
"Pa, apa anaknya Pak Aydin belum tahu kalau kita sudah dijodohkan?"
Tiba-tiba Tristan datang dan bertanya dengan sedikit kesal pada Papanya.
Papa Tristan mengernyitkan dahinya. Dia mengingat-ingat apa dia sudah memberitahukan pada Tristan mengenai syarat dari Aydin dan Kiki.
"Apa Papa sudah bilang sama kamu?" tanya Papa Tristan yang menatap lekat mata Tristan.
"Tentang apa Pa?"
Bukannya menjawab, Tristan malah bertanya balik pada Papanya.
"Pak Aydin mengatakan bahwa beliau meminta agar anaknya lulus terlebih dahulu. Setelah itu kalian baru tunangan," tutur Papa Aydin sambil membenarkan kaca matanya.
"Nunggu lulus? Kenapa Pa? Lama sekali," ucap Tristan sambil menghela nafasnya kecewa mendengar apa yang dikatakan oleh Papanya.
"Ya biar dia konsen sekolah dulu. Lagian nunggu umur kalian sesuai dulu baru kalian bisa menikah," Papa Tristan menyambung kembali ucapannya.
"Nunggu umur? Kan udah gede Pa," ucap Tristan heran mendengar jawaban dari Papanya.
"Kamu kan belum kerja. Mau kamu kasih apa istrimu? Udah, kamu yang rajin aja belajarnya agar cepat lulus, terus nikah," tutur papa Tristan intuk menyudahi percakapannya dengan putranya itu.
Tristan bertambah kesal karena merasa papanya sendiri tidak mendukungnya.
"Ok, akan aku buktikan jika aku bisa melakukannya. Aku akan lulus lebih cepat dan mengajaknya menikah denganku," Tristan berjanji pada dirinya sendiri.
Papa Tristan yang masih ada disitu merasa senang karena anaknya kini lebih bersemangat demi gadis yang dicintainya.
Diambilnya ponsel dari sakunya, kemudian dia mengabarkan pada Aydin tentang perubahan sikap Tristan sekarang ini.
Tentu saja Aydin sangat senang mendengarnya. Kini dia bertambah yakin jika Tristan memang pilihan yang tepat bagi putri kesayangannya.
Aydin merasa lebih tenang karena putri manjanya itu bisa mempunyai suami yang sangat mencintainya, hingga dia berani meminta pada kedua orang tuanya untuk menjodohkan merek berdua.
Aydin juga yakin jika Tristan bisa menjaga Miyuki, putri kesayangannya itu lebih baik dari kedua orang tuanya karena cintanya yang lebih besar pada Miyuki.
__ADS_1
Berpikir seperti itu membuat Aydin menjadi senang. Dia merasa lebih tenang nantinya karena ada sosok suami yang sangat mencintai Miyuki sama seperti Aydin mencintai Kiki.
Begitupula dengan Kenshin. Sekarang dia lebih sibuk daripada sebelum-sebelumnya.
Selain sibuk dengan sekolahnya, Kenshin sibuk menyiapkan semua hal tentang masa depannya. Mulai dari rumah, pekerjaan, rencana kehidupan dan sebagainya.
Begitu matang perencanaan dari Kenshin hingga membuat Aydin dan Kiki bertanya-tanya. Apa yang sedang direncanakan oleh Kenshin.
"Kamu menyuapkan ini semua untuk apa?" tanya Aydin yang sedari tadi menahan rasa ingin tahunya sama seperti Kiki.
"Untuk masa depan Kenshin Pi," jawab Kenshin tanpa mengalihkan perhatiannya pada Aydin yang berada di sampingnya.
"Bagus sekali planning mu. Memangnya kamu sudah akan menikah?" tanya Aydin kembali yang sebenarnya ingin mengorek informasi pada anaknya itu.
"Cuma persiapan untuk masa depan Pi. Dan bila sudah saatnya nanti, Ken pasti akan menikahi perempuan pilihan Ken," jawab Ken dengan senyumnya yang mengembang mengingat wajah Raline yang tersenyum padanya.
"Rumah yang kemarin itu bagaimana Ken? Apa kamu menyukai dengan konsepnya?"
Kini Kiki yang mulai bertanya pada Kenshin. Dia menanyakan tentang rumah yang diinginkan oleh Kenshin dengan taman bunga warna-warni yang sangat luas dan indah.
