
Hari berganti dengan begitu cepatnya. Hingga kini tak terasa Kiki sudah menjalani koas di sebuah rumah sakit. Sedangkan Aydin yang sudah lulus itu sekarang menjalani kesibukannya yang luar biasa, hingga kadang mereka hanya bertemu di malam hari saja ketika mereka tidur bersama. Kesibukan mereka masing-masing sebenarnya mendapatkan protes dari Aydin, namun mereka sama-sama menyadari semua ini adalah pengorbanan awal mereka yang harus dijalani sebelum nantinya mereka akan menikmati hasil dari perjuangannya ini. Kiki juga ingin sekali selalu berada di samping suaminya itu, namun itu tidak bisa karena kembali lagi pada kewajiban mereka yang harus mereka kerjakan. Namun mereka berjanji akan berlibur menikmati bulan madu mereka setelah masa koas Kiki berakhir.
Begitu lama menunggu Kiki menjadi seorang dokter membuat Bunda dan Mama Kiki tidak sabar mengadakan pesta pernikahan Aydin dan Kiki. Mereka menginginkan pesta pernikahan Kiki dan Aydin segera dilaksanakan, namun Kiki menolaknya dan memohon agar Bunda dan Mamanya bersabar dan menunggu sebentar lagi. Ayah yang mengetahui betul kesibukan dan perjuangan seseorang untuk menjadi dokter pun mendukung keputusan Kiki, karena memang dia tahu jika menantunya itu sedang sibuk-sibuknya dan Ayah berjanji pada Bunda dan Mama Kiki bahwa dia akan melakukan sebisanya agar Aydin dan Kiki bisa meluangkan waktu mereka untuk mengadakan pesta dan honeymoon.
Satu setengah tahun Kiki menjalani kesibukan koasnya. Selama ini Aydin benar-benar mendukungnya, dia selalu mengantar jemput Kiki dan kadang dia mengantar makanan atau mengajaknya makan bersama walaupun hanya di kantin rumah sakit. Kiki tidak mau membuang waktunya, dia ingin segera menjadi dokter dan Aydin mendukungnya sampai-sampai aktivitas olahraga bersama mereka kadang jarang dilakukan. Jika ada urusan luar kota, sebisa mungkin Aydin pulang hari itu juga, namun jika urusan itu masih bisa dihandle oleh asistennya, dia akan memerintahkan asistennya itu untuk menggantikannya. Aydin tidak ingin jika tidak bisa melihat wajah istrinya dalam sehari saja, karena saat ini mereka yang tinggal bersama saja jarang untuk bertemu, apalagi jika dia meninggalkan istrinya untuk tugas luar kota yang tidak bisa selesai dalam sehari, pasti dia akan sangat merindukan istrinya itu.
"Yeeeay... Tokyo....," Kiki merentangkan kedua tangannya dan menghirup dalam-dalam udara disekitarnya.
Aydin terkekeh melihat tingkah istrinya. Dia merasa bersalah karena baru kali ini dia bisa mewujudkan keinginan istrinya untuk pergi ke Jepang. Namun dia merasa bahagia melihat istrinya begitu bahagia sekarang.
"Ngapain kamu sayang?" Aydin terkekeh dan membelai puncak rambut Kiki.
"Emmmm.... bau Tokyo, aku akan menyimpan baunya di otakku," Kiki menghirup dalam-dalam udara sambil memejamkan matanya.
"Hahaha... ada-ada aja kamu sayang, kalau mau kesini lagi tinggal bilang aja, aku pasti mengabulkan semua keinginan istri tercintaku ini," ucap Aydin gemas sambil mencubit dagu Kiki.
"Janji ya... awas kalau bohong," mata Kiki berbinar mendengar janji suaminya.
Aydin mengangguk dan menunjuk pipinya untuk meminta hadiah dari Kiki.
Cup...
Sebuah kecupan mendarat indah di pipi kiri Aydin.
"Gak imbang sayang... satunya iri nih," Aydin menunjuk pipi kanannya.
Cup...
