
"Mobil siapa ini Pak?" Kenshin bertanya pada pak satpam yang sedang bertugas.
"Mobil temannya Mbak Raline Tuan muda," jawab satpam tersebut yang masih setiap berdiri di samping Kenshin.
"Cewek apa cowok?" tanya Kenshin kembali pada satpam tersebut.
"Laki-laki Tuan muda. Sepertinya Mbak Raline terluka, jadi dia mengantarkan Mbak Raline pulang. Radi aja Mbak Raline sampai digendong masuk ke dalam rumah," satpam tersebut bukan hanya sekedar menjawab pertanyaan Kenshin, bahkan dia menjelaskan pada Kenshin apa yang dia lihat.
Sontak saja Kenshin segera berlari masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Miyuki yang masih belum turun dari mobil.
Kenshin berlari ke dalam rumah dan segera mendekati Tristan ketika melihat Tristan duduk si dekat Raline.
Kenshin mencengkeram kerah seragam Tristan dengan erat dan melayangkan tinjunya pada pipi kiri dan kanan Tristan.
"Ken!" Kiki berseru menghentikan Kenshin.
Seketika Raline mendekat ke arah Kenshin dan memeluknya dengan erat dari depan agar dia tidak memukul Tristan kembali.
Memang benar Kenshin masih kls sembilan SMP, namun postur tubuhnya layaknya anak SMA yang berbadan atletis, karena memang dia selalu berolahraga bersama dengan Aydin, papinya. Dan tentunya dia tidak pernah absen berlatih bela diri di dojo milik Aydin yang dikelola temannya.
"Ken, hentikan, aku mohon," Raline menghentikan Kenshin, memohon dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca memandang wajah Kenshin.
Seketika tangan Kenshin melepas cengkeraman tangannya dari kerah Tristan dan menghentikan tinjuannya. Kini tangan Kenshin membalas pelukan Raline dengan memeluk erat tubuh Raline.
"Kamu gapapa?" tanya Tristan ketika mengurai sedikit pelukannya untuk memandang wajah Raline.
Raline mengangguk dengan memandang wajah Kenshin yang sangat khawatir padanya. Kemudian dia memeluk kembali tubuh Kenshin yang lebih tinggi darinya.
Nyaman, sangat nyaman yang dirasakan oleh Raline. Kiki hanya tersenyum melihat dan Kenshin yang berpelukan karena sudah hal yang biasa menurutnya, mereka menganggap seperti kakak beradik.
Sedangkan Tristan sedang menahan rasa panas dan nyeri di pipinya akibat pukulan dari Kenshin. Namun hatinya juga tak kalah sakit melihat gadis yang dicintainya memeluk laki-laki lain meskipun umurnya lebih muda dari mereka.
"Halo every badeh princess here....!!!" Miyuki berteriak seiring langkah kakinya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Namun tak ada yang menyahuti suara cempreng Miyuki tersebut. Semua perhatian mereka tertuju pada Kenshin dan Raline.
"Wow... ada apa nih rame-rame di sini? Eh ada cowok ketiga.... tumben main ke sini, ngapain?" Miyuki bertanya pada Tristan.
Tristan hanya diam saja karena dia tidak tahu jika yang dimaksud cowok ketiga itu dia. Panggilan yang berasal dari Kenshin itu menular pada Miyuki yang memang dia tidak suka jika ada yang membuat marah Kenshin, kakak tercintanya yang selalu bertengkar dengannya.
Kenshin mengurai pelukannya pada Raline dan menggandeng tangan Raline menuju kamarnya. Raline tidak menolak karena dia takut jika Kenshin kembali marah padanya.
Raline memang sangat menghindari membuat Kenshin marah, karena jika Kenshin sudah marah, seperti yang terlihat tadi, tanpa bertanya dia langsung saja mengeluarkan kemarahannya.
Dan Raline pun tahu jika Kenshin sangat tidak suka pada Tristan. Maka Raline berpikir dia harus mengikuti keinginan Kenshin.
"Ngapain masih di sini? Sono pergi jauh-jauh!" Miyuki mengusir Tristan dengan menggerak-gerakkan tangannya untuk menyuruh Tristan pergi dari rumahnya.
