Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
228


__ADS_3

Resti menarik tangan Putra yang sedang mabuk. Tentu saja Resti tidak sekuat itu. Putra bisa membalikkan keadaan dengan mudahnya.


Kini tubuh Resti sudah terseret dengan cepatnya. Putra menyeret Resti menuju halaman rumahnya yang sudah sangat gelap dan sepi.


Tubuh Resti dijatuhkan dengan kerasnya di tanah hingga dia meringis kesakitan.


"Auuughhhh!!!"


"Pergi dari sini dan jangan mencariku lagi!"


Putra berteriak sambil menunjukkan jarinya pada jalan sebagai tanda dia mengusir Resti.


"Putra, aku mohon bertanggung jawablah. Nikahi aku, setelah itu pergilah, aku tidak akan mencarimu lagi," ucap Resti memohon.


Resti beranjak dan berlutut menggelayuti kaki Putra untuk memohon padanya.


Dengan kerasnya Putra menghempaskan tubuh Resti sehingga terjatuh kembali di tanah.


Resti mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dan Putra hanya tersenyum melihat benda tersebut.


Ternyata Resti membawa pisau dari rumahnya tadi. Dia memang berniat akan mengancam Putra dengan pisau yang dia bawa.


Pisau tersebut diletakkan di dalam tasnya sehingga tidak ada yang tahu jika Resti membawa benda tajam yang berbahaya.


Pisau tersebut dipegangnya dan diarahkan di depan Putra.


"Ikuti keinginanku atau kau akan mati!" teriak Resti dengan histeris.


Putra hanya tersenyum meremehkan apa yang dilakukan oleh Resti padanya.


Dalam keadaan mabuk seperti itu, Putra tidak bisa berpikir apa-apa. Dia hanya menuruti apa yang akan dilakukannya tanpa berpikir apapun.


Anggota geng motor Putra yang berada di dalam rumah seketika keluar setelah mendengar suara Resti yang berteriak histeris mengancam Putra.


Mereka melihat Resti mengancam Putra menggunakan pisau. Putra yang hanya diam saja membuat Resti semakin gencar mengancamnya. Dia lebih mendekat pada Putra dengan pisaunya yang semakin di dekatkan pada tubuh Putra.


Namun Dengan gesitnya Putra membalikkan keadaan. Kini pisau yang dipegang Resti berbalik arah menghadap ke arahnya sendiri.


"Pergilah, atau ku habisi kau," Putra berganti mengancam Resti.


"Lepaskan! Lepaskan aku! Dasar lelaki tidak berguna! Lelaki tidak bertanggung jawab! Seenaknya saja kau mengambil keuntungan dariku dan setelah itu kau pergi tidak mau bertanggung jawab," Resti berteriak memaki Putra.


"Aku gak pernah maksa kamu. Dan kamu sendiri yang mau melakukannya. Wanita tidak tau malu, murahan, seenaknya aja ngatain orang," ucap Putra yang sedang emosi dengan lebih mengeratkan pisau itu pada leher Resti.

__ADS_1


Teman-teman Putra segera mendekat dengan berlari ke arah Putra dan Resti untuk menghentikan Putra yang sedang dikuasai emosi dalam keadaan mabuk.


"Bro, Bro... lepasin dia."


"Dia bisa mati."


"Bisa gawat kalau dia mati di sini."


Teman-teman Putra menghentikan Putra yang sudah seperti kesetanan.


Putra pun melepaskan Resti dan menghempaskan tubuhnya jatuh ke tanah. kembali. Kemudian dia berteriak pada Resti.


"Pergilah dan jangan coba-coba untuk mencariku lagi!"


Putra dan teman-temannya berjalan masuk ke dalam rumah. Namun Resti segera berlari dan memegang tubuh Putra untuk menghentikannya masuk ke dalam rumah.


Terjadilah tarik menarik antara Resti dan Putra. Resti mempertahankan tubuh Putra agar dia tidak meninggalkannya. Sedangkan Putra menarik tubuh Resti agar menjauhinya.


Tarik menarik itu terjadi begitu saja hingga Resti dan Putra terhuyung dan mereka jatuh ke tanah dengan posisi Putra menindih Resti. Dan naasnya, pisau yang dibawa oleh Resti mengarah padanya sehingga pisau tersebut menancap di perutnya.


"A-auhhh," ucap Resti lirih.


Putra berdiri ketika sudah tidak merasakan Resti menariknya.