Kecupan singkat dilayangkan Kiki di pipi kanan Aydin. Tak berhenti sampai situ, Kiki langsung mendaratkan bibirnya di bibir Aydin secara singkat saja ketika Aydin hendak menunjuk bibirnya karena Kiki mengerti apa yang hendak dilakukan suaminya yang jahil dan mesum itu. Kiki hanya memberikan kecupan singkat saja, namun Aydin segera meraih tengkuk Kiki dan memperdalam ******* mereka.
Memang ini benar-benar honeymoon untuk mereka, padahal kata mereka ini hanya liburan saja untuk meregangkan saraf mereka karena bertahun-tahun stress karena pekerjaan. Mereka mengatakan bahwa akan melakukan honeymoon setelah pesta pernikahan diadakan. Lalu apa bedanya dengan ini?
Beda, karena yang diketahui orang-orang mereka belum menikah, jadi mereka menyebutnya liburan, bukan honeymoon.
Kini mereka sudah berada di Hotel Edoya yang berada di Tokyo. Kiki tak berhenti kagum ketika masuk ke hotel tersebut. Matanya dimanjakan dengan interior serba kayu dan bergaya ala rumah khas Jepang sepanjang jalan menuju ke kamarnya. Selama beberapa jam mereka beristirahat di dalam kamar setelah makan. Setelah itu malamnya mereka berencana untuk mengunjungi Tokyo tower.
Tangan Aydin tak lepas dari pinggang Kiki mulai awal tidur mereka tadi sampai sekarang sudah berjam-jam mereka tidur, tangan Aydin bertambah erat memeluknya hingga membuat Kiki susah bernafas. Dia membuka matanya dan membangunkan Aydin, namun Aydin semakin mengeratkan pelukannya. Sudah lama rasanya dia tidak bermanja-manja seperti ini. Namun Kiki tak hilang akal, dia membisikkan sesuatu sehingga Aydin seketika langsung bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Namun baru semenit Aydin masuk ke dalam kamar mandi, dia keluar dan berjalan menuju ranjang kembali. Kiki heran dengan apa yang dilakukan suaminya, hanya semenit apa benar dia sudah mandi, namun tidak ada bunyi air tadi di dalam kamar mandi dan badan Aydin masih kering. Ternyata..
"Ada apa?" Kiki bertanya heran.
"Ada yang ketinggalan," jawab Aydin menghampirinya.
"Apa?" tanya Kiki bingung.
"Kamu," Aydin mengangkat tubuh Kiki ala bridal style membawanya ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Ritual mandi bersama selesai hanya dalam waktu satu jam. Kini mereka bersiap-siap untuk pergi ke Tokyo tower.
"Gara-gara Bang Ay nih sampai satu jam mandinya," Kiki menggerutu sambil menyisir rambutnya.
"Biasanya kamu malah mandinya dua jam kalau sendiri," sindir Aydin tidak mau disalahkan.
"Ck itu kan sambil berendam manjah, biar rileks," bela Kiki.
"Intinya lebih cepat tadi dari pada kamu mandi sendiri, jadi....," Aydin menjeda kalimatnya.
Kiki menoleh menanti kelanjutan kalimat Aydin.
"Jadi, kita mandinya barengan aja terus untuk mempersingkat waktu," kekehan Aydin membuat Kiki menjadi kesal, dia mengerucutkan bibirnya dan memicingkan matanya menatap suaminya.
"Waaaah... bagus bangeeeeet," Kiki tak henti-hentinya menyuarakan kekagumannya.
"Kamu suka?" tanya Aydin.
Kiki mengangguk antusias dan menarik tangan Aydin untuk cepat masuk ke dalam Tokyo Tower.
"Sayang bikin rumah dihiasi lampu warna-warni kayak gini ya, biar berasa seperti disini terus. Hehehe....," keinginan absurd Kiki membuat Aydin terkekeh.
"Waaah kita bisa lihat seluruh kota dari sini. Bagus banget kalau malam gini pemandangannya," Kiki tak henti-hentinya mengoceh terkagum akan keindahan yang dia lihat dari atas.
Setelah puas berkeliling di tempat itu dan membeli beberapa souvenir, kini mereka berpindah tempat untuk makan. Aydin mengajak Kiki ke KITTE Garden, di sana mereka bisa makam sekaligus menikmati pemandangan beserta taman yang juga ada di tempat itu.
