Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
179


__ADS_3

Raline menoleh ke belakang, begitu juga dengan Tristan yang mengikuti pandangan Raline. Dan mata Tristan kaget dengan sempurna ketika dia mengetahui siapa yang memanggil Raline barusan.


"Hai, Resti sedang di sini juga?" tanya Raline pada perempuan yang memanggilnya tadi dengan senyum manisnya.


"Iya, kebetulan banget kan Ra? Ngomong-ngomong kalian hanya berdua dengan Tristan?" Resti bertanya ingin mengetahuinya.


"Kami tadi-"


"Dengan orang tua kami. Dan orang tua Raline mengijinkan kami untuk jalan berdua. Iya kan Sayang?" Tristan sengaja berbicara seperti itu di hadapan Resti dan merangkul mesra pundak Raline.


Resti menatap mereka berdua dengan penuh kebencian. Dia tidak bisa terima jika perempuan yang bisa mendapatkan Tristan adalah Raline. Karena baginya Raline merupakan suatu hambatan baginya.


Raline yang cantik, pintar, banyak teman dan kaya, serta keluarga yang sangat mencintainya, membuat Resti iri padanya. Karena keadaannya berbanding terbalik dengannya. Resti memang pintar, namun karena dia dari keluarga yang tidak mampu, dia tidak memiliki banyak teman di sekolah elit tersebut, dia hanya penerima bea siswa yang beruntung bisa bersekolah di tempat itu namun harus berjuang sekuat tenaga agar nilainya tidak turun dan tetap mendapatkan bea siswa tersebut. Dan saingan Resti adalah Raline.


Pada tahun kemarin Raline mendapatkan bea siswa karena prestasinya, dan Resti tidak mendapatkannya karena dia ada diurutan kedua, sedangkan Tristan berada diurutan ketiga. Namun suatu ketika Raline memergoki Resti yang menangis di dalam kelas pada saat semua anak sudah pulang, dan Raline mencoba mendekati Resti untuk menenangkannya.


Resti bercerita tentang keadaan ekonomi keluarganya dan tentang bea siswanya, sehingga Raline mengerti keadaan Resti saat itu. Keesokan paginya, Resti diberi kabar oleh gurunya bahwa bea siswa nya tetap jatuh pada Resti karena Raline tidak mau menerimanya. Sejak itulah Resti menjadi dekat dengan Raline dan menganggapnya sebagai teman baik.


Namun pada saat pulang sekolah, Resti melihat Raline yang dijemput oleh orang yang dipanggil Raline dengan Mami dan Papi, membuat Resti merasa iri padanya. Kebahagiaan mereka terlihat jelas, dan itu yang sangat diinginkan oleh Resti selama ini, keluarga kaya dan kedua orang tua yang perhatian dan sayang padanya. Sangat bahagia sekali menurutnya.


Tristan mengajak Raline berjalan dengan merangkul erat pundaknya meninggalkan Resti yang masih mematung dengan tatapan kesal pada mereka berdua.


"Res kami du-"


Mulut Raline ditutup oleh telapak tangan Tristan agar tidak berbicara lagi dengan Resti, dan hal itu membuat Raline menjadi berontak karena kaget. Raline memukul-mukul tangan Tristan yang membekap mulutnya hingga sampai di dalam kantor cafenya.


Kantor tersebut berada di lantai dua, dengan penataan yang apik dan pemandangan yang sangat indah di luar kantor tersebut, membuat Raline terpesona dan dia lupa kekesalannya pada Tristan.


"Ehmmm..... emmmm....," Raline berbicara namun tidak jelas karena mulutnya dibekap oleh Tristan dan terpaksa menuruti Tristan berjalan ke lantai atas.


"Waaaah.... indah sekaliiii....," Raline berseru terpesona melihat pemandangan di luar ruangan mereka berada saat ini.


Tristan terkekeh melihat perubahan sikap Raline yang tadinya kesal sekarang menjadi senang hanya karena melihat pemandangan di sekitar ruangan itu.


"Gimana, indah bukan?" tanya Tristan pada Raline.

__ADS_1


Raline pun mengangguk tanpa melihat ke arah Tristan dengan tatapan terpesona melihat pemandangan indah di hadapannya.


"Kamu boleh ke sini kapanpun kamu mau," ucap Tristan kembali sambil memandang wajah Raline yang membuatnya terpesona melebihi indahnya pemandangan sekitar tempat itu.


