Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
212


__ADS_3

Satu minggu sudah sejak kejadian Raline didorong jatuh oleh Resti, Tristan dipukul oleh Kenshin dan Resti bersenang-senang dengan Putra di kamar kos nya.


Selama satu minggu itu, Tristan tidak membiarkan Raline menjauh darinya. Setiap kesempatan, dia selalu berada di dekat Raline hingga Raline tidak bisa menolaknya karena janjinya untuk memberikan kesempatan pada Tristan membuktikan perasaan cintanya pada Raline.


"Ran, kenapa ngeliatin ular itu kayak gitu sih?" tanya Naufal pada Rania.


"Enggak, gapapa kok," jawab Rania dengan gugup.


Rania selalu terbayang adegan di video Resti dengan Putra yang dilihatkan oleh Ali pada waktu itu ketika dia melihat atau berpapasan dengan Resti. Dia tidak menyangka jika Resti si pendiam itu ternyata mempunyai kehidupan yang berbeda dengan penampilannya di sekolah.


"Masih berani dia datang ke sekolah? Gak malu apa? Dikira satu minggu dia absen gak masuk sekolah bisa membuat anak-anak lula akan perbuatannya?" Tristan tersenyum miring ketika mengatakannya.


"Muka beton dia," sahut Naufal sambil tertawa lebar dan diikuti oleh Tristan yang juga tertawa mendengar ucapan Naufal tentang Resti.


Berbeda dengan Tristan dan Naufal, Raline dan Rania malah enggan memandang Resti karena mereka punya alasan tersendiri.


Baru kali ini Resti berani pergi ke kantin untuk mengisi perutnya. Lama kelamaan Resti tidak ingin direndahkan oleh teman-temannya. Mulai hari ini dia akan melawan jika dia direndahkan.


Dia memang malu karena kenyataan yang harus dia terima, namun dia juga tidak bisa bertahan jika hanya bisa menerima hinaan dari semuanya.


"Kok tiba-tiba bau busuk ya?" salah satu siswi di kantin menyindirnya ketika Resti berdiri di dekatnya untuk memesan makanan.


"Padahal tadi enggak loh. Eh jangan-jangan gara-gara ada cewek busuk ini ya jadi bau busuk di sini?" ujar salah satu siswi yang ada di sana juga menimpali ucapan temannya tadi.


Resti menatap siswi-siswi tersebut dengan bengis. Tangannya sudah terangkat hendak memukul siswi tersebut, namun ketika tangannya hendak menyentuh kepala siswi tersebut, penjual di kantin tersebut menghentikannya.


Penjual di kantin tersebut mencekal tangan Resti dan berkata,

__ADS_1


"Hentikan! Sebaiknya kamu pergi dari sini jika hanya membuat keributan saja!"


Resti merasa sangat terhina, sehingga dia menghempaskan tangan yang mencekalnya dan berlari keluar dari kantin dengan amarah yang tidak bisa dipadamkan lagi.


Naufal dan Tristan tertawa melihat Resti yang dipermalukan oleh teman-teman mereka di kantin itu. Sedangkan Raline dan Rania menatap iba pada Resti.


Raline sebenarnya merasa kasihan pada Resti, namun sikap Resti lah yang membuat mereka semua tidak menyukainya, bahkan banyak yang membencinya.


Rania juga merasa kasihan pada Resti, namun mengingat perilakunya pada Raline dan Ali membuatnya muak padanya.


"Aku gak boleh kalah sama mereka. Aku harus kuat, aku harus bertahan di sini, karena jika aku keluar dari sekolah ini, mereka pasti akan bersorak kegirangan karena merasa menang. Ya, aku harus bertahan, aku gak boleh goyah," Resti berkata dengan memandang cermin yang berada di dalam toilet perempuan dan tidak ada siapa-siapa di sana.


Niat Resti sangat kuat seperti dulu saat dia di bully teman-temannya di SMP, sayangnya waktu itu masih ada Ali yang menolongnya, hingga dia bisa berlenggang dengan sombongnya di hadapan teman-teman yang mem bully nya.