"To-tolong a-ku," ucap Resti terbata-bata.


"Darah... darah....," Putra berkata dengan gugup menjauhi Resti sambil melihat tangannya yang berlumuran darah.


Keadaan yang terjadi begitu cepat membuat teman-teman Putra terbengong. Mereka tersadar ketika Putra mengatakan kata darah berkali-kali.


Dengan segera teman-teman Putra itu mendekati Putra dan mereka melihat Resti yang sudah sekarat.


"Gawat, kita apakan dia?" tanya salah satu teman Putra.


"Kita buang aja di rawa-rawa sana," jawab yang lainnya sambil menunjuk rawa-rawa yang sangat gelap dan sepi diantara kebun jagung.


"Bro, gimana ini?" tanya salah satu dari mereka pada Putra.


Putra terpaku melihat darah segar di tangannya. Dia tidak menjawab pertanyaan dari teman-temannya.


"Putra, kita apakan dia? Apa kita buang saja?" tanya teman yang lainnya pada Putra dengan menggerak-gerakkan lengan Putra.


"Buang, buang saja dia. Dan kita harus cepat pergi dari tempat ini," jawab Putra gugup.

__ADS_1


"Kita bagi tugas saja. Kita harus menghilangkan jejaknya," ucap salah satu di antara mereka.


"Ok, ayo cepat kita mulai. Jangan lupa pisaunya hilangkan jejak tangan Putra dan pegangkan kembali padanya," timpal salah satu dari mereka.


Dengan segera mereka membagi tugas. Dua orang mengangkat tubuh Resti dengan hati-hati menuju rawa-rawa yang berada di sekitar kebun jagung.


Teman-teman Putra yang lain membersihkan darah dan jejak Resti yang terdapat pada tanah.


Setelah mereka semua kembali ke rumah tersebut, mereka segera meninggalkan rumah itu dengan sangat hati-hati.


Putra sangat takut dan gugup hingga dia tidak bisa membawa motornya sendiri. Dia tidak menyangka jika itu akan terjadi padanya.


Kini mereka berada di kamar kos milik salah satu dari mereka. Teman-teman Putra menenangkan Putra dengan memberinya banyak minuman agar Putra lupa akan kejadian tadi dan dia bisa tidur dengan nyenyak.


"Tidak, bukan aku. Bukan aku yang melakukan itu. Bukan aku yang membunuhmu!"


Putra berteriak dalam tidurnya hingga dia terbangun dan duduk dengan keringat dingin yang membasahi dahi dan mengalir di pelipisnya.


Ternyata teman-teman Putra sedang tidur dengan nyenyaknya sehingga dia tidak tahu jika Putra sedang mengigau dalam tidurnya dan berteriak hingga terbangun ketakutan.


Putra melihat Resti yang sedang meminta tolong padanya. Dan Resti terus mendekati Putra, memintanya untuk menolongnya dan bertanggung jawab pada kehamilannya.


"Tidak, tidak, bukan aku. Bukan aku yang membunuhnya. Bukan aku!"


Putra berseru untuk menyadarkan dirinya sendiri bahwa bukan dia yang membunuh Resti.


Entahlah bagaimana keadaan Resti sekarang ini. Masihkah dia hidup atau dia sudah meninggal? Putra sendiri tidak mengetahuinya dengan jelas.


Putra memang anak yang ugal-ugalan, badung, dan seenaknya. Namun dia tidak pernah ada niatan untuk membunuh seseorang.


Oleh karena itu dia sangat syok karena melihat darah segar di tangannya dan darah tersebut berasal dari tubuh Resti yang sedang bertengkar dengannya.


Di sisi lain, tepatnya di rumah Resti, ibu Resti menunggu Resti hingga ketiduran di ruang tamu.


"Resti!" teriak ibu Resti ketika tertidur di kursi ruang tamu menunggu kedatangan Resti.


"Ada apa Bu?" tanya ayah Resti sambil berlari dari dapur ketika sedang membuat kopi.


"Resti... Resti...," ucap ibu Resti dengan panik.


"Kenapa Resti Bu? Ibu bermimpi?" tanya ayah Resti kembali.


Ibu Resti mengangguk dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya dan nafas yang tersengal-sengal.

__ADS_1


"Resti ke mana sih Bu, sampai jam segini kok belum pulang?" tanya ayah Resti yang terlihat sangat khawatir pada anaknya.


__ADS_2