Kemudian dia menanggalkan sehelai demi sehelai rangkaian benang yang terbalut indah di badannya. Aydin tersenyum cerah mengetahui istrinya senakal itu padanya. Setelah itu hal-hal seperti biasanya terjadi, namun bedanya kini mereka berada di tempat spesial, tempat indah yang begitu tenang untuk melakukan aktifitas mereka.
Pagi menyapa di kota Tokyo. Sinar matahari yang masuk mampu membangunkan mereka. Badan mereka yang lelah akibat aktivitas mereka semalam tidak menyurutkan niat mereka untuk berjalan-jalan ke tempat selanjutnya, tempat dimana Kiki ingin sekali mengunjunginya.
"Waaaaaah....," Kiki begitu takjub melihat bangunan ini dari luar sampai dia tidak bisa berkata-kata. Dia tidak menyangka bahwa dirinya bisa berada disini sekarang bersama orang terkasihnya.
"Mari kita ke dalam Princess Kiara," Aydin menengadahkan tangannya pada Kiki, dan Kiki pun menyambutnya. Mereka bergandengan tangan masuk ke DisneyLand.
"Bang Ay... bang... kita nikahnya ala-ala princess mau gak? Hehehe....," Kiki merayu Aydin dengan menyentuhkan jari telunjuknya ke dada Aydin dengan pola abstrak.
Ada-ada saja tingkah Kiki ini yang bisa membangkitkan sesuatu di dalam sana. Padahal mereka sedang duduk sambil menikmati makanan, tapi ada saja tingkah Kiki yang membuat Aydin ingin cepat kembali ke hotel.
"Sayang...," suara rayuan Kiki mendayu-dayu di telinga Aydin.
Bak terhipnotis dengan suara Kiki dia menjawab, "Iya, ayo, kapan?"
"Hah? Kayaknya ada yang pengen cepet-cepet nih," goda Kiki.
"Ini udah kan sayang? Kita balik yuk," Aydin mengajak Kiki kembali ke hotel.
__ADS_1
"Belum ih, masih pengen yang di sana," rengek Kiki.
"Aduuuh... udah gak tahan nih, kebelet. Yuuuk...," Aydin menarik tangan Kiki cepat tanpa menghiraukan Kiki yang masih ingin tinggal disitu.
Ternyata Aydin mengajaknya masuk ke Tokyo Disneyland Hotel. Kiki hanya bisa pasrah saja karena sepertinya dia merajuk pun sudah tidak ada gunanya.
"Kok kesini sih sayang? Kita mau nginap disini?" tanya Kiki bingung ketika sudah berada di dalam kamar dan dia lagi-lagi takjub dengan interior hotel ini.
"Kelamaan kalau mau balik lagi ke hotel sana," Aydin melingkarkan tangannya ke pinggang Kiki dari belakang ketika Kiki berdiri melihat-lihat pemandangan dari jendela.
"Sayang.. kita pindah hotel aja yuk, jadi biar deket gitu sama tempat jalan-jalan kita nanti. Sekalian ganti suasana. Bagus-bagus banget hotelnya," mata Kiki masih menelusuri keindahan pemandangan luar.
Aydin segera mengangkat tubuh Kiki dan diletakkannya dengan sangat pelan di tempat tidur. Dan mulailah mereka saling menjelajah menikmati keindahan yang ada di depan mata mereka.
Hanya beberapa jam mereka di hotel tersebut, setelah itu mereka kembali ke hotel untuk mengambil barang-barang mereka dan mencari hotel lain yang dekat dengan destinasi mereka selanjutnya.
Akhirnya pilihan mereka jatuh pada Tokyo DisneySea Hotel karena tujuan destinasi mereka selanjutnya adalah DisneySea.
Keesokan harinya mereka berjalan-jalan ke DisneySea. Rutinitas mereka setiap hari sama ketika disini. Dan sebelum mereka pindah ke kota lain, mereka menyempatkan untuk pergi ke Tokyo Bay, dan mereka berpindah lagi ke Oriental Hotel Tokyo Bay untuk menginap.