"Luar biasa bagus Mi. Terima kasih Mami sayang. Tadi Ken sempat mampir ke sana. Dan Ken membawa Raline untuk melihat-lihat rumah itu," ucap Ken yang kini sudah menghentikan semua kegiatannya.
"Lalu apa hubungannya dengan Raline?" tanya Aydin heran.
"Ya gak ada Pi. Mami cuma ingin tau aja bagaimana pendapat Raline mengenai taman buatan Mami," jawab Kiki.
"Ooooh kirain perempuan yang dimaksud oleh Kenshin tadi Raline," ucap Aydin sambil mengangguk-angukkan kepalanya tanda dia mengerti.
Sontak saja Kenshin diam, dia belum siap untuk berbicara tentang perasaannya pada Raline dengan kedua orang tuanya.
Setelah itu Aydin mengajak Kenshin untuk ke ruang kerjanya. Karena mulai SMA ini, Kenshin benar-benar melakukan keinginannya. Dia belajar masalah bisnis pada Papinya. Dan Aydin tidak banyak bertanya karena dia tahu jika Kenshin tidak suka diurusi masalah pribadinya.
"Mami... Mi... Mami...," Miyuki memanggil maminya yang sedang serius mengerjakan pekerjaannya di laptop.
"Kenapa sayang?" tanya Kiki pada Miyuki yang sedang bertanya padanya dengan suara manjanya.
__ADS_1
"Mami bisa tunjukkan pangeran Miyuki gak? Miyuki pengen kenal, pengen ketemu Mi. Boleh ya?"
Miyuki berucap sambil menggoyang-goyangkan lengan Kiki sambil merajuk padanya.
Kiki menghentikan kegiatannya, dan dia menoleh ke arah anak kesayangannya itu yang kini sudah berada di sampingnya.
"Kamu pengen ketemu? Kenapa?" tanya Kiki pada Miyuki, putri kesayangannya.
"Ya pengen ketemu aja Mi. Masa' Miyuki gak boleh tau siapa yang jadi pangerannya Miyuki?"
Seperti dugaan Kiki, kini bibir Miyuki mengerucut ke depan. Dan Kiki tertawa melihat Miyuki sama persis seperti dirinya jika dalam keadaan kesal dan merajuk.
"Mami... Mami iiih... malah diketawain," Miyuki bertambah kesal lagi karena Kiki tidak henti-hentinya menertawakannya.
"Apa sih... bilang mau apa?" tanya Kiki kemudian setelah menghentikan tawanya.
"Kenalin Mi sama pangerannya Miyuki," rengek Miyuki.
"Belum saatnya sayang. Nanti aja ya kalau kamu udah lulus sekolah," jawab Kiki kemudian.
"Cuma kenalan doang Mi," ucap Miyuki yang kembali merajuk.
"Nanti aja kalian ketemu sekalian tunangan biar gak penasaran-penasaran lagi," ucap Kiki sambil terkekeh.
"Kapan Mi? Besok?" tanya Miyuki dengan sangat antusias.
Kiki menatap curiga pada Miyuki. Dia merasa Miyuki sangat antusias dengan perjodohannya.
"Princess Mami ini masih kecil loh. Masa' iya ingin cepat-cepat tunangan?" tanya Kiki penuh curiga.
"Cuma tunangan kan gapapa Mi," jawab Miyuki dengan entengnya.
Kenapa Miyuki jadi sangat antusias sekali seperti ini? Apa jangan-jangan dia sudah tau jika pangerannya itu adalah Tristan? Apa benar kata orang tua Tristan bahwa mereka saling mencintai? Jika memang benar, berarti cinta mereka harus kuat, karena pertunangan yang lebih awal membuatku takut seperti Raditya dan Linda. Apa lebih baik dinikahkan saja ya, jadi jarak antara tunangan dan pernikahan mereka hanya beberapa hari saja. Apa lebih baik seperti itu? Kiki bertanya-tanya dalam hatinya melihat putri kesayangannya itu tersenyum-senyum padanya.
"Mi... Mami... Mi!"
__ADS_1
Miyuki membuat kaget Maminya hingga Maminya itu mengatakan sesuatu yang ada dalam pikirannya saat itu.
"Gimana kalau sekalian menikah aja?"