"Miyuki.... gak sopan ih, gak boleh gitu," ucap Kiki memberitahu Miyuki.
"Biarin Mi, dia udah bikin Kenshin marah. Yuki gak suka," jawab Miyuki yang kemudian berjalan menuju kamarnya.
Kemudian Kiki mendekati Tristan dan melihat luka memar di wajah Tristan yang disebabkan oleh Kenshin.
"Biar Tante obati ya," ucap Kiki kemudian.
"Tidak usah Tan, biar Tristan obati di rumah saja," jawab Tristan sambil mencoba tersenyum pada Kiki.
"Tapi Tris-"
"Gapapa Tante, Tristan ngerti kok. Tolong sampaikan pada Raline, saya pulang dulu," Tristan menyela ucapan Kiki.
"Ya sudah, nanti Tante sampaikan pada Raline. Maafkan mereka ya," Kiki kembali meminta maaf pada Tristan.
Tristan pun mengangguk dan segera masuk ke dalam mobilnya.
"Sial!" Tristan berseru sambil melihat wajahnya pada kaca spion di dalam mobilnya.
__ADS_1
"Kuat juga tuh anak. Hubungan mereka sedekat apa sih hingga bisa seperti itu? Sepupu? Saudara apa yang sampai sedekat itu? Apa aku saja yang tidak pernah mempunyai hubungan seperti mereka?" Tristan berbicara pada dirinya sendiri di dalam mobil sambil menyalakan mesin mobilnya.
Di dalam kamar Kenshin, Raline duduk di sofa yang ada dalam kamar tersebut. Dia menatap Kenshin yang sedang berganti atasan seragamnya dengan kaos.
Sudah menjadi pemandangan biasa bagi Raline melihat badan atletis Kenshin, karena setiap selesai berolahraga bersama Aydin dan sahabat-sahabatnya, Kenshin selalu melepas atasannya di hadapan Raline, Miyuki dan Kiki yang selalu menemani mereka berolahraga.
Tak heran jika para gadis di sekolah Kenshin bersorak ketika Kenshin melepas kaos basketnya setelah latihan atau pertandingan basket usai dilakukan.
Badan atletis dan perut yang berotot milik Kenshin tidak menampakkan bahwa Kenshin adalah siswa SMP. Dan itu semua berkat kerja keras Kenshin bersama Aydin, yang selalu mensuport dan mendampingi Kenshin.
Awalnya Raline pun sama seperti yang lainnya ketika melihat Kenshin melepas bajunya. Mata Raline seolah tidak rela melepaskan pemandangan indah di hadapannya itu. Namun lama-lama dia menyadarkan dirinya jika dia dan Kenshin sudah seperti saudara sendiri.
Tiba-tiba saja Kenshin meletakkan kepalanya di pangkuan Raline, dan dia memejamkan matanya.
"Aku capek," ucap Kenshin singkat.
Raline mengerti jika Kenshin ingin tidur di pangkuannya seperti biasanya. Dan mungkin juga dia malas membahas tentang peristiwa tadi.
"Kakak cantik kenapa? Katanya Pak satpam tadi Kakak terluka, beneran?" Miyuki menyelonong masuk kamar Kenshin dan bertanya pada Raline ketika sudah duduk di sebelah Raline sambil memeluknya.
"Mimi, diem!" Kenshin berseru menegur Miyuki sambil matanya terpejam.
"Dih tidur mah tidur aja, ngapain pakai dengerin orang lagi ngomong," Miyuki membalas seruan Kenshin dengan omelannya.
"Sssttt... Ken capek princess, ngomongnya pelan-pelan aja ya," Raline memberitahu Miyuki sambil tangannya mengusap lembut kepala Kenshin agar tertidur dengan nyenyak.
Kenshin mengambil tangan Raline yang tidak memegang kepalanya. Dibawanya tangan Raline itu untuk diletakkan di atas dadanya dan dipegang erat oleh Kenshin agar tidak terlepas darinya.
Kini Kenshin bisa merasa tenang dalam tidurnya meskipun suara Miyuki masih terdengar di telinganya.
Bibir Kenshin tersungging tipis, dalam hati dia berkata,
Aku tidak akan melepaskan tanganmu ini, cantik.
__ADS_1