Kini dia tidak memiliki siapa-siapa untuk membelanya. Tadinya dia berharap agar Tristan bisa berpacaran dengannya seperti Ali waktu itu. Dia berusaha mendekati Tristan dan dia bertekad untuk memberikan tubuhnya untuk Tristan jika memang Tristan menginginkannya.


Bertahan, bertahan, bertahan. Kamu harus kuat Resti! ucapnya dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri ketika akan melangkah memasuki ruangan kelasnya.


Semua mata menatapnya dengan jijik dan senyuman mereka seolah meremehkannya. Resti hanya menulikan telinganya dan membutakan matanya untuk tidak mendengar dan melihat apa yang mereka bicarakan tentangnya.


Hingga tibalah saatnya bel pulang berbunyi. Semuanya keluar dari ruang kelas tersebut kecuali Resti. Dia memang sedari dulu selalu pulang terakhir kali.


Pemandangan yang sangat dibencinya kembali disuguhkan oleh Ali dan Rania. Mereka memang seperti layaknya sepasang kekasih. Sang laki-laki menjemput kekasihnya ketika pulang sekolah. Dan hal itu pun pernah dia rasakan ketika berpacaran dengan Ali.


Karena rasa marah dan emosinya yang meluap-luap, Resti menghubungi Putra agar menjemputnya di sekolahnya.


Putra yang memang sedang berada di daerah dekat sekolah Resti, hanya dalam waktu kurang lebih sepuluh menitan saja dia sampai di depan sekolah Resti.

__ADS_1


Seperti kebiasaan Ali yang memang tidak langsung pergi setelah Rania sudah berada bersamanya. Ali selalu menggoda Rania dan mengajaknya bercanda terlebih dahulu sebelum mereka pergi dari tempatnya menunggu Rania ketika menjemputnya.


Terdengar suara motor khas geng anak motor mendekati gerbang sekolah. Rania dan Ali menoleh ke arah suara datangnya motor tersebut, dan ternyata motor tersebut berhenti tepat di depan gerbang yang sudah terdapat Resti berdiri di sana.


Ali tersenyum sinis dan meremehkan ketika Resti menatapnya sebelum naik ke boncengan motor Putra. Sedangkan Resti memandang Ali dengan penuh kebencian.


Sebenarnya Resti merasa terhina karena Ali lebih memilih Rania daripada dirinya. Dan dia merasa direndahkan oleh Ali ketika dirinya meminta Ali untuk menjemputnya tempo hari namun Ali dengan tegas menolaknya serta memutuskan hubungan mereka.


Tangan Resti melingkar di pinggang Putra dengan eratnya sehingga tidak berjarak sedikitpun dengan tujuan untuk memanas-manasi Ali yang sedang melihatnya.


Namun usahanya sia-sia karena Ali tidak memandangnya sedikitpun setelah tadi Ali tersenyum sinis padanya.


"Kamu kenal laki-laki itu Al?" tanya Rania pada Ali yang sedari tadi memandangnya dengan senyum yang seolah menggodanya.


"Apa sih Sayang? Udah deh gak usah diurusi. Itu urusan mereka, dan urusan kita hanya tentang kita saja," jawab Ali sambil tersenyum menatap wajah Rania yang tak pernah bosa. dilihatnya.


"Ih apaan sih senyum-senyum sendiri gitu? Gila ya?" tanya Rania dengan wajah yang sedikit merona karena malu di pandang oleh Ali sedari tadi seperti itu.


"Iya. Gila karena kamu. Aku tergila-gila sama kamu," jawab Ali sambil tersenyum lebar dan masih saja memandang Rania tanpa berkedip.


"Ah udah ah, yuk pulang, lapar nih," ucap Rania yang sebenarnya mengalihkan perhatian Ali.


"Ya udah yuk, tangannya pegangan sini Sayang biar gak jatuh," Ali berkata sambil mengambil tangan Rania untuk dilingkarkan di pinggangnya.


"Ih modus!" Rania berseru dengan memukul punggung Ali.


Ali hanya terkekeh sedangkan Rania melingkarkan kembali tangannya di pinggang Ali dan kepalanya di sandarkan di punggung Ali.

__ADS_1


"Mmmmm.... nyaman sekali," ucap Rania tanpa sadar yang membuat Ali tersenyum senang mendengarnya.


__ADS_2