Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
67


__ADS_3

Kiki meninggalkan Villa milik keluarga Raditya dengan Aydin. Tadinya Kiki ingin berpamitan dengan Raditya, namun dia sudah mencari Raditya dimana pun tapi tidak menemukannya. Kiki pun memanggil-manggil nama Raditya namun tak ada jawaban dari sang pemilik nama, padahal Kiki sudah meneriakkan namanya di setiap ruangan namun hasilnya tetap nihil, tak ada suara sahutan dari Raditya. Dengan berat hati Kiki meninggalkan tempat itu, dia sungguh ingin berterima kasih pada Raditya yang selalu ada di setiap dia kesusahan dan dengan sabarnya dia selalu menuruti kemauan dari Kiki. Sungguh Kiki tidak mau kehilangan sosok Raditya dalam hidupnya, entah itu sebagai sahabat atau sebagai orang yang mencintainya, karena Kiki merasa sudah terbiasa dengan perlakuan Raditya yang benar-benar membuatnya ketergantungan.


Namun sebelum Kiki meninggalkan Villa itu, dia menghubungi Raditya dan itu pun tidak diangkat panggilan teleponnya, sampai berkali-kali pun Kiki meneleponnya tetap saja tak diangkat. Akhirnya Kiki mengirim pesan pada Raditya.


[Di, makasih ya buat semuanya. Aku selalu saja menyusahkan kamu, tapi kamu tak pernah mengeluh atau pun menolak permintaanku. Aku tau kamu selalu tulus melakukan semua itu. Aku sangat berterima kasih. Aku sungguh tidak mau kehilangan sosok Didi dalam hidupku, sahabatku.... ]


Raditya membaca pesan dari Kiki dengan nanar. Sungguh dia tidak menyangka akan menerima pesan dari Kiki seperti ini. Dia ingin ucapan terima kasih dan rasa tidak mau kehilangan itu berubah dari status sahabat ke status yang lebih di butuhkan oleh Kiki. Sungguh dia ingin menjadi bagian dari hidup Kiki seperti kekasih atau suami yang selalu menemaninya dan ada untuknya, hanya untuknya, tidak ada yang lain.


Tadi dia memang sengaja berada di salah satu kamar di Villa itu bersembunyi untuk melampiaskan kesedihan, kemarahan dam kecemburuannya. Dia mendengar Kiki meneriakkan namanya untuk mencarinya, namun dia tidak mau menampakkan dirinya karena dia rasa sudah tidak diperlukan lagi sekarang oleh Kiki dan yang terpenting dia tidak kuat jika bertemu dengan Kiki untuk saat ini setelah dia melihat keromantisan Kiki bersama Aydin.


Ah, mungkin ini yang dulu dirasakan oleh Kiki ketika melihatku bersama Linda di restauran Mall saat itu. Pasti rasanya sesakit ini. Pantas saja Kiki lebih memilih menjauh dan menghilang. Bodohnya aku yang tidak mengerti perasaanmu waktu itu. Seandainya aku tau perasaanmu sama denganku waktu itu, pasti aku akan memperjuangkan mu. Ya Allah, tolonglah hamba Mu ini, batin Raditya tak henti-hentinya mengharapkan Kiki.


Di sebuah kamar sepasang suami istri sedang menuntaskan hasrat terpendamnya karena terpisah beberapa hari. Lenguhan dan ******* menyertai indahnya malam yang mereka ciptakan.


Kini Aydin dan Kiki berada di Villa milik Aydin yang berdekatan dengan Villa milik keluarga Raditya. Aydin sengaja mengajak Kiki ke Villa nya karena menurutnya lebih baik mereka menginap semalam karena memang hari sudah mulai sore dan tujuan utamanya agar mereka bisa berdua menikmati malam mereka yang beberapa hari ini mereka tinggalkan.


"Kurang ajar banget mereka berdua. Sudah dibela-belain jauh-jauh kesini malah ditinggal. Kemana sih mereka?" Kevin menggerutu di dalam mobilnya.