"Benarkah?" tanya Raline dengan mata yang berbinar.


"Tentu saja, apa sih yang enggak buat si cantik?" jawab Tristan menirukan panggilan Raline dari keluarga Aydin dan Kiki.


Seketika pipi Raline merona mendengar ucapan dari Tristan. Entah mengapa akhir-akhir ini Raline sering sekali merasa salah tingkah jika Tristan sudah berada di dekatnya.


Sedangkan Resti masih menunggu Raline dan Tristan di lantai bawah dengan makan bersama Ali. Mereka tidak pulang dari semalam setelah Resti pulang sekolah waktu itu. Ali mengajaknya menginap di puncak sesuai dengan perjanjian mereka.


Di villa, Kenshin marah-marah pada semua orang yang mengijinkan Raline pergi bersama dengan Tristan. Dengan wajah kesalnya Kenshin memerintahkan pada Papi, Mami, dan Ayahnya untuk menghubungi Raline.


"Pokoknya Ken gak mau tau, kalian harus menyuruh kakak cantik pulang sekarang juga!" ucap Ken dengan kesal.


Aydin menatap Kiki dengan tatapan heran, kemudian mereka menatap Raditya dan mereka sama-sama terkekeh mendengar permintaan dari Tuan muda mereka.


"Buruan!" perintah Kenshin dengan kesal sambil melipat tangannya di depan dada.


"Gimana Di?" tanya Kiki pada Raditya.


Raditya menggeleng dengan cemas, kemudian dia membuka GPS untuk melihat keberadaan Raline.


"Ini," ucap Raditya sambil memperlihatkan layar ponselnya.


Aydin mendekat dan ikut melihat layar ponsel Raditya. Lalu dia tersenyum dan berkata,


"Ini mah masih di cafe nya Tristan. Tenang aja," ucap Aydin sambil tersenyum.


"Pokoknya gak mau tau. Kakak cantik harus pulang sekarang!" Kenshin berteriak memerintah dengan tegas.


"Terpaksa Bro kita harus ke sana," Aydin terkekeh mengatakannya.


"Yuk kita ke sana," ucap Raditya sambil merangkul pundak Aydin.

__ADS_1


"Aku ik-"


"Di rumah aja Mi," Aydin menyahut ucapan Kiki.


Seketika wajah Kiki kesal, bibirnya mengerucut seperti biasanya.


"Yuk Bro," Aydin mengajak Raditya berangkat.


Aydin berhenti di sebelah Kiki dan berbisik di telinga Kiki,


"Gak usah dimaju-majuin gitu, nanti malam aja beraksinya."


Seketika mata Kiki melotot dan bibirnya semakin maju membuat Aydin tertawa lebar karena bisa menjahili istri tercintanya.


Sedangkan Kenshin berlari menyusul Aydin dan Raditya ke depan villa. Dia merengek meminta untuk ikut bersama mereka menjemput kakak cantiknya.


Namun usahanya tidak berhasil, karena Miyuki si princess manis itu menarik Kenshin agar ikut bersamanya ke peternakan mereka bersama dengan yang lainnya.


Di cafe Tristan, Raline makan bersama Tristan di dalam kantornya. Sedangkan Naufal dilarang oleh Tristan masuk ke dalam ruangan kantornya agar tidak mengganggu mereka sedang makan berdua.


"Naufal ke mana, kok dia gak ikut makan?" tanya Raline ketika pelayan sudah menyediakan makanan di meja yang berada dalam ruangan kantor Tristan.


"Dia masih sibuk di luar. Kita makan aja duluan. Dia gampang, nanti bisa makan bersama yang lain," ucap Tristan sambil tersenyum memandang perempuan pujaan hatinya.


"Tapi Tristan, kasihan nanti Naufal-"


"Udah biasa cantik.... udah kita makan aja sekarang," sahut Tristan dengan memasang senyum manisnya memanggil Raline dengan sebutan cantik sama seperti keluarganya biasa memanggilnya.


"Ca-cantik?" celetuk Raline yang tidak sadar mengatakannya dengan pipinya yang bersemu merah.


"Iya, cantik," jawab Tristan yang masih memandang wajah Raline sedari tadi.


"Gak boleh berduaan di dalam ruangan yang tertutup," tiba-tiba ada suara laki-laki yang masuk ke dalam ruangan kantor Tristan.


Tristan terkejut dan meneguk ludahnya sendiri, takut jika dia akan dimarahi.

__ADS_1


__ADS_2