Setelah pulang dari Tokyo Bay, Aydin mendapatkan telepon agar mereka segera kembali, karena Aydin sangat dibutuhkan di hotel milik Ayahnya yang kini sudah berpindah pada Aydin. Sedangkan Kiki sendiri juga harus bersiap-siap untuk magang di rumah sakit milik keluarga Aydin.
"Aaah... gak mau... gak mau pulang...," Kiki merajuk dan menangis di atas tempat tidur.
"Sayang... kita harus kembali, nanti pasti kita kesini lagi kalau kamu udah gak sibuk," bujuk Aydin dengan membawa Kiki ke dalam pelukannya.
"Nanti kalau aku gak sibuk, pasti kamu yang sibuk. Terus kapan ke Jepang lagi? Kita aja belum ke Osaka, Hiroshima, Kyoto, Kobe," ucap Kiki disela tangisnya.
"Iya nanti sebulan deh kita keliling Jepang ya, mau?" bujuk Aydin kembali.
"Beneran?" Kiki mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya dengan antusias.
"Iya janji deh, mau?" Aydin tersenyum melihat istrinya yang sangat antusias dengan idenya.
"Mauu...." Kiki berseru kegirangan dan merangkul pinggang Aydin serta mengecupi semua wajah suaminya karena terlalu bahagia.
Dan setelah itu malam terakhir mereka di Tokyo diisi dengan rutinitas mereka seperti biasanya. Seakan mereka tidak mau melewatkan kesempatan yang ada.
Sesampainya mereka kembali ke Indonesia. Mereka sudah disuguhi dengan semua pekerjaan harian mereka. Hari-hari mereka berlalu seperti biasanya, namun bedanya Kiki kini sudah magang di rumah sakit milik keluarga Aydin. Meskipun begitu, dia tetap profesional terhadap pekerjaannya.
Di rumah sakit ini Kiki bertemu dengan calon kakak iparnya. Dokter Vina dan Kevin memang belum melangsungkan pernikahan mereka karena orang tua Vina pada saat itu hanya bisa datang sebentar saja, jadilah mereka hanya bertunangan saja. Setelah itu Kevin juga sedang sibuk-sibuknya mengurusi usaha Mama dan Papa yang nantinya diambil alih oleh Kevin untuk kepengurusannya.
Dokter Vina sangat senang Kiki berada di rumah sakit yang sama dengannya. Mereka kini jauh lebih dekat seperti saudara kandung. Dan Kiki jarang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Kadang kala dia menyempatkan diri untuk meminta mereka bertemu dan berkumpul seperti biasanya jika ada waktu luang. Namun mereka masih tetap berkomunikasi melalui grup chat yang mereka buat sejak dulu itu. Terakhir kali Kiki meminta mereka bertemu pada saat Kiki pulang dari Tokyo untuk memberikan oleh-oleh khusus untuk sahabat-sahabatnya.
Rumah sakit hari ini begitu ramai, sampai-sampai Kiki yang berada di IGD merasa sangat lelah. Dia tidak sempat makan dan istirahat. Aydin pun tidak dapat menghubunginya karena Kiki terlalu sibuk hingga dia tidak mengetahui ada banyak panggilan di ponselnya. Aydin begitu kesal dan khawatir pada Kiki karena pagi tadi sebelum dia berangkat, dia terlihat agak pucat. Namun jika ditanya pasti Kiki menjawab hanya kelelahan saja. Aydin tidak tega melihat istrinya kelelahan karena bekerja. Ingin sekali dia langsung menjadikan Kiki sebagai seorang dokter, namun dia tidak bisa, karena bukan wewenangnya, dan semua ada tahapannya yang harus mereka lalui.
__ADS_1
IGD begitu sibuk hingga sore hari Kiki belum bisa beristirahat ataupun makan,sekedar menselonjorkan kaki pun dia tidak sempat. Kini dia mulai lemah. Kepalanya berputar-putar. Kakinya tidak bisa digerakkan dan badannya sudah tidak bisa menopangnya lagi. Hingga pada saat dia berbalik hendak berjalan,
Bruuuuuk....