Mobil Kevin berjalan sangat pelan, dia memperhatikan di sepanjang jalan berharap bertemu dengan adiknya. Nyatanya dia malah melihat mobil Aydin yang terparkir di depan Villanya. Langsung saja dia membelokkan mobilnya ke Villa Aydin. Diketuknya pintu utama Villa tersebut, namun sudah lama sekali dia mengetuk berulang-ulang namun tak kunjung ada yang membukakan pintu. Lelah, sungguh Kevin merasa lelah, sedari pagi dia bolak-balik antara Villa dan kota mereka, namun sesampainya dia di Villa lagi malam-malam begini malah tidak ada manusia yang menyambutnya.


Hufft....


Dihembuskannya nafasnya dengan kasar. Karena sudah sangat lelah dan dia ingin sekali merebahkan tubuhnya, akhirnya dia menghubungi Aydin. Sudah sekian kalinya dia menekan tombol hijau, namun tak juga ada suara yang tersambung di seberang sana. Pada saat ke sebelas kalinya baru ada yang mengangkat teleponnya. Suara Aydin yang parau membuat Kevin mengurungkan niatnya untuk memarahi adik ipar sekaligus sahabatnya ini.


Pintu utama Villa terbuka, terlihatlah sosok Aydin dan Kiki yang wajahnya tampak kelelahan. Ya iyalah kelelahan, mereka kan habis bergelut di atas ring.


"Kamu itu Dek pergi dari Villa Raditya gak bilang-bilang. Tau gitu Kakak gak balik kesini. Capek banget tau gak bolak-balik kesini seharian," Kevin nyelonong masuk begitu saja ke dalam sambil ngomel setelah pintu dibuka.


"Ups maaf Kak. Hehehe....," Kiki nyengir tak berdosa.


"Kok tau kita ada disini?" Aydin bertanya pada Kevin sambil menggandeng pinggang Kiki berjalan ke ruang tamu menyusul Kevin.


"Tadi aku ke Villa Raditya gak ada orang. Aku hubungi Raditya katanya Kiki tadi pergi sama suaminya. Aku tanya lebih detailnya dia gak jawab, katanya aku disuruh nanya kalian. Kok bisa kamu nyusul kesini Bro?" Kevin merebahkan dirinya di sofa.


Sudah dilupakannya tata krama bertamu di rumah orang. Badannya cukup lelah dan dia rasa mereka harus lebih hormat padanya karena Kevin adalah Kakak Kiki.

__ADS_1


"Orang di kebun teh ku mengatakan padaku bahwa mereka melihat istriku disini. Jadi aku langsung saja menyusulnya kesini. Kelamaan nungguin kamu mempertemukan aku sama Kiki. Dia kan istriku, jadi aku punya hak untuk nemuin dia, bahkan ngajak dia kemana pun," Aydin menjawab pertanyaan Kevin sekalian menyindirnya.


"Punya hak sih punya hak, tapi jangan nyusahin orang, pergi gak bilang-bilang," Kevin memejamkan matanya dan meletakkan tangan kanannya di atas matanya.


"Maaf, kelupaan saking senengnya. Udah sono pulang, ganggu aja sih," usir Aydin dengan tidak hormat pada Kevin.


"Dasar adik ipar lucknut. Gak ngurus ya sama kalian, aku mau nginap sini sekarang, aku capek, aku mau tidur, bye," Kevin berdiri dan berjalan ke kamar yang dulu pernah dia tempati.


Aydin dan Kiki saling menatap setelah Kevin berbicara dan meninggalkan mereka berdua di ruang tamu, kemudian bibir mereka saling tersenyum dan akhirnya mereka berbarengan tertawa. Mereka merasa terhibur dengan kedatangan Kevin. Setelah itu mereka kembali ke dalam kamar mereka. Dan lagi-lagi Aydin merayu Kiki agar mau melakukan malam panjang yang berkesan di tempat berkesan ini, dimana mereka untuk pertama kalinya saling memiliki dan sekarang tempat ini juga lah yang menyatukan mereka setelah tragedi yang memisahkan mereka untuk sementara.


