",jawab Kiki dengan tawanya.


Tak diketahui mereka berdua,Mang Ucup sudah ada di samping meja mereka sambil menaruh dua mangkok bakso dan dua es jeruk.


"Pacar baru ya A'? biasanya kan bukan sama neng ini kesininya.Kalau yang ini mah cantik,kalau yang biasanya kan modelannya sama kayak si Aa',mana ada cantik-cantiknya? Kalau yang ini mah cantik,pinter bener milihnya,mangkannya dari tadi ketawa mulu,seneng bener ya punya pacar baru?" tanya Mang Ucup disertai nada menggoda kepada Raditya.


"Mang Ucup mah pengen tau aja urusan ABG",jawab Raditya sambil terkekeh.


Mata Kiki melotot melihat ke arah Raditya.Yang ditatap malah tersenyum mengejek.


"Emangnya yang biasanya diajak kesini siapa?" tanya Kiki kepada Raditya karena Mang Ucup sudah kembali ke depan untuk melayani pembeli.


Raditya tertawa sambil mengaduk-aduk baksonya yang sudah diberi saos,kecap dan sambal.


"Gak usah cemburu,aku kesini nya selalu sama Aldo",jawab Raditya yang masih mengaduk-aduk baksonya dengan matanya menatap ke arah Kiki.


Baru saja Kiki membuka mulutnya mau ngomong,ternyata mulutnya sudah dimasuki bakso yang disuapkan Raditya dari mangkoknya menggunakan sendoknya.


Sontak mata Kiki membulat,kaget mendapatkan suapan bakso dari Raditya.

__ADS_1


Kenapa jantung aku deg-degan lagi kayak tadi sih.Masa' iya gara-gara kebanyakan makan bakso yang banyak micinnya.Pikir Kiki sambil terdiam seolah terhipnotis.


"Udah makan,gak usah ngomong,itu bakso buat bayar bakso kamu yang kamu suapin ke aku tadi di kantin", ucap Raditya sambil tersenyum dan memasukkan bakso ke dalam mulutnya.


Kiki hanya pasrah dan mengunyah bakso suapan dari Raditya tadi.


Mas' iya Kiki harus melepehkan bakso itu tadi,gak mungkin banget kan.Lagian sayang banget kalau dilepeh,baksonya enak sih.


Kiki memakan baksonya sambil berfikir,kenapa hari ini jadi acara suap-suapan ya,sedari tadi adegannya kebanyakan suap-suapan dengan Raditya,kalau gak Raditya yang disuapi Kiki ya Kiki yang disuapi oleh Raditya.Mana jantungnya jedug-jedugan terus ketika adegan suap-suapan,masa' iya akibat kebanyakan makam micin yang di bakso berakibat jantungnya deg-degan,tapi kok pas suap-suapan aja sih,kalau pas biasa gak.Masa' iya milih-milih deg-degannya kapan.


"Oh iya tadi kamu kenapa kamu harus diantar jemput kakak kamu?" tanya Raditya disela kunyahan bakso nya.


"Itu,aku gak dibolehin naik motor sendiri.Dulu aku punya motor tapi setelah aku nabrak pohon,mama melarang aku naik motor dan menjual motorku agar aku gak nekat menaikinya.Mangkanya di rumah cuma ada motor kakakku modelannya kayak punyamu gitu",jawab Kiki sambil mengunyah baksonya.


Raditya hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda dia mengerti.


"Habis ini kemana?" tanya Raditya kemudian.


"Pulang,gerah banget aku,pengen mandi",jawab Kiki sambil meminum es jeruknya.


"Mandi dimana?" tanya Raditya menggoda.


"Di rumahku lah",jawab Kiki sambil mengelap bibirnya dengan tisu yang ada di depannya.


"Oh kirain mandi di rumahku",ucap Raditya menimpali perkataan Kiki.


"Ah udah ah... malah gak pulang-pulang kalau nanggepin omongan kamu terus",ucap Kiki sambil berdiri dan memakai tas nya.


"Hahahaha....gitu aja sewot neng",ucap Raditya sambil mencubit hidung Kiki yang merah karena kepedasan dan kemudian berlari sambil menyambar tas nya.


Kiki yang kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Raditya hanya bisa memanyunkan bibirnya sambil berjalan ke luar warung menuju motor Raditya.


Masa' iya Kiki harus berteriak marah-marah dengan ulah Raditya,gak mungkin banget kan,ini di warung loh,banyak orang,yang ada dia akan malu.


Disana Raditya sudah berada di atas motornya setelah kabur dari Kiki tadi dan membayar bakso tadi ke Mang Ucup.


"Rumahmu diman Ki?" tanya Raditya sambil mengambil helmnya dan memakainya.


"Perum Pesona Graha Abadi",jawab Kiki sambil naik ke boncengan motor Raditya.


"Oke pegangan ya,abang mau ajak neng jadi pembalap",ucap Raditya sambil menautkan kedua tangan Kiki ke pinggangnya.


Seketika kedua tangan Kiki ditarik Kiki kembali agar tidak pegangan di pinggang Raditya.


Jangan tanyakan bagaimana kabar jantungnya,sudah bisa dipastikan jantungnya berdisko ria,jedug-jedug,deg-degan.


Maklum saja,selama ini dia tidak pernah dibonceng motor sama cowok mana pun kecuali kakaknya.


Pegangan pinggang,tentu saja,kakak sendiri,tidak masalah bukan.


Tidak kurang akal dari Raditya.Dengan jahilnya dia sengaja menyendatkan tarikan motornya agar Kiki berpegangan ke pinggangnya.


Benar saja,duduk Kiki kini jadi tak berjarak dengan Raditya.


Kini dada Kiki menempel pada punggung Raditya.Dan karena kagetnya,reflek tangan Kiki berpegangan pada pinggang Raditya.


"Hati-hati dong....",ucap Kiki kepada Raditya untuk memperingatkannya agar berhati-hati.


Tidak tahu saja Kiki kalau itu tadi memang disengaja Raditya dengan jahilnya.


"Mangkanya kamu pegangan yang kuat biar gak jatuh.Awas kalau dilepas,jatuh aku gak tanggung jawab",ucap Raditya memperingatkan Kiki.


Dengan gampangnya Kiki percaya ucapan Raditya.Kini Kiki pun tangannya berpegangan kuat di pinggang Raditya sampai tiba di rumahnya.


"Nah yang itu Di,yang pagar hitam",tunjuk Kiki ke arah rumahnya.


"Alhamdulillah udah sampai",ucap Raditya ketika Kiki sudah turun dari motornya.


"Makasih ya udah anterin aku pulang.Kamu mau mampir dulu?Eh tapi kapan-kapan aja deh.Hehehehe....",ucap Kiki dengan cengirannya.


"Gimana sih nawarin tapi gak ngebolehin.Mampir gak nih?" goda Raditya.


Entah mengapa menggoda Kiki sekarang seolah menjadi hobinya.Bahkan Raditya tidak pernah melakukan interaksi dengan lawan jenis seperti dia berinteraksi dengan Kiki.


Maklum saja dia bersekolah umum pada saat SD,dan SMP nya dia berada di pondok pesantren,baru SMA ini dia kembali bersekolah umum setelah menjadi ABG.


"Eh beneran mau mampir?padahal tadi nawarinnya cuma basa-basi aja loh",ucap Kiki sambil tersenyum memperlihatkan giginya.


"Ya udah gapapa.Kapan-kapan aja mampirnya.Lagian udah mau ashar.mau bantuin di Mushalla dulu",jawab Raditya menanggapi ucapan Kiki tadi.


"Hati-hati ya,kalau jatuh bangun sendiri.Gak ada yang nolongin soalnya",ucap Kiki sambil nyengir.


"Huuuus...doanya yang bagus-bagus",ucap Raditya.


"Ups,becanda doang.Hati-hati ya Di.Makasih udah nganter aku pulang", ucap Kiki sambil melambaikan tangannya disertai senyum manis yang mengembang.


Raditya mengangguk sambil menyalakan motornya.Kemudian dia berpamitan,


"Assalamualaikum....",ucap Raditya sambil menjalankan motornya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam...",jawab Kiki yang entah didengar atau tidak oleh Raditya.


Diantar siapa dek?......


__ADS_2