Pagi yang begitu indah menyapa. Suara kicauan burung yang menyambut kecerahan alam setelah gemericik air hujan berhenti. Tadi subuh suara air gemericik terdengar dari luar kamar mereka. Mereka terbangun oleh suara alarm subuh dari ponsel Aydin. Mereka bangun meskipun mereka baru saja tertidur. Sengaja Aydin tidak mau mengajak Kiki mandi berlama-lama karena takut waktu subuh akan segera berakhir. Setelah melaksanakan shalat subuh, mereka kembali bergelung di bawah selimut. Sungguh Aydin melakukan pembalasan dendam atas waktu mereka yang berlalu saat tidak bersama. Badan Kiki terasa sangat capek seolah tak bertulang, namun tak dipungkirinya, ada kepuasan yang begitu besar dalam hatinya dan dia juga melihat suaminya yang merasakan hal yang sama seperti uang dia rasakan. Dan sepertinya mereka lupa akan kehadiran Kevin, sang kakak yang rela melakukan apa saja untuk adik tercintanya.


Setelah hujan berhenti, Kevin berniat untuk jalan-jalan disekitar Villa. Dia jadi teringat Dokter Vina, seandainya saja Dokter Vina ada disini bersamanya.


Aish... kenapa jadi kepikiran Dokter Vina ya? Apa aku menyukainya? Sepertinya dia juga masih belum ada pasangan. Gass aja lah biar gak sendirian, kan menyedihkan kalau ditempat seperti ini sendirian gak ada gandengan, batin Aydin.


Entah mengapa tiba-tiba saja dia teringat Dokter Vina, dan setiap mengingatnya, bibir Kevin pun tersenyum tanpa sadar. Memang hubungan Kevin dengan Ranti sudah berakhir Sebulan yang lalu. Lama-lama Kevin merasa tidak nyaman dan terlalu dikekang oleh Ranti. Mungkin karena efek takut kehilangan, jadi Ranti bersikap seperti itu. Namun Kevin bertambah muak ketika Ranti menuduh Kevin yang bukan-bukan hanya karena dia bercanda atau mengobrol dengan teman satu kelasnya. Padahal Kevin kan tipe cowok yang setia dan tidak pernah menggoda cewek, berbeda dengan Kenan, sahabatnya yang playboy namun katanya sekarang sudah insyaf.


Kevin berjalan kaki tak tentu arah, dia hanya mengikuti kemana kakinya pergi. Sungguh menyenangkan berada di tempat seindah ini. Kevin berniat untuk membeli Villa juga untuk tempat singgah keluarganya. Dipandanginya setiap pemandangan disepanjang jalan. Dia sangat betah dan enggan meninggalkan tempat ini. Tak terasa dia sampai di warung bubur ayam tempat mereka makan waktu dulu bersama sahabat-sahabatnya dan sahabat-sahabat adiknya. Dia duduk di salah satu kursi di pojokan dekat dengan jendela. Niatnya sih agar bisa tetap memandang keindahan alam di sana, namun pandangannya terhenti ketika dia melihat sosok orang yang tak asing baginya.


"Binggo... sekarang aku tau dengan siapa kamu Kenan," Aydin menyeringai sambil berkata lirih.


Kevin memakan buburnya dengan tetap menatap kedua orang yang dia kenal itu. Kevin merasa heran karena Kenan dan gadis itu tetap bercanda dan asik mengobrol meskipun ada yang memperhatikannya. Apa mereka sudah menganggap tidak ada orang disekitar mereka sehingga mereka hanyut dalam percakapan mereka sendiri. Setelah menyantap bubur dan meminum habis teh hangatnya, Kevin tetap duduk ditempatnya dan memperhatikan mereka sampai mereka berdiri dan keluar warung tersebut setelah Kenan membayarnya. Cepat-cepat Kevin membayar makanannya dan mengikuti mereka dengan hati-hati. Mereka juga berjalan kaki, entah kemana mereka akan pergi. Tiba-tiba saja Kevin mendekati mereka dan berada di tengah-tengah mereka dan mengalungkan kedua tangannya pada pundak mereka. Mereka berdua kaget karena tiba-tiba ada tangan yang mengalung dipundaknya. Mereka menoleh pada orang yang tiba-tiba berada ditengah-tengah mereka.


"Bang Kevin?"


"Kevin?"


Mereka bersamaan menyebut nama Kevin. Sedangkan Kevin hanya cengar-cengir menoleh pada mereka berdua tanpa rasa bersalah ditengah kebingungan mereka.


"Ngapain kalian berduaan di tempat indah sepagi ini? Kalian pacaran? Kalian nginap?" Kevin menatap mereka bergantian.


Baru saja Kenan akan membuka mulutnya, Kevin kembali berucap,


"Kamu dibolehin Abah kesini sama cowok modelan kayak dia?" Kevin menatap gadis itu ketika bertanya.

__ADS_1


Ya, gadis itu adalah Renita, adik dari Raditya.


"Woi Bro, modelan kayak gimana maksudnya?" Kenan tidak terima dengan ucapan dan sebutan Kevin padanya.


"Hahaha.... playboy cap karung," Aydin tertawa dan berseru melihat Kenan yang tidak terima dengan ucapannya.


"Perlu digaris bawahi Bro, playboy insyaf, udah tobat nih pengen dapet jodoh yang bener-bener gak kayak cewek-cewek yang selama ini dekat sama aku, pada agresif dan matre," Kenan membela dirinya dihadapan Renita.


"Hahaha... jadi ceritanya ini lagi pedekate sama Renita nih?" Kevin menggoda Kenan tapi matanya melihat Renita.


Renita kikuk dan tersipu malu. Dia tidak tahu akan berbuat apa dalam keadaan seperti ini.


"Emmm... itu tadi Bang Kenan minta ditemani melakukan riset untuk skripsinya disini," jawab Renita canggung.


"Hah, riset? Skripsi? Hahaha.... mau aja kamu dibohongi, kita udah selesai sidang skripsi malahan. Hahahaha.... Kenan... Kenan...," Kevin tertawa terbahak-bahak membuat Kenan mendecih karena malu kebohongannya diketahui oleh Renita.


"Hah, beneran Bang?" Renita menoleh ke arah samping kanannya menatap Kenan yang tubuhnya agak terhalang oleh tubuh Kevin.


"Itu... maaf ya, aku cuma beralasan aja agar kamu mau jalan sama aku. Habisnya aku bingung mau ngajak kamu jalan takut ditolak, jadi aku berbohong, maaf ya...," Kenan menyingkirkan tubuh Kevin untuk mendekat pada Renita.


"Kok gitu? Kenapa ngajak jalan?" Renita bertanya dengan polosnya.


"Karena aku suka sama kamu, aku ingin kamu jadi pacar aku. Beneran, aku bersumpah aku sudah berhenti jadi playboy dan gak pernah deketin cewek lain. Apa kamu mau jadi pacar aku?" Kenan menjawab pertanyaan Renita sekaligus mengajak Renita untuk jadi pacarnya. Sudah kepalang tanggung jadi sekalian saja Kenan menyatakan perasaannya.


"Uhuk... uhuk...," Kevin pura-pura tersedak mendengar perkataan Kenan.


"Dasar pengganggu lu," Kenan menoleh ke belakang, tepatnya Kevin berada dan dia menjorokkan badan Kevin agar menjauh dari mereka.


"Hahaha.... syaratnya harus hafal Juz Amma kata Abah," Kevin tertawa dan kembali menggoda Kenan.


"Hah, beneran?" Kenan kini menatap Renita untuk menanyakan kebenaran ucapan Kevin.


Renita menahan tawanya, dalam hati dia bahagia bisa bersama dan melihat Kenan seperti ini, namun dia juga ingin menjahili Kenan seperti permintaan Kevin yang memberikan kode pada Renita melalui anggukannya ketika melihat mata Renita.


Renita mengangguk, "Bisa?" dia bertanya pada Kenan dengan wajah serius, namun dalam hati dia tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Yaelah.... masa' syaratnya gitu sih Neng? Yang lain aja bisa gak?" Kenan mencoba bernegosiasi.


__ADS_2